Arsip Tag: Basarnas Semarang

Penanganan Bencana Longsor di Situkung Berhasil Baik, Bupati Banjarnegara Terima Penghargaan dari Basarnas

Lingkar.co – Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana secara simbolis menerima Piagam Penghargaan dari Basarnas Semarang terkait dukungan pemerintah daerah terhadap pelaksanaan operasi SAR dalam penanganan bencana longsor di Dusun Situkung.

Penghargaan diberikan oleh Kepala Kantor Basarnas Semarang Budiono, S.E., M.M., bertempat di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Banjarnegara

Budiono menyampaikan apresiasi terhadap Bupati Banjarnegara sebagaimana mandat dari Kepala Kantor Pusat Basarnas. Ia berharap Pemkab Banjarnegara bisa bersinergi dengan para relawan secara lebih bai di masa mendatang.

“Sesuai mandat dari Kepala Basarnas Pusat Marsdya TNI Mohammad Syafii, S.I.P., kami bermaksud memberikan Piagam Penghargaan kepada Pemkab Banjarnegara. Semoga ke depan dapat terus bersinergi dengan para relawan di Banjarnegara, karena pada akhirnya kami adalah pelayan masyarakat dalam operasi SAR.” katanya, Sabtu (14/3/2026)

Budiono juga menyatakan, pihaknya siap bersinergi dengan Pemkab Banjarnegara dalam kegiatan pelatihan kebencanaan.

“Kami juga siap jika dilibatkan dalam kegiatan pelatihan kebencanaan bersama BPBD dan relawan Banjarnegara,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Amalia yang didampingi Kepala BPBD Aji Piluroso juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Basarnas Semarang.

“Terima kasih atas upaya pencarian dan pertolongan korban bencana tanah longsor di Dusun Situkung, Kecamatan Pandanarum, pada 16–26 November 2025,” ujarnya.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Basarnas Semarang kepada Pemkab Banjarnegara yang telah mendukung dan mendampingi dalam membantu memenuhi kebutuhan para korban bencana Situkung,” kata Bupati Amel.

Ia menyebut ada enam desa yang sudah direlokasi ke tempat yang aman. Para penyintas bencana telah mendiami hunian tetap (huntap) di lokasi baru.

“Kondisi saat ini terdapat enam desa yang telah direlokasi. Selain pembangunan hunian tetap (huntap) yang sudah dilakukan, diskusi bersama Gubernur Jawa Tengah juga telah kami lakukan, khususnya terkait skema bantuan yang disepakati, yaitu 50 persen dari Provinsi Jawa Tengah dan 50 persen dari Pemkab Banjarnegara,” papar Bupati.

Bupati Amalia juga mempersilakan apabila penanganan bencana Situkung di Banjarnegara nantinya dapat dijadikan pilot project atau percontohan bagi kabupaten lain.

Sebagai bentuk penghormatan, dalam pertemuan tersebut Bupati Amalia juga memberikan Piagam Penghargaan kepada Basarnas. (*)

Basarnas Semarang Buka Posko Siaga SAR Idul Fitri 2026 di GT Kalikangkung

Lingkar.co — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan melalui Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang menggelar apel pembukaan Posko Siaga SAR Khusus Idul Fitri 2026/1447 H pada Kamis (12/3/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi arus mudik dan arus balik Lebaran.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang, Budiono mengatakan Siaga SAR Khusus Idul Fitri merupakan program rutin yang dilaksanakan secara nasional oleh Basarnas untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat selama periode mudik Lebaran.

Apel pembukaan posko siaga ini juga dilakukan secara serentak di seluruh unit pelaksana teknis Basarnas di Indonesia dan dibuka langsung oleh Kepala Basarnas Mohammad Syafii.

Menurut Budiono, posko utama Siaga SAR Khusus Idul Fitri di wilayah Semarang ditempatkan di Gerbang Tol Kalikangkung. Di lokasi tersebut disiagakan satu tim SAR yang bertugas selama 24 jam guna mempercepat respons apabila terjadi keadaan darurat, khususnya kecelakaan yang memerlukan penanganan khusus.

“Posko Siaga SAR Khusus Idul Fitri ini kami dirikan di area Gerbang Tol Kalikangkung beserta satu tim SAR yang bersiaga 24 jam sehingga dapat mempercepat waktu respons apabila terjadi insiden kecelakaan yang membutuhkan penanganan khusus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tim SAR disiapkan untuk menangani berbagai kondisi darurat, termasuk kecelakaan lalu lintas yang memerlukan evakuasi khusus, seperti korban yang terjepit bodi kendaraan.

Selain di GT Kalikangkung, Basarnas Semarang juga mengaktifkan sejumlah posko lain yang berada di Pos SAR maupun Unit Siaga SAR di beberapa daerah, yakni Jepara, Wonosobo, Magelang, Pemalang, dan Rembang. Basarnas juga menyiagakan kapal evakuasi KN SAR Sadewa 231 untuk mendukung operasi penyelamatan.

Selama periode siaga, tim SAR juga akan melakukan patroli di jalur mudik serta pemantauan di sejumlah titik transportasi seperti pelabuhan, terminal, stasiun, dan bandara. Selain itu, patroli juga dilakukan di sejumlah objek wisata yang dinilai rawan terjadi kecelakaan, seperti kawasan pantai maupun waduk.

Posko Siaga SAR Khusus Idul Fitri tersebut akan berlangsung mulai 13 Maret hingga 30 Maret 2026. Basarnas Semarang menyiapkan personel dengan berbagai kualifikasi khusus, di antaranya Vehicle Accident Rescue (VAR) dan Medical First Responder (MFR), lengkap dengan peralatan pendukung.

Budiono berharap kehadiran tim SAR selama masa siaga dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melakukan perjalanan maupun berwisata selama libur Lebaran.

“Tim kami bersiaga selama 24 jam penuh dan siap sewaktu-waktu jika dibutuhkan,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera menghubungi Basarnas apabila terjadi kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan.

“Jika ada situasi darurat yang membutuhkan jasa SAR, masyarakat dapat menghubungi nomor (024) 115 atau (024) 7629192. Layanan SAR ini tidak dipungut biaya,” pungkasnya. ***

Diduga Mengantuk, Truk Dengan Nopol AE 8927 UN Alami Kecelakaan

Lingkar.co – Truk bermuatan PVC dengan nomor polisi AE 8927 UN alami kecelakaan di Jalur Pantura Semarang-Kendal, tepatnya di Jalan Randu Garut Km 13.5, Kecamatan Tugu, Jawa Tengah pada Kamis (15/1/2026) pukul 05.45 pagi hari.

Menurut keterangan Basarnas Kota Semarang, supir truk tersebut diduga mengantuk. Akibat kejadian tersebut, dua orang menjadi korban diksrenakam terjebak di dalam kabin truk.

Kepala Kantor SAR Kota Semarang, Budiono menyampaikan, pihaknya menerima laporan kecelakaan truk tersebut dan diteruskan Tim Rescue bersama unsur terkait.

“Setelah menerima laporan adanya korban terjepit di dalam kabin truk yang membutuhkan penanganan khusus, kami langsung mengerahkan tim rescue menuju lokasi kejadian untuk melakukan proses evakuasi,” ujar Budiono.

Budiono menyebut, adapun korban pada kejadian tersebut yaitu atas nama Dede Ferdiansyah (21) dengan keterangan meninggal dunia, sementara itu satu korban anas nama Ponco Waluyo (61) berhasil dievakuasi dengan kondisi selamat dan segera mendapatkan pertolongan medis.

Pihaknya menjelaskan, proses evakuasi kecelakaan truk tersebut menggubakan peralatan ekstrikasi, sementara itu korban selamat dibawa ke RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan mengginakan ambulans PMI.

“Hingga operasi SAR dinyatakan selesai, kami memastikan seluruh korban telah berhasil dievakuasi dan diserahkan kepada pihak terkait. Kami mengimbau kepada para pengemudi untuk selalu menjaga kondisi fisik dan beristirahat cukup demi keselamatan bersama,” tutup Budiono. ***

Pemkot Magelang Dampingi Keluarga Ali Pendaki yang Hilang di Gunung Slamet

Lingkar.co – Pemerintah Kota Magelang menunjukkan empati dalam mendampingi keluarga Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Kota Magelang yang dilaporkan hilang saat pendakian di Gunung Slamet, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyampaikan duka mendalam atas peristiwa tersebut. Damar berujar, Pemkot Magelang telah membersamai keluarga survivor sejak dilaporkan hilang pada Sabtu 27 Desember 2025 lalu.

“Kami dari Pemkot Magelang terus membersamai keluarga, terus memantau perkembangan. Kami juga baru saja melakukan penggalangan dana. Ali adalah putra dari salah satu staf Pemkot Magelang,” ujar Damar dalam keterangan pers, Kamis (8/1/2026).

Ayah suvivor adalah Dhani Rusman, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Magelang. Mereka warga Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara.

Damar menjelaskan, pemantauan dan koordinasi terus dilakukan meskipun secara prosedur operasi standar (SOP) pencarian dan penyelamatan berakhir. Pihaknya tetap memberikan perhatian dan dukungan moral kepada keluarga.

“Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar diberikan yang terbaik. Walaupun SOP penyelamatan telah berakhir, kami tetap memantau,” imbuhnya.

Wali Kota juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Pemalang, seluruh tim SAR, serta masyarakat di sekitar Gunung Slamet yang telah berupaya maksimal dalam pencarian.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Pemalang dan masyarakat sekitar Gunung Slamet yang dengan tulus membantu melakukan pencarian,” ucapnya.

Terkait donasi yang terkumpul, Damar menyatakan bantuan tersebut akan digunakan untuk kebutuhan logistik dan dukungan lainnya bagi upaya pencarian lanjutan.

Sementara itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo, menambahkan sejak hari pertama kejadian, berbagai bantuan telah disalurkan kepada keluarga dan tim di lapangan.

“Sejak hari pertama, bantuan dari PMI dan Basarnas sudah disalurkan, termasuk dukungan dari teman-teman seangkatan Mas Dani, ayah dari survivor. Hingga saat ini, warga dan tim SAR masih memiliki inisiatif untuk melanjutkan pencarian,” jelas Catur.

Ia menuturkan, meskipun pencarian lanjutan dilakukan secara mandiri, Pemkot Magelang tetap akan membantu kebutuhan logistik sebagai bentuk empati dan kepedulian.

“Walaupun tidak diminta, kami tetap membantu. Ini adalah wujud empati dan solidaritas kami kepada keluarga dan semua pihak yang masih berupaya mencari,” pungkasnya.

Kronologi

Safiya Ridan Ali Razan melakukan pendakian bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (27/12/2025). Keduanya merencanakan pendakian sistem tektok atau naik dan turun tanpa menginap.

Namun hingga Minggu malam, keduanya tidak kembali ke basecamp. Pengelola basecamp kemudian melakukan pengecekan jalur pendakian Gunung Slamet.

Pada Senin (29/12/2025) pagi, tim basecamp menemukan Himawan di sekitar Pos 9 atau sekitar 100 meter dari puncak Gunung Slamet. Saat ditemukan, Himawan dalam kondisi lemas dan mengalami cidera kaki.

Himawan kemudian dievakuasi ke basecamp untuk mendapatkan perawatan medis. Berdasarkan keterangannya kepada tim SAR, rekannya sempat turun lebih dahulu untuk mencari bantuan.

Basarnas Semarang Latih 56 Relawan Tangani Kecelakaan Kendaraan Lewat Bimtek VAR

Lingkar.co – Sebanyak 56 anggota Forum Koordinasi Potensi Pencarian dan Pertolongan (FKP3) wilayah Semarang Raya mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) penanganan kecelakaan kendaraan atau Vehicle Accident Rescue (VAR) di Gedung Siaga SAR, Kantor SAR Semarang.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 November 2025, dengan fokus pada peningkatan kemampuan teknis penanganan korban kecelakaan.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi Medical First Responder (MFR), manajemen pertolongan pertama pada kecelakaan, teknik stabilisasi korban dan kendaraan, hingga pembuatan akses aman untuk evakuasi.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Semarang, Budiono, menjelaskan pentingnya pelatihan tersebut.

“Teman-teman potensi SAR sering menjumpai kecelakaan, namun kadang penanganan dilakukan masyarakat tanpa prosedur yang benar sehingga memperburuk kondisi korban. Karena itu, kami membekali mereka agar tahu cara membantu dengan benar,” jelas Budiono.

Tak hanya teori, peserta juga mempraktikkan penggunaan alat stabilisasi kendaraan, peralatan ekstrikasi, hingga cara aman memecahkan kaca mobil dan mengevakuasi korban di dalam kendaraan.

Budiono berharap kemampuan yang diperoleh peserta bisa diterapkan dalam tugas kemanusiaan di lapangan.

“Semoga materi yang didapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari dan bisa membantu masyarakat dengan lebih profesional,” ujarnya.

Melalui Bimtek ini, Basarnas Semarang berupaya memperkuat sinergi dengan potensi SAR di daerah agar penanganan kecelakaan kendaraan di wilayah Semarang Raya lebih cepat, aman, dan terkoordinasi. ***

Derasnya Hujan, Derasnya Duka: Dua Bocah Hanyut di Tengah Banjir Semarang

Lingkar.co – Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sejak Selasa (28/10) tak hanya meninggalkan genangan dan kemacetan. Di balik derasnya arus air yang menenggelamkan jalan dan rumah warga, tersimpan kisah pilu yang menyesakkan, dua bocah menjadi korban ganasnya banjir.

Siang itu, hujan belum berhenti mengguyur wilayah timur Semarang. Di beberapa titik seperti Kaligawe, Pedurungan, dan Semarang Timur, air menggenang hingga lutut orang dewasa. Tim SAR Kantor SAR Semarang bersama unsur gabungan bekerja tanpa henti sejak siang hingga dini hari. Tercatat, 47 warga dievakuasi, sebagian besar anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Namun di tengah kesibukan evakuasi itu, kabar duka datang bertubi-tubi. Seorang bocah, AR (7), murid kelas 1 MI Tarbiyatus Sibyan, dilaporkan hilang terseret arus di Telogomulyo, Pedurungan. Tim SAR menyisir saluran air dan sungai hingga dini hari. Sekitar pukul 03.00 WIB, jasad kecil itu akhirnya ditemukan warga tak jauh dari lokasi awal.

Belum selesai kesedihan itu, satu lagi nyawa kecil terancam. RA (9), bocah perempuan asal Sedayu Tugu Semarang, hanyut di selokan yang sedang diperbaiki di kawasan Argomulyo Mukti Asri, Telogomulyo. Dalam rekaman CCTV milik warga, Rahma terlihat berjalan di depan ibunya di tengah hujan sore. Hanya beberapa langkah sebelum bencana, kakinya terpeleset ke lubang saluran yang tertutup air hujan. Seketika tubuh mungil itu terseret derasnya arus menuju Sungai Gasem.

Sang ibu berlari panik, berteriak dan mencoba terjun menyelamatkan anaknya, namun tak kuasa melawan derasnya arus. Warga yang mendengar teriakan itu segera menolong sang ibu, yang hampir ikut hanyut.

“Saat ini tim kami bersama tim SAR gabungan masih melakukan pencarian di sepanjang saluran air itu. Medan yang tertutup sampah dan area pencarian yang panjang menjadi tantangan tersendiri. Kami berharap korban segera ditemukan,” ujar Budiono, Kepala Kantor SAR Semarang.

Musibah ini menjadi pengingat betapa rawannya kawasan pemukiman di bantaran saluran air Kota Semarang. Ketika hujan datang berhari-hari tanpa henti, saluran yang tak mampu menampung limpasan air berubah jadi jebakan maut.

Kini, duka menyelimuti dua keluarga kecil di Pedurungan. Di tengah genangan yang mulai surut, doa mereka masih mengalir, berharap RA segera ditemukan, dan agar tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban dari sistem drainase yang belum sepenuhnya siap menghadapi cuaca ekstrem. ***

Lima Warga Tertimpa Reruntuhan Rumah di Semarang Tengah, Satu Meninggal Dunia

Lingkar.co – Sebuah rumah tua di kawasan Jalan Pedamaran, Gang Buntu, Semarang Tengah, roboh dan menimpa lima penghuninya pada Selasa (28/10/2025) malam sekitar pukul 23.52 WIB. Akibat kejadian itu, satu orang meninggal dunia dan empat lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Semarang, Budiono, mengatakan pihaknya menerima laporan insiden tersebut pada Rabu (29/10) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.

Tim SAR gabungan pun segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi terhadap para korban yang tertimbun reruntuhan.

“Kami menerima laporan mengenai adanya bangunan yang runtuh dan masih ada lima warga yang terjebak di dalamnya. Kami langsung kirimkan satu tim untuk melakukan evakuasi,” ujar Budiono.

Setibanya di lokasi, tim Basarnas bersama unsur SAR gabungan melakukan upaya pertolongan dengan menyingkirkan material bangunan. Rumah tersebut diketahui sudah berusia tua dan diduga konstruksinya tidak lagi kuat.

“Ada lima penghuni yang terdampak runtuhnya bangunan, empat selamat dan mengalami luka-luka, sedangkan satu korban meninggal dunia diduga akibat tertimpa balok dan tembok rumah,” jelasnya.

Korban luka dilarikan ke RSUP Dr. Kariadi dan RS Hermina Pandanaran Semarang untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara korban meninggal telah diserahkan kepada pihak keluarga.

“Seluruh korban telah berhasil dievakuasi pada pukul 01.45 WIB. Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam operasi SAR ini,” pungkas Budiono. ***

Tingkatkan Kapasitas Relawan, Basarnas Gelar Workshop

Lingkar.co – Basarnas Semarang mengadakan Workshop Pemberdayaan Masyarakat yang diikuti 80 relawan tanggap bencana dari Kabupaten Kendal dan Kota Semarang. Workshop dilakukan satu hari di wisata Tirto Arum Kendal pada Senin (20/10/2025).

Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono mengatakan, kegiatan pemberdayaan kelompok masyarakat ini fokus di bidang pencarian dan pertolongan korban bencana. Tujuannya untuk memberikan dan meningkatkan kapasitas kemampuan teknik pertolongan dasar SAR.

“Materi workshop, secara umum tentang teknik dasar SAR. Secara khusus tentang teknik-teknik pertolongan pertama kepada korban bencana dan cara menyelamatkan korban di air menggunakan perahu karet,” jelasnya.

Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan, pelatihan ini sangat bermanfaat untuk memberikan keterampilan dasar tentang SAR. Harapannya, untuk kesiapsiagaan masyarakat di Kabupaten Kendal dalam mengantisipasi bencana banjir. “Dengan kesiapsiagaan kelompok masyarakat ini, maka akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya siaga bencana,” harapnya.

Bupati Kendal mengatakan, dengan pelatihan ini diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat, terutama bagi peserta, untuk pertolongan diri sendiri maupun masyarakat. Dengan demikian akan tercipta sinergitas dan kolaborasi antar seluruh pihak yang terkait dalam menghadapi bencana. “Harapannya, dengan mengikuti kegiatan ini akan memahami prosedur-prosedur dalam penanganan korban bencana, evakuasi dan prosedur lainnya,” harapnya.

Pelatihan diberikan oleh Asnawi Suroso, selaku Kepala Seksi Sumberdaya Kantor SAR Semarang bersama Budi Purnomosari selaku Instruktur Basarnas Semarang. Materi yang disampaikan tentang tugas SAR, teknik mencari, menolong, menyelamatkan dan mengevakuasi korban. Materi lainnya, praktek olah gerak perahu karet, bantuan hidup dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung dan Paru (RJP). (*)

Penulis: Yoedhi W

Kakek di Pemalang Tewas Saat Selamatkan Kucing dari Sumur 20 Meter

Lingkar.co – Aksi heroik seorang kakek di Pemalang berujung tragis. J (60), warga RT 03 RW 06 Dukuh Lumpang, Kecamatan Bantarbolang, meninggal dunia saat berusaha menyelamatkan seekor kucing dari dasar sumur sedalam 20 meter, Senin (11/8/2025) pagi sekitar pukul 07.30 WIB.

Budiono, Kepala Kantor Basarnas Semarang, menjelaskan bahwa peristiwa bermula ketika seorang warga meminta bantuan kepada Jiman untuk menolong kucingnya yang jatuh ke sumur. Permintaan itu disampaikan karena Jiman dikenal sebagai tukang gali sumur berpengalaman.

Dengan menggunakan tangga, Jiman turun ke sumur dan berhasil mengangkat kucing tersebut. Namun, saat hampir mencapai bibir sumur, tubuhnya mendadak lemas.

Ia terjatuh kembali ke dalam sumur dan tenggelam di air sedalam 1,5 meter. Pemilik kucing yang menyaksikan kejadian itu panik dan memilih menghubungi Basarnas Unit Siaga SAR Pemalang.

“Kami terima info pukul 09.45 WIB dan langsung mengirimkan satu tim dari Unit Siaga SAR Pemalang untuk mengevakuasi lengkap dengan peralatan vertical rescue dan juga SCBA karena dikhawatirkan ada gas beracun,” ungkap Budiono.

Setibanya di lokasi, tim SAR gabungan segera memasang rescue tripod dan menggunakan sistem lifting dan lowering untuk mengevakuasi korban. Sekitar pukul 11.30 WIB, tubuh Jiman berhasil diangkat dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka dan diserahkan kepada pihak keluarga.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras tim SAR gabungan sehingga korban lekas terevakuasi. Untuk warga masyarakat, bila membutuhkan pelayanan jasa SAR dapat menghubungi nomor telepon 115. Jangan khawatir, operasi SAR yang kami lakukan gratis tanpa dipungut biaya,” pungkas Budiono.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar selalu memperhatikan keselamatan saat melakukan penyelamatan di area berisiko tinggi seperti sumur, terutama yang memiliki potensi gas beracun atau kedalaman ekstrem. ***

Pria di Jepara Ditemukan Meninggal dalam Sumur, Diduga Sudah Tiga Hari Terjatuh

Lingkar.co – Seorang pria berinisial S (40), warga Desa Muryolobo, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, ditemukan meninggal dunia di dalam sumur pada Kamis (24/7/2025). Proses evakuasi dilakukan oleh tim dari Basarnas Semarang dan Tim SAR Gabungan setelah mendapat laporan dari warga yang mencium bau tidak sedap di sekitar lokasi sumur.

Menurut laporan Basarnas Semrang, penemuan jasad bermula saat warga yang melintas di dekat rumah korban mencurigai aroma tak sedap yang menyengat dari arah sumur. Warga yang penasaran memeriksa ke dalam dan menemukan jenazah dalam kondisi mengambang. Kejadian tersebut segera dilaporkan kepada perangkat desa, yang kemudian diteruskan ke Pos SAR Jepara untuk permintaan bantuan evakuasi.

Menurut keterangan warga setempat, korban sudah tidak terlihat selama tiga hari. Dugaan sementara, korban terjatuh ke dalam sumur sejak awal ia menghilang. Kecurigaan warga bermula saat menemukan sepasang sandal milik korban di dekat mulut sumur.

Meski sempat diperiksa, tak ada tanda-tanda mencurigakan pada hari pertama dan kedua. Namun, bau menyengat yang muncul pada hari ketiga membuat warga melakukan pemeriksaan ulang hingga akhirnya jasad ditemukan.

“Sekiranya pukul 15.00 WIB kami menerima laporan adanya penemuan korban yang terjatuh ke dalam sumur. Tim kami kemudian segera berangkat ke lokasi dengan berbekal peralatan vertikal, alat pernapasan, dan alat penerangan,” ujar Budiono, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang.

Budiono menjelaskan, proses evakuasi cukup menantang karena sumur memiliki kedalaman sekitar 25 meter. Namun, berkat koordinasi dan kerja sama tim, evakuasi berhasil dilakukan pada pukul 16.30 WIB. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan langsung diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

“Dengan berhasilnya proses evakuasi, maka operasi SAR dinyatakan ditutup. Semua Search and Rescue Unit (SRU) kembali ke satuannya masing-masing. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses ini,” tutup Budiono.

Peristiwa ini menambah daftar pentingnya kewaspadaan terhadap area berbahaya seperti sumur, terutama di lingkungan permukiman. Masyarakat diimbau untuk memasang pelindung atau penutup sumur guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. ***