Warga di sejumlah kawasan Semarang Selatan diminta menyesuaikan penggunaan air menyusul penurunan debit sumber air baku akibat musim kemarau.
Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang mencatat debit air mengalami penurunan sekitar 143 liter per detik atau 25,4 persen dibandingkan kondisi normal. Meski demikian, kondisi sumber air saat ini masih tersedia dan belum memasuki tahap kering.
Kepala Bagian Produksi 1 Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang, Agung Purwantoro, mengatakan penurunan debit membuat distribusi air ke sejumlah wilayah perlu diatur agar pasokan yang tersedia tetap dapat menjangkau pelanggan secara merata.
“Penurunan debit mencapai sekitar 143 liter per detik atau sekitar 25,4 persen dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dipengaruhi oleh musim kemarau yang berdampak pada ketersediaan sumber air baku,” ujar Agung, dalam jumpa pers di Kantor PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Rabu (16/9/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, Perumda Air Minum Tirta Moedal melakukan optimalisasi distribusi dengan menerapkan pengaturan pola aliran. Skema ini disusun berdasarkan evaluasi teknis terhadap kondisi jaringan dan ketersediaan debit air.
9 Wilayah Semarang Selatan Masuk Pengaturan Aliran
Untuk sementara, pelanggan di kawasan Semarang Selatan dibagi menjadi dua wilayah distribusi. Masing-masing wilayah mendapatkan aliran air selama 12 jam secara bergantian setiap hari.
Wilayah 1 mencakup Jatingaleh, Carikan, Jatiluhur, Jangli Perbalan, Saptamarga, Tamtama, dan Brigif. Pelanggan di wilayah tersebut mendapatkan aliran air mulai pukul 07.00 hingga 19.00 WIB.
Sementara Wilayah 2 meliputi Karangrejo Selatan dan Kampung Pentul. Jadwal aliran air untuk kawasan ini berlangsung pada pukul 19.00 hingga 07.00 WIB.
Dengan pola tersebut, pelanggan di sembilan kawasan terdampak tetap memiliki kesempatan memperoleh pasokan air setiap hari.
Agung menjelaskan, pola distribusi 12 jam tersebut merupakan hasil evaluasi teknis. Sebelumnya, Perumda Air Minum Tirta Moedal sempat menyiapkan skema distribusi dua hari sekali sebagai langkah antisipasi apabila penurunan debit sumber air semakin parah.
“Setelah dilakukan evaluasi dan pengoptimalan oleh tim teknik di lapangan, saat ini kami dapat menerapkan pola aliran selama 12 jam, sehingga pelanggan tetap memiliki kesempatan mendapatkan air setiap hari,” katanya.
Bukan Sekadar Pembatasan Aliran
Agung menegaskan pengaturan distribusi di Semarang Selatan bukan sekadar pembatasan pasokan kepada pelanggan. Skema tersebut merupakan strategi untuk mengoptimalkan debit air yang tersedia di tengah penurunan produksi sumber air.
Pola distribusi bergantian juga diterapkan agar penghentian pasokan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah. Dengan demikian, air yang tersedia dapat dialirkan secara bergiliran sesuai kondisi jaringan.
“Pengaturan aliran yang dilakukan bukan semata-mata pembatasan, tetapi merupakan bagian dari strategi pengoptimalan distribusi,” jelasnya.
Penentuan wilayah yang masuk dalam pengaturan aliran mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari kondisi jaringan, ketersediaan debit, tekanan air, elevasi wilayah, hingga hasil evaluasi teknis di lapangan.
Perbedaan karakteristik jaringan membuat pola distribusi setiap kawasan tidak bisa disamakan.
“Karena karakteristik jaringan setiap wilayah berbeda, maka pola distribusinya juga perlu disesuaikan agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Agung.
Di tengah penerapan pola tersebut, pelanggan diminta menggunakan air secara bijak. Warga juga diimbau memanfaatkan waktu aliran untuk memenuhi kebutuhan dan menampung air secukupnya.
Perumda Air Minum Tirta Moedal terus memantau kondisi sumber air, termasuk sumber yang terdampak aliran Bendungan Kalidoh dari mata air di Kabupaten Semarang.
Evaluasi distribusi akan dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan debit sumber air. Jika kondisi sumber membaik dan debit kembali stabil, pola aliran akan dievaluasi untuk mengembalikan pelayanan secara bertahap.
“Apabila nantinya kondisi sumber membaik dan debit kembali stabil, tentu pola distribusi akan kembali dievaluasi, dengan harapan pelayanan dapat kembali normal selama 24 jam,” katanya.
Selama kondisi debit belum kembali normal, pelanggan di Jatingaleh, Carikan, Jatiluhur, Jangli Perbalan, Saptamarga, Tamtama, Brigif, Karangrejo Selatan, dan Kampung Pentul diharapkan memperhatikan jadwal distribusi sementara tersebut.
Perumda Air Minum Tirta Moedal menegaskan optimalisasi dilakukan agar pasokan air yang tersedia tetap dapat menjangkau pelanggan Semarang Selatan secara bergantian dan berkesinambungan. ***