Bapanas Gencarkan Distribusi Beras SPHP dan Minyakita ke Pasar Rakyat

Inti berita

Lingkar.co - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah akan memperkuat distribusi beras…

Bapanas Gencarkan Distribusi Beras SPHP dan Minyakita ke Pasar Rakyat
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjawab pertanyaan awak media ditemui di Jakarta, Selasa (9/6/2026). Foto: Istimewa.
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah akan memperkuat distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta minyak goreng Minyakita ke pasar rakyat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.

Ia menyebut pasokan beras dan minyak goreng dalam kondisi mencukupi sehingga tidak ada alasan kenaikan harga yang signifikan di pasaran.

"Berasnya banyak, minyak gorengnya banyak. Itu nggak boleh naik. Kemudian distribusinya, ini ada Dirut Bulog. Aku minta tolong distribusinya diperbaiki ke seluruh Indonesia. Kami berupaya keras untuk rakyat Indonesia," kata Amran di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Amran juga meminta masyarakat tidak khawatir terhadap ketersediaan pangan, mengingat cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai 5,3 juta ton, yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

"Dulunya hanya, kalau bulan Juni itu hanya 1,5 juta ton, maksimal 2 juta ton. Sekarang 5,3 juta ton. Jadi tidak ada alasan harga naik, khususnya beras, minyak goreng. Apalagi ada minyak goreng Minyakita," tegasnya.

Sementara itu, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mendorong BUMN pangan, termasuk Perum Bulog, untuk mengoptimalkan penyaluran beras SPHP dan Minyakita langsung ke pasar rakyat.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

"Untuk SPHP, baik itu beras medium maupun Minyakita, harus dioptimalkan di pasar-pasar. Ini juga sebagaimana surat Bapak Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan ke Bulog bahwa utamakan intervensinya itu di pasar," kata Ketut.

Ia menegaskan, pasar rakyat menjadi titik utama distribusi karena menjadi lokasi transaksi utama kebutuhan masyarakat. Kekosongan stok, menurutnya, dapat memicu distorsi harga dan mengganggu stabilitas.

"Jadi kapan pun turun ke lapangan, beras SPHP itu ada. Minyakita itu ada. Jangan sampai nanti pas turun, barangnya kosong, harganya naik," ujarnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Bapanas mencatat, realisasi penjualan beras SPHP sejak Januari hingga awal Juni 2026 telah mencapai 534,8 ribu ton. Distribusi terbesar berasal dari Gerakan Pangan Murah (41,12 persen), disusul pasar rakyat (23,37 persen), dan Rumah Pangan Kita (20,73 persen).

Untuk Minyakita, distribusi Perum Bulog sejak 1 Januari hingga 6 Juni 2026 mencapai 121,4 ribu kiloliter, dengan saluran utama pasar rakyat, RPK, dan ritel lainnya.

Meski demikian, Bapanas mencatat harga beras medium di sejumlah wilayah masih berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET), meski mengalami kenaikan tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Di Zona I (Jawa dan sebagian Sumatera–Sulawesi), harga rata-rata tercatat Rp13.073 per kilogram, masih di bawah HET Rp13.500 per kilogram.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Di Zona II harga berada di Rp13.694 per kilogram dari HET Rp14.000, sementara Zona III (Maluku dan Papua) tercatat Rp15.392 per kilogram, masih di bawah HET Rp15.500 per kilogram.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah akan memperkuat distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta minyak goreng Minyakita ke pasar rakyat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.

Ia menyebut pasokan beras dan minyak goreng dalam kondisi mencukupi sehingga tidak ada alasan kenaikan harga yang signifikan di pasaran.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

"Berasnya banyak, minyak gorengnya banyak. Itu nggak boleh naik. Kemudian distribusinya, ini ada Dirut Bulog. Aku minta tolong distribusinya diperbaiki ke seluruh Indonesia. Kami berupaya keras untuk rakyat Indonesia," kata Amran di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Amran juga meminta masyarakat tidak khawatir terhadap ketersediaan pangan, mengingat cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai 5,3 juta ton, yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

"Dulunya hanya, kalau bulan Juni itu hanya 1,5 juta ton, maksimal 2 juta ton. Sekarang 5,3 juta ton. Jadi tidak ada alasan harga naik, khususnya beras, minyak goreng. Apalagi ada minyak goreng Minyakita," tegasnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Sementara itu, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mendorong BUMN pangan, termasuk Perum Bulog, untuk mengoptimalkan penyaluran beras SPHP dan Minyakita langsung ke pasar rakyat.

"Untuk SPHP, baik itu beras medium maupun Minyakita, harus dioptimalkan di pasar-pasar. Ini juga sebagaimana surat Bapak Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan ke Bulog bahwa utamakan intervensinya itu di pasar," kata Ketut.

Ia menegaskan, pasar rakyat menjadi titik utama distribusi karena menjadi lokasi transaksi utama kebutuhan masyarakat. Kekosongan stok, menurutnya, dapat memicu distorsi harga dan mengganggu stabilitas.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

"Jadi kapan pun turun ke lapangan, beras SPHP itu ada. Minyakita itu ada. Jangan sampai nanti pas turun, barangnya kosong, harganya naik," ujarnya.

Bapanas mencatat, realisasi penjualan beras SPHP sejak Januari hingga awal Juni 2026 telah mencapai 534,8 ribu ton. Distribusi terbesar berasal dari Gerakan Pangan Murah (41,12 persen), disusul pasar rakyat (23,37 persen), dan Rumah Pangan Kita (20,73 persen).

Untuk Minyakita, distribusi Perum Bulog sejak 1 Januari hingga 6 Juni 2026 mencapai 121,4 ribu kiloliter, dengan saluran utama pasar rakyat, RPK, dan ritel lainnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Meski demikian, Bapanas mencatat harga beras medium di sejumlah wilayah masih berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET), meski mengalami kenaikan tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Di Zona I (Jawa dan sebagian Sumatera–Sulawesi), harga rata-rata tercatat Rp13.073 per kilogram, masih di bawah HET Rp13.500 per kilogram.

Di Zona II harga berada di Rp13.694 per kilogram dari HET Rp14.000, sementara Zona III (Maluku dan Papua) tercatat Rp15.392 per kilogram, masih di bawah HET Rp15.500 per kilogram.

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu