Lingkar.co - Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), dan ketua Aliansi Santri Gus Dur Muhammad Sholihin, menyatakan telah sepakat mendorong Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin maju menjadi ketua umum PBNU periode mendatang.
Bahkan, Sholihin menyatakan dukungan tersebut sudah bulat bersama para kader ideologis Gus Dur se-Indonesia, untuk
“Gus Muwafiq dan kami para kader ideologis Gus Dur sepakat mendukung Gus Muhaimin menahkodai PBNU,” tutur Sholihin usai mengikuti acara pertemuan alumni Pondok Pesantren Tambak Beras di Majalengka, Jawa Barat, Senin, (1/6/2026).
Sholihin menjelaskan, pihaknya setelah sukses menggelar Dialog Kebangsaan di Pondok Pesantren Minggir, Sleman Sabtu lalu (30/5/2026), akan berlanjut mengadakan aneka pertemuan para kader ideologis Gus Dur di pelbagai daerah.
“Juni nanti akan kami adakan di di Pondok Pesantren Mifrtahul Ulum Demak, Jawa Tengah. Gus Muwafiq bersama saya, Savic Ali, dan sejumlah tokoh Gusdurian akan hadir,” ujar Sholihin yang tinggal di Indramayu, Jawa Barat ini.
Menurut Sholihin, Cak Imin adalah sosok paling ideal untuk NU saat ini. Sebab Ketua Umum PKB tersebut memenuhi semua kriteria. Pertama, Cak Imin telah tuntas menjalani pengkaderan di NU sejak muda, sejak di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Lalu di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Lalu memimpin partai yang dilahirkan Nahdlatul Ulama, yaitu PKB.
Kedua, lanjutnya, berpengalaman di lembaga legislatif RI dan lembaga pemerintahan. Lebih jelasnya pernah menjadi Wakil Ketua DPR RI dan pernah serta sedang menjadi menteri. Ketiga, Cak Imin telah terbiasa melayani para kiai.
“Gus Muhaimin selama ini selalu mendukung ulama-fuqoha menjadi pengurus NU. Beliau memposisikan diri sebagai pengamal fiqih siyasah. Makanya cocok sebagai nahkoda. Semacam sopir yang melayani kehendak para kiai ingin mencapai tujuan mana dalam berjam’iyyah,” urainya
Selain pengalaman dan rekam jejak tersebut, Sholihin menyebut Cak Imin juga layak dari sisi silsilah karena ia adalah punya darah biru dari pendiri NU, yaitu cicitnya KH Bisri Syansuri Denanyar, Jombang. (*)