Arsip Tag: PBNU

Prof. Ali Imron Tegaskan Tak ingin JQHNU Jateng Vakum Gara-gara PBNU Batalkan Kongres

Lingkar.co – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Jawa Tengah, Prof. Dr. Ali Imron, AH menyatakan, dirinya tidak ingin kepengurusan organisasi para penghafal dan pecinta Al-Qur’an NU vakum gara-gara pembatalan Kongres di Jombang secara sepihak oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

“Jangan sampai JQHNU ini vakum di Jateng hanya gara-gara PBNU,” kata Ali Imron saat pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) JQHNU Jateng di aula Dinas Sosial Jawa Tengah, Sabtu (18/4/2026).

Menurut dia, konferwil harus tetap berlangsung meskipun belum ada kejelasan kepemimpinan di tingkat Pimpinan Pusat.

Pada kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa satu-satunya organisasi Al-Qur’an yang resmi sebagai Badan Otonom (Banom) NU hanya ada satu, yaitu JQHNU.

“Ada banyak komunitas atau atau organisasi Al-Quran, tapi organisasi Al-Qur’an yang resmi milik NU adalah JQHNU,” tegasnya.

Sementara, mantan ketua PP JQHNU, KH Syaifullah Makshum, AH menegaskan dirinya tidak pernah membawa organisasi untuk kepentingan tertentu, murni untuk menjaga Al-Qur’an dan para hafizh-hafizhat.

Terkait, Surat Keputusan (SK) kepengurusan JQHNU Jateng pasca konferwil, Syaifullah menyebut sudah menjadi kewenangan PBNU.

“Karena kami sudah di-take over. Maka SK-nya (PW JQHNU) harus dari PBNU,” ujarnya dalam sesi pembinaan organisasi.

Ia menilai, JQHNU di kabupaten maupun kota sudah mulai terbentuk dan aktif di berbagai daerah. Pembentukan PW dan PC di berbagai daerah ini merupakan pencapaian yang luar biasa.

Sebegai informasi, konferwil diikuti oleh 35 perwakilan dari PC JQHNU se-Jawa Tengah. Hadir pula dalam kesempatan itu, Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah sekalian Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen. (*)

KP2MI; 80 Persen Pekerja Migren Berasal dari Desa

Lingkar.co – Sekretaris Direktorat Jenderal Pemberdayaan KP2MI, Rizwan, mengungkapkan mayoritas pekerja migran Indonesia berasal dari desa dan bekerja di sektor domestik.

Ia memaparkan, berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, sekitar 80 hingga 90 persen PMI bekerja sebagai asisten rumah tangga maupun sektor informal lainnya, dan hampir 80 persen di antaranya berasal dari wilayah pedesaan.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa dorongan ekonomi masih menjadi faktor utama masyarakat bekerja ke luar negeri. Namun, banyak dari mereka berangkat tanpa kesiapan yang memadai,” ujarnya.

Ia menyampaikan hal itu dalam Lokakarya Multi-Stakeholder Forum (MSF) di Hotel Sae Inn, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (16/4/2026).

Lebih jauh ia menjelaskan, rendahnya literasi bahasa, minimnya pemahaman budaya negara tujuan, serta ketidaktahuan terhadap aspek hukum ketenagakerjaan menjadi faktor utama yang menyebabkan PMI rentan mengalami permasalahan.

Ia bilang, tidak sedikit yang kemudian menjadi korban eksploitasi, kekerasan, hingga tindak pidana perdagangan orang.

Lebih lanjut, Rizwan menyebutkan bahwa selama ini pendekatan negara cenderung berfokus pada penempatan tenaga kerja. Namun, seiring transformasi kelembagaan menjadi kementerian, arah kebijakan kini bergeser pada pelindungan dan pemberdayaan.

“Pendekatan kita sekarang tidak lagi semata-mata penempatan, tetapi bagaimana memastikan pelindungan sejak awal. Artinya, sebelum berangkat mereka harus dibekali keterampilan, pengetahuan, dan kesiapan mental yang cukup,” tegasnya.

Sebagai informasi, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggandeng Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman, untuk meningkatkan perlindungan terhadap PMI.

Lokakarya ini merupakan bagian dari Program Penguatan Pelindungan PMI Berbasis Komunitas (P2MI-BK) sekaligus pengembangan Desa Migran EMAS.

Program ini menempatkan desa sebagai garda terdepan dalam membangun sistem migrasi aman dan pelindungan menyeluruh bagi pekerja migran, sejak pra-keberangkatan, masa bekerja di luar negeri, hingga purna penempatan.

Di lain sisi, ia juga mengakui keterbatasan sumber daya pemerintah dalam menjangkau seluruh calon PMI di daerah.

Oleh karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat seperti NU, lembaga internasional, serta pemerintah daerah menjadi sangat penting.

Sejalan dengan hal itu, ia berharap agar forum MSF menjadi ruang strategis untuk menyusun rekomendasi bersama, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta merancang langkah konkret dalam meningkatkan pelindungan pekerja migran berbasis desa.

“Melalui forum ini kita ingin membangun sistem yang preventif. Bukan hanya menangani kasus ketika sudah terjadi, tetapi mencegah sejak dari desa melalui edukasi, pendampingan, dan penguatan kapasitas masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Kendal, KH Sajidin Noor, menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan dan keagamaan dalam mendampingi pekerja migran. Ia mengungkapkan bahwa banyak PMI yang menghadapi persoalan kompleks, mulai dari masalah hukum, kondisi kerja, hingga persoalan keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman.

“Kita harus menyadari bahwa mereka adalah saudara kita, baik sesama umat maupun sesama warga bangsa. Karena itu, pendampingan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya kepada pekerja migran, tetapi juga kepada keluarga mereka,” ujarnya.

Ia juga berbagi pengalaman silaturahim dan pendampingan yang pernah dilakukan kepada PMI di luar negeri, seperti di Hong Kong. Menurutnya, kehadiran pendamping dari unsur keagamaan mampu memberikan penguatan moral dan spiritual bagi para pekerja migran.

Lebih lanjut, Kiai Sajidin mendorong pemerintah desa untuk aktif mengambil peran dalam program pelindungan PMI. Kepala desa diharapkan mampu menjadi penghubung antara masyarakat, organisasi keagamaan, dan pemerintah dalam membangun sistem perlindungan yang berkelanjutan.

“Kegiatan seperti ini harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret di desa. Kolaborasi dengan organisasi seperti NU menjadi penting agar pendampingan bisa berjalan lebih efektif,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap masa depan keluarga PMI, khususnya anak-anak yang ditinggalkan. Menurutnya, aspek sosial ini kerap luput dari perhatian, padahal memiliki dampak jangka panjang.

Melalui kolaborasi berbagai pihak, Kiai Sajidin optimistis program Desa Migran EMAS dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menciptakan migrasi yang aman, bermartabat, dan berkelanjutan. (*)

Penulis: Nazlal Firdaus
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Undang Presiden Prabowo, PBNU Gelar Puncak Peringatan Harlah Ke-100 di Istora Senayan

Lingkar.co – Nahdlatul Ulama akan berusia 100 tahun pada Sabtu, 31 Januari 2026. Tepat pada waktu tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Puncak Peringatan Harlah Ke-100 Masehi di Istora Senayan, Jakarta.

“Ya, kita akan memperingati harlah ke-100 NU dalam kalender Masehi di Istora Senayan, Jakarta pas di tanggal pendirian NU, yakni 31 Januari,” kata Rumadi Ahmad, dalam siaran persnya,Rabu (28/1/2026).

Ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto juga diundang untuk menyampaikan amanat pada kegiatan tersebut. “Bapak Presiden Prabowo Subianto juga kami undang untuk memberikan amanat pada Harlah 100 tahun NU”, ujarnya.

Rumadi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut akan berlangsung mulai pukul 06.00 WIB pagi. Acara akan diawali dengan istighosah kubro, mahallul qiyam, dan doa.

Berikutnya, dalam Puncak Harlah Ke-100 Masehi ini juga, katanya, akan digelar Rapat Akbar pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB.

“Disebut Rapat Akbar karena diikuti oleh seluruh elemen NU, mulai dari mustasyar, syuriyah, a’wan, tanfidziyah di tingkat PBNU, hingga pengurus di PWNU dan PCNU, serta lembaga, badan otonom, dan badan khusus,” katanya.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Donasi untuk Bencana yang terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Berikutnya, dalam acara puncak, selain arahan dari Presiden Prabowo Subianto, juga akan disampaikan Pidato Ketua Umum PBNU oleh KH Yahya Cholil Staquf dan Taujihat dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Sebelumnya, akan ditampilkan video perjalanan 100 tahun NU.

Harlah Ke-100 NU ini mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa tema tersebut merupakan kelanjutan dari visi besar PBNU, Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

“Jam’iyyah ini didirikan dengan visi untuk membangun peradaban. Itu berarti bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, bukan hanya untuk kaum mu’minin, tapi juga untuk seluruh umat manusia,” jelasnya. ***

Resmikan Gedung Baru PCNU, Gus Yahya Pesan Manfaatkan Untuk Seluruh Warga Kota Semarang

Lingkar.co – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) berpesan agar gedung baru PCNU tidak hanya bermanfaat untuk Nahdlatul Ulama (NU), namun lebih dari itu untuk semua masyarakat.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan selamat kepada PCNU Kota Semarang yang telah berhasil mewujudkan gedung perkantoran. Semoga berkah, tidak hanya dirasakan oleh warga NU saja tetapi juga seluruh warga kota Semarang,” ucapnya seusai meresmikan gedung yang terletak di Jalan Puspogiwang I / 47 Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tenga, Sabtu (24/1/2026).

Gus Yahya mengapresiasi kerja cepat PCNU Kota Semarang yang solid sehingga mampu mewujudkan gedung baru hanya dalam waktu satu tahun. Selain itu, juga mendapatkan sebidang tanah yang terletak tepat di sebelah timur perkantoran NU Kota Semarang.

Menurutnya, pembangunan gedung PCNU bukan sekadar menghadirkan fasilitas fisik, tetapi juga menjadi simbol kesungguhan NU dalam menata organisasi agar semakin siap menjawab tantangan zaman.

Lebih jauh, Gus Yahya menekankan pentingnya fungsi sosial gedung PCNU ke depan. Ia berharap gedung baru itu tidak menjadi ruang eksklusif, melainkan terbuka dan inklusif bagi masyarakat umum dari berbagai latar belakang

Dengan demikian, PCNU Kota Semarang dapat menjadikan gedung tersebut sebagai pusat aktivitas keumatan, kebudayaan, pendidikan, hingga dialog sosial.

“Gedung ini jangan hanya digunakan oleh Nahdliyin saja, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum dari berbagai kalangan,” pesannya.

Sementara, Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom mengungkapkan, pembangunan gedung dari hibah swakelola dan pembebasan lahan dirasakan menjadi tahun yang cukup berat.

“Iki kan kita sistemnya swakelola. Jadi kita bisa nambahi urunan biar lebih bagus, ditambah tanah di sebelah timur itu juga ditawarkan agar kita beli. Alhamdulillah melalui JHNU bisa selesai juga. Jadi tahun ini kita rasakan cukup berat,” ujarnya.

Ia lantas menerangkan fungsi bangunan yang dibuat lebih luas. Yakni agar bisa manfaatkan untuk hajat masyarakat, “Ini yang lantai dua kan aula, full aula, tidak hanya bisa digunakan untuk kegiatan NU saja, tapi kita persilakan warga yang butuh gedung untuk resepsi pernikahan, kalau kurang ya bisa tambah dengan lantai satu,” ucapnya.

Penting diketahui, peresmian gedung PCNU Kota Semarang ini diawali dengan tradisi ngeslupi dan peresmian dengan penandatanganan prasasti oleh PBNU, “Alhamdulillah beliau kerso rawuh, cuma sayangnya waktunya agak mepet karena harus lanjut ke Pekalongan untuk melantik,” urainya

Untuk menunjang aktivitas organisasi NU beserta lembaga dan badan otonom (Banom), dirinya juga berharap, pertokoan yang ada di dalam gedung bisa terisi semua.

Kegiatan ngeslupi dan peresmian gedung dirangkaikan dengan peringatan 100 tahun NU, namun demikian ia mengaku bahwa gedung sudah digunakan untuk kegiatan sejak sebelum diresmikan.

Bagi PCNU Kota Semarang, gedung baru ini diharapkan menjadi pusat koordinasi organisasi, penguatan kaderisasi, serta pusat pelayanan umat. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Rais Aam dan Ketum PBNU Bakal Resmikan Gedung PCNU Kota Semarang

Lingkar.co – Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf diagendakan menghadiri peresmian gedung PCNU Kota Semarang yang akan dilaksanakan pada Sabtu (24/1/2026) nanti. Selain itu, jajaran pengurus harian PWNU Jateng juga turut serta hadir.

Ketua PCNU Kota Semarang, KH. Anasom menuturkan, kedua tokoh PBNU sudah menyatakan akan hadir untuk meresmikan.

“Alhamdulillah beliau berdua sudah kita komunikasi dana menyatakan bakal rawuh (hadir),” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (21/1/2026).

Ia berkata, gedung PCNU Kota Semarang yang baru tersebut memang sudah digunakan sejak peringatan Hari Santri Nasional, namun baru diresmikan bersamaan dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) NU.

“Kita sengaja meresmikan gedung baru ini bersamaan dengan Harlah NU karena saat Hari Santri kemarin masih proses finishing,” ungkapnya.

Secara teknis, kata dia, Rais dan Ketum PBNU akan meresmikan bersama Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti.

“Kita juga sudah mengundang para sesepuh NU untuk ikut hadir dan mendoakan agar gedung baru ini lebih bermanfaat untuk NU yang lebih memasyarakat,” tuturnya.

Ketua panitia peresmian gedung PCNU, Kota Semarang, KH. Iman Fadhilah mengatakan, kegiatan dimulai dengan melestarikan tradisi Jawa, yakni slup-slupam atau ngeslupi. Sebuah tradisi tasyakuran yang lazimnya dilakukan oleh masyarakat, khususnya Jawa Tengah.

“Acara ngeslupi kita laksanakan dengan khataman Alquran, Istighotsah sampai tumpengan seperti umumnya tradisi Jawa,” tuturnya.

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan peresmian yang akan dihadiri para sesepuh, tokoh, dan aktivis NU Kota Semarang dan Jawa Tengah serta mengundang para tokoh lintas organisasi di kota Semarang. Peresmian akan dilaksanakan pada pukul 10:00 WIB.

Ketua panitia peresmian gedung PCNU Kota Semarang, KH. Iman Fadhilah saat memimpin rapat. Foto: Rifqi/Lingkar.co
Ketua panitia peresmian gedung PCNU Kota Semarang, KH. Iman Fadhilah saat memimpin rapat. Foto: Rifqi/Lingkar.co

Dana Hibah dan Mandiri

Ketua panitia pembangunan ulang gedung PCNU Kota Semarang, Farid Zamroni mengungkapkan, hibah sebesar Rp10 Miliar hanya bisa digunakan untuk fisik. Oleh karena itu, pekerjaan apembongkaran gedung lama menggunakan dana sendiri.

“Pertengahan Februari sampai Maret 2025, pembongkaran gedung lama 2 lantai dikerjakan dengan dana dari PCNU,” ungkapnya.

Meski demikian, dirinya juga mengakui sejumlah bantuan dari tokoh NU juga berupa fisik seperti lift, keramik lantai 4, railing tangga, interior aula, interior ruang kantor dan interior ruang rapat, taman, gapura jalan dan meja rapat.

Ia mengakui ada kendala pada saat mengerjakan fondasi dan basement yang berlangsung di bulan April sampai Mei. Intensitas hujan sempat basement, sempat terendam air selama 3 hari, “Alhamdulillah setelah itu bisa kita kebut dan selesai sesuai target,” ungkapnya.

Dijelaskan, tidak ada PT atau jasa perusahaan kontraktor dalam pembangunan tersebut. Menurut dia, sudah banyak kader NU yang punya pengalaman di bidang konstruksi.

“Kita swakelola, jadi hibah ini dikelola oleh PCNU dengan membentuk tim pembangunan. Mereka yang punya kompetensi di bidang ini kita rekrut sebagai tim,” urainya.

“Timnya sangat ramping dan efisien karena dana hibah hanya bisa digunakan untuk fisik pekerjaan dan supervisi saja,” jelasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Didaulat PBNU, Kota Malang Siap Gelar 1 Abad Nahdlatul Ulama

Lingkar.co – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menghadiri Kick Off Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Auditorium Prof. Dr. KH M. Tolchah Hasan Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (7/1/2026). Kota Malang, Jawa Timur.

Kota Malang resmi didaulat menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan nasional NU yang bertema ‘Memperkokoh Jam’iyah Tradisi, Kontribusi, dan Meningkatkan Peradaban’

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dalam sambutan mengapresiasi peran strategis NU sejak sebelum kemerdekaan Indonesia hingga turut serta dalam pembangunan karakter bangsa pasca proklamasi kemerdekaan.

“NU adalah bagian sejarah yang mengakar. Kami di Pemprov Jatim bersyukur atas sinergi yang baik ini, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi,” kata Emil.

Pada kesempatan itu, Emil juga menyampaikan apresiasi atas solidaritas warga NU se-Jawa Timur yang berhasil menghimpun donasi sebesar Rp3,89 miliar untuk daerah yang terdampak bencana di Sumatra dan Aceh.

Sementara, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia Lokal menyatakan kesiapannya mengawal proses hingga terselenggaranya acara. Ia memperkirakan sebanyak 40.000 hingga 50.000 jemaah akan memadati pusat kegiatan di Stadion Gajayana pada 8 Februari 2026 mendatang.

“Kami terus berkoordinasi dengan pimpinan daerah di Malang Raya. Teknis parkir, titik drop-off, hingga jadwal kedatangan jemaah dari berbagai kota sudah kita petakan agar tidak terjadi penumpukan,” jelas Wahyu.

Dijelaskan, untuk meminimalisir kemacetan, rangkaian acara akan dimulai sejak pukul 03.00 WIB dan ditargetkan rampung pada pukul 08.00 WIB. Terkait potensi kehadiran Presiden RI, Wahyu menyebut pihaknya terus menjalin komunikasi dengan PWNU untuk penyesuaian protokol pengamanan.

“Intinya Kota Malang siap menyambut tamu dan jemaah. Kita ingin momentum satu abad ini berjalan khidmat dan membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Jangan Ikut-ikutan Konflik Internal PBNU, GP Ansor Jateng Instruksikan Pengurus Fokus Program Kerja

Lingkar.co – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah DR H M Muhammad Shidqon Prabowo SH MH menginstruksikan pada jajaran pengurus di semua tingkatan dan kader di Jawa Tengah untuk tetap menjaga marwah para Kiai di tengah dinamika yang terjadi di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Nahdlatul Ulama adalah rumah besar bagi kader GP Ansor, oleh karena itu semua kader harus tetap setia menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah dan nama baik lembaga,” tegasnya, Selasa (2/12/2025).

Gus Shidqon mengatakan, juga menginstruksikan bahwa seluruh kader GP Ansor dan Banser untuk tidak melibatkan diri dan hanyut dalam dinamika yang terjadi di PBNU serta selalu berhusnudlon terhadap seluruh masyayikh, sesepuh, dan Kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Kami instruksikan seluruh pengurus di PW, Pimpinan Cabang, PAC hingga Ranting untuk fokus melaksanakan dan menyukseskan program kerja masing-masing yang telah dirancang dan tetap istiqomah dalam visi besar sebagai khodimul ummah,” tandasnya.

Selain itu, dalam instruksinya, Gus Sidqon juga menegaskan, seluruh kader tidak boleh bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi dengan PW GP Ansor Jawa Tengah. Termasuk harus tetap satu garis komando arahan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor H Addin Jauharudin serta arahan Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin.

“Kami juga instruksikan untuk selalu memanjatkan doa, semoga dinamika yang terjadi akan segera selesai dan membawa hikmah bagi Jamiyyah Nahdlatul Ulama,” ungkap Gus Shidqon yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim Semarang tersebut.

Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah, H Husein Ahmadi menegaskan, pihaknya segera mendistribusikan instruksi tersebut ke seluruh jajaran PC maupun PAC di Jawa Tengah.

“Jadi, instruksi ini tidak hanya pada pengurus saja tapi juga seluruh kader GP Ansor dan Banser di Jawa Tengah. Intinya, tidak boleh bergerak sendiri-sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan, sebelumnya, PW telah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Ketua PC GP Ansor dan Kasatkorcab Banser Kabupaten/Kota se Jawa Tengah di Ponpes Al Falah Kota Salatiga pada Minggu (30/11/2025).

Dalam Rakor tersebut juga telah disampaikan dan disepakati beberapa hal mengenai penyikapan terhadap situasi terkini baik isu nasional maupun daerah.

“Kami akan tetap fokus pada kaderisasi dan program kerja masing-masing sesuai arahan Ketua PWNU Jawa Tengah. Jangan sampai isu di atas memengaruhi roda organisasi di level badan otonom terutama di daerah,” tegas Husein.(*)

Lantik Idraroh Aliyah JATMAN, Ini Pesan Rais Aam PBNU

Lingkar.co – Rais ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, secara langsung melantik pimpinan pusat Idarah Aliyah Jam’iyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) masa khidmah 2025-2030 di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, Jawa Tengah, Senin (7/7/2025).

Pengesahan formal dilakukan melalui pembacaan Surat Keputusan PBNU Nomor: 3504 / PB.01 / A.II.01.33 / 99 /01 / 2025 oleh Ketua PBNU, KH Ahmad Fahrur Rozi.

Dalam kesempatan itu, Kiai Miftah berpesan bahwa keberadaan JATMAN tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan dinamika perjuangan Nahdlatul Ulama. JATMAN bukan hanya organisasi tarekat, lebih dari itu juga wadah menjaga kedalaman spiritual Islam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari amaliah Islam yang berpaham Aswaja an-Nahdliyah.

Ia lantas mengingatkan kembali sejarah awal berdirinya organisasi thariqah di lingkungan NU. Ia menyebut, JATMAN awalnya bernama TNU, singkatan dari Thariqah Nahdlatul Ulama, yang didirikan sekitar tahun 1957. Nama itu sempat membuat orang keliru mengira ada kaitan dengan TNI, karena bunyinya hampir serupa.

“Kalau tidak salah tadi Mudir ‘Ali menyebut ada yang mengira JATMAN dulu itu ada kaitannya dengan TNI. Padahal benar, dulu namanya TNU—Thariqah Nahdlatul Ulama. Baru menjelang muktamar pertamanya di Semarang, tahun 1959, namanya berubah menjadi Jam’iyyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah (JATM). Lalu, belakangan ditambah ‘an-Nahdliyyah’,” jelasnya.

Memang ajaran tarekat itu jauh lebih tua, lahir bersamaan dengan Islam bahkan bagian dari Islam itu sendiri. Tapi secara jam’iyyah, JATMAN baru lahir tahun 1957. Maka, tentu usianya lebih muda dari Nahdlatul Ulama yang berdiri tahun 1926, ujarn pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini.

Kiai Miftach menegaskan bahwa para ulama pendiri NU seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari juga menjalankan Tarekat. Ia bahkan menerima baiat dan talqin dari Syekh Abdul Manan.

“Saya sangat berharap, seluruh pengurus NU itu berthariqah. Bahkan kalau bisa semua warga NU, bukan hanya pengurus, juga bertarekat,” harapnya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar keterlibatan dalam Tarekat tidak mengganggu roda organisasi. Harus ada pembagian peran yang jelas agar NU tetap berjalan baik, baik secara struktural maupun kultural.

Lebih jauh, ia menyebut NU sebagai miniatur Islam yang utuh, bukan hanya dari aspek akidah, tetapi juga mencakup syariat dan tasawuf. NU menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), sebuah paham akidah yang moderat dan menjaga keseimbangan antara dimensi lahir dan batin.

“NU itu mengikuti apa yang diperintahkan Islam dan meninggalkan apa yang dilarang Islam. Jadi kita tidak membuat pembandingan. Tugas-tugas ini hanya bisa dijalankan dengan struktur yang rapi, dan tentu spiritualitas yang kokoh,” tegasnya.

Kepada para pengurus JATMAN yang dilantik, Kiai Miftach mengapresiasi karena mereka adalah kiai-kiai yang seimbang antara syariat dan hakikat. Mereka adalah sosok yang menjalani tafaqquh fi al-din (pendalaman syariat) dan tasawuf (pendalaman batin/spiritual).

Menukil pandangan Imam al-Ghazali, ia menjelaskan betapa dalam dan agungnya ilmu tasawuf. “Imam Ghazali menyatakan, beliau pernah menyelami lautan fikih dan berhasil sampai pantainya. Beliau juga menyelami lautan filsafat dan tauhid, dan selamat. Tapi ketika menyelami tasawuf, beliau justru ‘tenggelam’. Ini menggambarkan betapa dalamnya ilmu tasawuf,” urainya.

Oleh karena itu, ia mengajak agar JATMAN tidak diremehkan. Sebab, substansi yang diajarkannya bukan sekadar amalan lahir, melainkan pendidikan rohani dan pembersihan hati yang sangat penting dalam membentuk pribadi yang “benar” dan bukan sekadar “pintar”.

“JATMAN mendidik hati dan spiritual. Maka akan lahir orang-orang yang tidak hanya pintar, tapi juga bener. Dan itu yang kita butuhkan dalam kehidupan beragama dan berbangsa,” pungkasnya.

Berikut susunan pengurus JATMAN:

MUSTAFADL
Rais : KH. Dzikron Abdullah
Katib : KH. Zuhrul Anam Hisyam
Anggota : KH. Muhammad Anwar Iskandar
Anggota : KH. Masyhuri Malik
Anggota : TGH Muhammad Turmudzi Badarudin
Anggota : KH. Abuya Muhtadi Dimyati
Anggota : KH. M Ulin Nuha Arwani
Anggota : KH. Agus Aly Qoishor
Anggota : KH. Muhammad Munif Zuhri
Anggota : KH. Sholahuddin Al-Ayyubi
Anggota : KH. Tamim Romli
Anggota : Prof. Dr. KH. Abdul Hadi
Anggota : KH. Umar Muthohhar
Anggota : KH. Fathul Huda
Anggota : KH. Moh Yahya Mu’idi
Anggota : Abuya H. Mawardi Waly Al-Khalidy
Anggota : KH. Moh Sholeh Bahrudin
Anggota : KH. Ahmad Abdul Haq
Anggota : Dr. Sayyid Ammar Azmi Ar-Rofati Al-Jilani
Anggota : KH. Dr. Ahmad Sarkosi Subki
Anggota : KH. Syarifuddin Ya’qub Al-Qodiri

IFADLIYAH

Rais ‘Ali : KH. Achmad Chalwani Nawawi
Wakil Rais ‘Ali : KH. Ngadiyin Anwar
Rais : KH. Zamzami Amin
Rais : KH. Miftahur Riza
Rais : KH. Ma’shum Nur
Rais : KH. Mohammad Irfa’i Nahrawi
Rais : KH. Fathurrohman, M.Ag.
Rais : Syekh H. Ismail Royan
Rais : KH. Thabari Sadzili
Rais : KH. Abdul Muntaqim
Rais : KH. Muhammad Yunus Abdul Hamid
Rais : KH. Muhammad Jawahir
Rais : KH. Mu’in Abdurrahim

Katib ‘Ali : KH. M Zainal Arifin Ma’shum
Wakil Katib ‘Ali : KH. Nurul Huda
Katib : KH. Anwar Hidayat
Katib : KH. Abdullah Wafi Maimoen
Katib : Buya H. Riswandi Dt Siri Marajo
Katib : KH. Faizurrahman Hanif Muslih
Katib : KH. Ma’ruf Nur Salim
Katib : KH. Kholifah Sholeh
Katib : KH. Multazam Makki
Katib : KH. Robet Wahidi Abu Bakar
Katib : KH. Ade Jayadi Jalaluddin

Jatman Dilantik, Prof Ali Minta Warga NU Tidak Tolah Toleh

Lingkar.co – Prof Dr KH Ali Masykur Musa, SH MSi MHum selaku Mudir Ali Jatman masa khidmah 2025-2030 mengajak warga NU yang menjadi pengamal tarekat untuk solid dan istiqomah bernaung di bawah organisasi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman). Karena Jatman merupakan satu-satunya organisasi tarekat yang bahkan menjadi badan otonom NU.

Hal itu disampaikannya dihadapan awak media dalam konferensi pers yang dilakukan usai pelantikan Idarah Aliyyah Jatman masa khidmah 2025-2030 yang dilaksanakan di kompleks Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, Senin (7/07/2025).

“Kalau dalam bahasa jawa, pokoke ojo tolah toleh melok NU. Mohon untuk terus istiqomah di jalan sodiqin, jalannya orang-orang yang lurus dengan berpegang teguh terhadap jam’iyah Nahdlatul Ulama,” terangnya.

Disinggung mengenai adanya organisasi tarekat selain Jatman, ia menjawab bahwa demokrasi memberikan ruang kepada siapapun untuk berkumpul dan berserikat. “Negara ini adalah negara demokratis. Tentu ini menjadi ruang bagi siapa saja untuk mendirikan organisasi termasuk organisasi tarekat,” katanya.

Namun yang perlu diingat, sambungnya, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi juga memiliki aturan organisasi. “Tadi juga disampaikan bahwa Jatman adalah satu-satunya organisasi tarekat yang menjadi Badan Otomom NU,” tuturnya.

Disampaikannya, secara organisatoris pelantikan ini adalah resepsi atau ikhbar atas absahnya kepengurusan Jatman masa khidmah 2025-20230 hasil Kongres ke-13 di Asrama Haji Solo. Keluarga besar PBNU solid memberikan dukungan terhadap Jatman yang telah sah kepengurusannya sesuai dengan SK PBNU Nomor: 3504/PB.01/A.II.01.33/99/01/2025.

“Termasuk tadi Wakil Menteri Pertahanan dalam keynote speakernya juga menegaskan bahwa Jatman adalah mitra stregis pemerintah dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang penuh dengan kedamaian dan mengedapankan spiritualitas dalam membangun bangsa,” tandasnya. ***

Penulis : Lukman

Cak Imin Sindir NU: Sudah Agak Lupa dengan Lingkungan

Lingkar.co – Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, menyampaikan sindiran ringan namun menyentil kepada Nahdlatul Ulama (NU) terkait perhatian terhadap isu lingkungan hidup. Pernyataan ini disampaikan dalam acara International Conference on The Transformation of Pesantren yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (24/6/2025) malam.

Dalam kesempatan itu, Cak Imin bercerita tentang kunjungan salah satu kader PKB ke sebuah SMK industri di Bekasi yang dinilainya sangat peduli dengan lingkungan.

“Sekolah itu lebih NU dari NU karena sangat pro-lingkungan. Sementara NU, saya lihat sudah agak lupa dengan lingkungan,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan para peserta konferensi.

Sindiran tersebut disampaikan dengan nada santai dan penuh humor. Cak Imin menegaskan bahwa maksudnya bukan untuk menyinggung, melainkan sebagai pengingat agar NU dan pesantren semakin meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan yang kini menjadi tantangan global.

“Jangan terlalu serius ini, bahaya ini,” canda Cak Imin.

Selain itu, Cak Imin juga menyoroti pentingnya sinergi antara pesantren, pemerintah, dan dunia industri. Ia menegaskan bahwa PKB siap menjadi fasilitator untuk memperkuat konektivitas demi kemajuan bangsa.

“Pesantren harus bisa beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk dalam hal keterampilan dan lingkungan,” tambahnya.

Konferensi internasional ini mengangkat tema “Pesantren Berkelas Menuju Indonesia Emas: Menyatukan Tradisi, Inovasi, dan Kemandirian.” Acara dihadiri tokoh pesantren, pejabat pemerintah, dan akademisi yang membahas transformasi pesantren agar lebih mandiri dan inovatif.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ulil Abshar Abdalla, memberikan pandangan yang cukup berbeda terkait pengelolaan tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Dalam sebuah diskusi di KompasTV pada 12 Juni 2025, Gus Ulil menyatakan bahwa menjaga lingkungan memang sangat penting, namun pengelolaan tambang juga memiliki maslahat bagi negara.

“Saya punya sudut pandang yang berbeda mengenai soal pengelolaan tambang ini. Memang ada dilema dalam mengurus sumber daya alam, antara maslahat dan mafsadat,” ujar Ulil.

Ia menegaskan, “Menjaga lingkungan itu penting, tetapi mengelola tambang itu juga maslahat. Penambangan itu bermanfaat untuk negara ini. Yang tidak baik adalah bad mining, bukan penambangan itu sendiri.”

Gus Ulil juga mengapresiasi langkah pemerintah yang mencabut empat dari lima izin usaha pertambangan (IUP) di Raja Ampat, sebagai respons cepat atas aduan masyarakat. Namun, ia menyerahkan keputusan terkait izin yang masih berjalan, yakni PT Gag Nikel di Pulau Gag, kepada pemerintah dengan mempertimbangkan aspek legal dan historis.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa eksploitasi sumber daya alam harus dilakukan dengan prosedur yang benar dan mengutamakan kemaslahatan publik serta keadilan lingkungan.

“Kita tidak ingin eksplorasi sumber daya alam hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan masyarakat serta lingkungan,” kata Gus Ulil. (*)