Arsip Tag: Solusi

Pemkab Cirebon Ajak Sinergi Semua Pihak Cari Solusi Penanganan Banjir di Kecamatan Mundu

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon melakukan pertemuan dengan berbagai unsur, mulai dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), dinas tingkat provinsi, perangkat daerah terkait, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga para kuwu di wilayah Kecamatan Mundu.

Selain pertemuan, mereka juga melakukan peninjauan lapangan agar dapat mengevaluasi penyebab banjir serta perumusan langkah penanganan jangka pendek dan jangka panjang agar banjir tidak terulang kembali.

Berdasarkan hasil pendataan awal, banjir berdampak pada sedikitnya enam desa di Kecamatan Mundu. Genangan air yang terjadi menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi banjir susulan, terutama jika curah hujan kembali meningkat.

Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus berupaya maksimal dalam menangani persoalan banjir di wilayah tersebut.

“Kami berupaya semaksimal mungkin agar banjir di Kecamatan Mundu tidak kembali terjadi,” ujar Jigus, sapaan akrabnya, Jum’at (9/1/2026).

Ia menyebut faktor kerusakan lingkungan, pendangkalan sungai akibat sedimentasi, serta penyumbatan aliran air oleh sampah menjadi penyebab utama terjadinya banjir.

Menurutnya, penanganan banjir memerlukan kerja sama lintas sektor, karena permasalahan tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan saling berkaitan dari wilayah hulu hingga hilir. Selain langkah teknis, pemerintah daerah juga mendorong peran aktif pemerintah desa dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Melalui para kuwu, masyarakat diimbau untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong, khususnya dalam membersihkan saluran air dan drainase di lingkungan masing-masing.

Dalam penanganan jangka pendek, Pemerintah Kabupaten Cirebon memprioritaskan sejumlah titik rawan banjir, salah satunya kawasan Grand Pamengkang.

Di lokasi tersebut, pemerintah daerah melakukan koordinasi dengan pihak pengembang serta instansi terkait untuk memastikan adanya tanggung jawab dalam penanganan infrastruktur pengendali banjir.

“Kami akan melakukan penanganan secara kolaboratif dengan pemerintah provinsi, BBWS, dan pihak terkait lainnya,” kata Jigus.

Ke depan, Pemkab Cirebon akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus menyusun langkah-langkah penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

Dengan sinergi semua pihak, pemerintah daerah berharap permasalahan banjir di Kecamatan Mundu dapat ditangani secara efektif dan memberikan rasa aman bagi masyarakat. (*)

Sekda Nilai Insenerator Pengolahan Sampah Jadi Cara Paling Cepat dan Efektif di Kota Bandung

Lingkar.co – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain menilai insenerstor salah satu solusi pengolahan sampah paling cepat dan efektif untuk mengurangi timbunan sampah di Kota Bandung saat ini.

“Kalau kita lihat secara umum, pengolahan sampah ini memang menjadi cara paling cepat dan paling efektif untuk saat ini,” ujar Zul sapaan Akrabnya saat melakukan monitoring Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Rumah Deret Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan dan TPS Kecamatan Batununggal, Kelurahan Kacapiring, Selasa (30/12/2025).

Ia mencontohkan kondisi TPS di Kelurahan Kacapiring yang mengalami perubahan signifikan setelah adanya pengolahan sampah.

“Dari yang tadinya TPS itu kelihatannya tidak tertata dan sampah menumpuk, sekarang dengan adanya pengolahan sampah jadi lebih tertib dan rapi,” katanya.

Zul mengungkapkan, Kelurahan Kacapiring saat ini bahkan sudah tidak memerlukan pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah di wilayah tersebut telah diolah secara mandiri.

“Tadi juga dilaporkan bahwa Kelurahan Kacapiring sudah tidak perlu lagi mengirim sampah ke TPA. Artinya, sampahnya sudah bisa diolah sendiri dengan mesin pengolahan yang ada,” jelasnya.

Selain melayani wilayah Kacapiring, fasilitas pengolahan sampah tersebut juga melayani wilayah lain seperti Kelurahan Samoja. Dengan kapasitas yang ada, cukup banyak jenis sampah yang dapat diproses.

“Kalau memungkinkan, ke depan kita akan upayakan penambahan kapasitas pengolahan di sana,” ucapnya.

Sementara itu, untuk TPS Rumah Deret Tamansari, Zul menilai kapasitas pengolahan sampah masih sangat terbatas. Saat ini, kemampuan mesin pengolahan di lokasi tersebut maksimal sekitar 1 ton per hari.

“Dari sisi pengolahan memang sangat terbatas. Selain itu, ada beberapa kendala teknis sehingga pengolahannya belum maksimal,” tuturnya.

Pemkot Bandung, lanjut Iskandar, akan berupaya mengoptimalkan fungsi TPS Taman Sari. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan penambahan mesin pengolahan sampah, mengingat volume sampah yang dihasilkan masyarakat di wilayah tersebut cukup besar.

“Kita akan upayakan agar bisa difungsikan secara maksimal. Kalau memungkinkan, tentu akan ditambah mesin pengolahan lagi di sini,” katanya.

Terkait rencana penambahan mesin pengolahan sampah, ia menyebutkan Pemkot Bandung telah merencanakan pengadaan lebih dari 20 unit mesin pada tahun anggaran mendatang.

“Kemarin dari anggaran sudah direncanakan sekitar lebih dari 20 mesin pengolahan. Nanti kita lihat mana yang paling cocok, karena teknologinya bermacam-macam, ada RDF, komposter, dan lainnya,” jelasnya.

Ia menegaskan, penambahan mesin pengolahan ini ditujukan untuk menekan timbulan sampah harian Kota Bandung yang mencapai sekitar 1.500 ton per hari.

“Intinya, dalam waktu cepat kita ingin tonase sampah yang dihasilkan setiap hari bisa berkurang signifikan,” tegasnya.

Menurut Iskandar, mengandalkan pengangkutan sampah ke TPA saja tidak lagi memungkinkan karena adanya pembatasan kapasitas.

“Kalau hanya mengandalkan pengangkutan ke TPA Sarimukti saja, itu juga sudah dibatasi. Jadi tidak bisa mengejar produksi sampah kota kita dengan kapasitas yang diperbolehkan ke sana,” pungkasnya. (*)

Pramono Anung Tantang Gen Z Cari Solusi Macet dan Sampah di DKI, Hadiah Liburan ke New York

Lingkar.co – Gubernur DKI jakarta Pramono Anung memberi tantangan besar kepada Generasi Z (Gen-Z) untuk memecahkan masalah kronis kemacetan dan sampah di Jakarta. Hal itu ia sampaikan dalam acara peluncuran Program Pelatihan Gig Economy di Jakarta Creative Hub pada Kamis (18/12/2025).

Inisiatif ini digagas dalam rangka menyambut 500 tahun Kota Jakarta. Pramono mengatakan, akan ada hadiah menarik bagi anak muda yang dapat memberikan ide dan inovasi guna mengatasi persoalan perkotaan yang hingga kini belum tuntas.

“Pokoknya, hadiahnya akan kami buat menarik, dan kalau perlu Gen Z ini nanti kita fasilitas untuk melihat dunia. Apakah melihat Beijing, New York, dan sebagainya, kami fasilitas untuk itu,” Kata Pramono.

Tantangan tersebut nantinya akan dibuka selama dua bulan agar Gen Z memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan gagasan terbaik mereka.

“Program seperti ini tidak hanya bermanfaat bagi Gen Z, tetapi juga bagi masa depan ekonomi Jakarta dan Indonesia,” ucap Pramono.

Dengan adanya lomba cari solusi sampah dan macet Jakarta ini, diharapkan muncul terobosan nyata yang mampu meningkatkan kualitas hidup warga. Jakarta yang bersih, tertib, dan bebas macet menjadi cita-cita bersama yang hanya bisa terwujud melalui kerja sama semua pihak.

Penulis : Putri Septina

Temui Gubernur Jateng, Ribuan Eks Buruh PT Sritex Wadul Belum Terima Pesangon

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menemui eks buruh PT Sritex disela melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Rabu, (24/9/2025).

Perwakilan Pengurus Pimpinan Daerah Federasi Serikat Tekstil Sandang dan Kulit Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Eko Widaryanto, mengatakan, aksi tersebut dilakukan karena selama hampir tujuh bulan sejak terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat PT Sritex dinyatakan pailit, pesangon sekitar 8.500-an karyawan di perusahaan belum dibayarkan. Salah satu faktor penyebabnya adalah kinerja kurator Sritex yang dianggap lamban dalam melakukan penilaian dan pelelangan aset.

“Kita menekan kurator karena bekerjanya lambat,” kata Eko. Sebab, lanjut dia, kondisi eks pekerja Sritex saat ini memprihatinkan. Dari ribuan eks pekerja itu, yang sudah terserap pekerjaan oleh perusahaan lain hanya sekitar 5-10%. Hal itu dikarenakan ada miskomunikasi terkait adanya rencana pabrik Sritex akan beroperasi lagi, sehingga banyak eks pekerja yang urung pindah ke perusahaan lain.

Selama ini, eks pekerja Sritex hanya mendapatkan Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan. Sementara, hak pesangon dan THR yang dijanjikan setelah aset perusahaan terjual sampai saat ini belum ada kepastian.

“Gubernur akan segera rapat untuk membahas ini dengan kurator yang hasilnya kurang lebih 1-2 hari besok. Kalau memang belum mendapatkan hasil kita tuntut janji itu,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, seluruh aspirasi yang disampaikan oleh eks pekerja Sritex telah diterima. Ia langsung menginstruksikan kepada Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi serta Satgas PHK Provinsi Jawa Tengah untuk segera menggelar rapat.

Ahmad Luthfi secara tegas akan mengundang pihak kurator Sritex beserta pihak terkait dalam rapat tersebut. Pemprov Jateng selaku fasilitator ingin permasalahan pesangon yang sudah hampir tujuh bulan belum dibayarkan itu segera diselesaikan.

“Kita rapat dengan Satgas PHK Pemprov. Besok kita undang kuratornya, lawyer-nya, kita undang desk tenaga kerja Polda Jateng untuk rapat bersama. Kita mapping (petakan) permasalahan Sritex untuk segera kita selesaikan. Masalahnya itu ada pesangon, karena (kerja) kurator yang belum selesai,” kata pasangan Taj Yadin tersebut. (*)

Dalami Persoalan Banjir di Pesisir Utara Semarang, Yoyok Cek Rumah Pompa Kali Tenggang

Lingkar.co – Calon Wali Kota Semarang Nomor Urut 2, Yoyok Sukawi mendatangi Rumah Pompa Kali Tenggang yang berada di Jalan Yos Sudarso, Rabu (23/10/2024). Kegiatan ini untuk mendalami persoalan banjir di Pesisir Utara Kota Semarang, dan untuk mencari solusi jika nanti pasangan Yoyok Sukawi dan Joko Santoso terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang di Pilwakot 2024.

Yoyok tiba di lokasi kemudian berdialog mengenai pengendalian banjir di Kota Semarang dengan Koordinator Rumah Pompa Kali Tenggang, Koen Mahendra.

Menurut Yoyok, infrastruktur pengendalian banjir milik Kementerian PUPR yang dioperasikan BBWS Pemali-Juana ini sudah cukup baik. Selain Kali Tenggang, Rumah Pompa Kali Sringin dinilai sudah mampu untuk mengendalikan banjir maupun rob di wilayah sekitar.

Hanya saja, dari dialog dengan pengelola, diketahui yang masih menjadi persoalan dan kendala tersendiri bagi BBWS Pemali-Juana yakni masalah sampah. Diakui, banyaknya sampah yang masuk ke sungai dan akhirnya sampai ke wilayah hilir, membuat kinerja rumah pompa tidak maksimal.

“Pompanya sudah komplet, bagus, kapasitas besar. Tapi menurut pengelola ada permasalahan yang sangat pelik, yaitu ternyata air yang masuk bebarengan dengan sampah dan ini sangat menyulitkan bagi petugas BBWS. Banyaknya sampah kerap membuat kinerja pompa terhambat, sehingga mesin cepat rusak,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Untuk itu, Yoyok menyebut jika Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang harus terus berkolaborasi secara baik dengan BBWS.

Calon Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi melihat kondisi Rumah Pompa Kali Tenggang yang berada di Jalan Yos Sudarso, Rabu (23/10/2024). Foto: dokumentasi
Calon Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi melihat kondisi Rumah Pompa Kali Tenggang yang berada di Jalan Yos Sudarso, Rabu (23/10/2024). Foto: dokumentasi

“Pemerintah Kota Semarang perlu membuat kebijakan untuk persoalan sampah ini. Supaya air yang masuk ke rumah pompa ini bersih dan bebas dari sampah. Memang pekerjaan rumah terbesar di Kota Semarang membersihkan sampah yang datang ke rumah pompa, salurannya itu harus dibersihkan dari sampah. Dari dialog tadi katanya pernah ada ban mobil, bagian material kulkas rusak, lemari plastik, dan lainnya yang sangat mengganggu kinerja rumah pompa. Ini harus kita bersihkan,” bebernya.

Lebih lanjut, Yoyok bersama pasangannya Joko Santoso berkomitmen mengatasi dan menangani masalah banjir di Kota Semarang. Beberapa hal memang perlu dilakukan secara intensif dan maksimal agar warga tidak khawatir lagi dengan banjir maupun rob.

“Selain sampah, saluran yang masuk ke rumah pompa ini juga perlu dilebarkan,” tandasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Program T-1 Jadi Solusi Atasi Proyek Tertunda Pantai Kartini

Lingkar.co – Proyek Taman Rekreasi Pantai (TRP) Kartini, pengadaan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU), dan tugu batas kota yang batal dilaksanakan pada 2024 kini memiliki peluang untuk masuk dalam program T-1.

Program T-1 memungkinkan proses lelang dilakukan pada akhir 2024, sehingga pelaksanaan pekerjaan bisa dimulai awal 2025.

Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Setda Rembang, Khoirul Anam, menjelaskan bahwa program T-1 adalah proses lelang paket tender yang dilakukan sebelum tahun anggaran berjalan.

“Artinya, ketika kegiatan pekerjaan masuk dalam APBD 2025, maka proses lelang tender dilaksanakan di akhir 2024,” jelasnya, Selasa (24/9/2024).

Dasar pelaksanaan lelang ini, katanya, adalah terbitnya Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) yang disepakati oleh eksekutif dan legislatif.

“Kalau normalnya tender untuk pekerjaan konstruksi kalau ada sanggah di kisaran 25-30 hari. Tergantung banyaknya peminat pekerjaan,” Imbuhnya.

Setelah pemenang lelang terpilih, lanjutnya, OPD pelaksana, PPKom (Pejabat Pembuat Komitmen), dan penyedia akan menandatangani kontrak setelah APBD 2025 ditetapkan. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dapat diterbitkan pada Januari 2025 untuk memulai pelaksanaan pekerjaan.

Anam juga mengungkapkan bahwa program T-1 sangat dianjurkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk proyek yang membutuhkan waktu pengerjaan yang panjang.

“Ini bukan hal yang awam, bahkan memang istilahnya di kementerian dan daerah lain sedang berlomba-lomba seperti itu,” ungkapnya.

Program T-1 bukan hanya untuk proyek dengan durasi pengerjaan panjang, tetapi juga untuk pekerjaan yang telah memenuhi seluruh persyaratan.

“Selama persyaratan terpenuhi, dalam artian perencanaan sudah selesai, perhitungannya sudah ada, malah lebih bagus. Memang lebih nyaman seperti itu, waktunya lebih ideal,” tandas Anam. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Pedagang Pasar Sukoharjo Curhat Sepi Pembeli, Minta Ahmad Luthfi Cari Solusi Fluktuasi Harga

Lingkar.co – Pedagang Pasar Ir Soekarno Kabupaten Sukoharjo pada Minggu (15/9/2024) pagi dikejutkan kehadiran Calon Gubernur Jateng Ahmad Luthfi. Mereka lantas memanfaatkan momen itu untuk curhat menyampaikan keluh kesahnya pada Ahmad Luthfi. Sepinya penjualan dan fluktuasi harga barang jadi persoalan yang belum ada solusi.

“Harapanya harganya bisa stabil. Jangan terlalu melonjak tinggi,” kata Riyanti pedagang ayam potong yang menceritakan pengalaman beberapa waktu lalu.

Saat harga tinggi, maka otomatis membuat penjualan menjadi lesu. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah takut untuk membeli.

Saat ini harga ayam Rp 33 ribu sampai Rp 35 ribu per kg. Harga itu disebut standar namun jumlah pembeli yang Datang belum sesuai harapan. Hal senada disampaikan oleh Aminah yang juga penjualan ayam. “Harga stabil tapi pembelinya masih lesu. Ya pendapatan turun jadinya,” ujar Aminah.

Apa yang dialami oleh Aminah tak jauh beda dengan Bu Cipto. Ia menyampaikan keluhan soal dagangan tempe. Lagi-lagi soal lesunya pembeli yang datang ke pasar jadi persoalan. Ia tidak tahu harus menarik pembeli ke lapaknya dengan cara seperti apa. Lantaran saat ini harga tempe juga masih seperti biasanya dan tak dinaikkan.

Menanggapi hal itu, Ahmad Luthfi menyampaikan kedatangan dirinya di Pasar Tradisional Sukoharjo merupakan lanjutan dari pasar-pasar sebelumnya di kabupaten dan kota lain. Luthfi bilang, tujuannya memang untuk mengetahui kondisi riel pasar tradisional. Bukan hanya bangunan fisik pasarnya saja tapi juga kondisi pedagang, pembeli hingga fasilitas pasar.

Ia menekankan pasar tradisional adalah titik perekonomian masyarakat. Tempat interaksi perekonomian hingga sosial. Untuk itu ia ingin memastikan kondisi pasar tradisional tetap nyaman dan representatif untuk jual-beli.

Terkait keluhan pedagang, menjadi masukan baginya. Artinya pemerintah harus hadir untuk memberikan dukungan pada masyarakat. “Pasar ini kan pusat perekonomian masyarakat. Regulasi harus diarahkan untuk mendukung,” ujar Ahmad Luthfi.

Selain itu, Ahmad Luthfi juga menyoroti sanitasi di lingkungan pasar tradisional. Kedepan harus ditata menjadi lebih baik.

Sebagai informasi, Ahmad Luthfi tiba di pasar yang berada di jantung kota Sukoharjo Minggu 15 September sekitar pukul 07.00 WIB. Turun dari mobil, ia langsung disambut para pedagang oprokan di depan pasar. Sejumlah juru parkir juga melakukan hal serupa.

“Mriki (ke sini) Pak Luthfi, foto dulu Pak,” kata pedagang pada calon gubernur yang merupakan mantan Kapolda Jateng itu. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Maju Pilwalkot Semarang Bawa Misi Atasi Masalah Banjir, Mas Wawan Tawarkan Solusi Sabuk Semarang

Lingkar.co – Maju sebagai Bakal Calon Wakil Wali Kota Semarang, Ady Setyawan telah mempersiapkan konsep Sabuk Semarang sebagai solusi mengatasi banjir yang terus mengancam saat musim hujan tiba. Menurutnya, ada dua hal yang perlu dibangun dalam menangani banjir, pertama infrastruktur dan yang kedua kultur

Dari sisi infrastruktur, menurut Mas Wawan, sapaan akrabnya, sebenarnya konsep sabuk Semarang itu bukan konsep yang murni baru, hanya istilahnya saja yang berbeda.

“Namun sebenarnya sejak Pak Iswar jadi Kepala DPU atau Bina Marga konsep membuat penangkal banjir dari pinggiran Kota Semarang sudah dicetuskan,” ujarnya kepada wartawan di Arum Resto, Sabtu (1/6/2024) malam.

Wawan melanjukan, konsep yang ia tawarkan adalah prinsip dasar melakukan perencanaan perkotaan metropolitan.

“Jadi hal tersebut merupakan ilmu dasar perencanaan untuk melindungi kota metropolitan dari banjir,” ujar pria yang memiliki kepakaran di bidang pengendalian air dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini.

Wawan meyakini konsep penanganan air agar tidak banjir seperti di Belanda itu sangat bisa dilakukan di Semarang. Pasalnya, konsep sabuk Semarang yang olehnya juga sebenarnya juga sudah dilakukan, namun masih secara parsial seperti di Tawang dengan adanya polder. Hanya sayangnya pengerjaannya tidak benar.

“Ketika air itu disedot masuk kepolder dan kemudian dibuang ke laut, saat pembuangan pompanya rusak. Karena pompanya tidak turn in dengan kapasitas air atau besarnya selang,” ujar direktur PDAM Indramayu tersebut.

Mas Wawan yang pernah menjadi direktur PDAM di Jember dan Grobogan tersebut juga menjelaskan bahwa program Sabuk Semarang yang dia usung adalah sebuah program penangkal banjir yang dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir dan tersambung secara sempurna di setiap Kecamatan dan Kelurahan yang ada di Semarang.

“Jadi tidak boleh semisal banjirnya di Tawang, hanya Tawang yang dilakukan penangan. Jadi harus diukur dulu tinggi air dibanding daratannya. Yang tinggi mana yang rendah mana,” terangnya.

“Sehingga dengan begitu, tidak semua kecamatan juga harus dibikin polder. Seandainya bisa kita arahkan airnya dengan gravitsai, kenapa harus pakai polder atau pompa,” tambahnya.

Menurut Mas Wawan, di Semarang ini banyak sekali ahli hidrologi yang tersebar di kampus-kampus besar yang mampu mewujudkan misinya tersebut.

“Tinggal bagaimana kita mengintegrasikan keilmuan tersebut di lapangan,” tukasnya.

Kemudian secara kultur, menurut Mas Wawan, di Semarang belum terbentuk kultur masyarakat yang peka terhadap persoalan banjir. Pemkot Semarang memiliki pekerjaan rumah untuk membentuk kultru tersebut melalui edukasi dan sosialisasi.

“Nah Pemkot harus terus menerus mensosialisasikan bahayanya membuang sampah sembarangan, membangun rumah sembarangan di lahan yang tidak seharusnya, dan pembangunan jalan yang tidak sesuai ketentuan,” bebernya.

Terkait dengan sampah, Wawan mengatakan bisa dibuatkan mikro industri pengelolaan sampah agar sampah ini bisa didaur ulang dan bermanfaat. Pengalaman Mas Wawan di Indramayu, sampah itu bisa diolah menjadi briket atau solar sintetis. Kalau di Jakarta bisa menjadi listrik.

“Nah di Semarang potensi sampah yang mencapai 1 juta kubik perhari itu bisa diolah seperti itu. Nah selain itu adapula gerakan reboisasi, pembuatan biopori-biopori, dan lainnya untuk membangun kultur penanganan banjir,” tandasnya.

Maka dari itu, Mas Wawan mengatakan perlu ada instrument hukum yang mencakup substansi pengendalian banjir, strukturnya, dan kulturnya. Sehingga misi ini bisa dijalankan mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, hingga Kota. (*)

Penulis: Ani Friska
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Jalan Tol Semarang-Demak Jadi Solusi Atasi Banjir Rob

Lingkar.co – Jalan Tol Semarang-Demak dinilai tidak hanya meningkatkan konektivitas di wilayah pantai utara Jawa saja, namun juga dapat membantu mengatasi banjir rob.

“Jalan Tol Semarang-Demak ini tidak hanya berfungsi meningkatkan konektivitas, tetapi juga menjadi solusi sementara banjir rob yang melanda wilayah tersebut. Selain itu, jalan tol ini memiliki keunikan lantaran menggunakan matras bambu untuk meningkatkan daya dukung tanah,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo, dikutip dari Antara, Kamis (7/3/2024).

Menurutnya, banjir rob di wilayah jawa disebabkan oleh perubahan iklim dan penurunan muka tanah.

Ia mengungkapkan berdasarkan catatan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan/Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan (BBSPGL), bahwa berbagai aktivitas pembangunan dan pemanfaatan lahan di wilayah pantai utara Jawa menyebabkan sedimen non-konsilidasi (unconsolidated) mengalami pemadatan.

Pada kawasan tertentu, terutama pemukiman, penurunan tersebut terjadi lebih cepat karena ada beban bangunan di atas muka tanah.

Wahyu menyatakan bahwa matras bambu yang digunakan pada konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak merupakan hasil karya salah satu unit usaha yang dimiliki oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), PT LAPI ITB.

Selain dilengkapi 13 lapis matras bambu, jalan tol tersebut juga dilengkapi dengan tanggul laut dan kolam retensi untuk membantu mengurangi dampak banjir rob.

Infrastruktur ini dibangun dengan nilai investasi Rp 5,44 triliun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Jalan tol ini terbagi menjadi 2 seksi, yaitu seksi 1 sepanjang 10,39 kilometer (km) dan seksi 2 sepanjang 16,31 km. (*)