Stupa Tugu Diduga Berdiri Sejak Era Mataram Kuno, Arkeolog Semarang Dorong Penetapan Cagar Budaya

Inti berita

Lingkar.co – Keberadaan Stupa Tugu di Kelurahan Tugurejo kembali menjadi perhatian. Arkeolog Semarang, Tri Subekso, menilai situs tersebut memiliki nilai…

Stupa Tugu Diduga Berdiri Sejak Era Mataram Kuno, Arkeolog Semarang Dorong Penetapan Cagar Budaya
Stupa Tugu di kawasan Kelurahan Tugurejo. (dok Istimewa)
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co – Keberadaan Stupa Tugu di Kelurahan Tugurejo kembali menjadi perhatian. Arkeolog Semarang, Tri Subekso, menilai situs tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena merupakan satu-satunya stupa berbentuk lonjong yang ditemukan di Kota Semarang.

Menurut Tri, berdasarkan kajian arkeologis, benda yang selama ini dikenal masyarakat sebagai Watu Tugu atau Stupa Tugu merupakan peninggalan masa Hindu-Buddha yang diperkirakan berasal dari rentang abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi.

“Secara arkeologis identifikasinya sudah cukup jelas, yakni sebuah stupa. Karena bentuknya lonjong, kalangan arkeolog sering menyebutnya sebagai stupa lonjong,” ujarnya saat ditemui Lingkar.co, Kamis (18/6/2026).

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Ia menjelaskan, keberadaan stupa tersebut menunjukkan jejak peradaban Hindu-Buddha di wilayah Semarang. Bahkan, situs itu diduga berasal dari periode Mataram Kuno yang berkembang di Jawa pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.

Tri mengungkapkan, keberadaan Stupa Tugu telah tercatat sejak masa kolonial. Dalam buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles, stupa tersebut disebut berada dalam posisi rebah.

Kemudian pada 1939, stupa itu didirikan kembali oleh peneliti Belanda dan dilengkapi prasasti baru yang hingga kini masih dapat dilihat di lokasi.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Dari berbagai catatan yang ada, stupa itu tampaknya memang sejak awal berada di lokasi yang sama seperti sekarang,” katanya.

Yang menarik, lanjut Tri, lokasi Stupa Tugu berada di atas sebuah bukit yang diduga memiliki keterkaitan dengan kondisi geografis Semarang pada masa lampau. Berdasarkan teori sedimentasi pantai utara Jawa, kawasan tersebut kemungkinan berada di dekat garis pantai pada masa Hindu-Buddha.

“Bisa jadi pada masa Mataram Kuno, stupa ini berdiri di kawasan pesisir Semarang saat itu,” jelasnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Tri menambahkan, bentuk Stupa Tugu memiliki kemiripan dengan sejumlah stupa kuno lain di Jawa, seperti Stupa Cupuwatu yang kini berada di kawasan Gedung Agung Yogyakarta, serta beberapa temuan serupa di Bagelen Purworejo dan Kulonprogo.

Meski memiliki nilai sejarah tinggi, pengelolaan kawasan Stupa Tugu hingga kini dinilai belum optimal. Salah satu kendalanya adalah pengelolaan lahan yang masih perlu diperjelas.

Karena itu, ia mendorong Pemerintah Kota Semarang melalui instansi terkait untuk mempercepat langkah perlindungan terhadap situs tersebut.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Yang paling penting saat ini adalah penetapan sebagai cagar budaya tingkat Kota Semarang agar memiliki perlindungan hukum yang jelas,” tegasnya.

Selain itu, Tri juga mendorong masyarakat, komunitas sejarah, maupun pemerintah setempat untuk terus menghidupkan kawasan tersebut melalui berbagai kegiatan kebudayaan.

Menurutnya, keberadaan Stupa Tugu tidak hanya penting sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkaya narasi sejarah Kota Semarang.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Nilai pentingnya sangat besar bagi Semarang. Karena itu keberadaannya harus dijaga dan dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata,” pungkasnya. ***

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu