
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat melanda kawasan sekitar Jembatan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, dan berdampak pada jalur vital Palangka Raya–Banjarmasin.
Pegiat lingkungan mencurigai kebakaran hutan dan lahan di area gambut dekat Jembatan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah “sengaja dibakar” lantaran sudah terjadi beberapa kali sejak awal Juli hingga saat ini.
Kebakaran terakhir yang berlangsung pada Minggu (30/08) malam, kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, disebut menjadi yang terbesar dan terbilang parah karena dekat dengan permukiman penduduk.
Luas lahan yang terbakar di area sekitar Jembatan Tumbang Nusa mencapai ratusan hektare hingga saat ini, dari total lebih dari 192 hektare di kawasan tersebut. Hal ini berpengaruh untuk kualitas udara di sekitarnya terutama di area pemukiman.
Berdasarkan pemantauan IQAir, kualitas udara di Kota Palangkaraya memburuk seiring pekatnya kabut asap. Konsentrasi PM2.5 bahkan menembus angka 128.4 µg/m³ pada Senin malam. Angka itu menandakan kualitas udara “sangat tidak sehat”.
Konsentrasi sebesar 128.4 µg/m³ ini sudah melampaui standar aman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan ambang batas hanya sebesar ≤ 5 µg/m³. Kondisi ini juga berdampak pada jarak pandang yang mengalami penurunan hingga sekitar 1-1,2 kilometer di sejumlah wilayah di Kalimantan.
Dampaknya adalah transportasi menjadi terganggu akibat kabut asap tebal dan debu mengepung jalur vital antarkota serta antarprovinsi, yang sempat memicu penerapan sistem buka-tutup jalan akibat terbatasnya jarak pandang dan berdampak pada pernapasan warga karena di sekitar pemukiman warga.