Rupiah Berpeluang Menguat, Meski Tekanan dari Dollar AS Masih Membayangi

Inti berita

Lingkar.co - Nilai tukar rupiah diperkirakan memiliki peluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/6/2026). Kendati demikian…

Rupiah Berpeluang Menguat, Meski Tekanan dari Dollar AS Masih Membayangi
Ilustrasi - Mata uang Rupiah dan Dolar. Foto: Istimewa.
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co - Nilai tukar rupiah diperkirakan memiliki peluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/6/2026). Kendati demikian, mata uang Garuda masih menghadapi tekanan dari potensi penguatan dolar AS yang dipengaruhi perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah berpotensi melanjutkan penguatan seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Sentimen positif tersebut mendorong pelaku pasar untuk kembali meningkatkan minat terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Menurut Lukman, optimisme pasar muncul setelah adanya pernyataan dari Amerika Serikat dan Pakistan terkait tercapainya kesepakatan damai. Namun demikian, hingga saat ini pernyataan tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi dari Iran sehingga pasar masih mencermati perkembangan situasi secara hati-hati.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dollar AS," ujar Lukman, Senin (15/6/2026).

Di sisi lain, Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih akan cenderung fluktuatif karena pasar masih dibayangi perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah serta menunggu keputusan penting dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Menurut Ibrahim, sentimen geopolitik dan kebijakan suku bunga global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek. Investor saat ini cenderung mengambil posisi menunggu sambil mencermati perkembangan situasi internasional yang dapat memengaruhi arah arus modal.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

"Untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.860-Rp17.910," tulis Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Sementara itu, untuk perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.780 hingga Rp18.040 per dolar AS. Rentang tersebut mencerminkan masih tingginya ketidakpastian pasar yang dipicu oleh faktor eksternal.

Ibrahim menambahkan, rupiah masih berpotensi tertekan oleh penguatan dolar AS yang diperkirakan kembali bergerak menuju level 100,790. Adapun indeks dolar AS diperkirakan memiliki area support di level 99,100 dan resistance pada level 100,700.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Ia menjelaskan, pergerakan dolar AS saat ini ditopang oleh dua faktor utama, yakni perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Kedua faktor tersebut dinilai akan menjadi penentu utama sentimen pasar global dalam beberapa waktu ke depan.

Menurutnya, pasar menyambut positif rencana penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Apabila kesepakatan tersebut terealisasi, harga minyak dunia berpeluang mengalami penurunan sehingga dapat membantu meredakan tekanan inflasi global.

Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Kekhawatiran terhadap kemungkinan berlanjutnya konflik di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian investor sehingga berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menanti hasil rapat sejumlah bank sentral utama dunia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini, termasuk pertemuan Federal Reserve. Keputusan terkait suku bunga acuan AS akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan indeks dolar AS serta mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ia menilai The Fed berpeluang mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang. Namun, apabila tekanan inflasi kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan, peluang kenaikan suku bunga masih terbuka sehingga dapat memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

"Jadi masih ada indikasi bahwa indeks dollar AS itu akan kembali menguat," tuturnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Karena itu, meskipun rupiah memperoleh dukungan dari meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, pergerakan mata uang domestik tersebut diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif. Investor diperkirakan tetap bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian terkait perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu