Lingkar.co – Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Semarang mulai berdampak pada pelaku usaha jasa, termasuk bisnis laundry yang sangat bergantung pada pasokan listrik untuk operasional harian.
Pemilik Laundrya, Sigit Hariadi, mengaku usahanya di kawasan Kalibanteng, Semarang Barat, sempat terdampak pemadaman listrik selama sekitar enam jam pada pekan lalu. Kondisi tersebut menyebabkan layanan kepada pelanggan terganggu dan potensi pendapatan usaha menurun.
“Pemadaman terjadi sekitar pukul 10.00 sampai hampir pukul 16.00. Saat itu semua mesin sedang digunakan pelanggan, jadi otomatis proses pencucian terhenti,” ujar Sigit, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, usaha laundry yang dikelolanya menyediakan layanan self service maupun full service. Saat listrik padam, seluruh mesin cuci dan pengering berhenti beroperasi sehingga pelanggan tidak dapat melanjutkan proses pencucian.
Bahkan, sejumlah pelanggan sempat mengeluhkan keterlambatan layanan karena pakaian yang seharusnya selesai dalam waktu tertentu terpaksa molor hingga listrik kembali menyala.
“Yang paling berat sebenarnya menjaga komitmen waktu kepada pelanggan. Ada layanan dua jam dan enam jam, tetapi ketika listrik padam kami tidak bisa memenuhi target itu,” katanya.
Sigit mengaku tidak menerima pemberitahuan langsung sebelum pemadaman terjadi. Informasi baru diperoleh setelah dirinya mencari informasi melalui media sosial dan kanal komunikasi milik PLN.
Ia berharap informasi pemadaman dapat disampaikan lebih awal agar pelaku usaha memiliki waktu untuk melakukan persiapan dan menginformasikannya kepada pelanggan.
“Kalau bisa sehari sebelumnya sudah ada pemberitahuan. Jadi kami bisa memasang pengumuman dan mengatur layanan supaya pelanggan juga memahami situasinya,” ujarnya.
Selain mengganggu pelayanan, pemadaman listrik juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial. Berdasarkan perhitungannya, selama enam jam pemadaman, potensi pendapatan yang hilang dari layanan self service saja mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.
“Kalau dihitung dari transaksi self service yang tidak berjalan, potensi kehilangan omzet sekitar Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Itu belum termasuk layanan cuci dan setrika yang dititipkan pelanggan,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Sigit sebenarnya ingin menyediakan genset sebagai sumber listrik cadangan. Namun, tingginya biaya investasi menjadi kendala bagi pelaku UMKM seperti dirinya.
Dengan daya listrik usaha mencapai 7.700 watt, ia memperkirakan membutuhkan genset berkapasitas besar dengan nilai investasi puluhan juta rupiah.
“Solusi ideal memang genset, tetapi untuk usaha kecil seperti kami masih cukup berat karena harganya bisa mencapai Rp30 juta sampai Rp40 juta,” katanya.
Meski pemadaman baru terjadi satu kali dalam beberapa waktu terakhir, Sigit mengaku tetap khawatir karena gangguan listrik sewaktu-waktu dapat kembali terjadi, terutama pada jam-jam sibuk yang menjadi waktu puncak pelayanan usaha laundry. ***