Arsip Tag: Perbaikan Irigasi

Dukung Pengembangan Pertanian Jepara, Normalisasi Sungai di Pecangaan Dipercepat

Lingkar.co – Bupati Jepara Witiarso Utomo, mengatakan, Pemerintah Kabupaten Jepara akan mempercepat normalisasi sungai di sejumlah desa untuk mendukung sektor pertanian di Kecamatan Pecangaan.

Menurutnya, penanganan sungai sangat penting, agar lahan pertanian dapat kembali produktif dan petani bisa berproduksi optimal pada tahun depan.

“Pada kegiatan ngantor di desa kali ini banyak persoalan terkait normalisasi sungai. Ini akan kita tindaklanjuti supaya petani bisa kembali berproduksi dan panen meningkat,” jelasnya saat Ngantor di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Selasa (23/12/2025).

Disampaikan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), untuk mempercepat penanganan. Jika proses administrasi dinilai terlalu lama, pihaknya siap mengambil langkah percepatan, melalui kolaborasi pendanaan.

“Kalau memang terlalu lama, nanti kita komunikasikan. Bisa kita instruksikan dengan iuran bersama, misalnya alat dari Pemkab Jepara, BBM dari BBWS, atau sebaliknya. Ini sangat urgen dan harus segera ditindaklanjuti secara cepat, agar petani bisa panen,” tegas Mas Wiwit, sapaan akrabnya.

Selain sektor pertanian, pengembangan tenun Troso juga menjadi perhatian. Dia menyebut, Pemkab Jepara melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) akan mengembangkan kembali Troso, sebagai kawasan wisata berbasis industri kreatif tenun.

“Tenun Troso akan kita kembangkan kembali. Kita dorong Disparbud untuk menghidupkan kembali wisata ke Troso,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, bupati juga menyampaikan terkait progres pembangunan fasilitas Pendidikan, yakni Sekolah Rakyat (SR) yang saat ini tengah dibangun di wilayah Pakisaji. Rencananya, pada Agustus tahun depan, bangunan bisa digunakan dan aktivitas pembelajaran bisa dimulai.

“Pembangunan sudah berjalan, dengan anggaran kurang lebih Rp200 miliar. Nantinya diperuntukkan bagi sekitar 1.000 siswa, terdiri dari 600 siswa SD, serta sisanya dari jenjang SMP dan SMA,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, fasilitas tersebut diprioritaskan bagi peserta didik dari keluarga desil 1 dan 2, termasuk untuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Jepara. Menurutnya, program dari pemerintah pusat ini menjadi bagian dalam mendukung upaya Pemkab Jepara, memperkuat akses pendidikan yang merata dan berkelanjutan. (*)

Nestapa Petani di Bayan Utara, 15 Tahun Irigasi Mati Tanpa Ada Solusi

Lingkar.co – Peringatan Hari Tani Nasional menjadi panggung kemarahan petani di Kecamatan Bayan Utara, Kabupaten Purworejo. Alih-alih dirayakan dengan sukacita, momen tersebut justru membuka luka lama, matinya saluran irigasi Kragilan yang sudah 15 tahun tak mengalirkan air.

Warga dari Desa Sambeng, Jrakah, Bringin, Pekutan, Bayan, hingga Pucangagung menumpahkan kekecewaan mereka melalui aksi protes pada Rabu (26/09/2025). Di sepanjang jalur irigasi, spanduk sindiran keras dibentangkan, memuat tulisan seperti; “15 Tahun Ora Mili Cuk,” ” Bapak KDM, Tolong Kami,” “Ora Butuh Janji, Butuh Banyu Mili,” hingga “Saluran Ada, Air Mana?”, sebuah seruan yang menohok pemerintah daerah maupun pusat atas kegagalan mengelola sumber air yang menjadi nyawa pertanian .

Bagi para petani, irigasi mati bukan sekadar masalah teknis, tetapi persoalan hidup. Muhaimin, petani asal Sambeng, menuturkan bahwa selama bertahun-tahun mereka harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk sekadar menanam. “Kami sudah terlalu lama menunggu. Tolong realisasikan saluran air ini, agar petani bisa hidup layak,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami Tukimin, petani lain yang memilih membuat sumur bor agar sawahnya bisa diolah. “Modal besar, hasil tidak sebanding. Petani jadi korban,” keluhnya. Banyak petani bahkan memilih membiarkan lahan mereka terbengkalai karena perhitungan ekonomi tak lagi masuk akal. “Mau diolah, tidak untung. Dibiarkan, hati tidak tenang. Hidup segar, mati tak mau,” ungkap seorang petani dengan nada getir.

Padahal, pemerintah kerap menggembar-gemborkan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional. Namun, di tingkat akar rumput, petani justru dipaksa bertahan sendirian.

“Hari Tani seharusnya menghargai pejuang pangan. Tapi kenyataannya, kami masih menjerit tanpa air,” ujar salah satu peserta aksi.

Selama 15 tahun, berbagai janji perbaikan terdengar, tapi tak satu pun berujung pada solusi nyata. Warga menduga persoalan ini tak hanya soal kerusakan fisik saluran, melainkan juga lemahnya komitmen anggaran dan pengawasan pemerintah.

Kini, mata masyarakat Bayan tertuju pada pemerintah daerah dan pusat. Mereka menuntut langkah konkret, bukan sekadar wacana. Sebab, tanpa irigasi, jargon ketahanan pangan hanyalah slogan kosong, dan Hari Tani akan terus dirayakan dengan kemarahan yang sama. (*)

Penulis: Lukman Khakim

Perbaiki Gorong gorong, Dishub Kendal Tutup Akses Jalan Semarang-Boja Selama 14 Hari

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Kendal melalui Dinas Perhubungan melakukan penutupan akses jalan Boja-Semarang, tepatnya di perempatan Jamban. Penutupan jalan disebabkan karena adanya perbaikan saluran irigasi gorong-gorong.

Kepala Dishub Kendal, Mohammad Eko mengatakan, pentupan dilakukan sejak Rabu (22/11/2023) dan diperkirakan akan membutuhkan waktu pengerjaan hingga 14 hari.

“Itu kegiatannya PU kami hanya membantu di pengalihan arus lalu lintas. Di rapat awal itu PU meminta kalau bisa enam hari sudah selesai,” kata Eko, Rabu (22/11/2023).

Ia lanjut menjelaskan, jalur alternatif untuk menghindari penutupan jalan tersebut lumayan banyak. Sehingga diperkirakan tidak akan begitu menghambat lalu lintas. Pihaknya juga telah memasang rambu-rambu peringatan dan memberikan informasi tersebut di media sosial.

Arus lalu lintas jalan Boja-Semarang, dialihkan memutar melalui Jalan Pahlawan. Untuk Menghindari Kemacetan, pengendaran kendaraan diimbau untuk mengunakan Jalur Alternatif.

Diketahui. perempatan Jamban memang perlu mendapatkan penanganan atau upaya perbaikan, terlebih menjelang musim penghujan. Sebab ketika hujan turun saluran irigasi tidak mampu menampung air yang mengakibatkan meluber ke jalan.

Pantauan di lokasi pagi ini, terjadi kemacetan pasca penutupan akses jalan Boja-Semarang. Terkait kejadian tersebut, Mohammad Eko mengatakan bahwa kemacetan terjadi karena masih banyak pengendara yang kaget dan belum mengetahui adanya penutupan akses jalan.

“Padahal beberapa hari ini kita sudah pasang di medsos terkait rencana itu, tapi sepertinya masyarakat belum siap, mungkin kurang terinformasi,” tutupnya. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Nadin Himaya