Arsip Tag: Islam Nusantara

Sambut Harlah ke-64, LESBUMI PWNU Jateng Sinergikan Tradisi, Kreativitas, dan Dakwah Moderat

Lingkar.co — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) genap berusia 64 tahun pada 28 Maret 2026. Momentum ini tidak sekadar penanda usia, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang organisasi dalam merawat, mengembangkan, sekaligus meneguhkan identitas budaya Islam Nusantara yang spiritual, humanis, dan religius.

Ketua Lesbumi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abdul Gani, menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, Lesbumi memiliki peran strategis dalam dinamika kebudayaan nasional. Pada masa awal kelahirannya, LESBUMI hadir sebagai respons terhadap situasi sosial-politik, khususnya dalam menangkal pengaruh budaya dan paham komunisme, dengan mengedepankan nilai-nilai budaya Nusantara yang berakar pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Perjalanan 64 tahun ini adalah proses panjang yang penuh dinamika dan dialektika sejarah. Ini menjadi momentum bagi LESBUMI untuk terus memperkuat peran dalam menjaga identitas budaya kita,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, lanjutnya, LESBUMI Jawa Tengah menunjukkan capaian signifikan, terutama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di bidang seni dan budaya Islam. Berbagai tradisi yang sempat meredup kini kembali dihidupkan, seperti seni terbang Jawa, kaligrafi, pedalangan, hingga pelatihan aksara Jawa di lingkungan pesantren.

Upaya tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga menjadikan seni sebagai media dakwah Islam Aswaja yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin. Selain itu, LESBUMI juga mengembangkan berbagai program yang menyasar kalangan pelajar, santri, dan mahasiswa, seperti pelatihan sinematografi, lomba film pendek, hingga festival kaligrafi dan seni Islam.

“Program-program ini kami rancang untuk memperkuat potensi seni budaya generasi muda sekaligus menjadikan mereka bagian dari gerakan kebudayaan,” jelas pemilik Galery Kaligrafi Alif Tingkir Salatiga ini.

Dalam konteks yang lebih luas, LESBUMI berperan aktif menjaga dan mengembangkan tradisi Islam Nusantara melalui berbagai forum intelektual dan kultural. Diskusi, sarasehan, dan halaqah kebudayaan rutin digelar sebagai ruang merumuskan strategi gerakan kebudayaan. Di sisi lain, pagelaran dan festival seni budaya juga terus dilakukan sebagai sarana dakwah yang menyampaikan pesan Islam yang moderat dan toleran.

Lesbumi juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun komunitas seni, guna memperkuat upaya pelestarian warisan budaya Nusantara.

Meski demikian, Abdul Gani mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah bagaimana merangkul generasi muda yang cenderung lebih dekat dengan budaya digital dan tren kekinian. Oleh karena itu, LESBUMI terus beradaptasi dengan menghadirkan berbagai program yang relevan dengan minat generasi muda.

Beberapa di antaranya adalah pelatihan konten kreator, pengembangan sinematografi, festival musik band pelajar, hingga kegiatan kreatif seperti cosplay busana Nusantara. Melalui pendekatan ini, LESBUMI berharap mampu menjembatani tradisi dengan inovasi.

“Perkembangan seni digital dan budaya populer kami sikapi secara positif. Ini adalah peluang besar untuk mempromosikan budaya Islam Nusantara sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Lesbumi juga mendorong kolaborasi antara seniman tradisional dan kreator muda melalui berbagai program lintas sektor. Kolaborasi ini melibatkan internal NU, pemerintah, swasta, hingga komunitas kreatif, termasuk pelatihan sinematografi dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi kalangan santri.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam melahirkan karya-karya seni yang inovatif, relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai budaya dan keislaman.

Pada momentum Harlah ke-64 ini, Abdul Gani juga menyampaikan pesan khusus kepada para seniman muda Nahdlatul Ulama agar terus berkarya dan tidak melupakan jati diri budaya serta nilai-nilai Islam.

“Teruslah berkarya dan jadilah generasi yang membawa perubahan positif. Seni dan budaya harus menjadi media dakwah Islam yang ramah, moderat, dan rahmatan lil alamin,” pesannya.

Ia menambahkan, sebagai bagian dari LESBUMI, para seniman dan aktivis budaya NU harus senantiasa mengingat visi besar organisasi, yakni menjadikan seni dan budaya sebagai sarana membentuk manusia yang utuh—berdimensi spiritual, berperadaban, dan berakhlakul karimah.

Dengan semangat tersebut, LESBUMI diharapkan mampu terus menghidupkan tradisi bangsa sekaligus menggerakkan peradaban umat menuju Indonesia yang bermartabat, makmur, dan mulia. (*)

PMII Salatiga Dilantik, Siap Tinggalkan Stagnasi dan Perkuat Tradisi Toleransi

Lingkar.co — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Salatiga resmi memulai masa kepengurusan 2025–2026 setelah dilantik pada Sabtu (29/11). Mengangkat tema “Cita Loka Pergerakan: Hantam Stagnasi, Bentengi Toleransi”, prosesi pelantikan menjadi penanda awal konsolidasi gerakan PMII di kota berhawa sejuk itu.

Sejumlah tokoh hadir memberikan dukungan, seperti Wasekjend PB PMII Aji Fadhil Hidayatullah, Bendahara PKC PMII Jateng Hendrik, Ketua MabinCab PMII Salatiga Luqman Hakim, serta perwakilan IKA PMII dan berbagai organisasi mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Aji Fadhil Hidayatullah menyoroti pentingnya penguatan kapasitas kader di tengah cepatnya perubahan global.

“Kita memasuki fase baru dengan tantangan yang tidak lagi sama. Kader PMII harus terus memperkaya literasi digital dan kemampuan akademiknya,” tegasnya.

Aji menekankan bahwa gagasan Era Baru PMII merupakan ajakan untuk memperluas peran kader dalam dinamika masyarakat modern, bukan sekadar slogan internal.

“Sekarang kader PMII tidak cukup hanya hadir di ruang sosial atau akademik, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan, terutama di ranah digital,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman isu kebangsaan dan problem sosial agar kader mampu menawarkan solusi nyata.

“Pemimpin PMII ke depan harus punya kapasitas, integritas, dan orientasi pada penyelesaian masalah. Itu yang akan menjaga PMII tetap relevan,” tambahnya.

Sementara itu, Muhammad Nabil Murod sebagai Ketua PC PMII Salatiga yang baru dilantik menegaskan komitmennya menjadikan PMII sebagai ruang pengkaderan intelektual Nahdliyin yang lebih progresif.

“Kader PMII harus responsif terhadap perkembangan zaman, kritis membaca isu, dan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Nabil melihat penguatan tradisi intelektual berbasis nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi agar kader tumbuh menjadi pribadi yang moderat, visioner, dan inklusif.

Menurutnya, tema “Hantam Stagnasi, Bentengi Toleransi” menjadi pengingat agar organisasi tidak berjalan di tempat, dan tetap inovatif dalam menjawab tantangan teknologi maupun dinamika sosial.

Pelantikan ini menandai dimulainya babak baru PMII Salatiga untuk memperkuat pergerakan yang adaptif, progresif, dan berorientasi pada semangat toleransi sebagai tiang utama organisasi. ***

Gelar Budaya 2025 Tegaskan Rawat Tradisi Sebagai Identitas Bangsa

Lingkar.co – Gelar Budaya 2025 yang digelar Kementerian Kebudayaan RI berkolaborasi dengan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H Lalu Hadrian Irfani, menegaskan kembali pentingnya merawat tradisi sebagai identitas bangsa.

Mengangkat tema Festival Pesisiran, Akulturasi Islam dan Budaya Jawa, kegiatan yang berlangsung di halaman Pondok Pesantren Durrotu Aswaja Semarang pada Sabtu (29/11/2025) itu menghadirkan ratusan santri dan mahasiswa sebagai peserta utama.

Acara diisi paparan oleh sejumlah tokoh budaya dan akademisi. Keynote speech dibawakan Stafsus Kementerian Pemberdayaan Masyarakat, Dr Ahmad Maulani.

Kemudian disusul pemaparan oleh budayawan Islam Jawa Nusantara yang juga Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang KH Anasom, serta pemerhati budaya Islam–Jawa Kang Ipang Solo.

Pengasuh Ponpes Durrotu Aswaja, KH Agus Romadhon, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Gelar Budaya yang memunculkan ruang dialog antara agama dan tradisi Jawa.

Menurutnya, perjumpaan Islam dengan kebudayaan lokal adalah peristiwa yang alami dan niscaya terjadi sepanjang sejarah penyebaran Islam.

“Akulturasi budaya Islam dengan tradisi setempat adalah keniscayaan. Di mana pun Islam hadir, ia tidak berdiri sendiri. Ia melebur, berdialog, dan lahir dalam beragam wajah budaya,” ujarnya.

KH Agus menambahkan, keragaman ekspresi keislaman di Nusantara merupakan kekayaan yang harus terus dijaga, bukan justru dipertentangkan.

Tradisi, menurutnya, adalah jembatan yang mempertemukan nilai spiritual dan kearifan lokal.

Tradisi sebagai Akar Identitas Bangsa

Sementara itu, Stafsus Kementerian Pemberdayaan Masyarakat Dr Ahmad Maulani menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan perkembangan zaman.

Dalam era globalisasi yang serba cepat, katanya, masyarakat perlu mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarah dan kebudayaan yang menjadi identitas bangsa.

“Karakter bangsa tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari tradisi, nilai, dan pengalaman masyarakat. Internalisasi nilai budaya menjadi penting agar bangsa ini tidak tercerabut dari akarnya,” tegas Maulani.

Ia mencontohkan bagaimana para pendiri bangsa, Soekarno, Mohammad Hatta hingga Ki Hadjar Dewantara menggali nilai Nusantara sebagai dasar membangun Indonesia.

Modal sosial berupa keragaman budaya dan agama menjadi kekuatan besar bagi persatuan nasional.

Sementara itu, Budayawan Islam–Jawa KH Anasom menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan tradisi Jawa dalam beriringan dengan nilai-nilai Islam.

Ia menegaskan, budaya tidak hanya sebatas seni pertunjukan, tetapi juga mencakup cara pandang hidup, etika, hingga kearifan lokal yang membentuk karakter masyarakat.

Sementara pemerhati budaya Kang Ipang Solo memaparkan dinamika kontemporer hubungan Islam dan Jawa, termasuk tantangan modernisasi yang kerap mengikis kedekatan masyarakat dengan akar budaya mereka.

Secara keseluruhan, Gelar Budaya 2025 bukan sekadar festival seni, tetapi menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami bahwa Islam hadir bukan untuk meniadakan budaya, melainkan menumbuhkan, menyesuaikan, dan memperkaya warisan lokal. (*)

Mantan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj: Insya Allah Ganjar Jadi Presiden

Lingkar.co – Bakal calon presiden (Bacapres), Ganjar Pranowo mendapat sambutan hangat saat sowan ke kediaman mantan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj, Cipedak, Jakarta Selatan, Kamis (5/10/2023) malam. Said Aqil bahkan mendoakan Ganjar terpilih menjadi presiden.

Ganjar tiba bersama istri Siti Atikoh di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah sekitar pukul 19.40 WIB. Ratusan santri berjajar di halaman pesantren. Setelah disambut Said Aqil dan keluarga, Ganjar dan istri diajak salat isya berjamaah.

Mantan Gubernur dua periode dan mantan Ketum PBNU dua periode ini kemudian melakukan pertemuan tertutup sekitar satu jam.

Kepada wartawan, KH Said Aqil Siradj mengaku bersyukur atas kedatangan Ganjar. Ia pun mendoakan agar Ganjar terpilih menjadi presiden 2024.

“Alhamdulillah malam hari ini pesantren Al-Tsaqafah kedatangan tokoh nasional yang insya Allah Tuhan memberikan jalan kemudahan beliau akan terpilih menjadi presiden yang akan datang yaitu Pak Ganjar Pranowo,” ujarnya.

Said juga mengaku memiliki kedekatan dengan kakek Siti Atikoh, KH Hisyam Abdul Karim. Menurutnya, Kiai Hisyam adalah pejuang Nahdlatul Ulama (NU) asal Purbalingga.

“Beliau yang saya kenal dekat itu kakek istri beliau adalah KH Hisyam Rois Syuriah NU dua periode tahun 1973 sampai 1983,” paparnya.

Sedangkan dengan Ganjar, Said sudah bersahabat sejak Ganjar di DPR RI. “Tapi yang jelas (Ganjar) dengan saya dekat sekali ,sejak masih DPR dan Gubernur,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, KH Said Aqil Siradj berpesan kepada Ganjar untuk bisa mempertahankan konsep Islam Nusantara, ketika nanti terpilih menjadi presiden.

“Jadi, ide saya tentang Islam Nusantara nanti kalau Mas Ganjar jadi presiden itu diteruskan kalau perlu di ekspor ke luar negeri. Satu jalan adalah Islam menyatu dengan budaya. Budaya dijadikan pondasi Islam itu adalah Islam yang ramah,” tuturnya.

Sementara itu, Ganjar mengatakan bahwa kedatangan di Ponpes Luhur Al-Tsaqafah disambut hangat keluarga pengasuh. Ketika ditanya apakah kedatangannya meminta Said Aqil menjadi cawapres, Ganjar menjawab dengan berseloroh.

“Tidak hanya minta soal cawapres, tapi juga soal bernegara, berbangsa, cerita soal Islam Nusantara tadi karena itu sangat ideologis dan jauh sangat penting dari yang sifatnya pragmatis,” katanya.

Ganjar mengaku mendapat banyak wejangan terutama soal sejarah Islam di Indonesia beserta tokoh-tokohnya.

“Dan kita mesti kukuh mempertahankannya. Istilah lain kita punya kepribadian dalam kebudayaan,” tandasnya.

Malam itu, ia juga diminta untuk memberikan motivasi kepada para santri di auditorium pesantren. Di penghujung acara, mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode itu mendapat hadiah buku karya KH Said Aqil Siroj berjudul ‘Allah dan Alam Semesta’, dan juga logo NU berukir emas. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat