Lingkar.co - Ratusan warga di sejumlah desa di Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, mengembalikan minyak goreng merek MinyaKita yang diterima melalui program bantuan pangan pemerintah. Produk tersebut dikeluhkan karena mengeluarkan aroma menyerupai solar atau minyak tanah.
Salah seorang warga Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Melani (40), mengaku memilih menukar minyak bantuan yang diterimanya setelah mencium bau tidak biasa saat kemasan dibuka.
"Baunya apek, seperti solar atau minyak pet (minyak tanah). Iya ini dikembalikan, alhamdulilah dapat ganti dan semoga tidak bau," ujar Melani kepada wartawan di kantor desa, Selasa (23/6/2026).
Melani menjelaskan minyak goreng bantuan itu diterimanya pada Rabu (17/6/2026). Ia memperoleh dua kemasan, sementara ibunya juga menerima dua kemasan serupa.
"Saya dapat dua, mamak saya dapat dua, total empat plastik kemasan jadi semuanya delapan liter. Baru kali ini begitu (apek) kemarin-kemarin tidak," katanya.
Karena khawatir dengan kualitas minyak tersebut, Melani memutuskan tidak menggunakannya untuk memasak. Sisa minyak kemudian dipindahkan ke beberapa botol bekas air mineral sambil menunggu proses penukaran.
"Saya taruh sini (botol). Terus ada informasi desa yang lain juga di HP, bilang jangan digunakan begitu," lanjutnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan warga mulai berdatangan ke kantor desa sejak pagi untuk menukarkan minyak yang dianggap bermasalah. Mereka membawa minyak yang masih tersisa maupun yang belum digunakan sama sekali.
Proses penukaran dilakukan dengan menunjukkan kartu identitas dan membawa produk yang dikeluhkan. Sebagai pengganti, warga menerima minyak goreng baru yang telah disiapkan penyedia. Secara visual, minyak yang dikeluhkan warga tampak memiliki warna lebih pekat dibandingkan produk penggantinya.
Sekretaris Desa Wonoboyo, Cahyoko, mengatakan terdapat 626 keluarga penerima manfaat (KPM) di wilayahnya yang berhak memperoleh penggantian minyak goreng tersebut.
"Ada 626 KPM, mulai mengembalikan hari ini. Baik yang masih ada atau tidak semua diganti minyak baru karena yang dikirim tadi malam sejumlah penerima," terang Cahyoko.
Menurutnya, keluhan yang disampaikan warga relatif seragam, yakni aroma menyerupai solar atau minyak tanah serta warna minyak yang berbeda dari biasanya.
"Yang mengganti dari pihak penyedia, ada yang bau solar dan minyak tanah. Yang membuat ragu warnanya beda dengan yang biasa warga dapat," papar Cahyoko.
"Infonya di seluruh desa di Kecamatan Jogonalan diganti semua," imbuhnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Sarjono, warga Desa Bakung, Kecamatan Jogonalan. Ia mengaku langsung mencium aroma menyengat saat membuka kemasan minyak bantuan yang diterimanya.
"Begitu dibuka aroma solar tampak banget. Untungnya belum sempat saya gunakan tapi tempatnya bude sudah dan hari ini mulai dikembalikan untuk diganti," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten, Iwan Kurniawan, memastikan pihaknya bersama Bulog, produsen, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa telah melakukan pemantauan di lapangan.
"DKPP, bersama Bulog, produsen pihak kecamatan dan desa, sudah turun ke lapangan. Dalam penyaluran Bulog kerjasama dengan beberapa produsen, kebetulan yg di Kecamatan Wedi dan Jogonalan satu produsen," terang Iwan.
Ia menegaskan seluruh produk yang diduga bermasalah akan diganti dengan yang baru. Selain itu, sampel minyak goreng yang dikeluhkan warga telah dikirim untuk diperiksa di laboratorium guna mengetahui penyebab pasti perubahan aroma dan kualitas produk.
"Saat ini masih proses berjalan penggantian produk, sampel produk yang rusak baru dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Kita masih menunggu hasil laboratorium belum keluar," jelasnya.