Arsip Tag: Digitalisasi

OJK Pastikan Seluruh Kebijakan Keuangan Daerah Selaras dengan Pusat

Lingkar.co – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto Dinavia Tri menyampaikan, OJK secara resmi meluncurkan Roadmap Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) periode 2026–2030.

“Peluncuran ini merupakan langkah strategis lanjutan untuk memastikan seluruh kebijakan akses keuangan di daerah selaras dengan visi pembangunan pemerintah pusat,” ujarnya dalam Rapat Pleno Program Kerja TPAKD yang digelar di Aula Kantor OJK Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (16/4/2026).

Secara nasional, kata dia, TPAKD telah terbentuk di seluruh daerah, mencakup 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Berdasarkan data tahun 2025, terinklusi keuangan nasional mencapai 80,51%, sementara terliterasi keuangan berada di angka 66,46%.

“Kesenjangan ini menjadi tantangan bersama bagi pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan pemahaman serta pemanfaatan layanan keuangan oleh masyarakat,” paparnya.

Di tingkat daerah, lanjutnya, Kabupaten Banyumas telah menunjukkan capaian signifikan melalui lima program prioritas sepanjang tahun 2025.Ia menyebut diantaranya program One Student One Account (Simpanan Pelajar) yang berhasil melampaui target dari 1.000 menjadi 1.750 rekening.

Selanjutnya, program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) melalui pendampingan literasi dan perluasan akses keuangan di desa.Serta program Digitalisasi Pasar, termasuk implementasi pembayaran berbasis QRIS di Pasar Cilongok.

Memperhatikan pencapaian itu, Dina menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan program TPAKD ke depan, termasuk sinergi dengan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah.

“Semangat dari program baru ini adalah kolaborasi. Program kerja dari berbagai objek dapat diintegrasikan dalam agenda TPAKD, baik berupa optimalisasi produk layanan maupun pendampingan, sehingga pelaporan dalam sistem informasi menjadi lebih optimal,” tuturnya.

Sementara, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono menegaskan, di tengah pesatnya digitalisasi dan perubahan pola masyarakat, akses keuangan memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi lokal.

TPAKD, menurutnya, dibangun dengan tiga tujuan utama, yaitu; mendorong inklusi keuangan di seluruh lapisan masyarakat.Kedua, mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan, dan ketiga, meningkatkan literasi keuangan masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola sumber daya ekonomi.

Oleh karena itu, lanjutnya, salah satu fokus utama program Pemkab Banyumas ke depan adalah peningkatan akses keuangan bagi pedagang pasar melalui transformasi digital.

“Transformasi pasar melalui sistem pembayaran non tunai dan digitalisasi menjadi langkah penting. Pasar Manis dan Pasar Karanglewas, Pasar Cilongok dan Pasar Sokaraja menjadi prioritas dalam pengembangan ini,” jelasnya.

Sadewo juga menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan.

“Semangat dan tanggung jawab harus menjadi napas kita bersama. Komunikasi yang jelas kepada masyarakat menjadi kunci utama,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Sadewo juga menginstruksikan seluruh perangkat daerah terkait untuk memastikan setiap kendala di lapangan dapat diselesaikan secara tuntas.

“Dengan penguatan komunikasi dan gerak bersama antar lini, diharapkan program TPAKD dapat berjalan efektif, efisien, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Pemprov Sulteng Dorong Transformasi Digital Hingga Tingkat Desa

Lingkar.co – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid bersama Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido telah mencanangkan program unggulan ‘Berani Berdering’. Program ini bertujuan untuk mendorong transformasi digital hingga mempercepat pertumbuhan desa.

Program tersebut diharapkan mendukung penuntasan kemiskinan melalui penyediaan akses internet yang merata.

Dalam pelaksanaannya, Dinas Kominfo bersinergi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), serta dukungan penganggaran melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Dinas Kominfosantik) Provinsi Sulawesi Tengah, Suandi menekankan pentingnya efektivitas penggunaan anggaran di tengah keterbatasan yang ada.

Ia menjelaskan bahwa penyusunan petunjuk teknis (juknis) menjadi langkah strategis untuk memastikan program berjalan terarah dan akuntabel.

“Dengan anggaran yang terbatas, kami berharap sarana ini dapat dimanfaatkan secara maksimal. Juknis disusun sebagai pedoman pelaksanaan agar program ini berjalan efektif, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Suandi, Kamis (16/4/2026).

Ia juga berharap adanya komunikasi yang intensif antara pemerintah desa, Dinas Kominfo, dan BPKAD agar pemanfaatan anggaran dapat berjalan optimal. Menurutnya, dukungan dari APBDes juga perlu disinergikan untuk memperkuat implementasi program.

“Jika desa memiliki dukungan anggaran, kami harap dapat dikoordinasikan dengan Kominfo agar pelaksanaan program ini semakin kuat dan berkelanjutan,” jelasnya.

Senada, Sekretaris Dinas Kominfosantik Wahyu Agus Pratama menegaskan bahwa program ‘Berani Berdering’ diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan desa berbasis digital.

“Melalui program ini, desa-desa di Sulawesi Tengah diharapkan dapat berkembang lebih cepat dengan dukungan teknologi digital, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.

Sementara, Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika (Aptika), Moh. Rusli menyampaikan, hingga saat ini pihaknya telah menerima sekitar 150 usulan dari desa terkait kebutuhan akses internet.

Ia bilang, untuk memperkuat koordinasi, akan dibentuk grup komunikasi berbasis WhatsApp yang melibatkan Dinas PMD dan Kominfo kabupaten/kota.

Dalam aspek infrastruktur, program ini akan memanfaatkan teknologi berbasis satelit, seperti Starlink, yang memungkinkan satu jaringan internet menjangkau hingga tiga titik akses (access point) di setiap desa.

“Setiap desa nantinya akan memiliki satu jaringan internet dengan tiga titik akses untuk mendukung aktivitas masyarakat, baik untuk pelayanan publik maupun kebutuhan digital lainnya,” jelasnya.

Melalui langkah ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah optimistis pemerataan akses digital dapat segera terwujud, sekaligus menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi digital hingga ke tingkat desa. (*)

Transformasi Digital Pemkab Magelang, Dorong Tata Kelola Pengadaan Barang dan Jasa Hingga Tingkat Desa

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Magelang terus mendorong penguatan tata kelola pengadaan barang/jasa pemerintah hingga tingkat desa melalui transformasi digital.

Wakil Bupati Magelang, Sahid mengatakan hal itu pada acara Rapat Koordinasi Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah se-Wilayah Eks Karesidenan Kedu yang digelar di Balkondes Wringin Putih, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (15/4/2026).

Dalam sambutannya, Sahid menyampaikan ucapan selamat datang kepada para narasumber dan seluruh peserta rakor. Ia menilai kehadiran para peserta menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperkuat tata kelola pengadaan barang/jasa, khususnya di tingkat desa.

“Kegiatan ini juga menegaskan bahwa wilayah Eks Karesidenan Kedu tetap menjaga semangat kebersamaan dalam membangun Jawa Tengah yang lebih baik,” ujarnya.

Sahid mengapresiasi terselenggaranya forum koordinasi tersebut karena dinilai strategis dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan, khususnya Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ), Inspektorat, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades).

Menurutnya, tema ‘Transformasi Digital PBJ Desa’ sangat relevan dengan arah kebijakan nasional dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel.

Pemerintah terus mendorong percepatan digitalisasi dalam berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan, termasuk sistem pengadaan barang/jasa sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2025.

Dalam regulasi tersebut diatur bahwa pengadaan barang/jasa di desa dilaksanakan melalui swakelola dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat desa. Apabila tidak memungkinkan, pengadaan dapat dilakukan melalui penyedia secara berjenjang dengan mengutamakan penyedia setempat serta produk usaha mikro, kecil, dan koperasi (UMKK), serta produk dalam negeri.

Selain itu, penerapan metode e-purchasing menjadi bagian dari transformasi digital dalam pengadaan, dengan opsi metode lain secara terbatas sesuai ketentuan yang berlaku. Ketentuan teknis lebih lanjut akan diatur melalui Peraturan Bupati yang mengacu pada pedoman lembaga berwenang.

Sahid menegaskan, transformasi digital dalam PBJ desa memberikan peluang besar dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan efektivitas pembangunan desa.

“Melalui sistem digital, proses pengadaan dapat lebih transparan, efisien, terdokumentasi dengan baik, serta meminimalisir potensi kesalahan maupun penyimpangan,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa transformasi tersebut memerlukan kesiapan dari berbagai aspek, baik infrastruktur, regulasi, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Untuk itu, ia mengajak seluruh pihak, baik UKPBJ, Inspektorat, maupun Dispermades, untuk bersama-sama memastikan implementasi digitalisasi PBJ desa dapat berjalan dengan baik.

Ia berharap melalui forum ini nantinya dapat dirumuskan langkah-langkah strategis, berbagi praktik baik, serta menyamakan persepsi dalam implementasi pengadaan berbasis digital di wilayah Kedu

Kepala Bagian Pengadaan Barang/jasa Kabupaten Magelang, Suwahyu Prihanto menyampaikan, rakor ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman terkait pelaksanaan PBJ di desa.

“Selama ini masih terdapat berbagai kendala, termasuk pemahaman terkait PBJ desa yang belum merata. Melalui kegiatan ini diharapkan ke depan terdapat kesamaan persepsi, sekaligus mendorong transformasi digital dalam pengadaan di desa,” jelasnya.

Ia menambahkan, digitalisasi PBJ desa diharapkan mampu meminimalisir potensi penyimpangan anggaran, memperbaiki perencanaan, serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki desa.

Suwahyu berharap, melalui pelaksanaan rakor tersebut dapat terbangun kesepahaman bersama dalam penerapan PBJ desa, khususnya di wilayah Kedu.

“Ke depan, implementasi ini diharapkan dapat segera diterapkan, dimulai dari Kabupaten Magelang sebagai langkah awal,” kata dia.

Rakor ini juga dihadiri berbagai pihak, di antaranya Dispermades, UKPBJ, serta perwakilan dari kabupaten/kota se-Eks Karesidenan Kedu. (*)

Inggit Soraya Soroti Perkembangan Teknologi Digital Pengaruhi Pola Pikir Generasi Muda

Lingkar.co – Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya menyoroti perkembangan teknologi digital yang sangat pesat turut memengaruhi pola pikir generasi muda.

Menurutnya, kemudahan akses informasi dan layanan instan sering kali membuat sebagian anak muda menginginkan hasil yang cepat tanpa melalui proses yang matang.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Generasi muda saat ini dinilai lebih sensitif dan terkadang lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dibandingkan generasi sebelumnya.

“Di era sekarang, semuanya serba cepat. Karena itu, generasi muda perlu memperkuat literasi agar mampu berpikir jernih, tidak mudah terpengaruh, dan bisa menentukan pilihan dengan bijak,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang tangguh dan berdaya saing. Menurutnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan proses pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat.

Inggit mengatakan literasi mencakup kemampuan mencari, memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi secara tepat untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.

“Literasi tidak berhenti pada baca tulis. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta mengambil keputusan yang benar dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Lebih lanjut, Inggit menandaskan, literasi yang kuat akan membantu anak-anak dan remaja memilah informasi yang benar, menghindari hoaks, serta membangun ketahanan mental dalam menghadapi tekanan sosial maupun digital.

Baginya, pentingnya peran ibu atau emak-emak dalam mendampingi tumbuh kembang anak, terutama dalam penggunaan teknologi. Orang tua tidak boleh tertinggal dalam memahami perkembangan dunia digital. Jangan sampai anak-anak lebih mahir dalam penggunaan teknologi, sementara orang tua justru tidak mengetahui aktivitas digital mereka.

“Orang tua, khususnya ibu, harus melek digital. Jangan sampai gaptek. Dengan memahami teknologi, ibu bisa menjadi pembimbing sekaligus pengawas yang baik bagi anak,” imbuhnya.

Untuk itu Inggit menekankan, literasi digital di lingkungan keluarga perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka, pendampingan aktif, serta kesediaan orang tua untuk terus belajar. Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan keluarga, Kota Pekalongan diharapkan mampu mencetak generasi yang kritis, adaptif, serta siap menghadapi tantangan zaman.

“Literasi adalah investasi masa depan. Jika kita ingin anak-anak kita kuat dan tidak mudah menyerah, maka budaya literasi harus dimulai dari rumah,” pungkasnya. (“)

Wagub Jateng Tegaskan Guru Harus Lari Sesuaikan Tuntutan Teknologi

Lingkar.co – Peran guru dihadapkan pada perubahan yang berlangsung dengan cepat. Bukan saja dalam tata cara pendidikan, namun juga berhadapan dengan siswa yang kini telah menguasai teknologi.

“Masih banyak guru yang konvensional, sedangkan anak didiknya sudah berubah seiring perkembangan teknologi. Guru dituntut untuk berlari, melakukan update dan penyesuaian,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mewakili Gubernur Ahmad Luthfi, pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025,di Museum Ranggawarsita Semarang, Rabu (10/12/2025).

Disampaikan, melalui teknologi, banyak hal yang dapat dilakukan serba cepat. Jika ada tugas, bisa tanya kepada AI atau Chat GPT. Guru pun dituntut untuk memberikan pendampingan sehingga teknologi dapat berfungsi sesuai tujuannya.

Pesan lain yang disampaikan Gus Yasin, sapaan akrabya, adalah pentingnya pendidikan moral. Pendidikan sangat penting bukan hanya berlangsung dalam ruang kelas. Namun juga sendi kehidupan.

“Dalam Bahasa Jawa Guru berarti digugu dan ditiru. Anak-anak sekarang, kecepatan akalnya luar biasa. Namun demikian, jika tidak kita arahkan, kecepatan yang luar biasa juga akan ada mudharatnya, bahayanya,” lanjutnya.

Peringatan 80 tahun Hari Guru, lanjutnya, menunjukkan usia yang sangat matang. Selama itu pula guru telah melalui berbagai masalah yang dilalui dengan beragam perubahan.

Menghadapi penyesuaian dan update tersebut, lanjutnya, guru harus terus belajar. Bukan hanya siswa yang belajar, namun guru juga tidak boleh berhenti untuk belajar.

“Belajar tidak mengenal usia, dari bayi sampai liang lahat. Jadi belajar tidak pernah selesai,” pesannya, di depan ratusan guru dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Taj Yasin menegaskan, Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk memberikan apresiasi yang tinggi kepada dunia pendidikan. Oleh karenanya, guru layak mendapatkan penghormatan.

“Kita bisa mencapai sesuatu itu pasti ada gurunya, ada pendidikannya. Dan pendidikan akan menyesatkan apabila tanpa guru. Maka guru ini sangat penting,” tandasnya.

Oleh karenanya, Yasin mengajak kepada masyarakat agar memberikan penghormatan Hari Guru Nasional bukan hanya pada tanggal tertetu. Namun, setiap hari bisa menjadi waktu untuk menghormati guru, dan menjadikannya Hari Guru. (*)

Permudah Regulasi Keuangan, Wagub Jateng Dorong Digitalisasi BTN

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen mengapreasiasi pengembangan digitalisasi yang dikembangkan Bank Tabungan Negara (BTN) untuk wilayah Jawa Tengah. Menurutnya, digital mempermudah regulasi keuangan, pengawasan, dan mengatur risiko yang dialami.

“Saya berharap layanan digital dapat memberikan kemudahan yang dapat membantu masyarakat Jawa Tengah untuk mengakses layanan perbankan,” kata Taj Yasin, saat memberikan sambutan dalam Peresmian Wajah Baru BTN Kantor Wilayah Jateng DIY dan Digital Store Karang Ayu Semarang, Senin (1/12/2025).

Mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Gus Yasin, sapaan akrabnya, mengatakan, tidak semua orang mendapat kesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat. Kehadiran BTN yang berkolaborasi dengan Pemprov Jateng, telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Jateng. Sebagaimana visi Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin dalam mewujudkan Jawa Tengah sebagai provinsi maju yang berkelanjutan untuk menuju Indonesia Emas 2045.

“Selama ini BTN telah berkolaborasi dengan Pemprov Jateng dan 35 kabupaten dan kota melalui skema pinjaman untuk perumahan dan UMKM. Melalui wajah baru dan digital store, semoga kinerja BTN menjadi lebih baik,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BTN, Nixon Lambok Pahotan Napitupulu, mengatakan, selama ini kantor wilayah BTN bergabung dengan kantor cabang. Melalui peresmian kantor dengan wajah baru, diharapkan layanan kepada masyarakat akan semakin dimudahkan. Terlebih, saat ini sudah lebih dari 20 kantor cabang beralih kepada layanan digital.

“Meskipun beralih kepada teknologi digital, kami tidak melakukan lay off kepada karyawan. Para karyawan diberikan kesempatan untuk berkarya pada design sehingga kinerja layanan semakin cekatan,” ujarnya.

Hadir juga Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng yang menerima bantuan pengadaan fasilitas Toilet Semarang Zoo, sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dilakukan oleh BTN Kantor Wilayah Jateng DIY. (*)

Dorong Dakwah Digital, Gus Yasin Ajak Santri Kuasai Sinematografi

Lingkar.co —Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) mendorong santri kreatif menggunakan metode dakwah di era digital. Untuk itu ia mengajak santri harus memanfaatkan media visual agar pesan lebih mudah diterima masyarakat.

Hal itu dikatakan Taj Yasin, saat membuka pelatihan bertajuk “Meningkatkan Kreativitas dan Dakwah di Era Digital, Membangun Kemandirian Santri Jawa Tengah”, di Masjid Agung Jawa Tengah, Senin–Selasa, 8–9 September 2025.

“Pelatihan ini akan berdampak pada metode dakwah lewat film pendek yang bermanfaat dan memberi pelajaran. Media sekarang tidak ada sekat, terus bertumbuh, dan harus disertai ilmu akhlak serta adab, baik di TikTok, Instagram, maupun platform lain,” kata Taj Yasin dalam sambutannya.

Mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, dirinya mengapresiasi inisiasi pelatihan sinematografi untuk santri yang digelar Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah.

Dirinya menegaskan, konten sinematografi dari kalangan pesantren perlu hadir agar bisa dipertanggungjawabkan dan memberi edukasi yang lebih bermanfaat.

“Dua hari ini harus konsentrasi betul karena ilmu ini tidak didapat di pondok pesantren. Santri harus belajar memvisualisasikan dakwah agar lebih mudah dan tidak membosankan,” imbuhnya.

Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jateng, Abdullah Ibnu Thalhah menyebut, program pelatihan ini sudah berjalan dua angkatan. Bahkan di angkatan ke dua ini terdapat alumni dari pelatihan sebelumnya yang kembali ikut serta.

“Angkatan pertama ada 100 peserta, angkatan kedua 125 peserta,” jelasnya.

Ketua Baznas Jawa Tengah KH Ahmad Darodji menegaskan sinematografi adalah sarana untuk menyampaikan pesan secara efektif. Menurutnya, materi pelatihan mencakup peran kameramen, sutradara, hingga musik.

“Ucapan dan kata-kata saja tidak selalu efektif, harus diimbangi dengan visual. Kita ingin disiplin, kali ini kita akan mencetak sineas yang bagus dan kreatif,” katanya.

Ia menambahkan, termasuk pelatihan sinematografi, Baznas hingga saat ini sudah melatih 13.879 orang dengan 23 jenis program, total anggaran Rp22 miliar.

“Harapannya, ini menjadi salah satu upaya pembangunan SDM dunia pesantren,” ujarnya.

Vicky, santriwati dari Pondok Pesantren Amtsilati Jepara, mengaku mengikuti pelatihan ini karena dorongan dari pondok.

“Harapannya, ketika kembali ke pesantren kami bisa mengamalkan ilmu ini. Media pesantren bisa lebih maju, sistematis, dan teratur,” katanya.

Ahmad, santri dari Pondok Pesantren Karang Santri, Kedu, Temanggung, juga mengaku antusias. “Teknologi bisa jadi salah satu metode dakwah. Setelah ikut pelatihan ini saya jadi lebih paham sinematografi, meski sedikit demi sedikit. Semoga bermanfaat, apalagi saya sering bertugas dokumentasi di pesantren,” ujarnya. (*)

Aplikasi Digital Asal Semarang Tembus 42 Besar Jagoan Indonesia 2025

Lingkar.co – Geliat inovasi digital dari anak muda Kota Semarang kembali mencuri perhatian. Aplikasi Spartav, platform digital advertising yang berbasis pemberdayaan masyarakat, berhasil menembus 42 besar dari ratusan peserta yang mengikuti program inkubasi bisnis Jagoan Indonesia 2025. Program ini, digelar oleh Bappeda Kota Semarang bersama mitra-mitra strategis nasional dalam rangkaian ajang Semarak Muda 2025.

Spartav, akronim dari Smart Partnership Advertising Virtual, merupakan aplikasi yang dirancang untuk menjembatani pelaku UMKM lokal dengan jejaring komunitas digital.

Di dalamnya, individu yang tergolong ultra-nano influencer (pengguna media sosial dengan pengikut di bawah 1.000 orang) diberdayakan untuk menjadi “pasukan iklan” yang membantu menyebarluaskan konten promosi bisnis lokal.

‎“Aplikasi ini kami rancang sebagai media promosi alternatif yang murah, mudah diakses, dan berbasis partisipasi komunitas. Siapa pun bisa terlibat, dari mana saja,” ujar Yanuar Aris Budiharto, Founder Spartav, Sabtu (2/8/2025).

Menurut Yanuar, Spartav hadir sebagai respons atas dua tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini: ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan terbatasnya lapangan pekerjaan, serta rendahnya daya saing promosi digital bagi UMKM.

Dengan memanfaatkan jaringan warga biasa sebagai media penyampai pesan digital, Spartav mencoba mengubah masyarakat dari konsumen pasif menjadi agen distribusi aktif.

Lewat tampilan antarmuka yang sederhana, pelaku UMKM dapat mengunggah produk, menjadwalkan kampanye promosi, memilih kanal distribusi—seperti WhatsApp, Instagram, atau TikTok—dan memantau jangkauan kontennya secara real-time.

‎“Yang kami bangun bukan hanya aplikasi, tapi juga ekosistem gotong royong digital,” kata CEO Eventrue, sebuah agensi branding dan pemasaran digital yang berbasis di Semarang.

Sebagai alumni Fisipol Universitas Wahid Hasyim Semarang, Yanuar menegaskan bahwa Spartav bukan sekadar proyek teknologi, melainkan juga upaya kolektif membangun kesadaran digital inklusif.

Saat ini, kata dia Spartav telah menjalin kemitraan dengan berbagai organisasi, mulai dari koperasi desa, pesantren, jaringan alumni vokasi, hingga komunitas pemuda.

“Pasukan iklan kami sudah tersebar di berbagai wilayah dan terus bertambah setiap bulan. Target kami, Spartav dapat memberdayakan ratusan ribu individu sekaligus memperluas jangkauan pemasaran ribuan UMKM hingga akhir 2025,” ucapnya optimistis.

Spartav menjadi salah satu dari 42 peserta yang terpilih dari total 294 tim bisnis yang diseleksi dalam ajang Jagoan Indonesia 2025. Para finalis ini, berhak mengikuti program inkubasi selama tiga bulan, mencakup pelatihan intensif, pendampingan, dan kesempatan pitching di hadapan investor serta pemangku kepentingan nasional.

Beberapa nama mentor yang turut terlibat dalam program ini antara lain Dias Satria (Jagoan Indonesia), Pukka Simbolon (Capcapung), Danar Indra (Carabicara), Hari Obbie (Kamu Juga Bisa), dan Arif Bawono (Let’s Play Indonesia).

Bagi Yanuar dan timnya, capaian ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pembuktian. “Kami berterima kasih kepada Bappeda Kota Semarang yang membuka ruang bagi talenta muda untuk berkontribusi lewat karya nyata. Spartav bukan sekadar aplikasi, tapi simbol dari ikhtiar membangun ekonomi digital yang lebih adil, dari desa hingga kota,” jelasnya. (*)

Gabung Kelompok Ekonomi BRICS, Indonesia Buka Peluang Sektor Industri Manufaktur

Lingkar.co – Negara Indonesia resmi bergabung sebagai anggota Brazil, Rusia, India, China dan South Africa (BRICS) pada Januari 2025. Indonesia menjadi anggota ke-10 setelah Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dengan bergabung di dalam BRICS, akan berdampak strategis terhadap kemajuan sektor industri manufaktur nasional, khususnya terkait percepatan transformasi digital dan penguatan daya saing global.

BRICS merupakan aliansi ekonomi negara-negara berkembang yang mewakili lebih dari 40 persen populasi dunia dan hampir seperempat produk domestik bruto (PDB) global. Masuknya Indonesia ke dalam kelompok ekonomi, dinilai semakin memperkuat posisi BRICS sebagai kekuatan ekonomi alternatif terhadap dominasi negara maju.

“Keanggotaan Indonesia di dalam BRICS merupakan langkah strategis untuk memperluas kerja sama internasional, terutama dalam pengembangan industri, investasi teknologi, dan penguatan rantai pasok global,” ujar Agus dalam keterangan resminya yang diterima pada Selasa (20/5/2025).

Menperin menjelaskan, Indonesia telah membuka peluang di berbagai sektor, termasuk di sektor ekonomi, diplomasi, dan keuangan. Sebab, kata dia, BRICS dapat membuka akses pasar yang lebih luas, akses pendanaan dari New Development Bank (NDB), dan diversifikasi mitra dagang.

Sedangkan sisi diplomasi, BRICS menjadi platform untuk memperjuangkan reformasi ekonomi global dan memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional, dan secara keuangan, BRICS dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan menciptakan sistem finansial alternatif. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang besar untuk mendorong transformasi industri dalam negeri menuju industri 4.0 sebagaimana peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Indonesia berkomitmen dalam memajukan transformasi digital, smart manufacturing, dan otomatisasi industri guna meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional. Ini sejalan dengan semangat BRICS dalam memperkuat kerja sama teknologi dan inovasi,” tegasnya.

Sejalan dengan hal itu, kata Agus, pemerintah terus mendorong penguatan sektor industri utama melalui inovasi teknologi, percepatan pengembangan industri hijau yang berkelanjutan, serta membangun rantai pasok yang inklusif dan kuat.

Tidak hanya sektor industri besar, Agus bahkan menekankan pentingnya dukungan terhadap industri kecil dan menengah (IKM). Indonesia akan memperluas akses pelaku IKM terhadap teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi produksi dan penetrasi pasar bersama BRICS.

“Digitalisasi dan AI bukan hanya milik industri besar. IKM kita harus bisa mengakses teknologi ini agar tidak tertinggal. Inilah pentingnya kerja sama dalam BRICS untuk memperkecil kesenjangan teknologi,” ungkapnya.

Selain itu, Menperin juga menyoroti potensi besar Indonesia di sektor bioindustri dan ekonomi sirkular. Sebab Indonesia memiliki kekayaan hayati dan sumber daya alam terbarukan. Diprediksi, nantinya Indonesia dapat menjadi pemasok bioindustri global.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi lumbung bioindustri dunia. Kerja sama BRICS akan mempercepat pengembangan teknologi bioindustri dan mendorong ekonomi sirkular yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Dispora Semarang Dukung Kreativitas Wiramuda Melalui Digitalisasi

Lingkar.co – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang gelar diskusi bertema “Pemanfaatan Digitalisasi dalam Membranding Produk Wiramuda Tahun 2025” di Kantor Dispora Kota Semarang.

Kepala Pemberdayaan Pemuda Dispora Kota Semarang, Achmad Oktanis Sediatmoko menyampaikan, Pemkot Semarang mendukung kreativitas wirausaha muda dengan memanfaatkan teknologi digital secara profesional.

“Kita ingin anak-anak muda di Kota Semarang produktif dengan memulai wirausaha yang profesional. Sehingga, kegiatan diskusi ini menjadi salah satu cara kami dari Pemerintah Kota Semarang memberikan bekal dan motivasi kepada mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut, Achmad Oktanis menegaskan komitmen Pemerintah Kota Semarang untuk terus mendukung kreativitas anak muda dalam membangun usaha sejak dini.

“Pemanfaatan digitalisasi untuk memulai sebuah usaha menjadi salah satu cara yang efektif saat ini. Di mana keberadaan media sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun jaringan dan branding produk yang ditawarkan,” tambahnya.

Teguh Hadi Prayitno dari Kepala Biro iNews Jateng menyoroti pentingnya media sosial sebagai aset berharga jika dikelola dengan baik.

“Dulu aset itu hanya sebatas tanah, emas, saham. Sekarang akun media sosial juga bisa menjadi aset paling berharga jika kita terjun di ruang digitalisasi,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa media sosial dapat menjadi alat untuk membentuk branding, dan mendorong anak muda untuk kreatif dan optimistis dalam mencari peluang.

“Anak muda harus kreatif, optimis dan pintar mencari peluang. Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial untuk membentuk branding,” ungkapnya.

Sementara itu, Lanang Wibisono, Owner Halo Semarang, menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun dan menjalankan bisnis.

“Di era sekarang saat ini salah satu cara terbaik untuk mengembangkan usaha adalah dengan cara memanfaatkan teknologi, tapi juga harus konsisten, tekun, dan serius,” ungkapnya.

LW, sapaan akrabnya menambahkan, bahwa persaingan yang semakin ketat menuntut pemanfaatan teknologi media sosial yang tepat dan konsisten.

Melalui kegiatan ini, Dispora Kota Semarang berharap dapat memberikan wawasan dan motivasi kepada wirausaha muda untuk lebih berani dan kreatif dalam memanfaatkan digitalisasi guna membranding produk mereka.

Penulis : Alan Henry