Arsip Tag: Ibadah Haji

Tiba di Madinah, Jemaah Haji Asal Tegal Jawa Tengah Meninggal Dunia

Lingkar.co – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Seorang jamaah haji Kloter SOC (Solo) 03 asal Kabupaten Tegal, atas nama Rodiah (68) wafat akibat serangan jantung, saat berada di Madinah, Arab Saudi, pada Jumat (24/4/2026) Waktu Arab Saudi (WAS).

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Ichsan Marsha mengungkapkan, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menjamin badal haji bagi jamaah yang wafat pada hari ke-empat penyelenggaraan ibadah haji tersebut. “Kita berdoa semoga almarhumah husnul khatimah,”ujar Ichsan, Jumat (24/4/2026).

Terkait data keberangkatan jamaah haji di Tanah Suci, dia menyampaikan, jumlah jamaah haji yang telah berangkat ke Arab Saudi sebanyak 40 kloter dengan 15.349 orang jamaah. Sementara itu, sebanyak 9.884 orang jamaah dari 25 kloter telah tiba di Madinah, Arab Saudi.

“Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan data layanan kesehatan yang terdapat di Daker Madinah. Tercatat sebanyak 93 jamaah menjalani rawat jalan, dua orang dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia atau KKRI, dan satu jamaah dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi,”tambah dia.

Ichsan pun menegaskan agar PPIH Embarkasi meminimalisir hal-hal yang bersifat seremonial pada saat pemberangkatan demi menjaga stamina jamaah. Dia menegaskan, Kemenhaj telah menstandarkan prosedur pelepasan jamaah di embarkasi tanpa seremonial. Hal ini bertujuan agar jamaah tidak terlalu lelah dan memiliki waktu istirahat yang cukup.

“Kami juga perlu mengingatkan bagi jamaah haji Indonesia yang sudah tiba di Madinah, bahwa cuaca di Madinah hari ini diperkirakan bisa mencapai 34 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan 25 persen,”tambah dia.

Ichsan meminta agar jamaah tetap menjaga kesehatan. Dia mengimbau agar jamaah minum air putih yang banyak, menggunakan pelindung kepala, dan mengenakan pakaian yang nyaman selama berada di Tanah Suci.

“Ikuti arahan dari petugas dan ketua kloter, serta menfaatkan waktu untuk istirahat yang cukup. Menfaatkan fasilitas hotel yang sudah disiapkan, dan utamakan ibadah yang wajib,”kata dia.

Dia meminta agar jamaah tak ragu atau segan untuk menghubungi petugas jika membutuhkan bantuan. “Kami siap membantu kapan pun diperlukan. Untuk itu, mari kita jaga kebersamaan, saling bantu, dan semoga ibadah haji kita berjalan lancar serta penuh keberkahan,” kata dia.

Sementara itu, Ketua PPIH Embarkasi Solo, Fitriyanto membenarkan atas wafatnya jemaah haji atas nama Rodiyah binti Wayan, 68, Kloter SOC 03 asal Kabupaten Tegal yang wafat di Arab Saudi disebabkan karena sesak nafas dan henti jantung.

“Jemaah Haji tersebut (Rodiyah binti Wayan, 68, red) dinyatakan wafat pada hari Kamis, (23/04) pukul 11.45 WAS yang rencananya akan dimakamkan di Makam Baqi Madinah,” ujar Fitriyanto.

Atas wafatnya jemaah asal Jawa Tengah itu, Kepala Kanwil Kemenhaj Jawa Tengah itu menyampaikan duka yang mendalam dan himbauan kepada Jemaah Haji lainnya agar memperhatikan dan menjaga kondisi kesehatan mengingat kegiatan haji adalah ibadah fisik. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kesiapan fisik dan mental dalam menjalankan ibadah haji, terutama bagi jemaah dengan risiko kesehatan tertentu.

“Kami mengucapkan belasungkawa mendalam semoga Jemaah yang wafat husnul khatimah dan keluarga yang ditinggal diberi kelapangan dan ketabahan hati. Terkait hak-hak Jemaah nantinya akan dibadalkan oleh petugas haji. Kami juga akan terus memastikan terkait asuransi yang akan diterima oleh ahli waris.” ujarnya.

Pihaknya juga memastikan bahwa PPIH Embarkasi Solo terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata dalam memberikan pelayanan kepada Jemaah Haji guna memberikan kenyamanan sehingga dapat mengantarkan Jemaah Haji menuju Baitullah dan kembali ke tanah air dengan menyandang haji yang mabrur. (*).

Impian Penjual Ikan Asin Sejak Tahun 1960, Akhirnya Naik Haji

Lingkar.co – Rasa syukur, dan bangga tak dapat disembunyikan Emen Endjum (83), cita-cita nenek penjual Ikan asin ini untuk naik haji akhirnya terwujud

Nenek Emen berasal dari Kiarancondong, Sukajadi Bandung. Ia merupakan jemaah tertua dari Bandung yang tiba Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah, Kamis (23/4/2026) sekira 15.40 waktu setempat.

Nenek Emen tergabung dalam kloter 2 KJT. Emen mengaku selama ini ia berjualan ikan asin dan beras di pasar dekat tempat tinggalnya.

“Saya jualan ikan asin dan beras sejak tahun 1960. Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya tabung sedikit-sedikit untuk naik haji,” akunya saat transit di Bandara Madinah bersiap menunggu bus untuk ke hotel Madinah.

Ia mengaku sebelum bisa naik haji tahun ini, dirinya telah melaksnakan ibadah umrah di tahun 2018.

“Saya tahun 2018 umrah sama anak saya, namun citaanak saya ini sudah meninggal. Habis pulang umrah langsung daftar haji dan alhamdulillah tahun ini bisa berangkat,” ujarnya dengan wajah ceria duduk di kursi roda.

Dengan penuh harap ia berujar doa semoga ibadahnya selama di Tanah Suci berjalan dengan baik dan lancar serta menjadi haji yang mabrur.

“Saya bersyukur bisa haji tahun ini. Semoga anak dan cucu-cucu saya bisa naik haji (melaksanakan ibadah haji, red),” pungkasnya. (*)

Singgih Januratmoko: Embarkasi Haji Berbasis Hotel di Yogyakarta Lebih Efisien, Layak Jadi Percontohan Nasional

Lingkar.co – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko menilai keberangkatan kloter perdana jemaah haji dari Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) sebagai tonggak penting dalam transformasi pelayanan haji di Indonesia.

Menurutnya, konsep embarkasi berbasis hotel yang diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan inovasi strategis yang patut dijadikan model nasional.

“Pendekatan ini jauh lebih efisien dan memberikan kenyamanan maksimal bagi jemaah. Tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga mengoptimalkan fasilitas yang sudah tersedia,” ujar Singgih dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/04/2026).

Ia menekankan bahwa penggunaan hotel sebagai pusat layanan embarkasi menjadi solusi cerdas dibandingkan pembangunan asrama haji baru yang membutuhkan anggaran besar.

Dengan skema ini, kata dia, pemerintah dapat menghemat biaya sekaligus mengalokasikan anggaran ke sektor prioritas lain seperti pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, politisi Partai Golkar ini juga melihat dampak ekonomi yang signifikan dari kebijakan ini, khususnya bagi masyarakat di sekitar Kulon Progo. Aktivitas jemaah haji yang terpusat di hotel dinilai mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan UMKM lokal.

Sementara itu, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta secara resmi melepas kloter perdana jemaah haji melalui embarkasi YIA. Sebanyak ratusan jemaah diberangkatkan menuju Tanah Suci, menandai dimulainya operasional embarkasi haji berbasis hotel di wilayah tersebut.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan bahwa konsep ini dirancang untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, modern, dan manusiawi bagi jemaah.

Dengan dukungan berbagai pihak, embarkasi YIA diharapkan dapat menjadi percontohan nasional dalam penyelenggaraan ibadah haji yang lebih efisien dan berorientasi pada kenyamanan jemaah.

Keberangkatan kloter perdana ini sekaligus menjadi catatan sejarah baru bagi DIY dalam penyelenggaraan haji, dengan menghadirkan sistem layanan yang inovatif, terintegrasi, dan berdampak luas bagi masyarakat. (*).

34.122 Jemaah Haji Kloter Pertama Embarkasi Solo, Jateng Berangkat Malam Ini

Lingkar.co – Sebanyak 34.122 jemaah haji asal Jawa Tengah kloter pertama diberangkatkan malam ini Selasa (21/4/2026) dari Embarkasi Solo (Donohudan).

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan tiga hal yang harus dijaga jemaah haji asal Jawa Tengah selama di Tanah Suci. Yakni kesehatan, kekompakan, dan nama baik daerah termasuk Indonesia..

“Yang paling utama itu kekompakan,” kata Gus Yasin, panggilan akrabnya mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi.

Ia mengingatkan jemaah agar mengikuti arahan pembimbing dan jadwal yang telah disusun selama di Tanah Suci.

Menurut dia, rangkaian ibadah haji tahapannya tidak sesederhana ibadah yang urutannya tunggal seperti salat. Karena itu, jemaah diminta tidak berjalan sendiri-sendiri dan tetap menjaga koordinasi dengan rombongan maupun kelompok bimbingan ibadah haji.

“Yang paling dijaga di sana adalah arahan dari pembimbing haji di KBIH,” ujarnya.

Selain kekompakan, Taj Yasin juga menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik sejak awal keberangkatan. Ia mengingatkan perjalanan ibadah haji berlangsung panjang, sekitar 40 hari, sehingga jemaah harus cermat menjaga stamina.

“Jaga kesehatan, jaga kekompakan,” kata dia.

Ia juga meminta jemaah menjaga perilaku selama di Tanah Suci. Menurut dia, jemaah Jawa Tengah harus ikut mempertahankan citra baik jemaah Indonesia yang selama ini dikenal tertib, sopan, dan tidak menyulitkan pihak lain.

“Nama baik Provinsi Jawa Tengah juga harus dijaga di sana,” ujarnya.

Pesan itu sejalan dengan perhatian panitia embarkasi pada aspek kesehatan jemaah. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yunita Dyah Kusminar mengatakan, pemeriksaan ulang dokumen resmi yang menyatakan kemampuan calon jemaah dari aspek kesehatan (fisik dan mental) untuk menunaikan ibadah haji, berdasarkan pemeriksaan medis komprehensif.

“Persiapan kita yang utama adalah melakukan cek kembali hasil istitha’ah dari seluruh jemaah,” ujarnya.

Ia menyebut kloter 1 dalam kondisi aman. Namun pada kloter 2 terdapat dua jemaah yang dirujuk ke RS Moewardi, sedangkan pada kloter 3 dua jemaah diistirahatkan dan satu lainnya masih diobservasi.

Menurut dia, kondisi itu tidak otomatis membuat jemaah batal berangkat. Penentuan layak terbang dilakukan melalui asesmen khusus oleh tim medis yang bersiaga 24 jam.

“Pemeriksaan kesehatan itu sangat penting untuk menjaga jamaah di sana tetap sehat. Jadi berangkat sehat, pulang sehat,” katanya.

Dari sisi lapangan, Ahmad Risyanto Pembimbing Ibadah Kloter 3 SOC asal Kabupaten Tegal menyebut pelayanan haji tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Terutama dalam pembagian kebutuhan jemaah, layanan administrasi, dan kejelasan alur keberangkatan.

“Untuk tahun ini saya kira dari sisi pelayanan sudah semakin baik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Prov Jateng, H. Fitriyanto melaporkan kuota jemaah haji Jawa Tengah tahun ini mencapai 34.122 orang. Jumlah itu terdiri atas 32.138 jemaah urut porsi, 1.706 jemaah prioritas lansia, 191 petugas haji daerah, dan 87 pembimbing KBIH.

Seluruh jemaah diberangkatkan melalui dua embarkasi, yakni Solo dan Yogyakarta. Sebanyak 81 kloter diberangkatkan melalui Embarkasi Solo, sedangkan 15 kloter dari wilayah karesidenan Kedu melalui Embarkasi Yogyakarta International Airport.

Jumlah jemaah yang berangkat melalui Embarkasi Solo mencapai 28.772 orang dengan pendampingan 321 petugas haji. Sementara melalui Embarkasi Yogyakarta sebanyak 5.368 orang dengan didampingi 60 petugas haji.

Maliyah, warga Margasari Kabupaten Tegal mengaku senang bisa melaksanakan ibadah haji. Penantian dimulai sejak 13/14 tahun yang lalu. Di atas kursi roda, Maliyah tetap bersyukur bisa berangkat haji lantaran sebelumnya sempat sakit.

“Hari senin sempat opname. Tapi alhamdulillah sudah sembuh, dicek kesehatan tadi sudah bagus. Dulu daftar dengan suami, tapi sudah meninggal 4/5 tahun lalu. Sekarang berangkat dengan menantu,” ucap lansia berusia 75 tahun itu.

Tercatat jemaah haji Jawa Tengah tertua tahun ini berada pada kloter SOC 20, berusia 94 tahun, atas nama Himan Kasto bin Kasto asal Kabupaten Kendal. Adapun jemaah termuda berada pada kloter YIA 19, berusia 13 tahun, atas nama Vira Talita Sahri binti Eko Setiawan asal Kabupaten Magelang.

Untuk kloter pertama, yakni SOC 1 dari Kabupaten Tegal, jemaah dijadwalkan terbang dari Bandara Adi Soemarmo pukul 01.05 WIB menggunakan pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GIA 6101 menuju Madinah.

Penyelenggaraan haji tahun ini juga didukung sejumlah perbaikan layanan. Embarkasi Solo kembali memperoleh layanan Makkah Route di Bandara Adi Soemarmo untuk mempercepat proses keberangkatan dan mengurangi kelelahan jemaah. Selain itu, kartu Nusuk kini sudah dibagikan dan diaktivasi sejak di embarkasi.

Acara pelepasan kloter pertama ini dihadiri Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wahid, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Saiful Mujab, jajaran penyelenggara haji, unsur pemerintah daerah, serta sejumlah tokoh organisasi keagamaan. (*)

Transformasi ke Sistem Digital, Inovasi Percepatan Layanan Haji

Lingkar.co – Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan, mengatakan bahwa Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj) tengah melakukan percepatan layanan di dalam negeri melalui berbagai inovasi. Salah satunya dengan bertranformasi ke sistem digital.

Menurut dia, jemaah haji harus mendapatkan pelayanan yang cepa, tepat dan memuaskan.

“Kualitas layanan haji harus bertumpu pada tiga dimensi utama, yaitu, kecepatan layanan, ketepatan layanan dan nilai kepuasan, yang diukur dari persepsi jemaah setelah membandingkan pelayanan yang diterima dengan harapan mereka,” ujar Ian, Jum’at (10/4/2026).

Ia menyampaikan hal tersebut saat diskusi panel pada agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konsolidasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Kelas I Tangerang.

Ian melanjutkan, inovasi yang dilakukan terintegrasi pada digitalisasi layanan akomodasi serta penerapan fast track di asrama haji untuk mempercepat proses keberangkatan.

“Selain itu, dilakukan standarisasi layanan konsumsi berbasis produk Nusantara dengan kandungan gizi seimbang serta optimalisasi penggunaan produk dalam negeri,” tambahnya.

Ian mengungkapkan, pihaknya juga mengupayakan peningkatan layanan pelunasan Bipih haji reguler melalui percepatan verifikasi data dan penguatan informasi berbasis digital seperti website dan SMS blast.

“Layanan pelimpahan nomor porsi dan pembatalan haji juga disederhanakan dengan memastikan kepastian waktu serta transparansi informasi kepada jemaah,” jelas Ian.

Tidak hanya itu, Ditjen Pelayanan Haji juga memperkuat akurasi dan validasi data jemaah melalui pemutakhiran berkala dan pencegahan duplikasi data. Monitoring pengisian kuota haji turut ditingkatkan agar pemenuhan kuota dapat dilakukan secara tepat waktu dan berkelanjutan.

“Penyampaian informasi kepada jemaah juga diperkuat melalui notifikasi proaktif, termasuk informasi pelunasan, status layanan, hingga refund pembatalan,” tegasnya lagi.

Sementara itu, untuk layanan haji di luar negeri, Ian mengatakan pihaknya telah melakukan evaluasi kinerja syarikah di Arab Saudi berbasis teknologi informasi dengan sistem monitoring terintegrasi. Penyediaan akomodasi di

Madinah juga dirancang dengan skema multi-year guna menjamin ketersediaan dan efisiensi layanan, sekaligus mendukung pembiayaan subsidi haji.

Layanan konsumsi pun dioptimalkan melalui penyediaan makanan siap saji (RTE) dan bumbu paste yang menjaga cita rasa Nusantara.

Pada sektor haji khusus, Ditjen Pelayanan Haji mengembangkan sistem informasi berbasis IT untuk layanan batal porsi, lunas tunda, dan batal lunas, guna mempercepat proses administrasi.

“Selain itu, dikembangkan pula sistem pengisian kuota petugas haji khusus secara digital serta peningkatan akurasi data daftar tunggu jemaah melalui validasi dan pemutakhiran berkala,” pungkas Ian.

Melalui berbagai langkah strategis tersebut, Direktorat Jenderal Pelayanan Haji berharap dapat menghadirkan layanan haji yang lebih cepat, tepat, transparan, dan berorientasi pada kepuasan jemaah. (*)

Cegah Pemberangkatan Jemaah Haji Ilegal, Kemenhaj Gandeng Keimigrasian

Lingkar.co – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus memperkuat sinergi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan.

Langkah tersebut diambil untuk menguatkan peran strategisnya dalam mencegah praktik haji ilegal pada musim haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi.

Pertemuan yang berlangsung di kantor Kemenhaj menjadi langkah penting dalam menyelaraskan strategi pengawasan dan pencegahan, guna memastikan seluruh jemaah Indonesia berangkat melalui prosedur resmi serta terlindungi dari praktik ilegal.

Direktur Pengawasan Haji Khusus dan Umrah Kemenhaj, Ahmad Abdullah, menegaskan bahwa pengawasan dilakukan secara menyeluruh, baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Kami di Kemenhaj juga melakukan pengawasan di bandara untuk memastikan tidak ada jemaah yang berangkat secara ilegal,” ujar Abdullah dalam siaran persnya, Jum’at (3/4/2026).

Ia melanjutkan, penguatan pengawasan ini juga diiringi dengan langkah deteksi dini yang dilakukan di berbagai daerah, sebagai bagian dari komitmen Kemenhaj dalam menekan praktik penipuan dan pelanggaran dalam penyelenggaraan haji dan umrah.

Sejalan dengan itu, Sekretaris Ditjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj, Achmad Gunawan, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam pertukaran data.

“Kami akan mengikuti tim satgas Kemenko, karena jika bergerak sendiri, kekuatan kami akan lebih terbatas,” kata Gunawan.

Dari sisi koordinasi lintas kementerian, Asisten Deputi Koordinasi Tata Kelola Keimigrasian, Achmad Brahmantyo Machmud, menekankan bahwa sinergi menjadi kunci utama dalam menutup celah keberangkatan jemaah ilegal.

“Jika satu orang jemaah haji ilegal membayar sekitar 100 juta, maka angka tersebut bisa mencapai ratusan milyar jika banyak yang lolos ke Arab Saudi,” ungkap Achmad.

Ia juga mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan visa, termasuk penggunaan visa pekerja untuk kepentingan ibadah haji atau umrah.

“Jemaah yang berangkat ilegal bisa tertangkap dan dijatuhi hukuman berupa denda atau larangan untuk bepergian dalam waktu lama,” tambahnya.

Lebih lanjut, Achmad menegaskan pentingnya pembentukan tim gabungan lintas kementerian untuk memperkuat langkah preventif secara sistematis, mulai dari tahap persiapan hingga keberangkatan jemaah.

Kemenhaj memandang sinergi ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem pengawasan nasional, sekaligus memastikan penyelenggaraan haji 2026 berjalan tertib, aman, dan sesuai ketentuan.

“Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengoptimalkan sistem pengawasan dan pencegahan, serta memastikan seluruh jemaah haji yang berangkat pada 2026 dapat melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman serta secara sah,” tutupnya. (*)

Gus Irfan Tegaskan Persiapan Operasional Haji 2026 Sudah 100 Persen

Lingkar.co – Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), menegaskan bahwa persiapan operasional pemberangkatan jemaah haji tahun 1447 Hijriyah/2026 Masehi berjalan sesuai rencana (on track) dan telah mencapai progres hampir 100 persen. Hal tersebut disampaikan dalam acara pertemuan dengan jajaran Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Timur.

Dalam arahannya, Menhaj menekankan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini harus menjadi potret pelayanan publik yang lancar, bersih, dan bebas dari segala bentuk penyimpangan. Mengingat Jawa Timur merupakan provinsi dengan kuota jemaah haji terbesar di Indonesia, perannya dinilai sangat strategis sebagai barometer keberhasilan nasional.

“Persiapan operasional terus kita matangkan dan sejauh ini berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Fokus utama kami adalah memastikan keamanan dan keselamatan jemaah melalui berbagai langkah mitigasi yang komprehensif,” ujar Menhaj di Jombang, Jum’at (27/3/2026).

Menyikapi besarnya ekosistem keuangan haji yang mencapai angka Rp18 triliun, Menhaj menyatakan bahwa aspek akuntabilitas menjadi harga mati. Untuk menjamin hal tersebut, Kementerian Haji dan Umrah melibatkan unsur profesional dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan, hingga Kepolisian dalam mengawal proses pengadaan dan tata kelola anggaran.

“Dana haji yang dikelola sangat besar, maka komitmen terhadap tata kelola yang bersih adalah mutlak. Kami ingin memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar kembali dalam bentuk layanan terbaik bagi jemaah,” tegasnya.

Langkah-langkah strategis ini, lanjut Menhaj, merupakan bentuk implementasi langsung dari arahan Presiden RI untuk menghadirkan pelayanan haji yang transparan dan berorientasi pada kepuasan jemaah. Menhaj juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Kanwil Kemenhaj Jawa Timur atas dedikasi mereka dalam tahap persiapan ini.

“Terima kasih kepada seluruh jajaran di Jawa Timur yang telah bekerja maksimal. Saya minta terus jaga kekompakan dan tingkatkan standar pelayanan. Fokus kita satu: memberikan yang terbaik demi jemaah haji Indonesia,” tandasnya.

Acara ini ditutup dengan penguatan koordinasi antar-bidang guna memastikan seluruh skema pemberangkatan jemaah yang akan dimulai dalam waktu dekat dapat berjalan tanpa kendala teknis berarti. (*)

Cermati Geopolitik Timur Tengah, Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 Pertimbangkan Keselamatan Jemaah

Lingkar.co – Mencermati dinamika situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus berkembang, Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan jemaah haji Indonesia merupakan prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan terkait penyelenggaraan ibadah haji 2026.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan arahan yang sangat jelas kepada seluruh jajaran pemerintah agar memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji.

“Perintah Presiden sangat jelas, yaitu memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang akan berangkat menunaikan ibadah haji. Keselamatan jemaah haji harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan dan langkah yang kita ambil,” ujar Dahnil dalam siaran persnya, Selasa (10/3/2026).

Dahnil mengungkapkan, pemerintah terus memantau secara intensif perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah yang saat ini sangat dinamis. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang harus dipertimbangkan secara matang dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Seluruh kebijakan akan didasarkan pada pertimbangan yang komprehensif dengan mengedepankan keselamatan jemaah.

“Situasi di Timur Tengah saat ini sangat dinamis dan tentu menjadi salah satu pertimbangan penting. Karena itu, kami diminta untuk menyiapkan berbagai skenario secara seksama dan memastikan seluruh langkah mitigasi risiko telah dipersiapkan dengan baik,” jelasnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah skenario dan langkah mitigasi risiko untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mempengaruhi penyelenggaraan ibadah haji. Ia juga menegaskan bahwa seluruh skenario tersebut nantinya akan dibahas secara komprehensif bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai bagian dari mekanisme pengambilan keputusan.

“Kami sedang menyiapkan berbagai skenario dan langkah mitigasi risiko secara komprehensif. Semua skenario harus disiapkan dengan cermat agar pemerintah memiliki kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan. Skenario akan kami siapkan secara matang dan akan dibahas bersama dengan DPR” kata Dahnil.

Sementara itu, terkait pelaksanaan ibadah umrah, Kemenhaj sejalan dengan Kemenlu yang mengimbau masyarakat Indonesia yang berencana melaksanakan umrah dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya.

“Untuk jemaah umrah, mengikuti saran dari Kementerian Luar Negeri, kami mengimbau masyarakat yang berencana berangkat umrah dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya hingga situasi lebih kondusif,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang hati-hati dan penuh pertimbangan tersebut, pemerintah berharap penyelenggaraan ibadah haji dan umrah tetap dapat berjalan dengan aman, tertib, dan memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh jemaah Indonesia. (*)