Arsip Tag: Pergerakan Mahasiswa Islam indonesia

Gubernur Ajak PMII Berkolaborasi Jadi Penggerak Pembangunan di Jawa Tengah

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengajak Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk ikut berperan sebagai penggerak perubahan di Jawa Tengah.

Luthfi mengingatkan, tantangan pembangunan daerah semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Butuh seluruh elemen, termasuk mahasiswa, untuk terlibat dalam pola collaborative government

Di hadapan ratusan kader dan alumni PMII, Ahmad Luthfi menekankan bahwa pergerakan mahasiswa harus hadir langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar mengikuti dinamika dari kejauhan.

“Jangan hanya menonton suatu perubahan, tetapi kita harus mengubah yang ada di Provinsi Jawa Tengah di pundak kita sekalian,” ujarnya saat menghadiri halal bihalal dan tasyakuran Hari Lahir ke-66 PMII di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (17/4/2026).

Ahmad Luthfi yang juga alumni PMII itu menilai, tantangan pembangunan daerah semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia mendorong seluruh elemen, termasuk mahasiswa, untuk terlibat dalam pola collaborative government.

“Kita harus membentuk super team. Pemerintah, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat harus bergerak bersama,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi memaparkan capaian penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah dari 9,58 persen menjadi 9,39 persen. Ia menegaskan, capaian itu merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor.

“Ini tidak bisa dilakukan satu institusi. Harus kita keroyok bersama-sama,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mendorong kader PMII terjun langsung dalam isu-isu konkret, termasuk penanganan bencana yang kerap terjadi di wilayah Jawa Tengah. Menurutnya, kehadiran nyata di lapangan menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah pergerakan.

“Kalau tidak terlibat, Anda hanya menonton perubahan. Pergerakan itu harus hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.

Bahkan, ia secara terbuka mengajak kader PMII untuk ikut ambil bagian dalam aksi-aksi sosial di lapangan.

“Semakin kotor Anda bersama kami di lapangan, semakin berhasil pergerakan itu,” ujarnya disambut riuh peserta.

Menutup sambutannya, Luthfi menegaskan komitmennya membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi masyarakat dan organisasi kepemudaan.

“Rumah Gubernur adalah rumah rakyat. Siapa pun boleh datang kapan saja,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PB IKA-PMII, Fathan Subchi, menilai usia PMII yang telah mencapai 66 tahun menuntut kontribusi nyata dari kader dan alumni dalam pembangunan bangsa.

“PMII sudah cukup dewasa. Maka kita harus bicara tentang kontribusi, peran, dan partisipasi,” ujarnya.

Senada, Ketua PW IKA-PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. Musahadi, menyebut momentum halal bihalal ini sebagai ajang konsolidasi untuk memperkuat sinergi antara alumni, kader, dan pemerintah.

“Ini adalah konsolidasi kekuatan, guyub, sinergi, dan kolaborasi. Potensi alumni kita besar dan harus dimaksimalkan untuk kemanfaatan masyarakat,” ungkapnya. (*)

Harlah 66 Tahun PMII Semakin Dewasa, Saatnya Bicara Kontribusi Bagi Pembangunan

Lingkar.co – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Alumni (Ika) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Fathan Subchi menegaskan, sudah saatnya bicara kontribusi bagi pembangunan di usia 66 tahun PMII.

“Hari ini kita Harlah yang ke-66, kalau kita bicara usia PMII sudah cukup dewasa, sudah cukup kuat. Saat ini kita harus bicara tentang kontribusi kita, peran kita, partisipasi kita dalam pembangunan,” tegasnya.

Senior PMII yang kini menjadi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) ini menegaskan hal itu saat Halal Bihalal dan Resepsi Hari Lahir (Harlah) ke-66 PMII di Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (17/4/2026).

Ia menilai, kegiatan yang berlangsung pada sore ini merupakan forum untuk menyatukan potensi baik kader maupun alumni.

“Tentu ini adalah forum konsolidasi berbagai kekuatan, guyup, sinergi, kolaborasi,” ujarnya.

Untuk itu ia meminta kepada seluruh kader PMII untuk mendengarkan arahan Gubernur Jateng untuk menegaskan tekat membantu pemerintah dalam menekan dan mengentaskan kemiskinan di Jateng.

Menurut Fathan, PMII telah memiliki kekuatan di birokrasi maupun di dunia akademis bisa dimaksimalkan untuk mempertegas peran PMII dalam pembangunan, dalam mengentaskan kemiskinan.

Mantan anggota DPR RI ini lantas memaparkan terbentuknya Ika PMII hingga di Papua, hampir merata di seluruh Indonesia.

“Bagaimana Ika PMII ini menjadi medan pengabdian yang luar biasa,” tuturnya.

Ia bilang, para alumni sudah banyak yang duduk di lembaga eksekutif, dan legislatif,

“Bupati yang kita tulis itu ada sekitar 40 sampai 60 orang,” sebutnya.

Dalam kondisi keterbatasan fiskal, lanjutnya, butuh inovasi-inovasi generasi muda Nahdlatul Ulama, PMII sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah.

Sebelumnya, Ketua PW Ika PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. Musahadi menekankan pentingnya bersinergi dengan pemerintah, terlebih Gubernur Jateng saat ini juga alumni PMII.

“Sehingga kita patut mendukung agar program-program pembangunan di Jawa Tengah ini bisa berjalan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Terpenting, kata dia, adanya PMII dan Ika PMII di setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah bisa memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

“Semua pengurus cabang di kabupaten/kota saya harap bisa mengonsolidasi diri dengan sebaik-baiknya,” pesannya. (*)

Sikapi Tren AI, Bupati Lamsel Ingatkan Guru Tidak Bisa Digantikan Mesin

Lingkar.co – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menegaskan kemajuan teknologi telah mengubah pola pembelajaran secara signifikan dan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi tren. Namun, ia menekankan bahwa peran guru tidak bisa tergantikan sepenuhnya oleh mesin.

“Transfer informasi saat ini dapat dilakukan oleh teknologi, tetapi inspirasi hanya bisa diberikan oleh jiwa seorang guru,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu ia menekankan pentingnya kemampuan adaptasi bagi tenaga pendidik dalam menghadapi perubahan global yang kian cepat, terutama di tengah perkembangan teknologi seperti AI.

Pesan itu disampaikan Egi saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk How to Be Great Teacher yang digelar di Aula SMA Kebangsaan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (3/4/2026).

Pada kesempatan itu Egi juga mengingatkan bahwa perubahan global tidak hanya terjadi di tingkat pusat atau kota besar, tetapi turut berdampak hingga ke daerah, termasuk wilayah pedesaan.

“Meskipun kita berada di desa, perubahan global tetap mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat,” kata Egi.

Dalam forum yang diikuti sekitar 1.500 guru dari tingkat PAUD, SD, hingga SMP di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Lampung Selatan tersebut, Egi mendorong para pendidik untuk terus memperluas wawasan dan tidak berhenti mengikuti perkembangan zaman.

“Kita tidak boleh berhenti membuka cakrawala terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi. Dunia memang sedang mengalami pergeseran peradaban,” pesannya.

Ia juga mengajak para guru untuk menjadikan tantangan sebagai bagian dari proses bertumbuh, bukan hambatan.

“Jika ingin menjadi besar, kita harus melalui proses, termasuk menghadapi tantangan sebagai bagian dari adaptasi,” jelasnya.

Seminar yang mengusung tema “Pengajar Belum Tentu Mengajar, Tapi Mampu Menginspirasi” itu turut menjadi ruang penguatan kapasitas tenaga pendidik di tengah dinamika pendidikan global.

Pada kesempatan tersebut, Pemkab Lampung Selatan juga memberikan apresiasi kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lampung Selatan yang berkolaborasi dengan Komunitas Teacher Preneur dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Egi menilai, keterlibatan organisasi mahasiswa menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan di daerah.

“Kami mengapresiasi peran organisasi mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui kegiatan yang mendorong kapasitas tenaga pengajar,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan mampu meningkatkan kompetensi serta memperkuat peran strategis mereka dalam menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi. (*)

IKA PMII Jateng Serius Dorong Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Batang Jadi Contoh Pertumbuhan Ekonomi

Lingkar.co – Penanggulangan kemiskinan ekstrem menjadi perhatian serius Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengentasan Kemiskinan Ekstrem yang digelar di Pendopo Kabupaten Batang, Jumat (26/12/2025).

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kabupaten Batang saat ini menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang positif dan menjadi salah satu daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi terbaik di Pulau Jawa.

“Batang termasuk salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi paling baik di Jawa, bahkan masuk 10 besar nasional. Target pertumbuhan 8 persen pada 2025 ini insya Allah tercapai, dan gini rasio kita juga terus menurun. Artinya ketimpangan dan kemiskinan semakin berkurang,” ujar Faiz.

Faiz menegaskan bahwa peran organisasi kemasyarakatan seperti IKA PMII sangat penting dalam proses pembangunan, termasuk dalam penguatan sumber daya manusia dan jejaring sosial.

“PMII adalah bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kalau tidak ada PMII, saya tidak akan menjadi Bupati Batang hari ini. PMII memberi pembentukan karakter, soft skill, hard skill, nilai, dan jejaring yang luar biasa,” katanya.

Ketua Panitia FGD, Abdul Hamid, menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran pengurus pusat dan daerah IKA PMII serta Pemerintah Kabupaten Batang dalam kegiatan tersebut.

“Kami berterima kasih kepada Pak Bupati yang telah memfasilitasi kegiatan ini di tengah padatnya agenda akhir tahun. Kehadiran Ketua Umum PB IKA PMII juga menjadi kehormatan bagi kami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PW IKA PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. Musahadi, menjelaskan bahwa persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan besar di Jawa Tengah sehingga perlu penanganan bersama secara sistematis dan berkelanjutan.

“Kami telah mencanangkan program pendampingan desa miskin, penguatan amil zakat IKA PMII, peningkatan kompetensi bahasa asing kader, hingga program penulisan 100 tokoh pesantren dan kiai Jawa Tengah. Semua ini adalah bagian dari ikhtiar sosial kami,” jelas Musahadi.

Ketua PB IKA PMII, Fathan Subchi, menekankan pentingnya konsolidasi organisasi dan keberpihakan nyata kepada masyarakat miskin.

“Kita tidak boleh lupa akar perjuangan. Konsolidasi penting agar kader yang sudah ‘merdeka’ tetap punya komitmen sosial. Batang menjadi contoh bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa berjalan seiring dengan pengurangan kemiskinan,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi kinerja Pemerintah Kabupaten Batang yang dinilai berhasil menarik investasi strategis, mulai dari industri pangan, manufaktur, hingga pengembangan energi terbarukan seperti PLTS.

FGD ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan program kolaboratif antara pemerintah daerah dan IKA PMII dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem, sekaligus memperkuat peran alumni PMII dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Jawa Tengah. (*)

Penulis: Husni Muso

Mapaba Perdana, Letakkan Fondasi PMII di Universitas Ivet Semarang

Lingkar.co – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang meletakkan fondasi di Universitas Ivet (Unisvet) dengan menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) perdana.

Rektor Universitas Ivet Semarang, Dr. Luluk Elyana, SPdI, MSi dan Dekan Fakultas Agama Islam (FAI), Siti Maemunah turut hadir memberikan dukungan penuh atas dimulainya perjalanan PMII di kampus tersebut.

Ketua PC PMII Kota Semarang, Afiq Nur Cahaya saat pembukaan menegaskan bahwa Mapaba ini bukan sekadar formalitas, namun lebih dari itu menjadi awal dari kebangkitan gerakan mahasiswa di Universitas Ivet.

“Mapaba ini merupakan langkah awal dari kebangkitan ruh organisasi pergerakan di Universitas Ivet Semarang ini, Kami berharap rumah yang baru dibangun ini dan kader-kader didalamnya nanti dapat menjadi penggerak perubahan,” kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (5/12/2025)..

Mengusung tema; Mapaba: Jalan Awal Membentuk Kader Berkeyakinan Teguh dan Berwawasan Transformatif, kegiatan tersebut dilanjut dengan deklarasi berdirinya Pengurus Komisariat PMII Unisvet.

Afiq berharap deklarasi tersebut menandai babak baru bagi PMII Kota Semarang dalam menguatkan basis kaderisasi di lingkungan akademik.

“Kami berharap kehadiran PMII, Universitas Ivet semakin kokoh dan menjadi ruang transformasi mahasiswa menuju pribadi yang kritis, religius, dan progresif,” tuturnya.

Sementara, Dekan FAI Universitas Ivet, Siti Maemunah berharap gerakan PMII di Ivet dapat menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa berbasis nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

“Adanya Mapaba ini, semoga menjadi titik awal berdirinya PMII di kampus kita, yang terkenal dengan motto dzikir, pikir, dan amal saleh,” harapnya.

Senada, Rektor Dr. Luluk Elyana menegaskan bahwa Mapaba yang pertama kali tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Ivet masih memiliki antusias tinggi terhadap gerakan intelektual, dan ruang-ruang pengembangan diri.

“Diselenggarakannya Mapaba ini menandakan bahwa mahasiswa Universitas Ivet masih haus akan ruang gerakan dan wadah untuk melejitkan daya kritis mereka,” tandasnya. (*)

PMII Salatiga Dilantik, Siap Tinggalkan Stagnasi dan Perkuat Tradisi Toleransi

Lingkar.co — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Salatiga resmi memulai masa kepengurusan 2025–2026 setelah dilantik pada Sabtu (29/11). Mengangkat tema “Cita Loka Pergerakan: Hantam Stagnasi, Bentengi Toleransi”, prosesi pelantikan menjadi penanda awal konsolidasi gerakan PMII di kota berhawa sejuk itu.

Sejumlah tokoh hadir memberikan dukungan, seperti Wasekjend PB PMII Aji Fadhil Hidayatullah, Bendahara PKC PMII Jateng Hendrik, Ketua MabinCab PMII Salatiga Luqman Hakim, serta perwakilan IKA PMII dan berbagai organisasi mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Aji Fadhil Hidayatullah menyoroti pentingnya penguatan kapasitas kader di tengah cepatnya perubahan global.

“Kita memasuki fase baru dengan tantangan yang tidak lagi sama. Kader PMII harus terus memperkaya literasi digital dan kemampuan akademiknya,” tegasnya.

Aji menekankan bahwa gagasan Era Baru PMII merupakan ajakan untuk memperluas peran kader dalam dinamika masyarakat modern, bukan sekadar slogan internal.

“Sekarang kader PMII tidak cukup hanya hadir di ruang sosial atau akademik, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan, terutama di ranah digital,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman isu kebangsaan dan problem sosial agar kader mampu menawarkan solusi nyata.

“Pemimpin PMII ke depan harus punya kapasitas, integritas, dan orientasi pada penyelesaian masalah. Itu yang akan menjaga PMII tetap relevan,” tambahnya.

Sementara itu, Muhammad Nabil Murod sebagai Ketua PC PMII Salatiga yang baru dilantik menegaskan komitmennya menjadikan PMII sebagai ruang pengkaderan intelektual Nahdliyin yang lebih progresif.

“Kader PMII harus responsif terhadap perkembangan zaman, kritis membaca isu, dan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Nabil melihat penguatan tradisi intelektual berbasis nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi agar kader tumbuh menjadi pribadi yang moderat, visioner, dan inklusif.

Menurutnya, tema “Hantam Stagnasi, Bentengi Toleransi” menjadi pengingat agar organisasi tidak berjalan di tempat, dan tetap inovatif dalam menjawab tantangan teknologi maupun dinamika sosial.

Pelantikan ini menandai dimulainya babak baru PMII Salatiga untuk memperkuat pergerakan yang adaptif, progresif, dan berorientasi pada semangat toleransi sebagai tiang utama organisasi. ***

Audiensi dengan Wakil Bupati, PMII Sampaikan 13 Tuntutan

Lingkar.co – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pemalang menyampaikan 13 tuntutan kepada orang nomor dua di Pemalang, Jawa Tengah. Para aktivis kepemudaan berbasis mahasiswa ini menilai banyak persoalan masyarakat yang harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang.

“Audiensi ini kami lakukan untuk membahas secara langsung masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Pemalang. 13 poin yang kami ajukan adalah hal-hal yang mendesak dan memerlukan perhatian segera dari pemerintah daerah,” ujar Ketua PC PMII Pemalang, M. Ade Sulaiman dalam siaran persnya, Ahad (31/8/2025).

Ade menyebut persoalan infrastruktur jalan yang rusak dan terkena longsor, seperti yang terjadi di Desa Jatingarang, Kecamatan Bodeh, serta di Kecamatan Watukumpul sebagai hal yang utama. “Kita tahu roda ekonomi ini sangat bergantung dengan adanya infrastruktur jalan yang baik. Kami harap ini bisa cepat terselesaikan agar masyarakat tidak merasa dirugikan,” katanya

Selain itu, kata dia, pihaknya juga menyoroti masalah banjir rob di Ulujami, pengadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di setiap kecamatan, serta penyelesaian kemiskinan ekstrem di Pemalang. Selanjutnya, PMII juga meminta solusi tentang pemerataan fasilitas kesehatan dan pendidikan di seluruh wilayah, pengadaan perguruan tinggi negeri di Pemalang, revitalisasi sumber daya air bersih.

“Mestinya persoalan kebersihan dan kesehatan, perhatian gizi anak dan ibu hamil juga menjadi perhatian serius kalau kita memang punya target menuju Indonesia Emas,” tandasnya.

Tidak hanya itu, para mahasiswa juga menyoroti perlunya perbaikan insentif untuk guru dan tenaga honorer. “PMII Pemalang juga mengajukan langkah konkret dalam revitalisasi penerangan jalan umum di Kecamatan Bantarbolang dan pengawasan ketat terhadap operasional kendaraan bermuatan besar,” urainya.

Sebanyak 13 hal penting itu mereka sampaikan saat diterima audiensi oleh Wakil Bupati Pemalang, Nurkholes pada Jumat, 29 Agustus 2025 kemarin di ruang rapat Setda Kabupaten Pemalang.

Ade bilang, 13 tuntutan tersebut merupakan hasil advokasi yang dilakukan oleh PMII Pemalang terhadap keluhan-keluhan masyarakat. “Kami tidak hanya berdiskusi, namun juga berdasarkan kajian dari berbagai keluhan masyarakat, kita terjun langsung ke lapangan, bertemu dan berdialog dengan masyaraka,” paparnya.

“Kami berharap agar setiap persoalan yang kami ajukan bisa segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah, demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Pemalang,” harapnya.

Apresiasi dan Kolaborasi

Wakil Bupati Pemalang, Nurkholes memberikan apresiasi atas kerja strategis PMII di Pemalang. Ia juga mengaku peran berbagai pihak termasuk mahasiswa sangat dibutuhkan sehingga aspirasi masyarakat tersampaikan dengan cara yang baik dan benar.

“Kami menyadari bahwa tanpa kolaborasi dan dukungan dari masyarakat, pemerintah daerah akan kesulitan dalam menyelesaikan berbagai masalah. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi peran PMII yang turut serta dalam memberikan masukan-masukan konstruktif untuk kemajuan Pemalang,” tuturnya.

Menanggapi tuntutan yang disampaikan, Wabup menyebut beberapa masalah masih dalam tahap lelang, sesuai dengan prosedur yang berlaku. “Untuk persoalan jalan di desa Jatingarang, Bodeh, sudah masuk tahap lelang, tinggal menunggu pelaksanaan,” katanya.

“Begitu juga dengan longsor di Watukumpul, kami sedang berkoordinasi dengan Perhutani untuk pembebasan lahan guna membuatkan jalan yang aman,” sambungnya.

Wabup juga berjanji akan segera menindaklanjuti isu-isu lain seperti pengangkutan puing longsoran agar lahan persawahan warga dapat segera dipulihkan.

Dalam audiensi tersebut, Pemkab dan PMII Pemalang sepakat untuk terus berkomunikasi guna mencari solusi terbaik bagi permasalahan yang ada, serta menciptakan Pemalang yang lebih baik dan sejahtera. (*)

Refleksi HUT ke-80 RI, IKA PMII Jateng Bedah Buku Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkai dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Membuka bedah buka, Adib, sapaan akrab M. Kholidul Adib memaparkan bahwa buku yang ia tulis merupakan implementasi deklarasi PW IKA PMII Jawa Tengah saat halal bi halal pada tanggal 24 April 2025 di Pendopo Bupati Blora. Saat itu, kata dia, IKA PMII Jateng melakukan deklarasi untuk bergerak menulis sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Proses pembuatan buku melibatkan penulis dari anggota IKA PMII di Jawa Tengah.

Menurutnya, buku tersebut mengupas sejarah perjuangan ulama sejak di era kesultanan Demak hingga era kemerdekaan. “Pada buku edisi pertama ini disusun dalam waktu dua bulan, yaitu Mei-Juni dan berisi 51 sejarah singkat ulama pejuang di Jawa Tengah dan insya Allah akan disusul edisi kedua,” kata Adib.

Lebih lanjut Adib menyebut budaya literasi untuk melanggengkan kontribusi dalam berjuang bukanlah satu-satunya tujuan dalam penulisan buku tersebut. Lebih dari itu menjadi pemetaan potensi pengajuan gelar pahlawan nasional.

“Tujuan penulisan buku ini ada tiga. Pertama literasi sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Kedua meneladani pejuangan para ulama untuk konteks kehidupan sekarang dan ketiga jika memenuhi syarat bisa diajukan sebagai pahlawan nasional,” ujarnya.

Kata dia, kegiatan bedah buku diadakan di Wisma Perdamaian karena berada di depan Tugu Muda yang dibangun untuk mengenang perjuangan masyarakat Semarang yang gigih berjuang melawan penjajah pada tanggal 15-19 Oktober 1945. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan istilah Pertempuran 5 Hari di Semarang.

IKA PMII Jateng Gelar Refleksi HUT ke-80 RI, Ketua MUI Jateng Sebut Ulama Sebagai Pelopor Perjuangan Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkul dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Dr. KH Ahmad Darodji yang didaulat Keynote Speach memberikan pemantik bahwa sejak dahulu para tokoh Islam atau ulama merupakan pelopor perjuangan bangsa dalam melawan kolonialisme di Nusantara (Indonesia).

“Dari dulu yang gigih mempelopori perjuangan perlawanan terhadap penjajah itu ya ulama. Namun selama ini kiprah perjuangan para ulama belum banyak yang ditulis sehingga generasi muda sekarang belum banyak yang tahu,” kata Darodji.

Menurut Darodji, sebagai umat Islam yang berbangsa Indonesia harus bersyukur dengan nikmat kemerdekaan yang diperoleh melalui perjuangan para orang tua terdahulu, terutama para ulama yang menjadi pelopor pejuangan melawan penjajah.

“Untuk itu, guna mengenang dan meneladani perjuangan para ulama sekaligus memupuk jiwa nasionalisme kita semua, terutama para generasi muda, maka refleksi kemerdekaan ke-80 dan launching buku ini menjadi sangat penting untuk kita apresiasi,” ujarnya.

Usai Darodji memberikan orasi kebangsaan, kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM dr. Ikhwan Hamzah, dan dilanjutkan dengan bedah buku.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum'at (22/8/2025). Foto: dokumentasi
Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum’at (22/8/2025). Foto: dokumentasi

Ajukan Gelar Pahlawan Nasional

Ketua LP2M UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Arief Junaidi menyatakan penulisan sejarah yang dilakukan PW IKA PMII Jawa Tengah ini sangat penting. Sebab, hal itu bisa jadi pijakan untuk merengkuh masa depan.

“Penulisan sejarah ini bagian dari upaya menapaki pijakan sejarah supaya kita dapat menempatkan sejarah dalam locus dan tempus tertentu. Untuk itu kita harus melengkapi diri kita dengan data-data sejarah yang banyak dan valid,” ujarnya.

Duet Zubairul Kamal I’tazza dan Rita Andria Ismawati Pimpin PMII Rembang

Lingkar.co – Zubairul Kamal I’tazza sebagai ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) resmi berduet dengan Rita Andria Ismawati sebagai ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Kabupaten Rembang. Keduanya terpilih dalam Konferensi Cabang (Konfercab) ke-VII di gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Rembang.

Azza, sapaan akrab Zubairul Kamal I’tazza menjalin komunikasi kembali dengan semua komisariat di 5 kampus untuk menentukan arah pergerakan. “Setelah komunikasi selesai akan saya rancang roadmap dan masterplan PMII Rembang mulai dari level kemandirian dan pemberdayaan anggota,” kata Azza melalui pesan tertulis, Senin (16/6/2025).

Dirinya menyebut keterampilan dan kompetensi kader di era industri digital 5.0 menjadi tantangan tersendiri. “Ketika kader dan anggota dapat memenuhi kualifikasi zaman maka akan mudah bagi kami untuk mewujudkan roadmap melalui masterplan yang telah kami rancang,” ujarnya.

Azza juga menyatakan komitmen untuk menciptakan ekosistem organisasi yang sehat, yakni imbal balik yang berimbang antara perkembangan organisasi dengan para aktivis penggerak organisasi. “Karena kami meyakini jika faktor ekonomi yang selama ini menjadi hambatan yang cukup besar bisa kami hilangkan, maka berjalannya organisasi akan menemukan titik terang dalam internal kami,” ucapnya.

Ia juga ingin memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat dengan aksi yang solutif seperti kegiatan sosialisasi dan pelatihan.

“Agar generasi muda tetap berada di jalur anak bangsa yang haus akan pendidikan sekalipun berasal dari kalangan ekonomi lemah, karena memperjuangkan harkat dan martabat anak bangsa adalah harapan besar kami. Kami akan tetap menjadi garda terdepan dalam kekosongan minat anak bangsa akan pendidikan, kemajuan, dan harapan Indonesia emas 2045” tandasnya.

Sementara Rita hadir dengan visi kuat yang berorientasi pada pemberdayaan peran perempuan. Ia membawa visi menciptakan wadah kaderisasi perempuan yang progresif, inklusif, dan solutif, serta menjadi garda terdepan pembangunan peradaban. “Ini adalah awal dari perjalanan kita bersama untuk PMII Rembang yang lebih gemilang,” lugasnya

Sebagai informasi, Konferancab PMII Kabupaten Rembang berjalan dengan meriah dan semangat kekeluargaan. Konfercab mengusung tema besar ‘Transformasi Kepemimpinan: Menjawab Tantangan Zaman Menuju PMII Rembang yang Progresif’. Pada saat pemilihan, Azza meraih 4 suara dan berhasil unggul atas Thoriqul Ulum yang hanya meraih 1 suara.

Ketua Badan Pekerja Konfercab (BPK). M. Shohibul Burhan Qidmaya dalam sambutan mengungkapkan harapan konferensi tertinggi di tingkat kabupaten/kota menjadi awal perbaikan hingga tingkat rayon atau fakultas. “Kami menitipkan harapan kepada seluruh kader untuk mengejawantahkan forum tertinggi di level cabang PMII ini sebagai titik tolak transformasi di segenap instrumen organisasi,” ujarnya.

Sementara, Ketua PC PMII Rembang, Habibur Rohman mengapresiasi kerja keras panitia dan membakar semangat seluruh peserta Konfercab dengan memberikan motivasi. “Teruslah berproses di organisasi ini, sebab di sinilah kalian ditempa untuk menjadi pemimpin masa depan,” serunya.

Senada, Ketua PCNU Kabupaten Rembang, KH. Muhtar Nur Halim, yang tak lain juga kader PMII ikut memberikan motivasi. Menurut dia, organisasi PMII sudah sepatutnya menjadi motor di setiap level dan entitas masyarakat.

“PMII harus menjadi lokomotif perubahan, di mana pun kalian berada, itu adalah keniscayaan. Maka, cerdas-cerdaslah dalam berproses, pertimbangkan segala dampak dari setiap gerakan kalian,” tegas Muhtar. (*)