Potret kemiskinan masih nyata di Kabupaten Blora. Rendi Jaelani, penyandang disabilitas asal Desa Semanggi, Kecamatan Jepon, harus bertahan hidup seorang diri dengan penghasilan hanya sekitar Rp11 ribu per hari sebagai pengantar air galon.
Di rumah sederhana yang tampak tak terawat dengan sejumlah genteng rusak, Rendi menjalani hari-harinya tanpa keluarga. Sejak ibunya meninggal dunia enam tahun lalu, ia hidup sebatang kara dan mengandalkan belas kasih tetangga untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari.
Meski memiliki keterbatasan fisik karena mengalami kesulitan berjalan sejak lahir, Rendi tetap bekerja mengantarkan air galon dari rumah ke rumah. Saat musim kemarau, ia bisa mengantar hingga 30 galon sehari. Dari pekerjaan itu, ia hanya menerima gaji Rp330 ribu per bulan atau sekitar Rp11 ribu per hari.
"Kalau musim kemarau seperti ini bisa sampai 30 galon. Gaji bulanan Rp330 ribu," ujar Rendi, Kamis (2/7/2026).
Keterbatasan ekonomi juga membuat Rendi sempat putus sekolah. Namun ia memilih tidak menyerah. Kini ia kembali menempuh pendidikan melalui program kesetaraan Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
"Sekolahnya online, sekarang kelas satu SMA (kesetaraan)," katanya.
Selama ini Rendi mengaku pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Sosial P3A. Namun, ia belum pernah memperoleh bantuan dari Pertamina, meski Desa Semanggi merupakan wilayah kerja pertambangan (WKP) perusahaan tersebut.
"Bantuan dari desa ada, kalau dari Pertamina tidak ada," ungkapnya.
Kondisi Rendi akhirnya mendapat perhatian setelah Bhabinkamtibmas Desa Semanggi melaporkan keadaan yang dialaminya. Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto memberikan bantuan berupa dua ekor kambing sebagai modal usaha ternak.
Rendi berharap bantuan tersebut dapat menjadi tambahan penghasilan karena pakan ternak di desanya mudah diperoleh.
"Di sini mudah cari pakan ternaknya," ujarnya.
Perangkat Desa Semanggi, Nur Hakim, membenarkan Rendi telah hidup sendiri selama enam tahun terakhir. Menurutnya, pemerintah desa sempat memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada tahun lalu. Namun pada tahun ini bantuan tidak lagi diterima karena keterbatasan anggaran dan adanya prioritas bagi penyandang tunanetra.
"BLT dari desa tahun lalu dapat. Untuk tahun ini karena keterbatasan anggaran diprioritaskan kepada penyandang tuna netra. Ke depan tetap kita usahakan membantu Mas Rendi," katanya. (*)