Wali Kota Agustina Siapkan Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis AI di Sungai Semarang

Inti berita

Lingkar.co – Pemerintah Kota Semarang terus mengembangkan konsep Smart City yang tidak hanya berfokus pada digitalisasi layanan publik, tetapi juga diarahkan…

Wali Kota Agustina Siapkan Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis AI di Sungai Semarang
Pemkot Semarang bakal siapkan sistem peringatan dini banjir atau early warning system berbasis kecerdasan buatan (AI). (dok Istimewa)

Lingkar.co – Pemerintah Kota Semarang terus mengembangkan konsep Smart City yang tidak hanya berfokus pada digitalisasi layanan publik, tetapi juga diarahkan untuk mendukung penanganan persoalan lingkungan dan kebencanaan.

Salah satu inovasi yang tengah disiapkan adalah pembangunan sistem peringatan dini banjir atau early warning system berbasis kecerdasan buatan (AI) yang akan dipasang di sejumlah sungai di Kota Semarang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengatakan teknologi tersebut akan menjadi bagian dari sistem Smart City yang terintegrasi dengan berbagai program pengendalian banjir, termasuk pengelolaan embung dan infrastruktur pengendali banjir lainnya.

Menurutnya, konsep Smart City tidak hanya berkaitan dengan pelayanan administrasi berbasis digital, tetapi juga mencakup upaya memberikan perlindungan dan layanan yang lebih baik kepada masyarakat, termasuk dalam menghadapi ancaman banjir dan rob.

“Smart City itu memberikan layanan kepada masyarakat, termasuk di antaranya penanganan banjir dan rob. Jadi nantinya sistem ini akan saling terkoneksi,” kata Agustina, Kamis (25/6/2026).

Ia menjelaskan, gagasan pembangunan sistem tersebut muncul setelah adanya masukan dari kalangan akademisi terkait pentingnya pemantauan kondisi sungai secara modern dan terintegrasi.

Melalui teknologi AI, kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di sepanjang aliran sungai nantinya tidak hanya berfungsi untuk memantau kondisi secara visual, tetapi juga mampu menganalisis berbagai potensi gangguan yang dapat memicu banjir.

“CCTV berbasis AI itu bisa membaca kondisi sungai, misalnya ketika terjadi penumpukan sampah. Sistem akan langsung memberikan notifikasi sehingga bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Selain mendeteksi sampah yang menghambat aliran air, teknologi tersebut juga dirancang mampu membaca kondisi sedimentasi atau endapan di dasar sungai yang berpotensi mengurangi kapasitas tampung aliran air.

Menurut Agustina, kemampuan analisis tersebut akan membantu pemerintah melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi masalah sebelum berkembang menjadi bencana.

“Kalau ada sedimentasi atau kondisi tertentu yang berpotensi mengganggu aliran sungai, sistem bisa langsung memberikan informasi kepada kami,” katanya.

Lebih lanjut, AI juga diharapkan mampu menganalisis perubahan muka air sungai secara real time. Dengan kemampuan tersebut, pemerintah dapat memperoleh peringatan lebih awal terkait potensi luapan air yang berisiko menimbulkan banjir di kawasan permukiman.

“Kalau ada kenaikan debit air yang berpotensi menyebabkan luapan, sistem bisa membaca dan memberikan notifikasi lebih cepat,” ujarnya.

Meski demikian, Agustina menegaskan realisasi program tersebut membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), mengingat pengelolaan sungai di Kota Semarang berada di bawah kewenangan sejumlah instansi.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar sistem peringatan dini yang dibangun dapat berjalan efektif dan terintegrasi dengan data hidrologi dari wilayah hulu hingga hilir.

“Kami harus berkoordinasi dengan BBWS karena informasi mengenai kondisi sungai dan potensi banjir dari wilayah hulu juga sangat penting untuk diintegrasikan ke dalam sistem,” katanya.

Pemkot Semarang berharap pemanfaatan teknologi AI dalam pengawasan sungai dapat meningkatkan kecepatan respons terhadap potensi banjir sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana di Kota Semarang. (Adv)

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu