Bendung Karet Sungai Juwana yang berada di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kembali mengalami kebocoran.
Infrastruktur senilai sekitar Rp 260 miliar dari APBN ini tercatat sudah dua kali mengalami kerusakan dalam waktu dua tahun, yaitu pada 2025 dan kembali pada 2026.
Peristiwa berulang tersebut memicu kritik dari berbagai pihak. Selain mempertanyakan mutu pembangunan dan pengelolaannya, kebocoran ini juga mengancam ribuan hektare lahan pertanian yang menggantungkan air dari Sungai Juwana.
Awalnya proyek ini diusulkan oleh Bupati Pati nonaktif Sudewo untuk menahan aliran air agar tidak langsung terbuang ke laut. Kini fungsinya tidak berjalan maksimal.
Cadangan Air Tawar Menyusut
Ketua Serikat Petani Pati (SPP) Kamelan menegaskan kebocoran bendung berdampak langsung pada sistem irigasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana.
"Kalau bendung bocor, air tidak tertahan dan langsung mengalir ke laut. Akibatnya debit air di Sungai Juwana cepat berkurang, padahal sekarang petani sangat membutuhkan air," ujar Kamelan saat ditemui di lokasi, Selasa 21/7/2026.
Menurutnya, ribuan hektare sawah di sepanjang Sungai Juwana saat ini berada di masa krusial musim tanam ketiga. Mulai dari persemaian hingga tanaman padi usia sekitar 40 hari membutuhkan pasokan air berkelanjutan selama beberapa bulan ke depan.
"Ini musim kemarau. Hujan sulit diharapkan, sehingga satu-satunya sumber irigasi berasal dari Sungai Juwana," kata Kamelan.
Selain menguras cadangan air tawar, kebocoran juga berpotensi menyebabkan intrusi air laut. Jika air laut masuk, air sungai tidak layak lagi untuk irigasi karena kadar garam meningkat.
"Kalau air laut masuk, jelas tidak bisa dipakai mengairi tanaman padi," tambah Kamelan.
Ia memperingatkan, jika kerusakan tidak segera diperbaiki, ribuan hektare sawah berpotensi gagal panen. Kerugian petani ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Saat ini nilai produksi gabah per hektare berkisar Rp 40 juta - Rp 50 juta, sementara modal produksi mencapai sekitar Rp 25 juta per hektare.
Desakan Evaluasi Menyeluruh
Juru Bicara Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan) Ari Subekti menilai kerusakan berulang pada proyek ratusan miliar ini tidak bisa dianggap sepele.
"Kalau kerusakan terjadi sampai dua kali, tentu harus ada evaluasi total. Jangan hanya diperbaiki, tetapi dicari penyebab utamanya agar kejadian serupa tidak terus berulang," tegas Ari.
Ia juga menyoroti pengoperasian bendung beberapa waktu lalu yang sempat menutup pintu hingga air meluap. Tekanan air seharusnya dihitung sesuai batas kekuatan bendung.
Hingga berita ini diturunkan, petugas di Bendung Karet Juwana belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kebocoran maupun rencana perbaikan.