Lingkar.co – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa kerukunan masyarakat merupakan modal terbesar yang dimiliki Kota Semarang dalam menjalankan pembangunan dan menjaga stabilitas daerah.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik maupun masuknya investasi, tetapi juga kemampuan masyarakat menjaga persatuan di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.
Hal itu disampaikan Agustina saat menghadiri Malam Tirakatan, Doa Bersama, dan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sekaligus Malam Satu Suro di halaman Balai Kota Semarang, Senin (15/6) malam.
“Semarang adalah rumah bersama. Kekuatan kota ini bukan hanya pada pembangunan fisiknya, tetapi pada masyarakatnya yang mampu menjaga kerukunan di tengah keberagaman,” ujarnya.
Agustina menilai iklim sosial yang kondusif selama ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat Kota Semarang terus berkembang. Kerukunan yang terjaga memungkinkan berbagai program pembangunan berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Ia mengapresiasi peran seluruh elemen masyarakat yang selama ini ikut menjaga keharmonisan kota, mulai dari tokoh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forkopimda, aparatur sipil negara, organisasi kemasyarakatan, komunitas hingga warga yang terus menghidupkan semangat gotong royong.
Menurutnya, kedewasaan masyarakat Semarang juga terlihat dari cara menyikapi perbedaan pendapat. Bahkan ketika terjadi penyampaian aspirasi oleh mahasiswa pada hari yang sama, seluruh proses berlangsung tertib dan damai.
“Perbedaan pandangan adalah bagian dari demokrasi. Yang membanggakan, masyarakat Semarang mampu menyampaikan pendapat dengan santun dan tetap menjaga suasana yang kondusif,” katanya.
Momentum Tahun Baru Hijriah dan Malam Satu Suro, lanjut Agustina, menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.
Ia mengajak warga menjadikan semangat hijrah sebagai dorongan untuk terus memperbaiki diri, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun masa depan kota secara bersama-sama.
“Kerukunan, toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial adalah energi yang membuat Semarang semakin hebat dan semakin membahagiakan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga disuguhi pagelaran wayang kulit dengan lakon Ngamarta Binangun. Agustina menilai cerita tersebut mengandung pesan tentang pentingnya kolaborasi dan kebersamaan dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam lakon tersebut sejalan dengan semangat pembangunan Kota Semarang yang mengedepankan partisipasi masyarakat dan kerja sama seluruh elemen kota.
“Kemajuan hanya bisa dicapai melalui kebersamaan dan kolaborasi. Semangat itu yang terus kita bangun di Kota Semarang,” pungkasnya. ***