Arsip Tag: Bimo Wahyu Widodo

Didatangkan dari Ragunan, Sitatunga Lahirkan Anak di Semarang Zoo

Lingkar.co – Kabar gembira bagi anak-anak yang senang melihat satwa di Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang, sepasang Sitatunga yang didatangkan dari Kebun Binatang Ragunan hasil tukar harimau benggala saat ini sudah beranak 1 ekor.

Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengatakan, sepasang Sitatunga yang berhasil beranak itu merupakan bagian dari paket pertukaran satwa dengan Kebun Binatang Ragunan.

“Pelikan, Orangutan betina, Kapibara dan Sitatunga sepasang harimau benggala dan orangutan jantan pada tahun lalu. Pelikan dan orangutan ini belum selesai proses administrasinya di BKSDA,” urainya saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, seekor orangutan jantan dan sepasang harimau benggala (Panthera Tigris Tigris atau Panthera Tigris Bengalensis) ditukar dengan sepasang Sitatunga, seekor Kapibara jantan dan dua ekor Kapibara betina, dan seekor orangutan betina.

“Itu paket pertukaran satwa. Kapibara dan Sitatunga tidak termasuk dilindungi di Indonesia. Jadi proses mendatangkannya lebih mudah,” sambungnya.

Pertukaran satwa itu, lanjutnya, merupakan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap lembaga konservasi, termasuk Semarang Zoo.

“Nanti kalau orangutan betina datang kan pejantan disini jadi dapat jodoh dan mudah-mudahan bisa berkembang biak. Tugas kita sebagai lembaga konservasi kan mengembangbiakkan dan kemudian dilepasliarkan,” jelasnya.

Restu, pengunjung asal Gubug, Kabupaten Grobogan mengaku senang bisa berinteraksi dengan satwa di Semarang Zoo. Ia datang bersama istri, ibu dan dua anaknya untuk berkeliling melihat-lihat koleksi satwa.

“Sudah beberapa kali kesini, ada perbaikan, ini jalurnya juga sudah baru, sudah tertata,” katanya.

“Pengen lihat singa, harimau tadi sudah di situ buaya juga sudah tadi di depan,” ujarnya.

Ia berharap Semarang Zoo bisa terus melakukan perbaikan dan menambah koleksi satwa. Terutama satwa yang dilindungi.

Pengennya lebih tertata lagi dan hewan-hewannya juga ditambah, pengen lihat singa, jerapah juga,” katanya. (*)

Sambut Libur Lebaran 2026, Semarang Zoo Targetkan 60.000 Pengunjung

Lingkar.co – Semarang Zoo menargetkan sekitar 60.000 pengunjung selama libur Lebaran 1447 Hijrah/ 2026 dengan perkiraan puncak kunjungan terjadi pada 20 hingga 29 Maret 2026.

Direktur PT Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut lonjakan wisatawan selama musim liburan tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan program baru berupa Animal Show dengan konsep yang diperbarui.

Menurutnya, pertunjukan satwa tersebut akan memiliki durasi lebih lama dengan penambahan jenis satwa yang terlibat dalam atraksi. Program ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pengunjung yang datang ke kebun binatang tersebut.

“Animal Show ini nanti kita harapkan menjadi daya tarik wisata baru. Programnya juga baru, durasinya kita perlama, dan satwanya kita perbanyak,” ujarnya kepada BahteraJateng, Senin (16/3/2026).

Selain itu, pengelola juga menghadirkan area petting zoo yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan sejumlah satwa jinak. Area tersebut berada berdekatan dengan taman satwa utama sehingga memudahkan pengunjung untuk menjangkau keduanya.

Semarang Zoo juga tetap mengoperasikan sejumlah wahana yang telah ada sebelumnya, seperti kolam renang dan area pemandian anak. Untuk menambah pilihan wisata, pengelola menyediakan sistem tiket terusan dengan Taman Lalu Lintas Semarang yang lokasinya berdekatan.

Harga tiket masuk ke Semarang Zoo sebesar Rp30.000, sedangkan tiket masuk Taman Lalu Lintas Rp10.000. Pengunjung dapat membeli tiket secara terpisah maupun menggunakan tiket terusan.

Selain menyiapkan wahana baru, pengelola juga menghadirkan sejumlah promo selama libur Lebaran, di antaranya minuman gratis bagi pembeli tiket masuk serta berbagai hadiah bagi pengunjung yang menggunakan beberapa fasilitas di area wisata tersebut. (*)

Selama Bulan Ramadan, Semarang Zoo Beri Harga Tiket Khusus Pemancing Rp10 Ribu

Lingkar.co – Selama bulan Ramadan 1447 Hijriah/2026, PT Taman Satwa Semarang menghadirkan event mancing di danau Semarang Zoo dengan tiket khusus Rp10 ribu per orang. Dengan harga tersebut, pengunjung bebas membawa pulang ikan hasil tangkapan tanpa ditimbang.

Direktur PT Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan event ini menjadi salah satu agenda spesial Ramadan. Waktu memancing dibuka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

“Dengan harga tiket Rp10 ribu per orang, pengunjung bisa membawa ikan berbagai jenis yang ada di danau seperti ikan lele, bawal, mujair, nila, patin, dan gabus yang ukurannya cukup besar,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (22/2/2026).

Ia menyebut, pihaknya juga menambah stok ikan selama event berlangsung. Bahkan, beberapa ikan yang ada di danau di antaranya berukuran besar atau kerap disebut ikan monster.

“Jadi Rp10 ribu itu untuk event memancing aja, dengan pengunjung menunjukkan alat pancingnya. Untuk pengunjung umum yang bisa menikmati semua fasilitas tetap di harga normal Rp 25 ribu,” imbuhnya.

Adapun ketentuan memancing, pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan jala maupun alat setrum. Pemancing bebas membawa joran lebih dari satu serta menggunakan jenis umpan apa pun.

Menurut Bimo, akhir pekan menjadi waktu favorit dengan jumlah pemancing paling banyak. Sementara pada hari biasa, pengunjung berkisar puluhan orang.

“Selama Ramadan, manajemen Semarang Zoo menargetkan seribu pemancing,” katanya.

Salah satu pemancing, Zaenal, warga Rowosari Ngaliyan, mengaku rutin memancing di Semarang Zoo setiap Ramadan. Ia penasaran ingin kembali merasakan tarikan patin besar.

“Tahun lalu saya dapat patin sampai 9 kilogram lebih. Siapa tahu bisa dapat lagi,” katanya.

Meski hanya membawa pulang dua nila besar dan satu gabus, ia tetap menikmati suasana ngabuburit yang sejuk dan nyaman. (*)

Patuhi Surat Edaran Dirjen KSDAE No. 6 Tahun 2025, Tidak Ada Layanan Naik Gajah di Semarang Zoo

Lingkar.co – Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo tidak lagi memberikan layanan naik gajah bagi pengunjung. Hal ini merujuk pada Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi.

“Semarang Zoo dengan bangga mengumumkan bahwa lembaga konservasi kami telah melaksanakan sosialisasi serta mematuhi sepenuhnya,” kata Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2026).

Dijelaskan, keputusan tersebut ditetapkan dan ditandatangani pada 18 Desember 2025 oleh Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Surat edaran tersebut merupakan kebijakan nasional yang mengatur penghentian segala bentuk aktivitas tunggang gajah di lingkungan lembaga konservasi satwa, baik untuk tujuan komersial maupun non-komersial.

“Kebijakan ini bertujuan memperkuat prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) dan etika pengelolaan satwa liar di fasilitas konservasi di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Larangan ini, lanjutnya, telah menjadi pedoman penting bagi semua lembaga konservasi yang mengelola gajah, khususnya dalam upaya menjunjung tinggi standar perlindungan satwa dilindungi yang kondisinya rentan dan perlu perhatian ekstra.

Bimo menegaskan, Semarang Zoo mendukung implementasi kebijakan tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa.

“Kami secara formal telah menghentikan seluruh aktivitas tunggang gajah mulai tanggal 1 Januari 2026. Langkah ini menunjukkan dukungan penuh Semarang Zoo terhadap upaya pemerintah dan instansi konservasi dalam menciptakan lingkungan konservasi yang etis, bertanggung jawab, dan berfokus pada kesejahteraan satwa,” urainya.

Ia melanjutkan, keputusan tersebut juga sejalan dengan contoh implementasi kebijakan serupa yang dilakukan lembaga konservasi lain di Indonesia, yang telah menghentikan atraksi tunggang gajah demi prioritas kesejahteraan satwa serta pengembangan pengalaman edukatif bagi pengunjung.

Dengan tidak mengurangi pengalaman interaksi satwa dengan pengunjung, Semarang Zoo menerapkan beberapa kegiatan non-tunggang yang dinilai lebih edukatif, seperti Feeding Elephant (memberi makan Gajah) foto, animal education meliputi daily activity, daily treatment serta animal encounter.

Sebagai lembaga konservasi yang bertanggung jawab, Semarang Zoo terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan dan peraturan dilaksanakan secara konsisten dan transparan.

“Kami juga berkomitmen untuk mengembangkan kegiatan konservasi yang inovatif, ramah satwa, dan informatif bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (*)

Kembali ke Semarang Zoo, Bimo Ungkap Strategi Konservasi

Lingkar.co – Direktur PT Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengungkapkan, harimau benggala (Panthera Tigris Tigris) yang tersisa merupakan salah satu strategi konservasi.

Ia menjelaskan, semua harimau Semarang Zoo merupakan hasil pembiakan yang telah lama. Dengan demikian, butuh indukan atau pejantan baru agar anakan harimau tidak cacat dan berisiko mati sebelum dewasa.

“Jadi memang sengaja kita kosongkan kandangnya, kita tukar dengan beberapa satwa baru seperti kapibara, sitatunga dan sebagainya,” kata Bimo saat ditemui di kantornya, Rabu (28/1/2026).

Ia bilang, warna bulu harimau yang agak pucat atau putih merupakan faktor inbreeding sehingga bermasalah secara genetik. Selain itu, inbreeding atau perkawinan sedarah juga berpotensi pada cacat seperti jantung susah berkembang, tidak mau makan dan sebagainya.

Selain itu, lanjutnya, dirinya ingin Semarang Zoo juga memiliki spesies Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae). “Jadi memang sengaja kita kosongkan kandangnya. Nanti kita cari Harimau Sumatra untuk menambah koleksi satwa Semarang Zoo,” jelasnya.

Ia menilai, konservasi merupakan sebuah kewajiban dari semua lembaga konservasi. Oleh karena itu, pihaknya akan terus berupaya menyediakan kandang untuk mendatangkan satwa baru.

“Karena setiap lembaga konservasi punya kewajiban untuk mengembangbiakkan, jadi kita bisa minta dengan cara hibah atau tukar menukar satwa,” urainya.

Selain harimau, ia juga menyoroti nasib tiga ekor orangutan Kalimantan yang belum bisa dikembangbiakkan karena tidak ada betina di Semarang Zoo, “Nah, masih ada juga tiga orangutan jantan di sini, ini harus kita pikirkan jodohnya, kalau bisa yang dua ditukar dengan betina,” ungkapnya.

Terkait beredarnya kabar tak sedap di media sosial. Ia mengaku tidak mau mengambil pusing hal itu karena sebuah pekerjaan memiliki disiplin ilmu yang berbeda, “Kita kan bekerja pake ilmu. Jadi tidak perlu pusing memikirkan isu,” tegasnya. (*)

Bimo Kembali Jadi Direktur Semarang Zoo, Agustina Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan dalam Pengangkatan Direksi BUMD

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa seluruh proses pengangkatan direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kota Semarang dilakukan tanpa praktik jual beli jabatan.

Penegasan tersebut ia sampaikan saat pelantikan Direktur PT Taman Satwa Semarang (Perseroda), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso periode 2025–2029 di Balaikota Semarang, Senin (26/1/2026).

Agustina mengingatkan, jabatan Direktur PT Taman Satwa Semarang merupakan posisi strategis karena Semarang Zoo memiliki peran penting sebagai ruang rekreasi, edukasi, sekaligus kawasan konservasi satwa. Oleh karena itu, proses pengisiannya dilakukan secara hati-hati dan profesional.

“Proses pengisian jabatan ini dilaksanakan dengan sangat tertib, transparan, sesuai dengan ketentuan undang-undang. Saking hati-hatinya jadi lama,” ujarnya.

Agustina secara terbuka menanggapi isu terkait dugaan adanya transaksi dalam pengangkatan jabatan. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak dibenarkan dalam kepemimpinannya.

“Di Kota Semarang ini penting untuk disampaikan tidak boleh, tidak ada, dan bahkan dipikirkan pun tidak,” tegas Agustina.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa dalam kepemimpinannya, seluruh pengisian jabatan dilakukan dengan orientasi kerja bersama untuk kepentingan Kota Semarang, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan sumber daya manusia di lingkungan Pemerintah Kota Semarang.

Menurutnya, untuk menjaga integritas pengambilan keputusan strategis, Pemerintah Kota Semarang menerapkan pendekatan kehati-hatian. “Kita akan mencoba secret action and silence untuk semua hal yang bersifat strategis dan memiliki potensi untuk dimainkan oleh orang-orang yang tidak pernah berjalan,” katanya.

Agustina juga menjelaskan bahwa rangkaian seleksi melibatkan panitia dari luar serta lembaga independen yang memiliki integritas dan kepakaran, hingga akhirnya menetapkan direktur terpilih. Keputusan tersebut, kata dia, merupakan hasil kesepakatan bersama dan dilakukan secara transparan.

Wali kota juga berpesan agar pengelolaan Semarang Zoo difokuskan sebagai ruang edukasi, konservasi, dan rekreasi yang profesional dan berkelanjutan, dengan peningkatan kualitas pelayanan, kesejahteraan satwa, serta inovasi wahana ramah anak dan keluarga. Ia juga mendorong pengembangan kawasan yang lebih alamiah melalui penataan sederhana namun edukatif untuk memperkuat pengalaman belajar, rekreasi, dan fungsi konservasi.

Sementara itu, Direktur PT Taman Satwa Semarang (Perseroda) Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pengelolaan Semarang Zoo. “Taman satwa ini harus naik kelas, karena sekarang ini kan hasil audit dari kementerian kehutanan nilai kita kan C, nah nanti akan bertahap menjadi B kemudian menjadi A,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan fungsi konservasi, edukasi, dan rekreasi akan menjadi fokusb utama, termasuk persiapan menghadapi libur Lebaran serta penguatan program kesejahteraan satwa di Semarang Zoo. (*)

Pemkot Bantah Isu Harimau Benggala Semarang Zoo Dijual

Lingkar.co – Asisten II Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten Ekbang Kesra), Hernowo Budi Luhur membantah isu terkait hilangnya Harimau Benggala (Panthera Tigris Tigris) di Semarang Zoo.

Hernowo mengatakan, telah terjadi pertukaran koleksi satwa dengan sesama kebun binatang sebagaimana dokumen dari Semarang Zoo atau Taman Sarwa Semarang.

“Dari dokumen yang saya baca itu memang ada pertukaran satwa yang kita miliki dengan kebun binatang yang lain. Dan itu sudah ada izinnya juga dari balai konservasi yang ada,” kata Hernowo saat ditemui sejumlah wartawan di Balaikota Semarang, Rabu (17/12/2025)

Hernowo membantah adanya jual beli satwa, yakni Harimau Benggala tersebut, seraya menegaskan bahwa berkurangnya satwa tersebut karena program tukar menukar satwa sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Kalau sepemahaman saya sampai dengan saat ini tidak ada (jual beli satwa), dari laporan yang disampaikan oleh teman-teman pihak sana (pengelola),” katanya.

Namun, ia tidak hafal persis pertukaran satwa apa saja yang dilakukan oleh Semarang Zoo dengan sesama lembaga konservasi. Tetapi ia pastikan dalam pertukaran satwa tetap memiliki nilai yang sama.

“Kalau enggak salah dengan Ragunan juga ada, kemudian yang dua lagi mana ya, saya enggak (tidak tahu) pasti,” ujarnya.

Ia menegaskan, kabar hilangnya harimau koleksi Semarang Zoo tidak benar. Melainkan sengaja ditukar untuk menambah koleksi satw. “Artinya bahwa kita punya beberapa harimau yang ada ditukar dengan binatang-binatang yang memang kita juga belum punya koleksi,” katanya.

Saat ini, Pemkot Semarang masih dalam proses mendalami langkah pertukaran satwa semasa Direktur Semarang Zoo masih dijabat oleh Bimo Wahyu Widodo.

“Ini sedang proses ya, kami akan lihat. Jadi, itu (pertukaran satwa) dengan kebun binatang lain, dan itu juga sepengetahuan Balai Konservasi Sumber Daya Alam,” katanya.

Sebelumnya, viral akun Instagram @dinaskegelapan_kotasemarang mengunggah gambar ilustrasi, disertai tulisan yang berjudul “Semarang Zoo bukan hewannya saja yang buas, tetapi …”.

Dalam narasinya, secara garis besar mempertanyakan berkurangnya jumlah koleksi harimau Benggala di Semarang Zoo saat ini hanya ada 4 ekor dari sebelumnya berjumlah 10 ekor.

“Kalau memang dijual, uangnya ke mana? Pertanyaan ini bukan gosip – Ini kegelisahan publik yang layak dijawab dengan transparansi total,” demikian penggalan tulisan unggahan tersebut. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Dukung Wisata Konservasi di Semarang Zoo, Dua Kelinci Beri Donasi Pakan Satwa

Lingka.co – PT Dua Kelinci memberikan donasi pakan satwa kepada Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo sebesar Rp25 juta. Menurut Head Of Sales and Promotion Zona 3 PT Dua Kelinci, Atfis Prihandono Rozaq, donasi tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap Semarang Zoo sebagai lembaga konservasi.

“Donasi tersebut dalam rangka support apresiasi team saya dalam proses sarana memajukan Semarang Zoo sebagai icon di Semarang,” kata Aftis saat dikonfirmasi oleh wartawan, Rabu (24/9/2025).

Selain itu, kata Atfis, pihaknya juga ikut bekerja sama dalam pengembangan ekonomi para pedangan dengan kerja sama penjualan produk dua kelinci, yang mana keuntungan secara langsung bisa diperoleh Semarang Zoo untuk proses perawatan dan operasional yang ada.

Terkait program konservasi di perusahaan, ia mengaku sejauh ini tidak ada program khusus. Namun demikian ia menegaskan bahwa pihaknya mendukung langkah-langkah konservasi karena dua kelinci merupakan perusahaan yang bergerak menjual hasil hasil bumi.

“Tentunya untuk program konservasi saat ini kita belum ada program khusus, tetapi dalam rangka tetap menjaga kelestarian alam perusahaan kami selalu mendukung setiap kegiatan tersebut,” ujarnya.

Sebab, kata dia, kekayaan alam merupakan bagian dari produk kami yang masih didominasi dari hasil alam misal kacang tanah,” ungkapnya.

Atfis berharap kegiatan konservasi air maupun satwa yang dilakukan berbagai pihak bisa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, “Harapan kami, dengan terjaganya lingkungan ,air dan satwa juga menciptakan keseimbangan yang baik secara umum,” katanya.

Meski demikian, dirinya mengakui saat ini belum ada rencana memberikan donasi berupa koleksi satwa atau pelepasliaran satwa, “Saat ini belum ada, hal ini masih kami tinjau untuk kelanjutan kedepannya dan berharap kerja sama yang pertama kalinya ini bisa menimbulkan efek yang cukup bagus,” urainya.

Dirinya juga berharap kerja sama penjualan di lingkungan Semarang Zoo pada khususnya bisa memberikan dampak positif dalam pencapaian target penjualan, sehingga pihaknya secara langsung masih dapat mendukung kegiatan konservasi di kebun binatang yang ada di perbatasan Semarang-Kendal.

“Kedepan kami bisa terus support untuk keberlanjutan kerja sama ini, tentunya untuk perkembangan Semarang Zoo dan distribusi produk kami di kota Semarang,” tutupnya.

Sementara, Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo menuturkan, pihaknya tidak membahas jumlah donasi dari pihak manapun. Sebab kata Bimo, kepedulian terhadap lingkungan hidup sangat diperlukan untuk hidup sehat.

“Dari perusahaan memberikan donasi pakan satwa terus meningkat dengan para karyawan yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Ini tentunya akan terbentuk pola hidup yang sehat, peduli kelestarian lingkungan, baik satwa, tumbuhan maupun air,” ujarnya.

Dirinya juga menyambut baik kerja sama pemasaran dari PT Dua Kelinci yang mana para pedagang tidak perlu mencari atau berbelanja untuk berdagang. Di lain sisi, lanjutnya, Semarang Zoo secara manajemen juga ikut mendapatkan keuntungan untuk pengelolaan dan pakan satwa. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Gandeng Kota Bandung, Disbudpar Kota Semarang Ajak Semarang Zoo Belajar Majukan Pariwisata

Lingkar.co – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, R. Wing Wiyarso Poespojoedho, mengajak manajemen Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang belajar dari Pemkot Bandung melalui Table Top dan Sales Mission yang dilakukan di Bandung pada 18-19 September 2025

Alasan kegiatan tersebut dilaksanakan di Bandung karena ia anggap lebih berpengalaman atau expert di dunia pariwisata.

“Bandung ini menurut kami salah satu kota yang lebih awal atau lebih senior, perkembangan pariwisatanya cukup luar biasa” kata Wing saat dikonfirmasi, Jum’at (19/9/2025).

“Mereka (Pemkot Bandung) punya akses yang lebih expert, lebih berpengalaman ke penjuru dunia,” imbuhnya.

Ia menyebut kegiatan kali ini memang tujuan utamanya mempromosikan dan menjual potensi dan kearifan lokal yang ada di kota Semarang kepada wisatawan yang datang di kota Bandung. Dengan adanya kerja sama, kata dia, Bandung dan Semarang punya peluang yang sama untuk promosi potensi wisata kepada wisatawan yang datang.

“Dengan kerja sama Bandung dan Semarang ini, insya Allah ke depan sektor pariwisata di dua kota ini semakin meningkat,” harapnya.

Dirinya juga berharap agar sektor pariwisata di kota Semarang bisa berkembang dan menjadi destinasi wisata rujukan pelancong luar daerah. Karena pariwisata merupakan pilar pertumbuhan ekonomi lokal dan regional.

Direktur Semarang Zoo, mengucapkan terima kasih atas kesempatan untuk menambah pengetahuan dan wawasan di bidang pariwisata.

“Saya ucapkan terima kasih banyak terimakasih kepada Kepala Dinas Pariwisata, Pak Wing, yang telah mengajak kami ke Kota Bandung, mengenalkan Semarang Zoo bersama teman teman pelaku pariwisata di Kota Semarang ke para pelaku wisata di Kota Bandung,” ucapnya.

Menurut dia, berbagai pertanyaan dan masukan dari para calon Buyer sangat bermanfaat untuk menambah ilmu.

“Ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk membuat rencana kerja atau tawaran paket wisata yang lebih baik, sehingga bisa mengenalkan Semarang Zoo sebagai salah satu destinasi paket wisata, khususnya bagi masyarakat kota Bandung,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa menyambut baik kegiatan Table Top/Sales Mission yang diinisiasi oleh Disbudpar Kota Semarang karena tujuan utamanya menjadi tempat tujuan kunjungan.

“Kalau disederhanakan itu tugas utamanya menarik wisatawan ke kota masing-masing. Maka kami sangat support kepada sahabat saya, Pak Wing yang mengadakan tabel top/sales mission di kota Bandung,” ujarnya.

“Ini setulus hati kita doakan misi perdagangannya bisa sukses,” doanya.

Terkait wisata edukasi konservasi Lembang Park and Zoo yang gempar karena macan tutul lepas dari kandang dan Bandung Zoo yang saat ini bermasalah dengan hukum, ia berharap kasus itu segera selesai.

“Jadi secara umum, kita selalu mengharapkan destinasi-destinasi wisata di Bandung memberikan pelayanan yang lebih baik termasuk Bandung Zoo,” jawabnya.

Pihaknya berharap agar Bandung Zoo kembali beroperasi secara profesional. Namun sebagaimana diketahui bahwa saat ini kebun binatang tersebut tengah dalam konflik dualisme kepengurusan Yayasan Margasatwa Tamansari, dan kewenangan tentang konservasi saat ini ada di tangan kementerian kehutanan.

‘Tapi ada faktor-faktor lain yang itu Pemerintah Kota Bandung tidak bisa melakukan intervensi, Pak Wali (Wali Kota Bandung) beliau menghargai proses hukum,” tutupnya. (*)

Komunikasi Bisnis di Bandung, Dinporapar Jateng Harapkan Investasi Untuk Pengembangan Semarang Zoo

Lingkar.co – Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang ikut serta dalam rombongan kunjungan Komunikasi Bisnis yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Provinsi Jawa Tengah di Bandung tgl 16-17 September.

Pada kesempatan itu, Kepala Dinporapar Jawa Tengah, Muhamad Masrofi berharap masyarakat Jawa Barat semakin mengenal dan menarik warga Jawa Barat untuk berkunjung ke Semarang atau daerah lain di Jawa Tengah.

“Harapannya tentu saja dari wisatawan Jawa Barat banyak berkunjung ke Jawa Tengah, juga ke Semarang,” kata Masrofi dalam siaran persnya, Rabu (17/9/2025).

“Destinasi yang kita bawa ke Jawa Barat adalah kebun binatang Semarang (Semarang Zoo) dan pelaku wisata laiinya. Terkair dengan Semarang Zoo,Tentu saja ini perlu ada pengembangan lebih lanjut dari kebun binatang Semarang,” ujarnya.

Menurut Masrofi, Semarang Zoo harus terus berbenah diri dengan mengembangkan semua potensi yang dimiliki.

“Supaya ada perkembangan terus menerus, tidak monoton, berkembang terus menerus sebagai lembaga konservasi edukasi dan rekreasi yang terus agar lebih baik, binatangnya semakin banyak, begitu agar diminati para wisatawan,” ungkapnya.

Maka dari itu dirinya berharap adanya investasi untuk mengembangkan kebun binatang yang ada di kota Semarang yakni Semarang Zoo, “Yang pertama adalah adanya investasi ke wilayah kebun binatang Semarang,” ucapnya.

Sementara, Direktur Semarang Zoo Bimo Wahyu Widodo mengatakan sangat berterimakasih kami diajak ke Bandung, bertemu dengan para pelaku wisata, mengenalkan Semarang Zoo, sebagai salah satu destinasi wisata berbasis konservasi dan edukasi.

Dijelaskan oleh Bimo, Semarang Zoo telah melakukan perbaikan sejumlah fasilitas dan menambah koleksi satwa, dan kompetensi penjaga satwa juga terus ditingkatkan untuk edukasi bagi masyarakat, terutama anak-anak. Selain itu, terdapat pula wahana permainan yang menarik.

Dengan adanya program Komunikasi Bisnis yang dilakukan oleh Dinporapar Jateng, Bimo berharap Semarang Zoo dan destinasi wisata Jawa Tengah pada umumnya tidak hanya populer di bagi Jawa Tengah saja, namun menjadi rujukan destinasi wisata provinsi lain.

“Semoga masyarakat Jawa Barat semakin mengenal destinasi-destinasi wisata di Jawa Tengah, khususnya Semarang Zoo, akan banyak dikunjungi wisatawan dari Jawa Barat. Kami terus berbenah sesuai apa yang disampaikan oleh bapak Masrofi,” pungkasnya. (*)