Arsip Tag: Rob

Dikepung Sungai dan Rob, Banjir Tunggulsari Pati Tak Kunjung Surut, Aktivitas Warga Lumpuh

Lingkar.co – Banjir yang melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, tak kunjung surut. Sudah lebih dari sepekan, air masih menggenangi permukiman warga dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari masyarakat desa pesisir tersebut.

Kondisi ini diperparah oleh letak geografis Desa Tunggulsari yang berada di kawasan muara. Luapan sungai dari daratan bertemu dengan pasang air laut dari timur, membuat air sulit mengalir keluar.

Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menjelaskan bahwa banjir dipicu curah hujan tinggi dari arah barat yang menyebabkan aliran sungai bermuara ke wilayahnya.

“Banjir kali ini penyebabnya curah hujan tinggi dari arah barat sehingga aliran sungai menuju muara yang asalnya dari desa sebelah di Jepat Kidul larinya ke sini, sehingga baru ke muara laut. Ada empat aliran sungai yang mengaliri dari atas ke laut karena kondisinya hujan terus akhirnya genangan air di sini tidak segera habis,” ujar Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, air dari barat tertahan oleh pasang air laut dari timur. Akibatnya, banjir sulit surut dan berpotensi bertahan lebih lama.

“Ditambah ini sudah air pasang juga naik sehingga tekanan air dari barat berbenturan air pasang dari timur, sehingga turunnya ndak bisa cepat. Khawatirnya, banjir pasang tinggi ketemulah air laut, kemudian banjir seperti bulan Mei 2025 kemarin,” tuturnya.

Data pemerintah desa mencatat 257 rumah warga terendam banjir. Ketinggian air di dalam rumah mencapai 15 hingga 20 sentimeter, sementara di jalan desa mencapai 80 sentimeter. Kondisi tersebut membuat mobilitas warga terganggu dan aktivitas ekonomi terhenti.

“Untuk banjir tahun ini debit air di rumah dari mulai 15 sampai 20 sentimeter, di jalan sampai 80 sentimeter, namun praktis seluruh rumah 257 rumah terendam. Jadi aktivitas masyarakat seminggu praktis terganggu, itu mengenai banjir,” ucap Yudi, sapaannya.

Sebagai langkah darurat, rumah Sekretaris Desa Tunggulsari dijadikan posko pengungsian, layanan pengobatan warga, sekaligus tempat distribusi bantuan logistik.

Yudi memperkirakan banjir akan lama surut karena desa berada tepat di muara. Ia mengingatkan bahwa pada pertengahan 2025 lalu, banjir rob di wilayahnya bahkan berlangsung selama berbulan-bulan.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa meminta perhatian serius dari pemerintah daerah untuk penanganan banjir jangka panjang. Pasalnya, intensitas banjir tahunan di Desa Tunggulsari terus meningkat dan tidak lagi bisa ditangani oleh desa secara mandiri.

“Harapannya dengan kejadian ini Pemda (Pemerintah Daerah) bisa konsentrasi melihat kondisi bencana yang datang yang semakin besar. Jadi bencana tahunan ini lebih besar sehingga desa tidak akan bisa mampu counter itu. Masyarakat maunya tanggul laut,” tutupnya. (*)

80 Hektar Tambak di Kendal Terendam Rob, Terparah di Kartikajaya dan Wonosari

Lingkar.co – Sejumlah tambak di wilayah pesisir Kabupaten Kendal terdampak rob menahun. Air rob mengalir masuk ke area tambak-tambak milik warga.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kendal, Hudi Sambodo mengatakan terdapat sekitar 80 hektare lahan tambak yang terdampak rob.

Adapun wilayah terdampak paling parah berada di Desa Wonosari dan Desa Kartikajaya.

“Jumlahnya mungkin puluhan tambak. Tapi yang di pesisir Kendal itu cuma di Wonosari sama Kartikajaya. Kalau di Rowosari sama Kangkung itu aman,” katanya, Senin (8/12/2025).

Pihaknya pun tak bisa berbuat banyak, selain mengurangi dampak dari rob menahun itu dengan cara penanaman mangrove secara masif.

Meskipun tak mampu membendung rob 100 persen, namun setidaknya mampu mengurangi intensitas rob yang masuk.

“Rob itu butuh penyelesaian menyeluruh, yang kami lakukan saat ini adalah penanaman mangrove. Memang itu tidak 100 persen menyelesaikan masalah rob,” tuturnya.

Selain berdampak di tambak, Hudi mengungkapkan jika lahan-lahan sawah pun mulai ikut terdampak air laut yang perlahan masuk ke sawah.

Alhasil, warga pun terpaksa melakukan alih fungsi lahan sawah menjadi tambak karena tak bisa lagi ditanami padi.

“Itu intrusi belum rob. Nah warga daripada punya aset tapi tidak bisa dimanfaatkan dan masih tetap bayar pajak, itu kemudian sama warga ditaburi ikan nila dan bandeng,” tandasnya. (*)

Penulis: Yoedhi W

Jadi Langganan Banjir Tiap Tahun, Warga Sayung Demak Curhat Sejak Ramadan Belum Surut

Lingkar.co – Warga Desa Sayung Kabupaten Demak korban banjir rob mendadak semringah saat dikunjungi oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Minggu (25/5/2025). Mereka bisa curhat langsung untuk menyampaikan keluh-kesah kondisi yang selama ini dialaminya.

Aji Dwi Santoso, salah satu warga Desa Sayung mengatakan, tiap tahun warga pasti menjadi korban banjir dan rob. Bahkan kali ini banjir sudah berlangsung selama enam bulan. Sejak bulan Ramadan belum surut. “Sejak bulan puasa kemarin sampai sekarang belum surut,” ungkapnya.

Ia pun mengaku sangat senang karena Gubernur dapat meninjau secara langsung kondisi banjir di desanya, sehingga mampu menjadi pertimbangan penanganan lebih lanjut. “Ya senang, didatangi Pak Gubernur. Karena biar ada penanganam serius,” katanya.

Mendapat kunjungan orang nomor satu di Jateng, Aji berharap juga membawa solusi bagi kondisi ini. Ia berharap agar Kali Dombo dinormalisasi kondisi sedimennya, agar tidak melimpas ke permukiman warga saat curah hujan meninggi.

“Sangat bahagia sekali, Kehadiran Pak Lutfhi di sini semua warga bahagia. Bisa hadir di tengah masyarakat melihat langsung keadaan masyarakat di sini, untuk lebih realisasikan (normalisasi) untuk kali (sungai) utama ini,” ujarnya.

Baca juga: Gubernur Cek Banjir Rob Demak, Petugas Wadul Pompa Air Rusak

Hal serupa diungkapkan Syafii. Ia menuturkan, kondisi pasang surut banjir terjadi sejak Ramadan tahun ini. “Ya Alhamdulillah senang. Mau meninjau dan bisa menyelesaikan masalah ini. Saya mintanya tidak ada banjir, kalau ada banjir terus susah,” ungkapnya.

Sementara itu, kedatangan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tidak hanya meninjau lokasi banjir. Ia langsung berkoordinasi dengan pihak terkait agar ada solusi, dan warga tidak dirugikan. Ia pun berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juana.

Disamping itu, Ahmad Luthfi juga memberi solusi cepat untuk segera mengatasi air yang menggenang. Di antaranya, mengerahkan pompa air portabel, berikut bantuan BBM untuk operasional pompa.

Bahkan pihaknya juga memberi sejumlah bantuan berupa logistik 10 ton beras, selimut juga bantuan pendidikan dan kesehatan yang disiapkan Pemprov Jateng.

“(Solusi) Jarak dekatnya sudah koordinasi rapat dengan dinas kita akan lokalisasi terhadap masyarakat terdampak. Kalau perlu kita siapkan pompa berikut tanggul-tanggul di masing masing kampung sehingga untuk menuju 2027 untuk menyongsong Giant sea wall itu berdiri minimal kita siap,” tegasnya.

Langkah berikutnya adalah kerja sama dengan BBWS Pemali Juwana terkait normalisasi Kali Dombo yang membelah desa tersebut.

“Kita sudah koordinasi untuk untuk besok rapatkan dengan BBWS, harus punya kegiatan solusi terkait normalisasi saya lihat parah sekali dari tahun ke tahun kayak gini,” ungkap Ahmad Luthfi. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Gubernur Cek Banjir Rob Demak, Petugas Wadul Pompa Air Rusak

Lingkar.co – Petugas pompa di Desa Sayung Kidul wadul kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi bahwa pompa tidak bisa berfungsi maksimal karena kekurangan bahan bakar. Jadi, pompa hanya difungsikan ketika air rob benar-benar dalam posisi tinggi, ketika agak surut pompa dimatikan. Bahkan ada satu titik pompa lagi yang baru difungsikan sekali sudah rusak.

“Ini punya masyarakat, sudah jalan. Kalau sudah agak surut ini dimatikan, hemat solar. Jadi nanti kalau bantu solar langsung di sini saja Pak, tidak usah sampai desa,” ujar petugas pompa yang bekerja secara sukarela saat bertemu Ahmad Luthfi.

Ahmad Luthfi menerima aduan itu saat meninjau lokasi rob di Desa Sayung Kidul, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (25/5/2025).

Mendengar aduan tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi langsung memberikan instruksi kepada Bupati Demak dan dinas terkait untuk segera mengirim bantuan bahan bakar solar. Ia tidak ingin kejadian serupa terulang kembali sehingga penanganan rob bisa maksimal.

Dengan meninjau langsung, ia juga ingin adanya penyelesaian dalam jangka pendek yang cepat dengan melakukan normalisasi sungai di wilayah Sayung.

“Untuk mengatasi itu (rob) di Demak, saya tidak pengen berlama-lama. Maka ada penyelesaian jarak dekat dan jarak panjang. Dalam jangka pendek, untuk mengantisipasi itu di antaranya segera normalisasi sungai,” kata Ahmad Luthfi saat peninjauan.

Terkait normalisasi itu, koordinasi dengan BBWS sudah dilakukan. Selanjutnya akan didalami lagi dengan menggelar koordinasi lanjutan mengenali rencana aksi riil di lapangan. Apalagi rob ini sudah terjadi menahun dan penyelesaiannya terlalu lama.

“Sudah koordinasi dengan BBWS, besok harus punya kegiatan dengan kita terkait normalisasi. Saya lihat parah sekali apalagi dari tahun ke tahun kayak gini terus. Saya dulu pernah lihat ke sini pada saat saya menjadi Kapolda, sekarang masih kayak gini kan malu kita,” ungkap Ahmad Luthfi.

Dijelaskan, penanganan rob di Sayung sudah dikoordinasikan dengan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian PU. Solusi jangka panjangnya adalah membuat giant sea wall yang saat ini sudah masuk proyek strategis nasional (PSN). Namun diperkirakan itu selesai tahun 2027.

“Itu salah satu alternatif yang paling utama, tetapi itu penyelesaiannya tahun 2027. Jarak dekatnya, kita akan lokalisasi masyarakat yang terdampak. Kalau perlu kita siapkan pompa berikut tanggul di masing-masing kampung, sehingga untuk menuju tahun 2027 yang nanti giant sea wall berdiri minimal kita siap,” jelasnya.

Ahmad Luthfi menyebut, rob kali ini adalah puncak dari serangkaian peristiwa rob yang terjadi di Sayung. Hal ini didorong oleh El Nina yang cukup panjang di Jawa Tengah. Akibatnya, curah hujan tinggi, air pasang dan rob naik, ditambah penurunan muka tanah.

“Kalau perlu PU kita membuat tanggul sementara untuk kemudian air dipompa keluar itu bisa. Kemudian bantuan pokok harus standby untuk masyarakat, mau kesehatan, sekolah, anak-anak, dan sebagainya. Saya sudah perintahkan semua ke sini,” kata Ahmad Luthfi didampingi Bupati Demak, Eisti’anah. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Jalan Tol Semarang-Demak Jadi Solusi Atasi Banjir Rob

Lingkar.co – Jalan Tol Semarang-Demak dinilai tidak hanya meningkatkan konektivitas di wilayah pantai utara Jawa saja, namun juga dapat membantu mengatasi banjir rob.

“Jalan Tol Semarang-Demak ini tidak hanya berfungsi meningkatkan konektivitas, tetapi juga menjadi solusi sementara banjir rob yang melanda wilayah tersebut. Selain itu, jalan tol ini memiliki keunikan lantaran menggunakan matras bambu untuk meningkatkan daya dukung tanah,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo, dikutip dari Antara, Kamis (7/3/2024).

Menurutnya, banjir rob di wilayah jawa disebabkan oleh perubahan iklim dan penurunan muka tanah.

Ia mengungkapkan berdasarkan catatan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan/Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan (BBSPGL), bahwa berbagai aktivitas pembangunan dan pemanfaatan lahan di wilayah pantai utara Jawa menyebabkan sedimen non-konsilidasi (unconsolidated) mengalami pemadatan.

Pada kawasan tertentu, terutama pemukiman, penurunan tersebut terjadi lebih cepat karena ada beban bangunan di atas muka tanah.

Wahyu menyatakan bahwa matras bambu yang digunakan pada konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak merupakan hasil karya salah satu unit usaha yang dimiliki oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), PT LAPI ITB.

Selain dilengkapi 13 lapis matras bambu, jalan tol tersebut juga dilengkapi dengan tanggul laut dan kolam retensi untuk membantu mengurangi dampak banjir rob.

Infrastruktur ini dibangun dengan nilai investasi Rp 5,44 triliun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Jalan tol ini terbagi menjadi 2 seksi, yaitu seksi 1 sepanjang 10,39 kilometer (km) dan seksi 2 sepanjang 16,31 km. (*)

Dampingi Jokowi Resmikan Jalan Tol Semarang-Demak, Ganjar Harap Bisa Urai Macet dan Rob

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendampingi Presiden Joko Widodo meresmikan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi II, Sabtu (25/2/2023). Ganjar berharap, jalan tol sepanjang 16,01 kilometer itu bisa mengurai kemacetan di kawasan Pantura Sayung, Demak.

“Mudah-mudahan bisa berfungsi dengan baik, karena tol ini dibangun dalam rangka mengurai kemacetan dan menyelesaikan persoalan terkait banjir rob di kawasan ini,” kata Ganjar.

Tak hanya itu, ia juga berharap, Jalan Tol Semarang-Demak dapat mengintegrasikan kawasan strategis. Misalnya, kawasan industri, kawasan pariwisata, pelabuhan, dan bandara.

“Presiden meminta Pemda mulai gubernur, bupati, wali kota untuk memanfaatkan tol ini dengan cara menyiapkan akses jalan menuju ke sumber-sumber ekonomi. Dengan begitu, maka tol ini bisa benar-benar manfaat,” jelasnya.

Terkait persoalan pembebasan lahan di proyek tol itu, ia mengaku senang. Saat peresmian, ada beberapa warga yang menyampaikan keluhan kepada presiden.

“Kami senang dan berterima kasih karena Presiden Jokowi luar biasa. Beliau menemui perwakilan masyarakat yang merasa belum puas. Tadi ditemui dan Presiden Jokowi menyampaikan akan diselesaikan. Mudah-mudahan masyarakat bisa berkomunikasi dengan baik,” pungkasnya.

Peresmian Jalan Tol Semarang-Demak seksi II dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Turut mendampingi, Gubernur Ganjar Pranowo dan Bupati Demak, Eisti’anah. Peresmian ditandai dengan menekan tombol sirine oleh Presiden Jokowi .

“Alhamdulillah pada siang hari ini jalan tol Semarang-Demak Seksi II Ruas Sayung Demak sudah selesai dan siap untuk dioperasikan. Tol ini sepanjang 16,01 km dengan anggaran Rp5,9 triliun,” kata Presiden Jokowi.

Jokowi meminta agar pemerintah daerah segera menyambungkan dan mengintegrasikan jalan tol ini dengan kawasan industri di wilayahnya. Sehingga keberadaan tol ini dapat memberikan manfaat kecepatan, baik untuk transportasi logistik, maupun membawa produk olahan.

“Jalan tol ini juga sekaligus menjadi tanggul laut, sehingga rob yang ke depannya semakin jauh dan levelnya semakin tinggi masuk ke daratan akibat perubahan iklim sedikit bisa dicegah dengan jalan tol ini,” pungkas Jokowi. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Akses Jalan Satu-Satunya Sering Diterjang Rob, Warga Mondoliko Demak Minta Relokasi

DEMAK, Lingkar.co – Warga Dukuh Mondoliko, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak meminta untuk direlokasi. Permintaan tersebut karena akses jalan satu-satunya ke pemukiman warga sering terendam air rob.

Kepala Desa Bedono, M Agus Salim mengatakan, jalan yang menjadi akses satu-satunya warga menuju Dukuh Mondoliko kerap tenggelam oleh rob. Kondisi itu terjadi, menurut Agus, karena abrasi yang terjadi di wilayah tersebut.

“Iya warga minta relokasi, tetapi masih jadi pertimbangan bagi warga apabila jalan Kabupaten menuju Genuk, Semarang yang sudah terendam dihidupkan kembali,” katanya, Rabu (3/3/2021).

Adapun kondisi jalan yang menjadi langganan rob terbuat dari beton berukuran lebar 1,5 meter dan panjang sekitar 3 kilometer. Agus melanjutkan, jika ia sudah berkoordinasi dengan pihak terkait.

“Saat ini sudah dalam tahapan komunikasi dengan DPRD, Plh Bupati, Sekda, dan masih menunggu bupati terlantik,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Agus mengatakan jika ada sekitar 130-an kepala keluarga (KK) yang masih menempati wilayah itu. Sementara untuk bisa bertahan sambil menunggu bantuan, pihaknya terus memperbaiki jalan dengan iuran warga.(dit/lut)