Arsip Tag: Program MBG

Buntut Dugaan Keracunan MBG di Pilangwetan, BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG

Lingkar.co – Badan Gizi Nasional (BGN) untuk sementara waktu menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Khidmatul Ummah Madani di Desa Pilangwetan, Kebonagung, Demak, Jawa Tengah.

Penghentian itu menyusul insiden santri dan warga di Kecamatan Kebonagung yang diduga mengalami keracunan seusai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Minggu (19/4/2026).Peristiwa itu terjadi sehari setelah dapur mendistribusikan makanan kepada para penerima manfaat.

Pelaksana Harian (Plh) Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Kuntoro, mengungkapkan, Kepolisian telah mengambil langkah cepat menyusul adanya laporan dari masyarakat mengenai gangguan kesehatan yang di derita pasca mengonsumsi makanan dari dapur SPPG.

“Kami dari Kepolisian langsung turun ke lokasi sebagai bentuk respons cepat atas aduan masyarakat terkait adanya sejumlah warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari dapur SPPG di Desa Pilangwetan,” kata Kuntoro saat konferensi pers di ruang gelar perkara Satreskrim Polres Demak, Selasa (21/4/2026).

“Kami juga telah mengambil langkah awal dengan menjaga status quo guna memudahkan proses penyelidikan yang sedang kami lakukan,” sambungnya.

Lebih jauh ia menerangkan, pihaknya telah mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak termasuk dari penerima manfaat.Dari hasil keterangan sementara, kata dia, proses pengolahan makanan dinilai telah sesuai prosedur. Selain itu, tidak ditemukan indikasi mencurigakan dari segi aroma maupun kondisi makanan saat dikonsumsi.

Hal tersebut juga diterangkan oleh penerima manfaat, dalam hal ini pihak sekolah. Meski demikian, Kuntoro menyebut pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian tersebut.

“Pihak kepolisian masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Sementara, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Demak, Ali Muzani, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut.

“Kami sangat prihatin atas kejadian ini dan menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kebonagung. Kami akan berupaya maksimal menangani ini secara transparan dan tuntas,” katanya.

Ia melanjutkan, hingga kini pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian lantaran semua dari hasil uji coba atau pencicipan makanan, menunjukkan kondisi layak konsumsi, sebelum didistribusikan kepada seluruh penerima manfaat.

Ali Muzani menyebut, Badan BGN telah menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani sejak Senin, 20 April 2026. Ia bilang, operasional akan dibuka kembali setelah dilakukan evaluasi menyeluruh dan dinyatakan memenuhi persyaratan.

BGN, lanjutnya, juga bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan korban, baik di rumah sakit, puskesmas, maupun perawatan mandiri.Selain itu, BGN memberikan pendampingan trauma healing kepada para korban agar tidak mengalami ketakutan dalam mengonsumsi makanan dari program MBG. Dari sisi teknis, proses pengolahan makanan disebut telah mengikuti standar operasional prosedur.

Bahan baku diterima pada Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, kemudian disortir sebelum masuk tahap penyiapan.Proses memasak dilakukan pada dini hari, sekitar pukul 01.00 hingga 05.00 WIB, dengan menu nasi goreng, susu, telur, acar, dan jeruk. Setelah itu, pendistribusian makanan kepada para penerima manfaat mulai dilakukan pukul 06.00 WIB.

“Kami mengimbau seluruh penyelenggara SPPG agar lebih berhati-hati dan meningkatkan pengawasan dalam setiap tahapan pengolahan makanan, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya. (*)

Kasus Dugaan Keracunan MBG di Pesantren Demak Jadi Perhatian Serius Pemprov Jateng

Lingkar.co – Dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Demak menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menilai persoalan utama bukan semata pada menu, melainkan ketepatan distribusi dan waktu konsumsi makanan.

Ia mengaku prihatin atas insiden yang menimpa ratusan penerima manfaat tersebut. Menurutnya, indikasi keracunan sering kali berkaitan dengan pengelolaan waktu distribusi yang kurang tepat.

“Biasanya yang keracunan itu karena pengaturan jadwalnya kurang tepat. Makanan ini ada masa konsumsinya, jadi harus diantarkan tepat waktu dan langsung dikonsumsi,” ujar Taj Yasin yang juga sebagai Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan Pelaksanaan Program MBG Jateng, Selasa (21/4/2026).

Ia menekankan pentingnya edukasi kepada para penerima manfaat. Khususnya anak-anak dan santri, agar tidak menunda konsumsi makanan. Menurutnya makanan yang seharusnya dikonsumsi dalam rentang waktu tertentu berisiko jika disimpan terlalu lama.

Selain itu, pihak sekolah maupun pesantren diminta turut berperan aktif dalam membimbing siswa atau santri agar langsung mengonsumsi makanan yang telah disediakan negara.

“Jangan sampai makanan disimpan dulu, lalu dimakan di kemudian hari,” tegasnya.

Lebih jauh, Taj Yasin memastikan pemerintah tidak akan ragu memberikan sanksi terhadap penyedia layanan MBG yang lalai. Sanksi tersebut berjenjang, mulai dari pembinaan hingga pencabutan izin operasional dapur.

“Sudah ada kasus penutupan dapur di Jawa Tengah. Ini menjadi peringatan keras. Dari pemerintah pusat juga sudah memberikan warning, ada tahapan sanksi bahkan sampai pencabutan izin,” ungkapnya.

Sebelumnya, ratusan santri dari empat pesantren di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan pada Sabtu (18/4/2026) kemarin. Gejala mulai muncul pada Minggu pagi, dengan keluhan sakit perut, pusing, mual, hingga muntah.

Tak hanya santri, kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3) juga terdampak. Total korban diperkirakan mencapai 187 orang.

Hingga Senin, sebanyak 68 orang menjalani perawatan inap, sementara 66 lainnya menjalani rawat jalan dengan pemantauan intensif. Di antara korban terdapat dua balita, tiga ibu bersama anaknya, serta satu ibu menyusui.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Khidmatul Ummah Madani telah dihentikan sementara operasionalnya dan dipasang garis polisi.

Dinas Kesehatan Kabupaten Demak juga tengah melakukan uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti, sekaligus mengevaluasi menyeluruh sarana produksi pangan, termasuk aspek higiene, lingkungan, hingga kapasitas sumber daya manusia.

“Sampel yang kami kirimkan ke laboratorium tidak hanya makanan yang disajikan oleh SPPG, termasuk muntahan siswa yang diduga keracunan juga kami uji di laboratorium,” kata Kepala Dinas Kesehatan Daerah Demak Ali Maimun di Demak.

Ia memperkirakan hasil uji laboratorium keluar dalam tempo tiga hingga empat hari mendatang, setelah sampel tersebut dikirim pada Minggu (19/4/2026), setelah muncul keluhan yang diduga akibat keracunan makanan, seperti mual dan muntah.

Pemerintah berharap evaluasi ini menjadi momentum perbaikan sistem distribusi MBG agar kejadian serupa tidak terulang.(*)

Disorot Publik, BGN Jelaskan Penggunaan Dana EO Ratusan Miliar

Lingkar.co – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, angkat bicara terkait sorotan publik atas penggunaan anggaran sekitar Rp113 miliar untuk jasa Event Organizer (EO). Ia menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun sistem kerja yang profesional dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (13/4/2026), Dadan menjelaskan bahwa sebagai lembaga yang baru dibentuk, BGN masih berada dalam tahap awal pengembangan, baik dari sisi sistem, struktur organisasi, maupun tata kelola operasional.

“Sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional tentu berada dalam fase awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional. Dalam tahap ini BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri,” ujarnya.

Ia menyebutkan, penggunaan jasa EO menjadi solusi strategis untuk memastikan berbagai kegiatan berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu. Menurutnya, EO memiliki keahlian khusus dalam manajemen acara, mulai dari perencanaan hingga mitigasi risiko di lapangan.

“Penggunaan jasa EO dalam konteks ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu,” kata Dadan.

Selain aspek teknis, keterlibatan pihak ketiga juga dinilai membantu meningkatkan tata kelola administrasi dan keuangan. Dengan sistem yang lebih terpusat, proses pengadaan, pembayaran, hingga pelaporan kegiatan dinilai lebih tertib dan mudah diawasi.

“Hal ini justru memudahkan proses audit, pengawasan, dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara, karena seluruh komponen kegiatan terdokumentasi secara sistematis,” lanjutnya.

Dadan menegaskan, kegiatan yang ditangani EO tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mencakup kampanye publik, sosialisasi gizi, serta bimbingan teknis bagi penjamah makanan guna meningkatkan standar keamanan pangan.

“Oleh karena itu, kualitas penyelenggaraan menjadi krusial. EO berperan dalam memastikan pesan yang ingin disampaikan pemerintah dapat dikemas secara efektif, menarik, dan berdampak luas,” jelasnya.

Dari sisi efisiensi, ia menilai penggunaan EO lebih rasional dibandingkan membangun tim internal dalam waktu singkat. Pasalnya, pembentukan kapasitas internal membutuhkan waktu, biaya, dan proses yang tidak instan, sementara program harus segera dijalankan.

“EO hadir sebagai solusi yang menjembatani agar program tetap dapat dieksekusi tanpa mengorbankan kualitas dan waktu,” ucapnya.

Meski demikian, BGN menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas. Seluruh penggunaan anggaran, termasuk untuk jasa EO, disebut telah mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan dan terbuka untuk diawasi oleh lembaga terkait.

“Setiap pengeluaran dilakukan melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta terbuka untuk diawasi oleh lembaga pengawas internal maupun eksternal,” kata Dadan. (*)

Kota Malang Uji Coba Pertama Program MBG Sistem Prasmanan di MIN 2

Lingkar.co – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan untuk pertama kalinya dilaksanakan di Kota Malang, tepatnya dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) 2 Kota Malang, Jawa Timur.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, berkesempatan meninjau langsung uji coba MBG prasmanan tersebut.

Selain meninjau, ia juga ikut membaur makan bersama para siswa serta berdialog langsung, khususnya dengan para siswa kelas VI.

Berdasarkan hasil pengamatan dan dialog dengan para siswa, Wahyu menilai bahwa metode prasmanan seperti ini lebih disukai oleh para siswa dibandingkan dengan sistem sebelumnya.

Para siswa pun tampak antusias dalam mengambil makanan dan makan bersama.

“Anak-anak lebih suka metode prasmanan ini karena makanan disajikan dalam kondisi lebih hangat, porsi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” ungkapnya, Senin (6/4/2026)

Dari sisi kualitas makanan, Wahyu menilai MBG prasmanan sudah memenuhi standar gizi yang baik. Menu yang disajikan mencakup protein, karbohidrat, vitamin melalui buah-buahan, hingga minuman, sehingga dinilai cukup lengkap.

Selain itu, sistem prasmanan juga dinilai lebih baik dalam menjaga kualitas, termasuk suhu, makanan tetap hangat dibandingkan metode distribusi menggunakan ompreng yang dikemas dari dapur SPPG.

Meski demikian, Wahyu menyoroti tantangan dalam hal efektivitas waktu. Sistem antre dalam prasmanan dinilai berpotensi menyita waktu belajar siswa.

“Antre butuh waktu, makan juga ada waktu, berarti ada jam pelajaran yang tersita. Ini yang harus diatur kembali,” jelasnya

Lebih lanjut, Wahyu menuturkan bahwa hasil uji coba ini akan dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk dievaluasi lebih lanjut. Pemerintah Kota Malang akan berkoordinasi dengan pihak terkait guna menentukan kebijakan lanjutan, termasuk kemungkinan penerapan lebih luas.

Terkait kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang lebih besar dalam sistem prasmanan, disebutkannya hal tersebut masih dalam tahap evaluasi.

“Ini masih uji coba, nanti kami koordinasikan dengan BGN untuk melihat kelebihan dan kekurangannya,” imbuhnya.

Menanggapi isu yang sempat muncul terkait pelaksanaan MBG saat Bulan Ramadan, Wahyu memastikan bahwa kondisi di Kota Malang tetap aman.

Ia pun menyebut pihaknya telah melakukan supervisi dan evaluasi secara berkala, termasuk berkoordinasi dengan Direktur Pemantauan dan Pengawasan BGN.

“Secara umum di Kota Malang aman. Saat Ramadan kemarin memang makanan kering yang dibawa ke rumah. Tentu ada hal-hal yang dipertimbangkan dan sekarang sudah normal kembali dan dievaluasi, alhamdulillah Kota Malang relatif aman,” pungkasnya. (*)

Awasi Ketat Program MBG, Suyono Ancam SPPG yang Tidak Disiplin

Lingkar.co – Wakil Bupati Batang Suyono sebagai Ketua Pengawas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan pengawasan ketat pelaksanaan program Presiden Prabowo Subianto tersebut,

Dirinya tak menampik bahwa pihaknya kerap menerima ‘curhatan’ hingga kritik pedas dari masyarakat, terutama orang tua siswa yang mengunggah potret menu makanan yang dianggap tidak sesuai harapan.

Bagi Suyono, unggahan-unggahan di media sosial tersebut bukanlah sekadar angin lalu. Dalam pertemuan terbaru bersama para mitra penyedia, ia secara blak-blakan menampilkan potret menu yang dikeluhkan tersebut sebagai bahan evaluasi.

Suyono menekankan bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah harga mati. Ia mengingatkan para mitra agar tidak main-main dengan nilai gizi yang sudah ditetapkan.

“Sudah ada keuntungan, jangan mengurangi nilai. Yang Rp8 ribu ya Rp8 ribu. Jika SOP tidak dijalankan dengan disiplin, niat mulia pemerintah bisa tercoreng di mata publik,” katanya saat Rakor Yayasan dan Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).

Ia ingin agar pemberian makanan bergizi ini menjadi budaya kerja yang jujur, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

“Kadang-kadang memenuhi, kadang-kadang enggak. Maka saya tekankan tadi itu harus sesuai SOP menjadi budaya, sehingga tidak merugikan penerima manfaat, bahkan tidak menjadi kritikan. Karena kalau kritik terus-menerus, kebijakan ini seakan-akan menjadi kebijakan yang tidak mulia,” tegasnya.

Ancaman Penutupan SPPG

Pengawasan ini tidak hanya berhenti pada teguran lisan. Suyono menyatakan pihaknya memiliki wewenang untuk mengambil tindakan tegas jika ada penyedia atau SPPG yang membandel.

Menurutnya, kualitas makanan sangat menentukan masa depan generasi penerus di Batang. Jika diingatkan berkali-kali namun tetap melanggar, ia tidak segan untuk menghentikan kerjasama.

“Jika tidak sesuai dan terus-menerus diingatkan tidak mau, MBG itu bisa kita tutup, kita rekomendasikan untuk ditutup,” jelasnya.

Sanksi yang disiapkan mulai dari teguran lisan, tertulis, hingga yang paling berat adalah pemberhentian operasional SPPG tersebut.

Meski semangat program ini sangat besar, Suyono mengakui distribusi MBG di Batang belum sepenuhnya merata. Saat ini baru tersedia sekitar 61 unit dari total 110 kebutuhan yang ada di seluruh kabupaten.

“Daerah-daerah yang masuk kategori Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T) atau wilayah terpencil masih menjadi tantangan utama yang belum tersentuh sepenuhnya. Di antaranya daerah 3T yang terpencil itu belum. Kalau daerah Kecamatan Bawang kan ya sudah ada, tapi belum semua, belum rata istilahnya,” ujar dia.

Di akhir pesannya, ia kembali mengingatkan bahwa belanja bahan baku harus mengutamakan produk lokal (kecuali susu) guna menggerakkan ekonomi warga sekitar.

Ia berharap, para mitra sadar bahwa di setiap piring makanan yang mereka sajikan, terdapat harapan besar bagi kualitas SDM Indonesia di masa depan. (*)

Pengamat Nilai Program MBG Relevan di Tengah Ekonomi Global Tak Pasti

Lingkar.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tetap relevan dan dibutuhkan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang. Program tersebut dipandang sebagai bentuk intervensi sosial mendasar yang berperan besar dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan.

Direktur Eksekutif lembaga riset Kiprah, Fakhrido Susilo, menyebut MBG kerap menuai pro dan kontra di ruang publik. Di satu sisi, kebijakan ini dianggap sebagai bukti kehadiran negara dalam menjamin pemenuhan gizi masyarakat. Namun di sisi lain, tidak sedikit pihak yang menilai MBG sebagai pemborosan anggaran di tengah situasi ekonomi yang belum stabil.

Menurut Fakhrido, dinamika ekonomi global sejatinya tidak hanya dialami Indonesia. Negara-negara lain seperti India, Brasil, hingga Amerika Serikat juga menghadapi tekanan serupa, namun tetap mempertahankan program jaring pengaman sosial di sektor pangan dan pendidikan.

“Banyak instrumen kebijakan yang bisa ditempuh pemerintah untuk merespons gejolak ekonomi, tanpa harus mengorbankan program makan bergizi gratis,” ujar Fakhrido dalam keterangannya, belum lama ini.

Ia menambahkan, realitas sosial di Indonesia menunjukkan banyak orang tua yang harus bekerja sejak pagi hingga malam hari, bahkan menjalani lebih dari satu pekerjaan. Kondisi tersebut membuat perhatian terhadap pemenuhan gizi anak kerap terabaikan.

“Dengan adanya MBG, beban orang tua menjadi lebih ringan. Anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi berkualitas tanpa harus mengorbankan produktivitas kerja orang tua,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik President University itu.

Fakhrido menegaskan bahwa program MBG bukan semata-mata soal membuat anak kenyang, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk kapasitas berpikir dan kualitas intelektual generasi muda.

Ia menilai upaya peningkatan kualitas pendidikan di jenjang tinggi tidak akan efektif jika fondasi gizi pada usia dini lemah. Tanpa nutrisi yang memadai, skor PISA Indonesia sulit bersaing secara global, dan visi Indonesia Emas 2045 berisiko hanya menjadi slogan.

Meski demikian, Fakhrido mengingatkan pentingnya peningkatan efisiensi anggaran dalam pelaksanaan MBG. Pemerintah dinilai perlu melakukan studi komparatif dan perbaikan tata kelola agar biaya dapat ditekan tanpa menurunkan mutu gizi.

Ia juga mendorong keterlibatan lembaga riset independen untuk melakukan evaluasi dampak secara menyeluruh. Mulai dari pengaruh MBG terhadap tingkat kehadiran siswa, peningkatan kecerdasan anak, hingga dampaknya bagi UMKM dan koperasi lokal.

“Studi yang ada saat ini masih sangat terbatas. Padahal data dan riset kuat sangat dibutuhkan agar kebijakan ini tidak terus diperdebatkan,” katanya.

Menurutnya, tanpa dukungan riset yang memadai, MBG akan selalu dibayangi kontroversi. Namun jika dipandang sebagai investasi pembangunan manusia, program ini merupakan langkah progresif yang perlu dikawal bersama.

Sementara itu, pakar kesehatan dr Rita Ramayulis, DCN, M.Kes menilai MBG menjadi jawaban konkret atas makin terbatasnya akses anak-anak terhadap makanan bergizi.

Ia menilai, jika dikelola dengan optimal, MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian melalui pemanfaatan pangan lokal.

“Program ini pada dasarnya mendekatkan anak pada makanan bergizi. Kuncinya ada pada variasi menu agar tidak terpaku pada pilihan yang itu-itu saja,” ujarnya.

Menurut Rita, pemanfaatan bahan pangan lokal dapat menjadi strategi penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga, mendorong ekonomi masyarakat bawah, sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran yang selama ini menjadi sorotan publik.

“Kalau pangan lokal dimaksimalkan, variasi konsumsi anak meningkat, lapangan kerja terbuka, dan pendapatan masyarakat ikut terdongkrak. Efek ekonominya sangat nyata,” pungkasnya.

Penulis: Putri Septina

BGN Tegaskan Tidak Boleh Ada Pemaksaan Sekolah Terima Program MBG

Lingkar.co – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa tidak boleh ada pemaksaan terhadap sekolah dalam menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia meminta seluruh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beserta jajarannya untuk menghormati keputusan sekolah yang memilih tidak ikut dalam program tersebut.

“Para Kepala SPPG tidak boleh memaksa. Kalau ada sekolah yang tidak mau menerima MBG, karena misalnya para siswa sekolah itu anak-anak orang yang mampu, ya nggak apa-apa,” tegas Nanik dalam keterangannya di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (25/1/2026).

Nanik menjelaskan bahwa niat pemerintah melalui program MBG adalah memberikan akses makanan bergizi kepada seluruh anak Indonesia, guna memastikan tidak ada anak yang mengalami kekurangan gizi. Namun demikian, pelaksanaannya tetap harus mengedepankan prinsip sukarela.

Sebelumnya, Nanik mengaku menerima laporan dari sejumlah Kepala SPPG di Banyuwangi terkait adanya sekolah yang menolak penyaluran program MBG. Laporan itu disampaikan dalam pertemuan Koordinasi dan Evaluasi bersama Forkopimda, Kasatpel, yayasan, mitra, serta seluruh Kepala SPPG di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (24/1/2026).

Menanggapi hal tersebut, Nanik kembali menegaskan kepada seluruh jajaran SPPG bahwa tidak boleh ada unsur pemaksaan dalam pelaksanaan program.

“Nanik mengingatkan kepada seluruh Kepala SPPG bahwa penerimaan MBG sifatnya sukarela. Tidak boleh ada sedikitpun pemaksaan atau intimidasi,” ujarnya.

Ia juga memastikan bahwa Badan Gizi Nasional berkomitmen menjalankan program MBG secara humanis dan menghormati pilihan masing-masing sekolah.

“Pokoknya, Kepala SPPG kami dari BGN tidak ada unsur pemaksaan sedikitpun,” tandasnya.

Penulis: Putri Septina
Editor: Miftah

Distribusi MBG perdana dari SPPG Polres Kendal,di SMP N 1 Brangsong,

Lingkar.co – Kapolres Kendal AKBP Hendanto Sianipar meninjau langsung proses produksi dan pengantaran Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Brangsong, Kabupaten Kendal, Jumat (9/01/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan aman, higienis, dan tepat sasaran.

Pengecekan dilakukan di Gedung SPPG Desa Brangsong, Kecamatan Brangsong, mulai pukul 07.30 WIB. Kapolres Kendal hadir bersama Ketua Cabang Bhayangkari Polres Kendal Ny. Dona Hendry, Plt. Kapolsek Brangsong AKP Nugroho Agung P, Kepala SPPG Brangsong Puji Dwi Pria Utomo, Ka Dokes Polres Kendal Ipda Bayu, serta Kepala SMP Negeri 1 Brangsong.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolres Kendal memantau langsung tahapan produksi awal MBG yang pada hari itu berjumlah 979 porsi. Makanan tersebut didistribusikan ke sejumlah sekolah, mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, hingga SMP di wilayah Desa Brangsong dan Desa Kebondalem.

Sekitar pukul 08.35 WIB, rombongan Kapolres melanjutkan peninjauan ke lokasi pembagian MBG di SMP Negeri 1 Brangsong. Di lokasi ini, Kapolres memastikan proses pendistribusian berjalan tertib dan sesuai prosedur.

Kapolres Kendal AKBP Hendry Susanto Sianipar mengatakan, pengecekan ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan agar program berjalan sesuai standar keamanan pangan dan tidak menimbulkan gangguan kamtibmas.

“Kami ingin memastikan bahwa proses produksi hingga pendistribusian MBG ini berjalan dengan baik, aman, dan higienis. Kehadiran Polri di sini juga untuk memberikan rasa aman serta memastikan anak-anak menerima makanan yang layak dan bergizi,” ujar Hendry.

Ia juga menambahkan bahwa Polres Kendal siap mendukung program-program pemerintah yang berkaitan dengan pemenuhan gizi anak dan kesejahteraan masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Kepolisian juga melakukan pengamanan terbuka untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar hingga selesai. (*)

Penulis: Yoedhi W

Permintaan Dapur MBG Meningkat, Harga Daging Ayam Naik

Lingkar.co – Selama lebih dari dua bulan terakhir, harga daging ayam potong maupun ayam sayur di pasar tradisional Kabupaten Kendal Jawa Tengah terus mengalami kenaikan.

Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya pasokan dari supplier, seiring sebagian besar stok ayam dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pedagang daging ayam di Pasar Kendal, Kuati, mengatakan meningkatnya permintaan dari dapur MBG membuat pasokan ayam ke pasar tradisional menjadi terbatas. Dampaknya, harga jual di tingkat pedagang terpaksa mengalami kenaikan.

“Permintaan dari dapur MBG sangat besar, sehingga pasokan ke pasar dibatasi. Akhirnya harga di pasar ikut naik,” ujar Kuati, pedagang daging ayam di Pasar Kendal. Jumat (9/1/2026)

Tidak hanya daging ayam, sejumlah komoditas pangan lain seperti telur dan sayur-mayur juga mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan. Kondisi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Selain harga yang terus meningkat, para pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan. Tingginya harga membuat jumlah pembeli berkurang, sehingga omzet pedagang ikut terdampak.

Saat ini, harga daging ayam kampung di Pasar Kendal mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp70.000 per kilogram. Sementara ayam sayur naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Sedangkan harga ayam merah naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.

Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga pangan di pasaran. Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tetap dapat berjalan tanpa memberatkan pedagang maupun masyarakat.

Penulis: Yoedhi W

Siap Beroperasi, SPPG Gowong Bakal Layani 3.000 Penerima Manfaat Area Pegunungan

Lingkar.co – Upaya memperkuat layanan pemenuhan gizi di wilayah pegunungan terus dilakukan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah resmi beroperasi dan siap melayani ribuan penerima manfaat, Minggu (4/1/2026).

Berlokasi di Dusun Gondangsari, Desa Gowong, dapur SPPG diresmikan melalui pemotongan pita oleh Danramil Bruno, Kapten Inf Setyo Herdianto. Peresmian ini sekaligus menandai dimulainya operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan dengan akses geografis menantang.

Ketua Yayasan Bina Generasi Anak Desa, Muchsinun, mengatakan SPPG Gowong hadir untuk menjawab kebutuhan pemenuhan gizi anak-anak sekolah di wilayah pegunungan. Sedikitnya 3.000 penerima manfaat dari 26 sekolah akan dilayani oleh dapur ini.

“SPPG Gowong kami desain agar menyatu dengan masyarakat. Tenaga kerja mayoritas warga lokal, kualitas makanan dijaga sesuai standar gizi, dan distribusi disesuaikan dengan kondisi wilayah,” ujarnya.

Sebanyak 50 warga sekitar direkrut sebagai tenaga dapur, ditambah dua petugas dari yayasan. Untuk menjangkau sekolah-sekolah dengan akses sulit, khususnya di wilayah Plipliran atas, distribusi makanan disiapkan menggunakan sepeda motor dengan gerobak khusus.

Tak hanya dari sisi layanan, SPPG Gowong juga menjadi perhatian karena aspek legalitas dan standarnya. Dapur ini tercatat sebagai satu-satunya SPPG di Purworejo yang tengah mengurus dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) secara lengkap dan dijadikan pilot project dapur MBG.

“Sertifikat halal sudah ada, koki bersertifikat standar, lahan milik pribadi seluas 1.500 meter persegi, dengan bangunan dapur 20×20 meter sesuai layout ketentuan,” jelas Muchsinun.

Yayasan Bina Generasi Anak Desa juga mengantisipasi risiko kebencanaan mengingat Bruno merupakan wilayah rawan longsor. Koordinasi dengan BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup telah dilakukan, termasuk rekomendasi pembangunan bronjong pengaman.

SPPG Gowong dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada 8 Januari 2026. Ke depan, yayasan menargetkan pengembangan SPPG di Loano dan Butuh, dengan total penerima manfaat di wilayah Bruno diperkirakan mencapai 9.500 orang.

“Ini bagian dari ikhtiar mencetak generasi anak desa yang sehat dan berkualitas, sekaligus mendukung program nasional,” pungkasnya.(*)

Penulis: Lukman Khakim