Tim 12 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan pemanfaatan biochar untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan ekonomi hijau di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.
Program tersebut memanfaatkan biomassa pertanian yang tersedia di kawasan, seperti sekam padi dan tongkol jagung. Selama ini, bahan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga Tim 12 mencoba mengolahnya menjadi bahan baku biochar.
Tim yang diketuai Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si., dosen Program Studi S1 Agroekoteknologi Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) UNDIP, terdiri dari anggota dengan latar belakang lintas disiplin ilmu.
Mereka adalah Fitran Dzulfikar Haryono, S.P.; Nurkhafizah, S.P.W.K.; Marta Junika Tambunan, S.Sos.; Ardhian Sasmita, S.A.B.; dan Putri Duwi Ulia Sari, S.TP.
Kolaborasi tersebut memadukan aspek teknis pertanian, pengembangan wilayah, sosial kemasyarakatan, teknologi pengolahan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Biochar merupakan bahan padat kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pembakaran tidak sempurna atau karbonisasi dari limbah organik maupun biomassa pertanian.
UNDIP Uji Pirolisis Drum dan Metode Kon-Tiki
Dalam pengembangan teknologi tersebut, Tim 12 saat ini membuat alat pirolisis sederhana berbahan drum. Alat tersebut digunakan untuk melakukan pembakaran biomassa tanpa oksigen agar menghasilkan biochar.
Selain pirolisis drum, tim juga telah melakukan uji coba produksi biochar menggunakan metode Kon-Tiki. Metode tersebut memanfaatkan wadah atau lubang berbentuk kerucut terbalik untuk proses pembuatan biochar.
Dari percobaan awal, metode Kon-Tiki dinilai relatif sederhana dan berpotensi lebih mudah diterapkan masyarakat karena tidak membutuhkan peralatan yang kompleks.
Ketua Tim 12 Ekspedisi Patriot UNDIP Muhammad Iqbal Fauzan mengatakan teknologi yang dikembangkan sengaja disesuaikan dengan kondisi serta sumber daya lokal yang tersedia di kawasan transmigrasi.
“Sekam padi dan tongkol jagung yang tersedia di kawasan ini sebenarnya merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Kami ingin teknologi biochar nantinya tidak berhenti pada kegiatan tim, tetapi dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Karena itu, kami mencoba metode yang relatif sederhana, seperti pirolisis drum dan Kon-Tiki,” ujar Iqbal.
Pemanfaatan biochar tersebut diarahkan sebagai bagian dari pertanian sirkular dan ekonomi hijau. Residu pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi material yang memiliki nilai guna dan kemudian dikembalikan ke dalam sistem produksi pertanian.
Biochar Diterapkan pada Demplot Jagung
Sebagai penerapan langsung, Tim 12 menyiapkan lahan percontohan atau demonstration plot* (demplot) penanaman jagung dengan mengaplikasikan biochar sebagai amelioran.
Amelioran merupakan bahan pembenah tanah yang digunakan untuk memperbaiki kualitas fisik dan kimia tanah. Dalam penerapan di Senggi, biochar berpotensi meningkatkan pori dan daya simpan air tanah sekaligus membantu menaikkan pH tanah masam yang relatif rendah.
Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu unsur hara lebih mudah diserap oleh tanaman.
Untuk memastikan teknologi dapat diterapkan secara berkelanjutan, Tim 12 juga menggelar pelatihan dan workshop pembuatan biochar bagi warga setempat.
Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga diajak mempraktikkan tahapan pembuatan biochar. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses karbonisasi menggunakan drum pirolisis dan metode Kon-Tiki, hingga tata cara pengaplikasiannya di lahan pertanian.
“Biochar tidak hanya kami lihat sebagai pembenah tanah. Ketika residu pertanian dapat diolah kembali menjadi bahan yang bermanfaat bagi lahan, di sana terdapat prinsip ekonomi hijau. Sumber daya lokal dapat digunakan lebih efisien, limbah berkurang, dan ke depan dapat terbuka peluang nilai tambah bagi masyarakat,” tambah Iqbal.
Melalui penerapan teknologi biochar, pendampingan demplot jagung, hingga workshop masyarakat, Tim 12 Ekspedisi Patriot UNDIP berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan secara swadaya oleh warga Kawasan Transmigrasi Senggi.
Program tersebut juga mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 2 atau Zero Hunger melalui pengembangan praktik budidaya dan pengelolaan tanah berkelanjutan.
Selain itu, program mendukung SDG 4 atau *Quality Education melalui workshop masyarakat, SDG 12 atau Responsible Consumption and Production melalui pemanfaatan sekam padi dan tongkol jagung menjadi biochar, serta SDG 13 atau Climate Action melalui pengelolaan biomassa menjadi material karbon yang lebih stabil dan penerapan pertanian yang lebih berkelanjutan. ***