Arsip Tag: Pasar Tradisional

Pemkot Pekalongan Siapkan Relokasi Pedagang Eks Pasar Darurat Sorogenen

Lingkar.co – Pemerintah Kota Pekalongan terus mengedepankan pendekatan humanis dalam menata kawasan eks Pasar Darurat Sorogenen. Melalui sinergi lintas perangkat daerah, penertiban yang dilaksanakan pada Jumat (17/4/2026) hingga Sabtu (18/4/2026) tidak dimaknai sebagai penggusuran, melainkan sebagai langkah penataan sekaligus solusi relokasi yang lebih layak dan terarah bagi para pedagang.

Kegiatan penertiban ini melibatkan Satpol P3KP bersama Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop-UKM), serta unsur Trantib dari Kecamatan Pekalongan Utara dan Pekalongan Timur. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pekalongan, Drs. Sugiyo, didampingi sejumlah pejabat terkait.

Usai kegiatan, Sugiyo menegaskan bahwa, langkah yang diambil pemerintah bukanlah untuk menggusur pedagang, melainkan menata agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan di lokasi yang lebih sesuai peruntukannya.

“Ini bukan penggusuran. Kita tidak mengusir pedagang, tetapi menata dan memberikan solusi. Para pedagang kita relokasi ke pasar-pasar yang masih memiliki lapak kosong dan lebih representatif,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kawasan eks Pasar Darurat Sorogenen memang direncanakan sebagai ruang terbuka publik berupa taman kota. Oleh karena itu, sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah, kawasan tersebut perlu dikembalikan fungsinya agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Meski demikian, Pemkot memastikan bahwa kepentingan pedagang tetap menjadi perhatian utama. Berdasarkan pendataan yang telah dilakukan oleh Dindagkop-UKM, seluruh pedagang telah diinventarisasi mulai dari nama, alamat, hingga jenis dagangan. Hal ini bertujuan agar proses relokasi berjalan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masing-masing pedagang.

“Penempatannya tidak kita kumpulkan dalam satu titik. Misalnya pedagang ayam, nanti akan disebar ke beberapa pasar sesuai kapasitas. Ini supaya lebih merata dan tidak menumpuk,” jelasnya.

Adapun tiga lokasi utama yang disiapkan sebagai tempat relokasi sementara meliputi Pasar Anyar, Pasar Podosugih, dan Pasar Kraton. Ketiga pasar tersebut dinilai masih memiliki potensi lapak kosong yang dapat dimanfaatkan. Sementara itu, Pasar Banjarsari dan Pasar Grogolan tidak menjadi opsi karena kondisi yang sudah cukup padat.

Sugiyo juga mengungkapkan bahwa saat ini jumlah pedagang di kawasan tersebut mencapai sekitar 79 orang, termasuk pedagang lama dan pendatang baru. Sebagian di antaranya telah lebih dulu direlokasi ke Pasar Banjarsari, namun masih tersisa pedagang yang perlu ditata lebih lanjut.

“Untuk memastikan proses berjalan lancar, penertiban dilakukan dalam dua hari dengan sistem dua shift, menyesuaikan dengan pola aktivitas pedagang yang terbagi antara pagi hingga siang, serta siang hingga malam hari. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan waktu yang cukup bagi pedagang untuk beradaptasi,”terangnya.

Tidak hanya itu, Pemkot juga berkomitmen dengan menyediakan fasilitas pendukung, termasuk armada angkutan untuk membantu pedagang memindahkan barang dagangannya ke lokasi baru.

“Kami bahkan menyiapkan armada untuk membantu mengangkut barang para pedagang ke tempat relokasi. Jadi benar-benar kita dampingi, bukan dilepas begitu saja,” tambahnya.

Penertiban ini juga menyasar penggunaan badan dan bahu jalan yang selama ini dimanfaatkan sebagai tempat berjualan. Padahal, area tersebut sejatinya diperuntukkan bagi kepentingan umum seperti lalu lintas dan parkir. Oleh karena itu, ke depan kawasan tersebut akan ditertibkan agar kembali steril.

Sementara itu, untuk pedagang yang berada di shelter resmi, Pemkot tetap memberikan toleransi selama penggunaannya sesuai dengan izin. Namun, jika ditemukan penyalahgunaan seperti disewakan atau diperluas hingga mengganggu ruang publik, maka akan dilakukan penertiban.

“Shelter yang sesuai izin tetap diperbolehkan. Tapi yang disalahgunakan, seperti diperluas hingga menutup trotoar atau jogging track, itu yang kita tertibkan,” tegas Sugiyo.

Lebih lanjut, kata Sugiyo, Pemkot Pekalongan juga telah merancang penataan kawasan Sorogenen menjadi taman kota yang akan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2026 ini, penataan difokuskan pada sisi timur dengan anggaran awal, sementara pengembangan secara menyeluruh akan dilakukan pada tahun-tahun berikutnya.

“Penataan ini diharapkan dapat menghadirkan ruang terbuka hijau yang nyaman, sekaligus menjadi alternatif ruang interaksi sosial bagi masyarakat,”tuturnya.

Sugiyo menambahkan bahwa proses penertiban ini sebenarnya telah melalui tahapan panjang, termasuk sosialisasi dan pemberitahuan kepada pedagang sejak jauh hari. Namun, pelaksanaannya sempat tertunda akibat kondisi banjir dan momentum menjelang Hari Raya Idulfitri. Kini, setelah situasi dinilai kondusif, penataan kembali dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih persuasif dan kolaboratif.

“Kami ingin memastikan bahwa semua pihak memahami tujuan penataan ini. Tidak ada yang dirugikan, justru kita ingin semua mendapatkan tempat yang lebih baik, tertib, dan nyaman,” tegasnya.

Melalui langkah ini, ia berharap tercipta keseimbangan antara penataan kota yang rapi dan keberlangsungan ekonomi masyarakat.

“Pendekatan yang humanis menjadi kunci agar kebijakan yang diambil tidak hanya tegas, tetapi juga berpihak pada kepentingan bersama,” tuturnya. (*)

Pemkot Surabaya Robohkan Bangunan Liar di Kawasan Pasar Simorejo

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menertibkan kawasan Pasar Simorejo Timur. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari penertiban sebelumnya, sekaligus bagian dari upaya penataan aset daerah yang selama ini digunakan tanpa dasar hukum serta belum memenuhi kewajiban keuangan kepada pemerintah kota.

Penertiban dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan sejumlah perangkat daerah, di antaranya Satpol PP, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP), serta dukungan dari PLN, PDAM, jajaran Kecamatan Sukomanunggal, hingga unsur TNI-Polri.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Achmad Zaini, mengatakan penertiban ini bertujuan mengembalikan fungsi kawasan pasar agar lebih tertata dan sesuai peruntukannya.

“Kegiatan ini kami lakukan agar aset milik pemerintah kota dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, sekaligus meminimalisir pelanggaran dalam penggunaannya,” kata Zaini, Sabtu (11/4/2026).

Ia menjelaskan, seluruh bangunan yang berdiri di atas lahan aset Pemkot Surabaya ditertibkan tanpa terkecuali, mulai dari bangunan semi permanen hingga permanen.

“Kami tertibkan semuanya. Untuk bangunan permanen, kami dibantu DSDABM dengan alat berat agar prosesnya lebih efektif,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, petugas juga membantu pedagang memindahkan barang-barang yang masih berada di dalam kios. “Ada kios yang sudah kosong, tetapi ada juga yang masih berisi. Personel kami bersama tim gabungan turut membantu evakuasi barang milik pedagang,” tambahnya.

Sebelum pembongkaran dilakukan, petugas memastikan seluruh aliran listrik telah diputus guna menghindari risiko bahaya.

“Kami pastikan tidak ada aliran listrik sebelum pembongkaran. Proses ini dibantu oleh PLN,” tegasnya.

Zaini memastikan, penertiban berlangsung kondusif dengan sikap kooperatif dari para pedagang. Ia menyebut, hal itu tidak lepas dari sosialisasi dan pendekatan yang telah dilakukan sebelumnya oleh pihak kecamatan.

“Alhamdulillah, para pedagang kooperatif. Sebelumnya sudah ada sosialisasi bertahap dari kecamatan,” ujarnya.

Ke depan, Pemkot Surabaya menegaskan penertiban serupa akan dilakukan secara berkelanjutan di berbagai kawasan pasar. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan kota yang lebih tertib, bersih, dan nyaman.

“Penertiban ini akan kami lakukan berkala di seluruh pasar. Harapannya, masyarakat dan pedagang semakin sadar untuk mematuhi aturan serta memanfaatkan fasilitas sesuai ketentuan,” pungkasnya. (*)

Khofifah Pantau Harga di Pasar Legi Ponorogo, Beras Subsidi SPHP Dibawah HET

Lingkar.co – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa memantau kebutuhan Bahan Pokok Penting (Bapokting) di Pasar Legi, Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, Minggu (29/3/2026).

“(Pantauan) Untuk memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok setelah Lebaran, sekaligus distribusi barang harus tetap lancar,” kata Khofifah.

Saat mendatangi lapak-lapak pedagang di pasar tradisional terbesar di Ponorogo itu, ia mendapati pasokan dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) lebih rendah dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Misalnya; harga Minyakita di Pasar Legi dijual Rp15.500 dari HET Rp15.700, beras program SPHP seharga Rp11.500 per kilogram yang lebih rendah dibandingkan HET Rp 12.500 per kilogram.

Dia mengapresiasi harga beras SPHP yang terjaga stabil sejak menjelang Idulfitri hingga akhir Maret 2026. Daya beli masyarakat mampu menjangkau harga beras medium-premium bersubsidi dari Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional itu.

“Saya bersyukur bahwa beras SPHP menjelang Idul Fitri di sini sekitar Rp 57.000 per lima kilo,” lanjutnya.

Gubernur perempuan pertama di Jatim itu merasa lega karena distribusi Minyakita berjalan lancar dengan harga di bawah HET.

Sejalan dengan hal itu, Khofifah meminta pemerintah daerah ikut mengawasi pergerakan harga dan distribusi merek dagang minyak goreng kemasan sederhana milik Kementerian Perdagangan itu.

“Minyakita tadi terkonfirmasi lancar distribusinya dan harganya di bawah HET. Saya mendorong pengawasan dari tim pemkab agar harga dan distribusinya terjaga,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten melakukan monitoring dan pengawasan secara berkala guna menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat. Pemantauan bertujuan menjaga stabilitas harga dan pasokan. (*)

Sidak di Pasar Rakyat Cibinong, Sekda Bogor Temukan Sejumlah Komoditas Naik Melebihi HET

Lingkar.co – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika didampingi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian dan jajaran Direksi Perumda Pasar Tohaga menemukan sejumlah komoditas dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Rakyat Cibinong, Selasa (17/3/2026).

Sidak dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor Jawa Barat guna memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Pada sidak tersebut ditemukan adanya kenaikan harga Minyak goreng jenis Minyak Kita dari HET Rp15.700 menjadi sekitar Rp19.000 per liter. Selain itu, cabai rawit juga mengalami lonjakan harga dari kisaran Rp95.000–Rp100.000 per kilogram menjadi Rp120.000 per kilogram.

Kenaikan serupa terjadi pada ayam broiler yang sebelumnya berada di angka Rp38.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp.45.000 per kilogram. Sementara itu, sejumlah bahan pokok lainnya seperti beras, daging sapi, bawang merah, dan telur ayam terpantau masih relatif stabil.

Sekda Ajat Rochmat Jatnika menyampaikan, secara umum kondisi ketersediaan bahan pokok di pasar masih aman dan mencukupi. Beras dan terigu masih dalam kondisi stabil, sementara pasokan daging sapi dan ayam tetap lancar meskipun harga mulai mengalami kenaikan.

“Secara umum ketersediaan barang cukup, hanya beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, terutama cabai rawit dan minyak goreng,” ujarnya.

Ia juga menyoroti distribusi Minyak Kita yang sempat tersendat akibat keterbatasan pasokan dari Bulog. Ia bilang, Pemerintah Daerah akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan distribusi kembali normal.

“Kenaikan harga menjelang Idulfitri merupakan fenomena yang wajar seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Hal ini juga menjadi indikator meningkatnya daya beli masyarakat menjelang hari besar keagamaan,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bogor, Mely Kamelia menjelaskan, sesuai arahan Kementerian Perdagangan, pemantauan harga harus tetap dilakukan selama masa cuti bersama Idul Fitri, yakni pada 18–20 Maret 2026 untuk menjaga stabilitas harga di pasaran.

“Pemkab Bogor melalui Disdagin, akan terus menurunkan petugas ke lapangan guna memastikan harga tetap terkendali serta ketersediaan bahan pokok tetap terjaga,” tandasnya.(*)

Jelang Lebaran 226 Harga Cabai di Bandung Masih Tinggi, Daging Sapi, Minyak dan Beras Masih Sesuai HET

Lingkar.co – Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan kondisi harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok tetap stabil.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan hal itu seusai meninjau sejumlah titik perdagangan.

Pemantauan dilakukan di Pasar Kosambi dan Yogya Sunda, yang menjadi representasi pasar tradisional dan ritel modern di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (17/3/2026).

“Secara umum harga stabil karena suplai juga stabil. Permintaan memang meningkat menjelang Lebaran, tapi masih bisa terpenuhi dengan baik,” ujar Farhan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat, ia mengungkapkan fenomena menarik, yakni lonjakan permintaan produk oleh-oleh seperti makanan ringan. Bahkan, sejumlah pelaku usaha sudah mulai mengirimkan produk ke luar kota.

Meski demikian, Farhan tetap mewaspadai potensi fluktuasi harga pada beberapa komoditas strategis, seperti cabai, telur ayam, dan daging sapi. Namun berdasarkan hasil pemantauan, kondisi saat ini masih terkendali.

“Cabai domba memang paling tinggi, sekitar Rp100.000 per kilogram. Tapi untuk daging sapi, minyak, dan beras masih sesuai HET. Ayam normal, bahkan harga telur turun dari Rp32 ribu menjadi sekitar Rp30–31 ribu per kilogram,” jelasnya.

Dari sisi pasokan, distribusi bahan pokok dinilai berjalan lancar. Peran distributor hingga dukungan Perum Bulog menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan.

Tak hanya itu, aspek keamanan pangan juga dipastikan aman. Produk perikanan dari berbagai daerah seperti Indramayu hingga Jawa Timur tetap terjaga kualitasnya.

“Kota Bandung ini bukan daerah produsen, jadi sangat bergantung pada suplai. Selama pasokan lancar, harga akan tetap stabil. Itu yang terus kita jaga,” katanya.

Sementara itu, daya beli masyarakat disebut tidak mengalami penurunan signifikan. Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dinilai turut menjaga perputaran ekonomi.

“Daya beli stabil, permintaan tinggi, suplai juga cukup. Artinya keseimbangan ekonomi kita terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga mengungkapkan sejumlah agenda Pemkot Bandung menjelang Lebaran, termasuk pelaksanaan Salat Id di Plaza Balai Kota yang akan dilanjutkan dengan silaturahmi bersama masyarakat.

Untuk malam takbiran, Farhan akan melakukan dua kali pemantauan, yakni pada Kamis dan Jumat malam, dengan fokus pada kebersihan lingkungan rumah ibadah serta penguatan sistem keamanan lingkungan (siskamling).

Ia pun mengimbau masyarakat untuk merayakan malam takbiran secara tertib.

“Takbir keliling boleh, tapi harus tertib. Yang tidak boleh itu pawai geng motor. Kita ingin suasana tetap aman dan nyaman,” imbaunya..(*)

Jelang Lebaran 2026, Pemkab Boyolali Waspadai Lonjakan Harga Pasar Tradisional, Cabai Rawit Masih Rp90 Ribu Per Kilogram

Lingkar.co- Bupati Boyolali Agus Irawan beserta jajaran Forkopimda Kabupaten Boyolali dan OPD terkait, kembali melakukan monitoring harga bahan pokok di beberapa pasar, Selasa (10/3/2026) pagi. Salah satunya meninjau di Pasar Ampel.

Saat meninjau, Bupati mengatakan bahwa stok bahan pokok dipastikan aman hingga lebaran nanti. Sedangkan untuk harga, mayoritas bahan pokok masih stabil dan terjangkau masyarakat, hanya komoditas cabai rawit merah dan minyak goreng yang saat ini mengalami kenaikan.

Pihaknya memastikan, akan terus mengawal beberapa bahan pokok agar tidak terjadi penimbunan. Agus juga terus berupaya mengendalikan harga beberapa komoditas yang masih tinggi. Ia membeberkan, kenaikan harga cabai rawit merah dikarenakan oleh faktor cuaca yang menyebabkan beberapa petani gagal panen.

Sedangkan untuk minyak goreng merk ‘Minyak kita’ yang juga mengalami kenaikan dan kelangkaan barang, Bupati Agus akan mengerahkan tim untuk melakukan investigasi terkait penyebab hal tersebut.

“Untuk daya beli masyarakat sudah mulai membaik, semoga nanti di hari H lebaran ataupun setelah H lebaran semuanya bisa berjalan dengan baik, tertib dan juga tentunya kenyamanan warga Kabupaten Boyolali bisa terjamin semuanya.” kata Agus.

Senada, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Boyolali Purnawan Raharjo mengungkapkan, sebagian besar bahan pokok terpantau aman dan stabil di seluruh pasar. Hanya cabai rawit merah dan minyak goreng yang mengalami kenaikan signifikan.

Di pasar Ampel, beras medium berkisar diharga Rp 15 ribu per kilo dan beras premium Rp16 ribu per kilo. Untuk harga telur ayam, sedikit mengalami kenaikan hingga Rp29 ribu per kilo. Gula pasir DN (KW medium) berada diharga Rp17.500 per kilo dan gula pasir LN Rp20 ribu per kilo.

Harga cabai rawit merah masih tinggi mencapai Rp 90 ribu per kilo, namun harga ini sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan harga cabai rawit merah di pasar lain yang masih bertahan diharga Rp 95 ribu per kilo.

Sedangkan minyak goreng merk ‘Minyak Kita’ di pasar Ampel naik drastis menyentuh harga Rp 20 ribu per liter, padahal harga di pasar lain hanya Rp17-18 ribu per liter. Kemudian untuk minyak goreng curah lebih tinggi lagi diharga Rp22 ribu per liter.

“Nanti kita koordinasikan bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan, untuk koordinasi dengan BULOG terkait dengan minyak.” ujar Purnawan. (*)

Pantau Inflasi Jelang Ramadan, Pemprov Jateng Jamin Harga Pangan Terkendali Meski Cuaca Ekstrem

Lingkar.co – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan upaya pengendalian harga dan ketersediaan pangan terus diperkuat menjelang bulan suci Ramadan 2026/1447 H.

“Masalah inflasi selalu kami pantau. Kalau ada gejolak, tentu kami ambil langkah untuk mengendalikan harga di Jawa Tengah,”kata Sekda Jateng Sumarno, usai mewakili gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, menjadi Narasumber dalam Acara Mutiara Ramadhan TVRI Jawa Tengah, di Studio I TVRI Jawa Tengah, Jl. Pucang Gading Raya, Batursari, Mranggen, Kabupaten Demak, Selasa (20/1/2026).

Sekda menegaskan, antisipasi inflasi tidak hanya dilakukan musiman, tetapi menjadi agenda rutin sepanjang tahun.

Menurutnya, Ramadan memang memiliki karakter berbeda dibanding bulan lainnya karena aktivitas ekonomi masyarakat meningkat selama sebulan penuh. Karena itu, koordinasi lintas daerah sudah dilakukan sejak awal.

Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga yang selama ini berjalan di pasar-pasar tradisional.

“Pemantauan harga kami lakukan setiap hari. Kalau ada gejolak, segera kami tindaklanjuti. Kenaikan harga itu mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya, tapi harus tetap terkendali,” katanya.

Hingga saat ini, kondisi harga bahan pokok di Jawa Tengah disebut masih stabil. Pemerintah daerah juga menjaga ketersediaan pasokan dengan menggandeng Bulog, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan.

“Untuk sekarang harga masih terkendali dengan baik. Ketersediaan juga kami jaga bersama Bulog, antisipasi kecukupan selama Ramadan sudah kami siapkan,” jelas Sekda.

Terkait cuaca ekstrem yang memicu gagal panen di sejumlah daerah seperti Pati, Jepara, dan Kudus, Sekda menyatakan dampaknya terhadap ketersediaan pangan masih relatif terbatas. Pemerintah telah melakukan pendataan lahan terdampak puso serta menyiapkan langkah perlindungan bagi petani.

“Kami sudah identifikasi dampak bencana dan menyiapkan asuransi untuk petani. Dampaknya terhadap stok pangan belum besar karena hanya di beberapa lokasi,” pungkasnya.(*)

Pemkab Batang Pastikan Harga Daging Sapi Tetap Wajar, Ayam Potong dan Telur Turun

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Batang melalui Kepala Bidang Perdagangan, Disperindagkop dan UKM Batang, Ekhwan memastikan harga komoditas daging sapi di Pasar Batang dan Bandar masih dalam kondisi wajar, yakni Rp125 ribu per kilogram.

Ia memastikan hal itu karena telah menghubungi langsung sejumlah pedagang daging sapi skala besar di kedua pasar tersebut, dan dipastikan tidak terjadi kenaikan harga.

“Tadi sudah menghubungi pedagang daging di Pasar Batang sama Bandar, ternyata harganya masih stabil, belum ada tanda-tanda kenaikan, konsumen masih bisa beli seharga Rp120 ribu hingga Rp125 ribu per kilogram,” katanya dalam siaran persnya, Jumat (9/1/2026).

Dari hasil pantauan justru yang mengalami naik turun adalah jenis komoditas telur dan ayam potong, yakni Rp28 ribu dan Rp38 ribu per kilogram. Sekarang harga telur ayam dan ayam potong malah menunjukkan penurunan secara signifikan sebesar Rp2 ribu.

Terpisah, Kepala Bidang Peternakan, Dispaperta Batang Muhammad Arif Ediyanto menegaskan, harga sapi hidup sampai saat ini belum menunjukkan kenaikan di pasaran. Terlebih saat ini masih dalam suasana awal tahun, yang dirasa harga sapi hidup masih dalam kategori normal.

“Jika melihat harga daging di pasar antara Rp120 ribu hingga Rp125 ribu, harga untuk sapi hidup berkisar Rp12 juta per ekornya. Jadi dipastikan tidak ada kenaikan harga sapi hidup di Batang saat ini,” jelasnya.

Untuk stok dipastikan aman karena Jawa Tengah merupakan salah satu sentra sapi, tentu para distributor akan mencukupi kebutuhan lokal terlebih dahulu.

“Setelah daerah terpenuhi, jika ada sisa sapi baru bisa didistribusikan ke luar daerah,” ujarr dia.

Perlu diketahui bagi masyarakat untuk harga sapi hidup, khususnya saat Iduladha kecenderungan harga akan mengalami kenaikan mulai Rp17 juta per ekornya.

“Harga itu pun tergantung dari peternak langsung dengan melihat kualitas dan bobotnya,” tandasnya. (*)

Permintaan Dapur MBG Meningkat, Harga Daging Ayam Naik

Lingkar.co – Selama lebih dari dua bulan terakhir, harga daging ayam potong maupun ayam sayur di pasar tradisional Kabupaten Kendal Jawa Tengah terus mengalami kenaikan.

Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya pasokan dari supplier, seiring sebagian besar stok ayam dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pedagang daging ayam di Pasar Kendal, Kuati, mengatakan meningkatnya permintaan dari dapur MBG membuat pasokan ayam ke pasar tradisional menjadi terbatas. Dampaknya, harga jual di tingkat pedagang terpaksa mengalami kenaikan.

“Permintaan dari dapur MBG sangat besar, sehingga pasokan ke pasar dibatasi. Akhirnya harga di pasar ikut naik,” ujar Kuati, pedagang daging ayam di Pasar Kendal. Jumat (9/1/2026)

Tidak hanya daging ayam, sejumlah komoditas pangan lain seperti telur dan sayur-mayur juga mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan. Kondisi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Selain harga yang terus meningkat, para pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan. Tingginya harga membuat jumlah pembeli berkurang, sehingga omzet pedagang ikut terdampak.

Saat ini, harga daging ayam kampung di Pasar Kendal mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp70.000 per kilogram. Sementara ayam sayur naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Sedangkan harga ayam merah naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.

Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga pangan di pasaran. Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tetap dapat berjalan tanpa memberatkan pedagang maupun masyarakat.

Penulis: Yoedhi W

Bulog Pastikan Ketersediaan Pangan Jawa Tengah Aman Hingga Juni 2026

Lingkar.co – Badan Urusan Logistik (Bulog) Jawa Tengah memastikan bahwa ketersediaan pangan di wilayahnya aman hingga Juni 2026.

Berdasarkan data dari Bulog, stok beras di Jawa Tengah mencapai 339.094 ton. Jumlah itu mencukupi hingga Juni 2026 mendatang. Sementara, realisasi pengadaan setara beras sepanjang 2025 tercatat sebesar 397.905 ton atau 100,3 persen dari target yang ditetapkan.

“Menghadapi Natal dan Tahun Baru serta akhir tahun, kami menyatakan stok beras pemerintah sangat memadai, sangat kuat. Masyarakat tidak perlu cemas atau panik karena ketersediaan sangat cukup dan harganya relatif stabil,” kata Pimpinan Wilayah Perum BULOG Kanwil Jawa Tengah–DIY, Sri Muniati disela audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi di Semarang pada Rabu (24/12/2025).

Pihaknya telah menyiagakan gudang-gudang induk di seluruh Jawa Tengah, serta meminta mitra pengecer memastikan kesiapan stok di wilayah masing-masing.

“Selain beras, kami juga memiliki stok minyak goreng, gula, dan komoditas lainnya. Selama libur panjang, gudang-gudang induk kami siagakan untuk melayani kebutuhan masyarakat,” katanya.

Sri Muniati mengakui penyerapan hasil panen tidak dapat dilakukan Bulog sendiri, namun membutuhkan dukungan lintas sektor.

“Kami berharap koordinasi antara Bulog, dinas-dinas di Provinsi Jawa Tengah, serta dukungan aparat seperti TNI dan Polri bisa memperkuat penyerapan, sehingga produksi dan panen di Jawa Tengah dapat diserap secara maksimal oleh Jawa Tengah sendiri,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari menambahkan, pihaknya tengah menyiapkan regulasi berupa Peraturan Gubernur untuk memperkuat kapasitas internal daerah.

“Ini bukan dengan cara melarang pengiriman keluar Jawa Tengah, tetapi dengan memperkuat kapasitas di dalam Jawa Tengah sendiri,” kata Dyah.

Ia menjelaskan, penguatan dilakukan tidak hanya melalui Bulog, tetapi juga dengan melibatkan BUMD provinsi, BUMD kabupaten, serta penggilingan-penggilingan kecil.

“Kami merencanakan program subsidi bunga pinjaman bagi penggilingan kecil agar mereka memiliki modal yang lebih kuat. Program ini kami siapkan untuk 2026,” ujarnya.

Selain meningkatkan serapan, pemerintah daerah juga menyiapkan jalur distribusi agar hasil panen yang diserap dapat dimanfaatkan kembali di dalam daerah.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menandaskan, Perum Bulog perlu memperkuat serapan hasil panen petani lokal agar stabilitas pangan di wilayahnya terjaga.

Ia menekankan kecukupan stok harus dibarengi dengan kebijakan yang berpihak pada petani, terutama dalam momentum panen.

“Kami tidak ingin saat petani panen, intervensi dari provinsi lain masuk ke wilayah kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterbatasan gudang dan sarana penyimpanan semestinya dapat diantisipasi melalui komunikasi dan koordinasi yang lebih baik.

“Kalau kurang gudang bisa dikomunikasikan, supaya tidak lari ke mana-mana,” kata dia. (*)