Iklan

Ekonomi Jateng Tumbuh di Atas Nasional, Angka Kemiskinan Ikut Menyusut

Inti berita

Kinerja ekonomi Provinsi Jawa Tengah yang terus menguat mulai menunjukkan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa…

Ekonomi Jateng Tumbuh di Atas Nasional, Angka Kemiskinan Ikut Menyusut
poster

Kinerja ekonomi Provinsi Jawa Tengah yang terus menguat mulai menunjukkan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,71 persen pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Sejalan dengan itu, jumlah penduduk miskin di provinsi ini juga terus mengalami penurunan.

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, menjelaskan bahwa pada Maret 2026 jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 3,29 juta jiwa atau 9,21 persen dari total penduduk. Dibandingkan September 2025, angka tersebut berkurang 59.390 orang, sedangkan jika dibandingkan Maret 2025 turun hingga 81.250 orang.

Menurut Ali, penurunan tersebut juga tercermin dari persentase tingkat kemiskinan yang kini berada di angka 9,21 persen. Sebelumnya, tingkat kemiskinan masih berada di level 9,39 persen pada September 2025 dan 9,48 persen pada Maret 2025.

"Berdasarkan hasil penghitungan Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah terus menurun baik dibandingkan September 2025 maupun Maret 2025," ujar Ali saat menyampaikan rilis resmi BPS secara daring, Rabu (5/8/2026).

BPS menggunakan pendekatan basic needs approach atau pemenuhan kebutuhan dasar untuk mengukur tingkat kemiskinan. Metode tersebut menilai kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok, baik makanan maupun nonmakanan.

Pada Maret 2026, garis kemiskinan di Jawa Tengah ditetapkan sebesar Rp596.676 per kapita per bulan, sedangkan rata-rata garis kemiskinan rumah tangga miskin mencapai Rp2.571.674 per bulan.

Dari hasil survei, kebutuhan pangan masih menjadi komponen terbesar dalam pembentukan garis kemiskinan. Di wilayah perkotaan, komoditas seperti beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, roti, tempe, mi instan, bawang merah, hingga gula pasir memberikan kontribusi terbesar. Untuk komponen nonmakanan, pengeluaran terbesar masih berasal dari kebutuhan perumahan.

Sementara itu, di wilayah perdesaan, selain beras dan rokok kretek filter, komoditas seperti kopi, tahu, tempe, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, roti, dan gula pasir menjadi penyumbang utama garis kemiskinan.

BPS juga mencatat disparitas kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih terjadi. Tingkat kemiskinan di kawasan perkotaan berada di angka 8,59 persen, lebih rendah dibandingkan wilayah perdesaan yang mencapai 9,96 persen.

Di sisi lain, laju ekonomi Jawa Tengah terus menunjukkan performa positif. Selain tumbuh 5,71 persen secara tahunan, ekonomi provinsi ini juga meningkat 1,72 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara kumulatif sepanjang semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,80 persen.

Capaian tersebut memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional. BPS mencatat kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen, sementara kontribusinya terhadap ekonomi nasional sebesar 8,19 persen, menjadikan provinsi ini sebagai penyumbang ekonomi terbesar keempat di Indonesia.

 
 
 
 

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu