Sekolah Rakyat di Semarang Hadapi Tantangan Kesadaran Orang Tua

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Endang Sarwiningsih. (dok Alan Henry)
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Endang Sarwiningsih. (dok Alan Henry)
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co – Program Sekolah Rakyat (SR) di Kota Semarang masih menghadapi tantangan, terutama terkait kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan anak sebagai jalan keluar dari kemiskinan.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, menyebut sejumlah siswa mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat bukan karena kualitas pendidikan, melainkan tekanan ekonomi keluarga.

“Orang tuanya ingin anaknya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Ada juga yang memang terbiasa meminta-minta, sehingga anaknya diarahkan untuk ikut menguatkan ekonomi keluarga,” ungkap Endang, Kamis (30/1/2026).

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Saat ini, kuota Sekolah Rakyat di Kota Semarang masing-masing 50 siswa untuk jenjang SMP dan 50 siswa untuk SMA. Dari jumlah tersebut, terdapat beberapa siswa yang keluar, terutama di jenjang SD dan SMA.

“Yang keluar itu sekitar tujuh orang. Alasannya bermacam-macam, tapi rata-rata karena keberatan anaknya tinggal di asrama dan tidak bisa langsung bekerja,” jelasnya.

Endang menegaskan, sebelum masuk Sekolah Rakyat, orang tua dan siswa sebenarnya sudah diberikan penjelasan dan kesepakatan. Namun dalam praktiknya, tekanan ekonomi membuat sebagian orang tua berubah pikiran.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Sebagai solusi, Dinas Sosial tidak hanya fokus pada pendidikan anak, tetapi juga memberdayakan orang tua siswa. Bantuan disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing keluarga.

“Kalau minatnya berdagang sembako, kita bantu etalase dan barang dagangannya. Kalau mau jual es tebu, kita beri mesin penggiling. Bahkan ada yang mau pijat, kita latih,” terangnya.

Untuk siswa yang mengundurkan diri, Pemkot Semarang langsung mengusulkan pengganti dari keluarga desil 1 dan desil 2, sesuai ketentuan Kementerian Sosial.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Kalau memang sudah tidak mau, tidak bisa dipaksa. Tapi kuota tetap kami isi dari keluarga miskin ekstrem agar program ini tepat sasaran,” tegas Endang. ***

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu