Lingkar.co - PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan kapasitas produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) kembali pulih sepenuhnya pada 2028 setelah terdampak insiden longsor yang terjadi pada 8 September 2025.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan proses pemulihan kapasitas produksi dilakukan secara bertahap hingga mencapai kondisi normal pada awal 2028.
“Sampai dengan akhir semester II tahun depan (2027), itu (kapasitas produksi) akan menuju ke 100 persen. Dan (kapasitas produksi) 100 persennya akan dimulai di satu hari setelah akhir tahun,” ujar Tony dalam acara penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Tony, kapasitas produksi tambang GBC pada semester I 2026 berada di kisaran 50 persen dari kondisi normal akibat dampak longsor. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 65 persen pada semester II 2026.
Selanjutnya, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 75 persen pada semester I 2027 sebelum meningkat secara bertahap hingga mendekati 100 persen pada semester II tahun yang sama.
Meski proses pemulihan masih berlangsung, Tony menegaskan kontribusi perusahaan kepada Kabupaten Mimika, Papua Tengah, tetap dapat dipertahankan pada kisaran Rp4 triliun per tahun.
Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi harga tembaga berada di atas 6 dolar AS per pon dan harga emas sekitar 4.500 dolar AS per ons.
“Walaupun dalam keadaan (produksi) 50 persen dan 65 persen di semester II, kami masih akan bisa berkontribusi sekitar Rp4 triliun,” ujar Tony di hadapan Bupati Mimika Johannes Rettob.
Dengan asumsi harga komoditas yang sama, Freeport memperkirakan kontribusi kepada Kabupaten Mimika dapat meningkat menjadi sekitar Rp5 triliun pada 2027, Rp7 triliun pada 2028, dan mencapai Rp7,5 triliun pada 2029.
“Itu kontribusi dari kami yang kami hitung di atas kertas dan yang kami rencanakan kalau semua berjalan dengan baik,” kata Tony.
Selain kontribusi kepada daerah, PTFI juga mencatat setoran kepada negara mencapai sekitar Rp70 triliun sepanjang 2025. Setoran tersebut berasal dari berbagai komponen, termasuk pajak, royalti, dividen, serta penerimaan negara lainnya.
Perusahaan juga terus menjalankan program investasi sosial di wilayah operasional sebagai bagian dari komitmen pemberdayaan masyarakat. Pada 2025, nilai investasi sosial PTFI tercatat hampir Rp2 triliun.
Tony menyebut nilai tersebut akan terus bertambah sekitar 100 juta dolar AS atau setara Rp1,5 triliun setiap tahun hingga masa operasi penambangan berakhir.
Di sisi lain, Freeport turut berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja dengan mempekerjakan lebih dari 30 ribu tenaga kerja. Sekitar 40 persen dari total karyawan tersebut merupakan orang asli Papua.