Arsip Tag: Kemendiktisaintek

Soroti Ketimpangan Perguruan Tinggi Negeri dengan Swasta, Muhammadiyah Minta Regulasi Jangan ‘Bunuh’ PTS

Lingkar.co – Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyoroti ketimpangan yang terjadi antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Oleh karena itu, Muhammadiyah meminta jangan sampai regulasi yang tidak berkeadilan membunuh PTS di Indonesia.

Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji menyampaikan hal itu dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPR RI tentang Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru PTS, Rabu (15/4/2026).

Bambang menyebut terdapat kenaikan mahasiswa di Indonesia. Akan tetapi kenaikan jumlah mahasiswa itu hanya dirasakan oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN), sementara PTS semakin turun.

“Seharusnya ke arah sana (naik) semua, namun agak landai. Tapi ini secara absolut menurun, ini memang ada masalah. Maka kalau tidak segera kita pecahkan akan terus jadi masalah,” ungkap Bambang di hadapan Komisi X DPR RI.

Ia mengakui jumlah mahasiswa aktif secara nasional dari 2020 hingga 2025 mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun jumlah mahasiswa PTN mengalami kenaikan signifikan pada 2025 menjadi 4,5 juta, padahal pada 2022 hanya berjumlah 2,9 juta.

Berbanding terbalik, PTS yang seharusnya jumlah mahasiswanya ikut naik pada tahun-tahun yang sama justru mengalami penurunan. Misalnya dari 4,8 juta pada 2023, menjadi 4,3 juta pada 2025.

“Kemudian yang saya tangkap adanya nuansa atau keinginan untuk membunuh atau mematikan PTS kecil. Industri kita ini 90 persen lebih itu UMKM, itu yang bisa melayani itu PTS kecil,” katanya.

Ia menegaskan, PTS juga berkontribusi dalam melahirkan sumber daya untuk pembangunan ekonomi Indonesia berbasis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), termasuk UMKM yang berada di kawasan PTS juga perlu perhatian.

Bambang menjelaskan maksud dari nuansa ingin ‘membunuh’ PTS kecil, di antaranya adalah dengan menetapkan peraturan jumlah kuota mahasiswa perguruan yang bisa dibina harus memiliki minimal 300 mahasiswa.

Ia menilai peraturan tersebut menyebabkan kampus yang jumlah mahasiswanya di bawah itu tidak masuk pembinaan.

“Sehingga jumlah kampus yang mahasiswanya tidak lebih dari 300 tidak berhak mengakses dana negara. Mestinya itu seratus pun boleh kan?,” kata Bambang.

Menurutnya biaya terjangkau yang ditawarkan oleh PTS di daerah-daerah ini menjadi pembuka kesempatan berkembang bagi UMKM. Sebab sarjana yang dihasilkan mematok harga yang tidak mahal, sehingga cocok untuk pelaku UMKM.

“Jadi PTS kecil itu sangat penting, karena menghasilkan sarjana yang akan melayani industri-industri kita UMKM,” ungkapnya.

Dia memandang jika ruang kerja di sektor UMKM diserahkan kepada anak-anak yang berasal dari PTN besar. Mereka akan berharap akan digaji tinggi, padahal UMKM belum tentu mampu untuk menggaji mereka karena terjadi mismatch.

“Untuk menolong industri UMKM kita itu, peran PTS kecil sangat penting. Oleh sebab itu mohon izin tolong diperbaiki ini,” imbuhnya.

Selain akses dana program pembinaan PTS, Bambang juga meminta supaya kuota beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) lebih berkeadilan. Sebab kuota beasiswa KIP di PTS sangat terbatas.

Perubahan Pemendikbudristek 48 Tahun 2022

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Majelis Dikitilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Ahmad Muttaqin meminta adanya perubahan regulasi, khususnya Pemendikbudristek 48 Tahun 2022 tentang Seleksi PTN.

Dalam regulasi tersebut, PTNBH menurutnya seperti Pukat Harimau yang mengeruk seluruh calon mahasiswa. Sehingga PTS terdampak, dengan jumlah mahasiswa barunya yang terus mengalami penurunan.

Meski sudah ada perubahan dengan Permendiktisaintek 3 Tahun 2026 tentang PMB PT, akan tetapi masih ada peluang bagi PTN untuk mengeruk mahasiswa sebab ada kuota lewat jalur mandiri.

“Maka kami termasuk yang setuju kalau seandainya tadi dari teman-teman APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) dan lain-lain, sampai kepada jalur mandiri dibuang saja,” katanya.

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mendorong pemerintah untuk membangun regulasi yang berkeadilan bagi PTS. Dengan itu diharapkan PTS dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas agar tetap kompetitif.

Sementara, PTNBH didorong pada peningkatan mutu menjadi World Class University (WCU) dengan membatasi jumlah mahasiswa S1, untuk fokus pada master dan doktor.

Di sisi lain, Pemerintah memberi mandat kepada PTS untuk peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi, dan bagi PTS yang unggul diberi tugas untuk juga pada peningkatan mutu menjadi WCU.

“Kebijakan PMB antara PTN dan PTS yang berkeadilan ini saya kira akan menjadi kunci tercapainya target SDG’s perguruan tinggi di Indonesia,” tutupnya. (*)

Wisuda XI Unisvet Semarang, Rektor Luluk Elyana Minta Peran Alumni

Lingkar.co – Alumni sebuah perguruan tinggi punya peranan penting dalam keberlanjutan institusi kampus. Untuk itu, peranan alumni sangat dibutuhkan untuk kemajuan dan keberlangsungan kampus.

“Kita (Unisvet Semarang, red) punya keluarga ikatan alumni Unisvet, kepengurusannya dari beragam Prodi, lintas Fakultas dan lintas tahun kelulusan,” ucap Rektor Universitas Ivet (Unisvet) Semarang, Luluk Elyana usai Sidang Terbuka Senat Universitas Ivet Semarang dalam Wisuda XI di Hotel Patra Jasa Semarang dalam siaran persnya, Kamis (20/11/2025).

Luluk menjelaskan dibuatnya wadah alumni setidaknya punya beberapa tujuan. Pertama, untuk menguatkan loyalitas kepada almamater. Kedua, untuk menjaga silaturahmi dengan kegiatan kebermanfaatan bersama, dan ketiga, bisa menunjang prestasi dan karir mahasiswa.

“Tadi banyak prestasi yang diraih oleh para wisudawan, baik tingkat regional, nasional dan internasional. Prestasi yang kita raih itu tidak lepas dari peran alumni, juga pimpinan kampus. Baik motivasi, bimbingan dan pendampingan,” urainya.

Sumbangsih alumni, kata Luluk, selain untuk menunjang prestasi mahasiswa juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang kini masih berproses.

“Mereka (para alumni Unisvet, red) secara gotong royong, ada kas yang dialokasikan untuk beasiswa,” ungkapnya.

Masih menurut Luluk, bahwa kampus yang ia pimpin kini juga fokus pengembangan teknopreneur, bahkan tiap tahun ada gelaran pameran teknoprenuer.

“Awal tahun 2026 akan digelar pameran teknoprenuer, disini sebagai ajang kolaborasi alumni, bisa saling sharing, koordinasi, kerjasama untuk kemajauan bersama,” tegasnya.

Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Jawa Tengah ini menambahkan, para alumni yang ada di luar negeri seperti di Cina, Dubai terus berkomunikasi, memberikan motivasi dan berkontribusi untuk pengembangan Universitas, baik membantu untuk akreditasi, juga membantu karir mahasiswa atau wisudawan.

“Banyak peluang-peluang magang, kerja yang ditawarkan dari para alumni. Mereka bisa menarik atau merekrut junior-juniornya untuk karir kedepannya,” tandasnya

Kepala PPKPT Subdirektorat Kemendiktisaintek, Denny Kurniawan menuturkan, setidaknya ada empat hal kunci kesuksesan penyelenggaraan perguruan tinggi, terlebih bagi kampus swasta. Pertama; penyelenggara/yayasan, kedua; institusi pendidikan/Rektor, Dosen dan Tenaga Pendidikan (Tendik), ketiga; wali peserta didik dan keempat; peserta didik (mahasiswa) itu sendiri.

“Keempat entitis ini harus saling kerjasama, kompak dan harmonis. Ibarat kapal, yayasan sebagai nahkodanya dan Rektor sebagai kaptenya, harus seiring sejalan, satu visi, untuk tumbuh dan sukses bersama,” ucapnya.

Denny melanjutkan, banyak kasus kampus sulit berkembang, karena ada turbelensi antara pihak yayasan dan rektorat.

“Indikator kampus dikatakan sukses salah satunya tiap tahun perolehan mahasiswanya selalu meningkat. Dan Alhamdulillah, perolehan mahasiswa tahun ini di Unisvet meningkat,” ungkapnya.

Dewan Pembina Yayasan IKIP Veteran, sekaligus Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, Prof Nizar menuturkan, Unisvet tidak hanya memiliki visi yang besar, tapi juga bisa berdampak, yakni; ingin menjadi universitas unggul, inovatif, kontributif menghasilkan tenaga profesional teknoprenuer bertaraf internasional.

“Kita (Unisvet, red) tidak hanya ingin menghasilkan lulusan berpengetahuan, tapi berkarakter. Tidak hanya menjadi pencari kerja, tapi bisa menciptakan atau membuka lapangan kerja. Tidak hanya mengikuti perkembangan dunia, tapi bisa memberikan kontribusi nyata untuk bangsa dan negara,” ungkap pria yang juga Rektor UIN Walisongo Semarang ini.

Sementara itu, Wakil Rektor I (bidang akademik) Unisvet Semarang, Elfi Rimayati melaporkan, wisuda kali ini diikuti 562 wisudawan. “Mereka berasal dari lima fakultas, yakni; FAI, FKIP, F Kes, F Saintek, F Kemaritiman,” bebernya.

Prosesi wisuda berjalan semarak dan penuh hidmat, selain para wisudawan, orang tua wali, rektorat, dekanat, juga dihadiri Ketua Yayasan IKIP Veteran serta dihadiri stakholder Uvisvet.

Tampak barisan tamu VIP, ada pimpinan kampus di Semarang, Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang mewakili Plt Kadisdik Kota Semarang, Sekretaris PMI Kota Semarang dan lainnya. (*).

Pemprov Jateng Gandeng Pendidikan Vokasi Wujudkan Provinsi Penumpu Pangan dan Industri

Lingkar.co – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengajak peran dunia pendidikan vokasi untuk berkontribusi nyata dalam mewujudkan Jateng sebagai penumpu pangan dan industri. Inovasi teknologi terapan, hingga keterampilan tenaga kerja yang selaras dibutuhkan saat ini.

”Ini sesuai yang diinginkan Pak Gubernur Ahmad Luthfi, untuk kita kolaborasi bersama-sama dalam menangani problem di Jawa Tengah. Pak Gubernur juga sudah melakukan penandatanganan kerja sama dengan perguruan tinggi di Jawa Tengah, pun dengan dunia pendidikan vokasi,” kata Sekda Sumarno, mewakili gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), dalam pembukaan Festival Panen Raya Berdikari Jawa Tengah Tahun 2025, di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Kamis (6/11/2025)..

Kata Sekda, menjadikan Jateng sebagai penumpu pangan dan industri menjadi tantangan tersendiri. Hal itu dikarenakan dua tujuan tersebut tampak seperti bertolakbelakang. Akan tetapi bila keduanya bisa berjalan beriringan, akan menjadi potensi tersendiri bagi Jateng.

”Inilah tantangan kita untuk menjadikannya seimbang, supaya bisa menjadi potensi yang luar biasa di Jawa Tengah,” ucap Sumarno dalam kegiatan yang mengambil tajuk ’Panggung Inovasi Tepat Guna dan Sinergi Multipihak untuk Masa Depan Berkelanjutan’ tersebut.

Dirinya juga menyampaikan rasa terimakasih karena dunia pendidikan vokasi di Jateng baik dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Perguruan Tinggi Vokasi menampilkan karya-karya teknologi terapan. Di antaranya alat pembuat pelet pakan ikan, mesin yang memantau pengembangan tanaman salak, mesin pengolahan ikan, hingga purwarupa alat-alat untuk kebutuhan industri.

”Kami juga minta bantuan dari dunia pendidikan vokasi untuk bisa menyiapkan tenaga kerja yang kompettensinya sesuai dengan industri yang akan masuk di Jawa Tengah,” kata Sumarno.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Saintek), Fauzan, yang hadir mengatakan, keberadaan perguruan tinggi sebagai tempat belajar dan memberikan kontribusi nyata kebutuhan di masyarakat. Di Jawa Tengah, kata dia perguruan tinggi vokasi yang ada telah membentuk untuk menunaikan tugasnya.

”Saya kira ini satu pola kerja sama yang ideal. Kehadiran perguruan tinggi terutama vokasi diharapkan dapat menjawab tantangan yang ada di Jawa Tengah. Tentu bidang teknologi dan inovasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Dia mencontohkan, mesin pembuatan pakan ikan (pelet) lele yang dibuat dengan cara kerja sederhana. Akan tetapi memiliki produktivitas, dan kualitas pelet yang bagus. Seperti daya apung pelet yang lebih lama, sehingga meminimalkannya dari terbuang sia-sia.

Dikatakan Fauzan, kementerian terus mendorong upaya-upaya inovasi yang dilakukan oleh dunia pendidikan vokasi. Khususnya yang berkonsentrasi pada inovasi teknologi terapan. Pada arah yang sama, permasalahan sosial di tengah masyarakat juga masih banyak.

”Mulai pengangguran, kemiskinan, kesehatan, stunting, dan lain sebagainya. Ini terus menjadi perhatian bagi perguruan tinggi,” katanya. (*)

Kebutuhan Dokter Jawa Tengah Masih Kurang, Pemprov Butuh Peran Asosiasi Pendidikan Kedokteran

Lingkar.co – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, gap atau perbandingan jumlah dokter umum maupun spesialis masih kurang dibandingkan persebaran penduduk yang ada di Indonesia. Adapun sesuai standar World Health Organization (WHO), satu orang dokter mengakomodasi 1.000 penduduk.

“Khusus di Jawa Tengah, saat ini memiliki 11.405 dokter. Sedangkan jumlah idealnya setidaknya 27.863 dokter,” kata Sumarno, saat menghadiri Musyawarah Wilayah Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Regional Wilayah IV di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat (19/9/2025).

Menurut Sekda, lulusan dokter umum maupun spesialis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia jumlahnya masih belum mencukupi. Untuk itu peran AIPKI dibutuhkan untuk memperbanyak lulusan baru kedokteran untuk menekan gap yang ada.

“Nah, inilah pekerjaan yang ada di tangan bapak-ibu sekalian di sini,” katanya.

Selain program-program teknis tertentu, Sumarno juga meminta asosiasi memiliki program atau edukasi kepada publik supaya banyak pelajar yang berminat melanjutkan pendidikan di Universitas jurusan kedokteran.

Stigma atau persepsi publik mahalnya biaya masuk fakultas kedokteran di universitas harus dihilangkan. Dengan begitu, membuka peluang lebih lebar kepada setiap anak-anak bangsa untuk berani melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan kedokteran.

“Barangkali secara akademik di sekolah SMA mungkin sebetulnya mereka punya potensi untuk masuk di kedokteran. Akan tetapi begitu bicara masalah biaya itu pasti enggak akan berani,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidilan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Khairul Munadi, mengatakan,
tantangan untuk dunia kesehatan di Indonesia selain jumlah dokter yang kurang, ada juga tantangan distribusi.

Artinya butuh kerjasama semua pihak. Baik pemerintah pusat hingga daerah, serta dari kalangan perguruan tinggi, dan lainnya.

“Contoh kecil saja. Untuk pendidikan kedokteran, dan spesialis butuh rumah sakit. Rumah sakit tidak mungkin didirikan sendiri oleh perguruan tinggi apalagi kampus yang baru. Sehingga perlu bergandengan tangan, perlu didukung peran pemerintah daerah juga,” katanya.

Menurutnya, dalam menuju Indonesia sehat 2045, Presiden Prabowo Subianto punya harapan untuk membuka 158 program studi kedokteran baru.

“Jadi harapannya tidak ada pertentangan antara hospital based, university based. Karena keduanya adalah amanat undang-undang. Hanya saja bagaimana kita bisa mensinergikan ini agar kekurangan dokter bisa terjawab,” katanya.

Humas dan Kemitraan AlPKI, Tonang Dwi Ardyanto, menambahkan, sejak asosiasi didirikan pada 2001, dari 17 fakultas kedokteran kini berkembang menjadi 127 anggota. Keberadaan asosiasi memiliki tujuan untuk menjaga mutu pendidikan kedokteran.

Adapun inti pokok penyelenggaraan forum kali ini, bagaimana menjawab persoalan pemenuhan kebutuhan dokter dam dokter spesialis di Indonesia. Pendidikan tinggi agar bisa mengambil suatu langkah perencanaan nasional tentang kebutuhan tenaga kesehatan khususnya dokter.

“Angkanya cukup tinggi yang kemarin Pak Presiden sampaikan. Kita dihitung target kebutuhannya sekitar 70.000 dokter baru,” katanya. (*)

Upaya Pemerataan Pendidikan Melalui Beasiswa Kepemimpinan Teladan

Lingkar.co – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mengatakan, pihaknya mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam program beasiswa. Salah satunya seperti Beasiswa Kepemimpinan Teladan, sebuah program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang akan bekerja sama dengan Tanoto Foundation dalam pemerataan pendidikan di Indonesia.

“Kita sangat apresiasi inisiasi Tanoto Foundation, dan kita sangat ingin mengajak sebanyak-banyaknya pihak, untuk bisa memberikan beasiswa,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto dalam siaran pers di kanal Kemdiktisaintek, Rabu (4/6/2025).

Ia menjelaskan, melalui Beasiswa Kepemimpinan teladan ini mahasiswa akan dibekali beberapa pelatihan soft skills, utamanya tentang kepemimpinan. Program beasiswa ini sejalan dengan Program Diktisaintek Berdampak, setelah lulus dari perguruan tinggi mahasiswa akan berada dalam kondisi siap kerja, terlatih, siap berkontribusi ke masyarakat, dan bisa memahami bagaimana karakteristik dan kondisi lingkungan sekitar mereka.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi mengatakan, melihat capaian Tanoto Foundation dalam kontribusinya terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, Kemdiktisaintek berharap kerja sama ini ini bisa menjadi sebuah konsolidasi nasional sehingga langkah dalam menghadirkan ekosistem pendidikan tinggi, sains, teknologi yang unggul dan berdampak bisa diwujudkan dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan.

“Ke depan jika ada perluasan dari mitra perguruan tinggi yang ada, khususnya misal daerah timur, Saya kira akan sangat membantu, sehingga akses untuk teman-teman di daerah timur bisa terbuka juga kaitannya dengan leadership ini,” ujarnya.

Sementara, Direktur Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman, menyatakan, Kemdiktisaintek juga menjajaki peluang kolaborasi strategis dalam pengembangan sumber daya manusia dan riset nasional.

“Kalau kita bisa integrasikan ini di Tanoto Student Research Award, salah satu tugas yang coba kami bangun adalah dengan menghubungkan kepentingan dari semua stakeholder kita untuk melakukan vektorisasi. Jadi kalau bisa kita sinergikan ke arah sana, resonansinya jadi besar dan dampaknya nyata,” ujarnya.

Program kerja sama ini juga bentuk keselarasan cita-cita antara Kemdiktisaintek dengan Tanoto Foundation.

“Ada empat faktor fokus. Dampak, menjadi tujuan utama, jadi tidak hanya sekadar memberi dukungan finansial. Dampak yang kedua juga komitmen kami, yaitu harus berkelanjutan dan harus mempunyai dampak untuk keseluruhan sistem. Yang ketiga, evidensi, data, dan bukti menjadi dasar bagaimana kami mendesain program, membuat narasi, atau membuat keputusan. Yang terakhir, selalu berpikir dengan yang lain,” ungkap Country Head Tanoto Foundation Indonesia, Inge Kusuma.

Pertemuan ini turut dihadiri oleh Head of Policy and Advocacy, Eddy Henry, Head of Leadership Development and Scholarship, Michael Susanto, Head of External and Government Relations, Antony Lee, Dep. Head of Leadership Development and Scholarship, Yosea Kurnianto, serta Government Relations Lead, Ryan Febrianto. (*)