Arsip Tag: Santri

Tak Masuk Sekolah Negeri, Markarius Anwar Harapkan Pesantren Tampung Peserta Didik

Lingkar.co – Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, mengatakan, Pondok Pesantren (Ponpes) Dar Aswaja (Dar Ahlussunah Waljamaah) yang membuka cabang di Pekanbaru berpotensi menjadi solusi alternatif dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), terutama bagi anak-anak yang belum tertampung di sekolah negeri. Pemkot membuka peluang kerja sama agar lembaga pendidikan tersebut dapat menjadi pilihan bagi masyarakat.

“Ke depan, kami berharap pesantren ini dapat menampung anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri. Lokasinya yang berada di pinggiran kota tentu akan memudahkan akses dari perumahan warga,” ucap Markarius, Senin (13/4/2026)

Ia menegaskan, Pemerintah Kota Pekanbaru menyambut baik pencanangan pembangunan Ponpes Dar Aswaja sebagai upaya memperluas akses pendidikan agama Islam di Ibu Kota Provinsi Riau. Pemkot bersyukur atas hadirnya pesantren tersebut di Pekanbaru.

Menurut dia, keberadaan pesantren yang sebelumnya telah berkembang di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) itu diharapkan mampu menjadi wadah pendidikan agama Islam yang berkualitas bagi generasi muda. Pemko menyambut baik pembangunan cabang ponpes ini di Pekanbaru.

“Saya berharap prosesnya berjalan lancar dan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya dalam pembinaan pendidikan agama Islam,” harapnya.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Dar Aswaja Usman Saufi menyampaikan, pencanangan pembangunan telah dimulai tahun ini dengan dukungan tokoh masyarakat dan ulama setempat.

Kegiatan awal pesantren akan dipusatkan di masjid yang telah tersedia di lokasi. Masjid tersebut sementara difungsikan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan pembinaan, sembari menunggu proses pembangunan fisik ponpes rampung.

“Kami mulai dengan kegiatan kajian keagamaan untuk berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Seluruh aktivitas sementara dipusatkan di masjid sambil pembangunan berjalan,” jelasnya.

Pembangunan ponpes ditargetkan dimulai tahun ini. Jika belum selesai, operasional penuh akan dilanjutkan pada tahun berikutnya.

Pembangunan pesantren ini berdiri di atas lahan wakaf seluas kurang lebih setengah hektare yang diberikan oleh Zaini Ismail, mantan Sekdaprov Riau. Lahan tersebut diharapkan menjadi amal jariyah yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. (*)

Gandeng Pemerintah, Lembaga Perekonomian NU Jawa Tengah Gelar Bimtek Pemberdayaan Koperasi Pesantren

Lingkar.co — Lembaga Perekonomian Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LP PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (Dinkop UKM) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemberdayaan Koperasi Pondok Pesantren sebagai Pendidikan Sosial dan Ekonomi Santri.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, Selasa–Rabu (10–11/2026), bertempat di PPTI Al Falah, Jl Bima, Grogol, Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerjasama antara LP PWNU Jateng dengan Pemprov Jateng tentang peningkatan pembangunan keumatan bidang perekonomian.

Bimtek diikuti oleh 18 koperasi pondok pesantren (kopontren) dari wilayah Salatiga dan sekitarnya, dengan tujuan memperkuat kapasitas SDM pesantren dalam pengelolaan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Program ini dirancang dengan sistem zonasi dan akan dilaksanakan secara bertahap di berbagai wilayah lain di Jawa Tengah hingga pada akhirnya menjangkau seluruh kabupaten/kota se-Jateng.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pengantar serta pembukaan resmi oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan materi dari anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah oleh Yusuf Hidayat, dengan tema Kebijakan Pemerintah Provinsi dalam Mendukung Pemberdayaan Koperasi Pondok Pesantren di Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, Judi Budiman, mewakili Ketua LP PWNU Jawa Tengah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terjalinnya kolaborasi yang baik antara LPNU dan Dinkop UKM Provinsi Jawa Tengah.

Ia menegaskan bahwa kemandirian ekonomi pondok pesantren perlu terus diperkuat melalui program-program yang sistematis, terukur, serta memiliki kejelasan input dan output.

“Hal ini sejalan dengan salah satu program strategis LPNU PWNU Jawa Tengah dalam pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya.

Pada hari pertama, Selasa (10/2), peserta mendapatkan materi tentang Peningkatan Kapasitas Kompetensi SDM Kopontren dalam Budidaya Ikan Lele yang Produktif, Efisien, dan Berkelanjutan yang disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

Selanjutnya, PT Matahari Sakti memaparkan materi lanjutan meliputi manajemen pakan, pengelolaan kesehatan ikan, inovasi dan teknologi budidaya, serta strategi pemasaran hasil budidaya.

Sementara itu, pada hari kedua, Rabu (11/2), materi disampaikan oleh LDP Gema Nusantara yang meliputi pengenalan budidaya ikan lele, persiapan sarana dan prasarana, pemilihan dan penanganan benih, manajemen usaha budidaya, teknik pembesaran lele, hingga panen dan pascapanen.

Melalui kegiatan ini, LP PWNU Jawa Tengah berharap koperasi pondok pesantren mampu meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha secara profesional dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadi pilar kemandirian ekonomi pesantren sekaligus sarana pendidikan sosial dan ekonomi bagi para santri di seluruh Jawa Tengah. (*)

Pesantren Sunan Giri Salatiga

Lingkar.co – Pondok Pesantren Sunan Giri, Desa Krasak Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga Jawa Tengah menggelar pawai ta’aruf di setiap menjelang akhir tahun pembelajaran atau alhirus Sanah. Pawai tahun ini, pawai mengangkat tentang budaya Nusantara.

Nampak rombongan demi rombongan santri mengenakan beragam kostum. Yang berbeda. Ada satu rombongan berkostum pasukan pengibar bendera pusaka dengan iringan para santri yang membawa bendera merah putih tampil di depan.

Ada juga rombongan santri yang mengenakan busana tradisional Jawa dengan gunungan seolah sedang melakukan upacara adat saat panen. Ada juga yang berkostum barongan, dan sejumlah kostum unik lainnya.

Panasnya matahari pagi pada hari Ahad (18/1/2026) menjadi penambah semangat para santri dan antusias warga yang menyambut pawai setelah beberapa hari belakangan ini Intensitas hujan yang cukup tinggi.

Setiap rombongan menggunakan alat musik tradisional yang berbeda. Sehingga suasana menjadi lebih khas dan tak beda jauh dengan upacara adat.

Ketua Panitia, Muhammad Khoirul Umam, menuturkan bahwa tema Merawat Keberagaman Budaya di Kota Toleransi sengaja diangkat sebagai respons atas derasnya arus globalisasi.

Ia menilai, generasi muda, khususnya Gen Z atau Zilenial yang lebih suka menjauh dari budaya bangsanya sendiri. Mereka malah lebih akrab dengan budaya luar yang populer dan hadir lewat layar gawai dan musik modern.

“Santri punya tanggung jawab moral untuk memperkenalkan dan menjaga kebudayaan bangsa ini,” ujarnya.

Bagi Umam, pesantren memegang peran strategis sebagai penyaring budaya luar sekaligus menjaga nilai-nilai adiluhung warisan leluhur. Ia bilang, budaya tidak boleh ditolak mentah-mentah, tetapi disaring, dirawat, dan dihidupkan kembali agar tetap relevan dengan zaman.

Selain itu, ia memperhatikan Salatiga dikenal sebagai Kota Toleransi, miniatur Indonesia yang penuh dengan keragaman. Kota kecil dengan luas 54,98 kilometer persegi ini menjadi ruang perjumpaan berbagai agama, suku, dan budaya.

Kampanye Ramah Lingkungan

Pesantren yang didirikan dan diasuh oleh KH. Maslihuddin Yazid, salah satu tokoh Jam’iyyah Ahlut Thariqah Mu’tabarah an Nahdliyyah (Jatman) ini pada mulanya hanya menyelenggarakan pendidikan khas pesantren, yakni madrasah diniyah. Namun seiring perkembangannya kini telah memiliki jenjang pendidikan formal.

Sebagai pesantren yang menjadi tempat belajar dan bermukim ribuan santri ini juga memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal itu salah satunya dengan menampilkan drumblek sebagai bentuk kampanye kepedulian terhadap lingkungan.

Drumblek, sebuah kreasi seni musik sengaja ditampilkan Para santri dan cukup memikat hati masyarakat yang melihat.

Para penabuh musik drumblek ikut dalam iringan sebagai edukasi bahwa sampah tidak harus dibuang. Namun bisa dikelola menjadi sesuatu yang berharga, seperti memanfaatkan barang bekas menjadi alat musik yang familiar di telinga.

Melalui drumblek, mereka menegaskan bahwa kreatifitas bermain musik tidak bisa lemah oleh terbatasnya alat musik, dan kreatifitas santri tidak terbatas karena waktu yang lebih banyak digunakan untuk belajar ilmu agama.

Selain itu, pawai ta’aruf kali ini seolah menjadi syiar bahwa santri tak hanya berkutat pada ilmu gramatika bahasa arab dan belajar ilmu agama. Lebih dari itu juga menegaskan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.

Umam menegaskan, Pesantren Sunan Giri, seni dan agama bisa berjalan beriringan. Para santri diajarkan bahwa kesenian adalah bagian dari dakwah, media menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang lembut dan membumi.

Nilai budaya dan spiritualitas dipadukan agar ajaran agama terasa indah dan membawa kemaslahatan bagi siapa saja.

“Pawai ta’aruf akhirus sanah kali ini mengajak masyarakat untuk peduli terhadap budaya Indonesia, budaya Nusantara dan peduli terhadap lingkungan yang berkelanjutan,” pungkas Umam. (*)

Penulis: Husni Muso

Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Sejak 2019 Ada Puluhan Kasus Kekerasan Terhadap Santri, Wagub Jateng Dorong Pesantren Ramah Anak

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengungkapkan, sejak 2019 hingga 2025, tercatat ada puluhan kasus kekerasan di lingkungan pesantren. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya, karena banyak santri tidak berani menyampaikan persoalan tersebut ke pihak yang berwenang.

“Sering kali santri berasumsi, kalau mereka bicara, harus menjaga nama pesantren dan kiai, sehingga tidak berani menyampaikan,” katanya disela acara halaqah bertema Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak yang digelar di Pondok Pesantren Girikesumo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak pada Jumat (12/12/2025).

Maka dari itu Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin mengingatkan, bahwa isu mengenai perlindungan anak di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren, tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan sepele.

Ia menyebut, masih ditemukannya puluhan kasus kekerasan, terutama perundungan dan tekanan mental, dalam beberapa tahun terakhir, menjadi peringatan serius, agar pesantren memperkuat sistem pengasuhan yang aman, nyaman, dan ramah anak.

“Bentuk kekerasan itu tidak selalu fisik. Yang paling tinggi justru bullying dan tekanan mental. Ini menimbulkan ketidakpercayaan anak-anak didik kita untuk tumbuh dan menjadi pemimpin,” ujar Taj Yasin

Menurut Taj Yasin, pondok pesantren sejatinya merupakan lembaga pendidikan yang bersifat inklusif. Karena itu, pesantren harus menjadi ruang aman bagi seluruh santri, termasuk mereka yang sedang menghadapi persoalan psikologis.

Ia juga menyoroti pentingnya penataan pembinaan dan pengawasan, terutama mengenai pola senioritas di pesantren. Penugasan santri senior sebagai pengurus merupakan bagian dari pendidikan, namun Yasin menandaskan, perlu pendampingan agar tidak berubah menjadi tekanan.

“Pemberian ta’zir (hukuman) harus bersifat mendidik,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikam Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Fatkhurronji menegaskan, untuk mewujudkan pesantren ramah anak, membutuhkan sistem dan jejaring yang saling terhubung.

“Pesantren yang aman dan nyaman tidak cukup dilihat dari sisi fisik. Harus ada kenyamanan dalam proses pendidikan, dengan jejaring antara pengasuh, orang tua, santri, masyarakat, serta dukungan pemerintah,” terang Fatkhurronji.

Halaqah tersebut menjadi ruang penguatan komitmen para ustadz dan ustadzah, untuk menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah anak, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai keilmuan dan akhlakul karimah, sebagai ciri khas pesantren. (*)

Percepat Pembahasan Raperda Pesantren di Kota Semarang, Target Sah Akhir Bulan

Lingkar.coDPRD Kota Semarang bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tengah mempercepat pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pesantren.

Aturan ini dinilai sangat dinanti oleh masyarakat, terutama kalangan pesantren yang jumlahnya mencapai lebih dari 300 lembaga di Kota Semarang.

Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Semarang, H. Ma’ruf, menyampaikan bahwa Raperda Pesantren telah lama diusulkan dan menjadi harapan besar umat Islam di Kota Semarang.

Menurutnya, keberadaan perda ini penting untuk memperkuat peran pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

“Pesantren sudah sejak masa penjajahan menjadi benteng perjuangan dan pendidikan moral. Maka sudah selayaknya pemerintah memberikan dukungan finansial maupun non-finansial,” ujar Ma’ruf, Selasa (2/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa perda tersebut nantinya akan memuat dukungan anggaran yang dapat digunakan untuk pembangunan fisik seperti gedung dan rehabilitasi fasilitas, serta dukungan non-fisik seperti pelatihan dan insentif bagi ustaz maupun tenaga pendidik pesantren.

Ma’ruf menilai kondisi tenaga pengajar pesantren selama ini cukup memprihatinkan, karena sebagian besar mengajar tanpa standar penghasilan layaknya guru formal.

“Ini sangat ironis. Mereka memberikan transfer ilmu dan pendidikan karakter, tetapi belum mendapatkan dukungan seperti guru di lembaga formal,” tegasnya.

Saat ini Raperda Pesantren masih dalam tahap fasilitasi di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan ditargetkan dapat disahkan pada akhir bulan ini.

Ketua DPC PKB Kota Semarang, H. Mahsun, menegaskan bahwa pihaknya sejak awal telah mendorong percepatan lahirnya regulasi turunan dari Undang-Undang Pesantren.

Ia menyampaikan bahwa anggota Fraksi PKB yang duduk sebagai Sekretaris Pansus memiliki latar belakang pesantren sehingga mengetahui dengan baik kebutuhan riil di lapangan.

“Banyak kader NU yang terlibat dalam pembahasan, dan mereka memahami betul kebutuhan pesantren. Kami optimistis Raperda ini bisa mengakomodasi kebutuhan meski nanti tetap bisa disempurnakan,” ungkap Mahsun.

Ia menambahkan, setelah regulasi disahkan, implementasinya akan menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan pesantren di Kota Semarang dapat berkembang dan memperoleh akses pembiayaan melalui APBD.

Berdasarkan data Kementerian Agama, jumlah santri di Semarang cukup besar dan selama ini belum sepenuhnya terakomodasi dalam anggaran pemerintah daerah.

“Dengan disahkannya Raperda, maka APBD memiliki dasar hukum untuk mendukung pengembangan pesantren,” ujarnya.

Raperda Pesantren diharapkan menjadi pijakan penting bagi kemajuan pendidikan non-formal, penguatan karakter, dan pembangunan moral generasi muda di Kota Semarang. Jika pembahasan berjalan lancar, aturan ini diproyeksikan mulai memberi manfaat bagi pesantren pada tahun anggaran berikutnya. (*)

Sekolah Baru Langsung Raih Banyak Prestasi, MA Sabilunnajah Kendal Siap Terima Peserta Didik Baru

Lingkar.co – Madrasah Aliyah (MA) Sabilunnajah yang berada di Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal merupakan sekolah yang baru akan mewisuda siswa yang kedua di tahun pelajaran 2025-2026.

Namun demikian, sebagai sekolah baru, MA Sabilunnajah telah meraih banyak prestasi. Kepala MA Sabilunnajah, Muslikh, S.Ag menuturkan keberhasilan tersebut tidak lepas dari para murid yang juga produk Pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sabilunnajah.

“Alhamdulillah, keberhasilan kami ini berkat kerja keras para guru di MTs yang mengarahkan siswa lanjut ke MA yang baru berdiri. Sehingga keberlanjutan pembelajaran dan pendidikan bisa secara bertahap sesuai dengan harapan,” ungkapnya dalam siaran persnya, Senin (1/12/2025).

Disebutkan, prestasi yang berhasil diraih dalam beberapa tahun ini antara lain; juara pertama lomba Konten Kreatif, peringkat ketiga pada lomba karya tulis ilmiah tingkat kabupaten pada Hari Amal Bakti (HAB)) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kendal tahun 2023

Pada ajang Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Kecamatan Brangsong tahun 2023 juga meraih juara dua pada cabang Tilawah dan cabang Tartil Al Qur’an.

Namun pada Hari Jadi ke-418 Kabupaten Kendal hanya meraih peringkat kelima pada lomba karya tulis ilmiah dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Mata Pelajaran (Mapel) Geografi jenjang SMA/SMK/MA tingkat Kabupaten Kendal.

Lebih lanjut ia menginformasikan juga bahwa MA Sabilunnajah secara resmi membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026–2027 secara online melalui website https://bit.ly/SPMB_MTs-MA_SABILUNNAJAH_2026-2027.

Jika mengalami kendala pada link, calon peserta didik atau orang tua sebagai wali murid bisa komunikasi melalui nomor +62 818-0412-4221

“Pembukaan sistem ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk memberikan layanan pendidikan yang unggul, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh calon peserta didik,” ujarnya.

Solusi Persoalan Sekolah Lima Hari

Ketua Yayasan Sabilunnajah, KH. Mandzhur Labib mengatakan ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Madrasah Diniyah Awaliyah dan Wustho, serta pesantren. “Pada umumnya anak sekolah MTs dan MA yang warga sekitar ikut madrasah. Jadi, tidak ada kekhawatiran tentang pergaulan anak sepulang sekolah,” ungkap Gus Labib, sapaan akrabnya.

Kegiatan keagamaan yang lebih dalam, lanjutnya, juga biasa diikuti oleh siswa yang tinggal di sekitar pesantren, “Untuk madrasah Diniyah pesantren secara khusus untuk santri, tapi ada juga sebagian anak warga sekitar yang ikut ngaji di pesantren,” terangnya.

Ia lanjut menjelaskan, pesantren putra dan putri Sabilunnajah membagi dua blok, yakni untuk yang fokus pada program salafiyah dan blok tahfizh Al Qur’an, “Kami mohon doa dan dukungan dari santri, alumni dan semua pihak yang peduli dengan pendidikan, semoga perkembangan selanjutnya bisa lebih baik setelah kita relokasi MA ke gedung baru,” pungkasnya. (*)

Komitmen Dukung Pesantren Sebagai Pilar SDM Unggul, Pemkab Kendal Satu-satunya di Jateng Dapat Penghargaan Nasional

Lingkar.co – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Kendal menjadi satu-satunya Pemerintah Daerah di Jawa Tengah yang mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama (Kemenag) RI karena komitmen memberikan dukungan terhadap pendidikan pesantren.

Penghargaan itu diterima langsung oleh Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari dalam Pesantren Award yang digelar Kemenag RI sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2025 di Jakarta.

Bupati menyampaikan hal itu saat menghadiri Panggung Gembira yang digelar Pondok Pesantren Darul Amanah di Lapangan Ngadiwarno, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Rabu (29/10/2025) malam

“Alhamdulillah, Kabupaten Kendal menjadi satu-satunya dari Jateng yang mendapat penghargaan dan salah satu dari tiga daerah di Indonesia yang mendapat penghargaan nasional atas dukungannya terhadap pesantren, bersama Kabupaten Sumedang dan Bantaeng,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, Pemkab Kendal terus berkomitmen mendukung kemajuan pesantren. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan Peraturan Daerah tentang Pondok Pesantren serta berbagai program pemberdayaan santri di bidang UMKM, kesehatan, dan kewirausahaan muda.

Sebab, menurut orang nomor satu di Kendal ini, dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

“Santri hari ini adalah pemimpin masa depan. Dengan pembinaan yang baik, mereka akan menjadi generasi cerdas, berakhlak mulia, dan siap membawa Indonesia menjadi negara besar dunia,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Kendal, mengaku menikmati penampilan tari tradisional yang ditunjukkan para santri tanpa nampak rasa canggung di atas panggung yang megah. Maka dari itu ia menilai pesantren memiliki peran penting dalam mencetak generasi berdaya saing dan berakhlak mulia.

“Malam ini sangat istimewa. Para santri menampilkan kreativitas luar biasa melalui seni dan budaya. Ini bukti bahwa pesantren bukan hanya mencetak ahli agama, tetapi juga generasi inovatif dan berprestasi,” ujar Mbak Tika, demikian sapaannya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah, KH Mas’ud Abdul Qodir, menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan bukti nyata bahwa santri tidak hanya piawai dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu menorehkan prestasi dalam berbagai bidang lain.

“Pagelaran seni ini membuktikan bahwa santri bisa segalanya, bisa mengaji, bisa berkarya, dan bisa menebar manfaat melalui seni dan budaya,” tegasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

RMI PWNU Jateng Soroti Kesehatan Mental Santri

Lingkar.co– Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis santri di tengah tantangan zaman modern, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan RMI PCNU Banyumas menggelar Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren bertema “Mental Health Awareness: Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Santri” di Pondok Pesantren Al Falah, Mangunsari, Banyumas, Rabu (29/10/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh para pengasuh dan perwakilan pondok pesantren serta pengurus RMI se-Karesidenan Banyumas. Para peserta diajak memahami pentingnya kesehatan mental di lingkungan pesantren, serta membangun kesadaran bahwa kesejahteraan psikologis merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan keagamaan.

Ketua Lembaga Kesehatan (LK) PWNU Jawa Tengah, Alek Jusran, dalam pemaparannya menegaskan bahwa isu kesehatan mental di pesantren harus mendapat perhatian serius. Ia menjelaskan, PBNU telah memberikan arahan kepada wilayah-wilayah di Jawa, Bali, dan Sumatera untuk memperkuat layanan kesehatan melalui pendirian klinik di setiap Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).

“PBNU mendorong agar setiap wilayah memiliki klinik yang terintegrasi dengan pesantren. Kami di LK PWNU Jateng sudah menyiapkan panduan pendirian klinik dan rumah sakit, agar kesehatan santri dapat terjamin secara menyeluruh,” ungkap Alek.

Ia menjelaskan, pesantren memiliki karakter unik karena menjadi lingkungan boarding dengan santri yang tinggal 24 jam di bawah pengasuhan kiai dan pengurus. Kondisi ini menuntut pengelolaan kesehatan fisik dan mental yang lebih sistematis, sebab masa remaja santri merupakan fase penting perkembangan emosi, sosial, dan spiritual.

“Kesehatan santri bukan hanya soal tubuh yang kuat, tapi juga jiwa yang tenang. Banyak persoalan muncul karena aspek mental tidak terkelola dengan baik. Maka dari itu, pembahasan kesehatan jiwa ini sangat penting bagi pesantren,” tegas Direktur Amino Hospital ini.

Alek juga menyoroti perbedaan karakter generasi santri saat ini dibanding masa lalu. Menurutnya, santri generasi Z dan Alfa hidup di era digital yang serba cepat, individualistis, dan sangat tergantung pada teknologi.

“Zaman dulu, santri terbentuk oleh keterbatasan dan kesederhanaan. Tapi sekarang, santri kita lahir di era digital — mereka belajar cepat, kreatif, tapi mentalnya lebih rentan terhadap tekanan sosial. Maka cara mengasuh dan mendidik juga harus menyesuaikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pondok pesantren harus menjadi tempat yang aman dan ramah bagi pertumbuhan psikologis santri. Sistem senioritas, tata nilai, dan kultur internal pesantren perlu dikelola agar tidak menimbulkan tekanan atau bahkan kekerasan psikis bagi santri baru.

“Di pesantren besar biasanya ada semangat korsa atau solidaritas namun seringkali itu berlebih. Kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berubah menjadi tekanan sosial. Karena itu, perlu pendampingan yang adil bagi semua santri,” tambahnya.

Menangani Korban dan Pelaku Kekerasan

Dalam kesempatan tersebut, Alek juga menekankan pentingnya pesantren untuk memiliki mekanisme penanganan kasus kekerasan atau perundungan (bullying). Ia menegaskan bahwa pendekatan harus mencakup dua pihak: korban dan pelaku.

“Selama ini kita fokus ke korban, padahal pelaku juga perlu ditangani. Kalau pelaku tidak dibimbing, ia bisa menjadi ‘predator baru’ di tempat lain. Maka pesantren harus punya sistem terapi dan pembinaan agar keduanya pulih secara psikologis,” ujarnya.

Alek berharap pondok pesantren di Jawa Tengah mulai membangun kerja sama dengan lembaga-lembaga pelatihan kerja (BLK) dan lembaga pendidikan tinggi agar santri memiliki keterampilan, kemandirian, serta ketangguhan mental.

“Sebagai Direktur Amino Hospital yang menangani kejiwaan ataupun di LKNU kami siap membantu jika pesantren membutuhkan pendampingan atau kerja sama dalam penanganan kesehatan mental santri,” pungkas Alek.

Turut hadir sebagai narasumber halaqah, Nailul Fauziah, dosen psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Ia menjelaskan bahwa santri masa kini yang berusia antara 12 hingga 18 tahun tergolong dalam generasi Z dan Alfa — generasi yang lahir dan tumbuh bersama kemajuan teknologi digital.

“Generasi ini cerdas, cepat belajar, dan adaptif. Tapi mereka juga rentan terhadap gangguan kesehatan mental karena hidup dalam tekanan sosial media dan budaya instan,” jelas Fauziah.

Ia menguraikan, meski generasi santri kini lebih terbuka dan kreatif, mereka menghadapi tantangan besar berupa rendahnya ketahanan emosional. Pesantren, menurutnya, berperan penting dalam membangun resiliensi — ketangguhan menghadapi tekanan hidup.

“Pesantren membentuk karakter, tanggung jawab, dan integritas moral. Nilai-nilai ini justru menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus digital dan gaya hidup bebas,” lanjutnya. (*)

Peringati Hari Santri Nasional 2025, Ratusan Santri di Salatiga Gelar Jalan Sehat Kebhinekaan

Lingkar.co – Pondok Pesantren Al-Insaniyyah Salatiga menggelar acara jalan sehat bersama masyarakat lintas agama yang dimulai dari halaman Pondok Pesantren Al-Insaniyyah, Dusun Druju Sidorejo Kidul Tingkir Salatiga pada Minggu (26/10/25).

Jalan sehat yang diadakan untuk memperingati Hari Santri Nasional ini mengusung tema Siji Wadah Ojo Pecah itu diikuti kurang lebih 700 peserta yang terdiri dari santri dan masyarakat sekitar pesantren Al-Insaniyyah serta sebagian santri dari Pondok Pesantren Sunan Giri Krasak Ledok Argomulyo Salatiga.

Pengasuh Pondok Al-Insaniyyah, Khoirul Anwar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan hari santri menjadi momentum para santri untuk silaturrahmi bersama masyarakat dengan segenap perbedaannya, khususnya yang berada di lingkungan pesantren.

“Melalui jalan sehat ini, santri dan masyarakat dari berbagai latar belakang agama semuanya dapat silaturahmi. Kita boleh berbeda, tapi kita semua bersaudara, satu tanah air, sehingga tidak boleh terpecah belah hanya karena perbedaan. Kita harus terus bekerjasama dalam rangka menyelesaikan problem-problem kemanusiaan,” jelasnya.

Lebih jauh Anwar menyampaikan, masyarakat di Kota Salatiga sangat rukun, karena itu selain perlu dijaga kerukunannya, juga perlu bersama-sama melakukan kerja-kerja kemanusiaan.

“Di dalam masyarakat yang tercerai berai akan disibukkan dengan mempersatukan, sedangkan di dalam masyarakat yang sudah rukun perlu ditingkatkan menjadi masyarakat yang saling bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan seperti mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Dan Salatiga bagian dari masyarakat yang kedua ini, sangat-sangat rukun. Karena itu PR kita semua, perlu bekerja sama dalam memberikan solusi atas sejumlah persoalan kemanusiaan hari ini dan yang akan datang,” terangnya.

Toleransi Hingga Akar Rumput

Lurah Sidorejo Kidul Tingkir Salatiga Widhi Cahyo Prasetyo menegaskan, bahwa predikat Kota Salatiga sebagai kota toleran bukan sekadar sebutan, tapi semua orang bisa merasakan. Masyarakat yang tinggal di kota maupun di dusun yang ada di Salatiga sangat mencerminkan hubungan yang sangat toleran.

“Melalui acara yang diselenggarakan Al-Insaniyyah ini, kita semua bisa merasakan bahwa Kota Salatiga ini memang kota yang sangat menenteramkan dan sangat toleran. Karena itu tidak berlebihan jika kota ini dinobatkan sebagai kota toleransi nomer satu di Indonesia,” katanya.

Turut hadir dalam acara Jalan Sehat Kebhinekaan Santri dan Masyarakat Lintas Agama, anggota DPRD Kota Salatiga Pudjo Suseno, Alexander Joko Sulistiyo Budi Yuwono, Lurah Sidorejo Kidul Widhi Cahyo Prasetyo, Kepala Cabang BSI Salatiga Dewi Novitasari, serta pegawai kelurahan setempat. (*)

Kepala Kemenag Kota Semarang: Askhabul Kahfi Buka Program PDF, Lulus Setara Sekolah Formal

Lingkar.co – Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota semarang Muhtasit, SAg, MPd mengatakan, Pesantren Askhabul Kahfi akan membuka program Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Santri yang dinyatakan lulus PDF, katanya, setara dengan sekolah formal.

Alumnus pesantren Futuhiyyah Mranggen ini menjelaskan, ijazah pesantren yang menerapkan PDF bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan formal lanjutan sesuai dengan kesetaraan karena sudah diakui oleh Pemerintah setara dengan SMP dan SMA formal.

“Saat ini Pesantren askhabul kahfi Sedang menuju proses mendapatkan izin operasional (PDF) dan kami melakukan pendampingan untuk proses percepatan izin tersebut,” kata Muhtasit saat menyampaikan sambutan pembukaan Kirab Kebangsaan Hari Santri Nasional 2025 di Sirkuit BSB Mijen, Kota Semarang, Sabtu (25/10/2025).

“Maka bagi bapak, ibu yang saat ini anaknya masih SD, MI, MTS atau SMP besok bulan Syawal panjenengan daftarkan di Pesantren Askhabul Kahfi,” ajaknya.

Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa peristiwa sejarah mempertahankan kemerdekaan yang dikenal dengan nama Resolusi Jihad merupakan salah satu bukti nyata komitmen kebangsaan ulama pesantren di Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama sebab resolusi jihad dicetuskan oleh salah satu pendiri NU, yakni KH. Hasyim Asy’ari Jombang.

Dirinya juga mengutip alenia keempat dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni pada kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut dia, konsep itu adalah konsep para santri yang diinisiasi oleh KH. Wahid Hasyim, salah satu putra KH Hasyim Asy’ari.

“Maka jadi santri harus tetap semangat, ‘Hidup Santri, Hidup Askhabul Kahfi, Hidup Santri’. Jadikan waktu di pesantren menjadi kesempatan untuk menambah nilai untuk kalian para santri,” pekiknya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengaku bangga ada pesantren yang besar di Ibu Kota Jawa Tengah. Ia bilang, Askhabul Kahfi saat ini menjadi pesantren dengan santri terbanyak di kota Semarang. (*)

Penulis: Yasin Muntaha
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat