Pengamat politik Reksobhumi sekaligus dosen UIN Walisongo Semarang, Dr M Kholidul Adib MSI, mendorong Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) membangun paradigma baru yang mampu melahirkan kader sebagai pemecah persoalan bangsa.
Menurutnya, tantangan era digital hingga krisis global menuntut organisasi tidak lagi hanya kuat dalam diskusi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Kholidul Adib saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Basis Kader PMII di Pondok Pesantren Al-Maftuhah 2, Karangtengah, Demak, yang diikuti kader PMII dari Cabang Demak dan sejumlah cabang di Jawa Tengah.
Kholidul Adib mengatakan paradigma menjadi fondasi penting yang menentukan cara berpikir dan arah gerakan kader PMII dalam merespons berbagai persoalan kebangsaan.
"Paradigma PMII merupakan pola pikir organisasi yang berakar pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan keindonesiaan. Selain itu, paradigma juga menjadi pisau analisis untuk melihat relasi antara negara, masyarakat, dan pasar dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat," ujarnya, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, perubahan lanskap sosial akibat transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga derasnya arus informasi membuat PMII harus memiliki paradigma yang lebih adaptif. Paradigma tersebut tidak hanya menjaga identitas organisasi, tetapi juga menjadi panduan bagi kader dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Paradigma PMII harus dapat menjawab tantangan zaman. Di era transformasi digital, kader dituntut mampu memadukan nilai-nilai pergerakan dengan kreativitas teknologi. Paradigma harus bersifat produktif sehingga tradisi diskusi dapat melahirkan karya nyata dan amal saleh yang berdampak bagi masyarakat," katanya.
Ia menilai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan politik, tetapi juga menyangkut ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga melemahnya kohesi sosial. Karena itu, PMII membutuhkan pendekatan baru yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam pemaparannya, Kholidul Adib menjelaskan bahwa PMII telah mengalami perkembangan paradigma sejak era Arus Balik Masyarakat Pinggiran pada periode 1994–1997, dilanjutkan Paradigma Kritis-Transformatif pada 1997–2000, hingga Menggiring Arus Berbasis Realitas pada periode 2006–2008.
Seluruh paradigma tersebut menunjukkan kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.
Namun, menurutnya, tantangan masa depan membutuhkan paradigma yang lebih komprehensif, yakni holistik-integratif.
Pendekatan ini menggabungkan kekuatan spiritual, intelektual, penguasaan teknologi, serta aksi sosial dalam satu kesatuan gerakan.
"Paradigma ini harus memadukan dzikir, fikir, dan amal saleh. Kader tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat melalui karya dan pengabdian," ujarnya.
Ia menambahkan, paradigma holistik-integratif juga harus menghubungkan nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan perkembangan sains modern, kecerdasan buatan, serta literasi digital agar PMII mampu berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan di tingkat lokal maupun global.
Di akhir pemaparannya, Kholidul Adib berharap kader PMII menjadi generasi yang mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
"Paradigma PMII kita gunakan untuk mengobati bangsa dan negara yang sedang menghadapi berbagai persoalan di bidang hukum, politik, ekonomi, pendidikan, budaya, hingga lingkungan. Kader PMII harus menjadi dokter yang menghadirkan solusi agar Indonesia tetap kuat dan mampu menghadapi tantangan masa depan," tegasnya.