Iklan

Tekan Risiko Kecelakaan Laut, BMKG Bekali Nelayan Pati Membaca Cuaca dan Gelombang

Inti berita

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Jawa Tengah Tahun 2026 di Aula Joglo Omah Cabe, Kabupaten…

Tekan Risiko Kecelakaan Laut, BMKG Bekali Nelayan Pati Membaca Cuaca dan Gelombang
Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Jawa Tengah Tahun 2026 di Aula Joglo Omah Cabe, Kabupaten Pati, Senin (3/8/2026). Foto: Miftah/Lingkar.co

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Jawa Tengah Tahun 2026 di Aula Joglo Omah Cabe, Kabupaten Pati, Senin (3/8/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan nelayan dalam memahami informasi cuaca maritim guna menunjang keselamatan saat melaut.

Dalam keterangannya, Aldo Ferry Ariawan, mewakili Anggota Komisi V DPR RI Danang Wicaksana S, mengatakan program SLCN memberikan bekal pengetahuan ilmiah kepada nelayan agar tidak hanya mengandalkan pengalaman saat melaut.

"Program SLCN dari BMKG ini sangat bermanfaat. Nelayan tidak lagi hanya mengandalkan cara lama, tetapi kini diberikan pengetahuan ilmiah yang akurat untuk membaca cuaca dan gelombang tinggi. Sangat membantu agar nelayan lebih waspada dan selamat saat melaut di tengah cuaca ekstrem," kata Aldo.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Emas Semarang, Taruna Mona Rachman, menjelaskan SLCN merupakan program pembelajaran bagi nelayan dan instansi terkait mengenai informasi cuaca maritim, termasuk tinggi gelombang, arus laut, dan kondisi cuaca.

"Kegiatan SLCN ini adalah suatu pembelajaran untuk para nelayan dan untuk instansi terkait mengenai informasi cuaca maritim. Ini adalah untuk memberikan suatu pembelajaran mengenai tinggi gelombang, arus, dan lain-lainnya," ujarnya.

Menurut Taruna, informasi cuaca harus menjadi acuan sebelum nelayan melaut. Apabila kondisi cuaca tidak mendukung, keberangkatan sebaiknya ditunda untuk mengurangi risiko kecelakaan.

"Sangat penting, karena untuk nelayan, untuk melaut harus mengetahui informasi tersebut. Sebelum dia melaut, apabila cuacanya kurang bagus dan kurang baik, mungkin bisa ditunda dulu," katanya.

Ia menyebut program SLCN telah digelar di Jawa Tengah sejak 2017 dengan total mencapai ribuan peserta hingga tahun 2026. Sementara di Kabupaten Pati, kegiatan tersebut telah dilaksanakan sebanyak enam kali.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, mengatakan pelatihan ini mendorong nelayan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mengetahui kondisi cuaca, menentukan waktu melaut, hingga meningkatkan keselamatan kerja.

"Dengan perkembangan pengetahuan, teknologi saat ini, para nelayan supaya bisa melek teknologi, bisa memanfaatkan teknologi ini untuk mengetahui cuaca, belajar kapan harus melaut, kapan mencari ikan, di mana mencari ikan, dan juga untuk peningkatan keselamatan kerjanya mereka," ujarnya.

Hadi menambahkan, pemahaman terhadap informasi cuaca tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga diharapkan berdampak pada peningkatan hasil tangkapan nelayan. Mayoritas peserta SLCN di Pati berasal dari Kecamatan Juwana, yang terdiri atas nelayan kapal besar maupun kapal kecil.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu