Arsip Tag: Bahan Pokok

Inflasi Kota Semarang Maret 2026 Terkendali di Tengah Tekanan Idul Fitri

Lingkar.co – Tekanan musiman akibat lonjakan permintaan jelang dan saat Idul Fitri 2026 tidak lantas membuat inflasi di Kota Semarang membubung tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat, inflasi bulanan (month-to-month) pada Maret 2026 hanya 0,37 persen, sebuah angka yang masih dalam batas terkendali.

Tren Inflasi Tahunan Mulai Melandai

Berdasarkan rilis resmi BPS Kota Semarang, inflasi tahun kalender (Januari-Maret 2026) tercatat sebesar 0,80 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) berada di angka 3,57 persen. Yang menarik, angka ini menurun cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat mencapai 4,65 persen.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa tekanan harga mulai mereda, meskipun masyarakat masih merasakan kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Penjelasan BPS: Ada Efek Low Base dari Diskon Listrik

Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono, mengungkapkan bahwa tingginya inflasi yoy pada periode Februari 2026 lebih dipengaruhi oleh faktor low base effect atau efek basis rendah. Kondisi ini terjadi karena adanya kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang diberlakukan pemerintah pada Februari 2025.

“Pada bulan sebelumnya inflasi year on year di Kota Semarang tercatat sebesar 4,65 persen. Hal itu utamanya dipengaruhi oleh low base effect karena adanya diskon tarif listrik pada awal 2025,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Ia menambahkan, dampak kebijakan tersebut masih membayangi dinamika inflasi hingga Maret 2026, baik secara bulanan maupun tahunan. Artinya, secara fundamental, tekanan harga riil di masyarakat tidak setinggi yang tergambar pada angka tahunan sebelumnya.

Harga Pangan Terjaga, Pemkot Lakukan Intervensi

Dari sisi pangan, kondisi di lapangan relatif lebih menggembirakan. Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kota Semarang, M. Luthfi Eko Nugroho, menyebutkan bahwa ketersediaan barang tetap terjamin, dan harga-harga masih dalam jangkauan masyarakat.

“Alhamdulillah di sektor pangan, ketersediaan barang bisa dipastikan dan harganya masih terjangkau oleh masyarakat. Naik memang ada, tetapi tidak sampai pada level yang tidak bisa dijangkau,” katanya.

Pemerintah Kota Semarang tidak tinggal diam. Pemantauan dan intervensi terhadap komoditas penyumbang inflasi, terutama bahan pangan, terus digencarkan. Koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) pun diperkuat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli warga.

Dampak dan Stabilitas Makro

Dengan capaian ini, inflasi Kota Semarang dinilai masih berada dalam koridor aman. Kondisi ini sekaligus menjadi cermin bahwa strategi pengendalian harga yang dijalankan pemerintah daerah termasuk operasi pasar dan kerja sama dengan bulog terbukti cukup efektif menghadapi goncangan musiman seperti Idul Fitri.

Bagi masyarakat, kabar ini memberikan sedikit ruang napas. Meski ada kenaikan harga pada sejumlah komoditas seperti daging ayam dan cabai, gejolaknya tidak berkepanjangan. Stabilitas ini diharapkan terus berlanjut pasca Idul Fitri, seiring dengan normalisasi permintaan dan distribusi yang kembali lancar. ***

Sidak di Pasar Rakyat Cibinong, Sekda Bogor Temukan Sejumlah Komoditas Naik Melebihi HET

Lingkar.co – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika didampingi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian dan jajaran Direksi Perumda Pasar Tohaga menemukan sejumlah komoditas dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Rakyat Cibinong, Selasa (17/3/2026).

Sidak dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor Jawa Barat guna memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Pada sidak tersebut ditemukan adanya kenaikan harga Minyak goreng jenis Minyak Kita dari HET Rp15.700 menjadi sekitar Rp19.000 per liter. Selain itu, cabai rawit juga mengalami lonjakan harga dari kisaran Rp95.000–Rp100.000 per kilogram menjadi Rp120.000 per kilogram.

Kenaikan serupa terjadi pada ayam broiler yang sebelumnya berada di angka Rp38.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp.45.000 per kilogram. Sementara itu, sejumlah bahan pokok lainnya seperti beras, daging sapi, bawang merah, dan telur ayam terpantau masih relatif stabil.

Sekda Ajat Rochmat Jatnika menyampaikan, secara umum kondisi ketersediaan bahan pokok di pasar masih aman dan mencukupi. Beras dan terigu masih dalam kondisi stabil, sementara pasokan daging sapi dan ayam tetap lancar meskipun harga mulai mengalami kenaikan.

“Secara umum ketersediaan barang cukup, hanya beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, terutama cabai rawit dan minyak goreng,” ujarnya.

Ia juga menyoroti distribusi Minyak Kita yang sempat tersendat akibat keterbatasan pasokan dari Bulog. Ia bilang, Pemerintah Daerah akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan distribusi kembali normal.

“Kenaikan harga menjelang Idulfitri merupakan fenomena yang wajar seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Hal ini juga menjadi indikator meningkatnya daya beli masyarakat menjelang hari besar keagamaan,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bogor, Mely Kamelia menjelaskan, sesuai arahan Kementerian Perdagangan, pemantauan harga harus tetap dilakukan selama masa cuti bersama Idul Fitri, yakni pada 18–20 Maret 2026 untuk menjaga stabilitas harga di pasaran.

“Pemkab Bogor melalui Disdagin, akan terus menurunkan petugas ke lapangan guna memastikan harga tetap terkendali serta ketersediaan bahan pokok tetap terjaga,” tandasnya.(*)

Jelang Lebaran 226 Harga Cabai di Bandung Masih Tinggi, Daging Sapi, Minyak dan Beras Masih Sesuai HET

Lingkar.co – Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan kondisi harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok tetap stabil.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan hal itu seusai meninjau sejumlah titik perdagangan.

Pemantauan dilakukan di Pasar Kosambi dan Yogya Sunda, yang menjadi representasi pasar tradisional dan ritel modern di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (17/3/2026).

“Secara umum harga stabil karena suplai juga stabil. Permintaan memang meningkat menjelang Lebaran, tapi masih bisa terpenuhi dengan baik,” ujar Farhan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat, ia mengungkapkan fenomena menarik, yakni lonjakan permintaan produk oleh-oleh seperti makanan ringan. Bahkan, sejumlah pelaku usaha sudah mulai mengirimkan produk ke luar kota.

Meski demikian, Farhan tetap mewaspadai potensi fluktuasi harga pada beberapa komoditas strategis, seperti cabai, telur ayam, dan daging sapi. Namun berdasarkan hasil pemantauan, kondisi saat ini masih terkendali.

“Cabai domba memang paling tinggi, sekitar Rp100.000 per kilogram. Tapi untuk daging sapi, minyak, dan beras masih sesuai HET. Ayam normal, bahkan harga telur turun dari Rp32 ribu menjadi sekitar Rp30–31 ribu per kilogram,” jelasnya.

Dari sisi pasokan, distribusi bahan pokok dinilai berjalan lancar. Peran distributor hingga dukungan Perum Bulog menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan.

Tak hanya itu, aspek keamanan pangan juga dipastikan aman. Produk perikanan dari berbagai daerah seperti Indramayu hingga Jawa Timur tetap terjaga kualitasnya.

“Kota Bandung ini bukan daerah produsen, jadi sangat bergantung pada suplai. Selama pasokan lancar, harga akan tetap stabil. Itu yang terus kita jaga,” katanya.

Sementara itu, daya beli masyarakat disebut tidak mengalami penurunan signifikan. Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dinilai turut menjaga perputaran ekonomi.

“Daya beli stabil, permintaan tinggi, suplai juga cukup. Artinya keseimbangan ekonomi kita terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga mengungkapkan sejumlah agenda Pemkot Bandung menjelang Lebaran, termasuk pelaksanaan Salat Id di Plaza Balai Kota yang akan dilanjutkan dengan silaturahmi bersama masyarakat.

Untuk malam takbiran, Farhan akan melakukan dua kali pemantauan, yakni pada Kamis dan Jumat malam, dengan fokus pada kebersihan lingkungan rumah ibadah serta penguatan sistem keamanan lingkungan (siskamling).

Ia pun mengimbau masyarakat untuk merayakan malam takbiran secara tertib.

“Takbir keliling boleh, tapi harus tertib. Yang tidak boleh itu pawai geng motor. Kita ingin suasana tetap aman dan nyaman,” imbaunya..(*)

Pemkab Pemalang Jamin Stok Bapokting Aman Jelang Lebaran 2026

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Pemalang menjamin ketersediaan stok bahan kebutuhan pokok masyarakat tercukupi pada saat hari raya Idul Fitri Tahun 2026, Bupati Pemalang Anom Widiyantoro menyebut pihaknya bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) siap mengawal perayaan hari raya tahun ini. Hal itu Bupati sampaikan usai melaksanakan Sholat Tarawih bersama Forkopimda di Pendopo Kabupaten.

“Kami Forkopimda standby mengawal kegiatan dan aktivitas, dan di Pemda juga sepakat mengawal ketersediaan bahan pokok, suplay logistik, dan juga angkutan sehingga pada perayaan hari raya Idul Fitri dijamin kebutuhan bahan pokok tersedia dengan harga yang terjangkau,” ujar Bupati, Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan stakeholder terkait, sangat penting untuk memastikan ketersediaan bahan pokok

“Ini harus dikoordinasikan dengan baik dengan Bulog, Pertamina, dan juga stakeholder terkait lainnya, insyaallah ini bisa menjamin ketersediaan barang pokok,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati dan Forkopimda menyerahkan bantuan dari Baznas, PMI, Dinsos KBPP, dan BPJS Ketenagakerjaan kepada perwakilan penerima manfaat.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Nurkholes, Ketua TP. PKK Kabupaten Pemalang dr Noor Faizah Maenofie, Para Kepala OPD Pemkab, Camat, Lurah, dan ASN di lingkungan Pemkab Pemalang. (*)

Jelang Lebaran 2026, Pemkab Boyolali Waspadai Lonjakan Harga Pasar Tradisional, Cabai Rawit Masih Rp90 Ribu Per Kilogram

Lingkar.co- Bupati Boyolali Agus Irawan beserta jajaran Forkopimda Kabupaten Boyolali dan OPD terkait, kembali melakukan monitoring harga bahan pokok di beberapa pasar, Selasa (10/3/2026) pagi. Salah satunya meninjau di Pasar Ampel.

Saat meninjau, Bupati mengatakan bahwa stok bahan pokok dipastikan aman hingga lebaran nanti. Sedangkan untuk harga, mayoritas bahan pokok masih stabil dan terjangkau masyarakat, hanya komoditas cabai rawit merah dan minyak goreng yang saat ini mengalami kenaikan.

Pihaknya memastikan, akan terus mengawal beberapa bahan pokok agar tidak terjadi penimbunan. Agus juga terus berupaya mengendalikan harga beberapa komoditas yang masih tinggi. Ia membeberkan, kenaikan harga cabai rawit merah dikarenakan oleh faktor cuaca yang menyebabkan beberapa petani gagal panen.

Sedangkan untuk minyak goreng merk ‘Minyak kita’ yang juga mengalami kenaikan dan kelangkaan barang, Bupati Agus akan mengerahkan tim untuk melakukan investigasi terkait penyebab hal tersebut.

“Untuk daya beli masyarakat sudah mulai membaik, semoga nanti di hari H lebaran ataupun setelah H lebaran semuanya bisa berjalan dengan baik, tertib dan juga tentunya kenyamanan warga Kabupaten Boyolali bisa terjamin semuanya.” kata Agus.

Senada, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Boyolali Purnawan Raharjo mengungkapkan, sebagian besar bahan pokok terpantau aman dan stabil di seluruh pasar. Hanya cabai rawit merah dan minyak goreng yang mengalami kenaikan signifikan.

Di pasar Ampel, beras medium berkisar diharga Rp 15 ribu per kilo dan beras premium Rp16 ribu per kilo. Untuk harga telur ayam, sedikit mengalami kenaikan hingga Rp29 ribu per kilo. Gula pasir DN (KW medium) berada diharga Rp17.500 per kilo dan gula pasir LN Rp20 ribu per kilo.

Harga cabai rawit merah masih tinggi mencapai Rp 90 ribu per kilo, namun harga ini sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan harga cabai rawit merah di pasar lain yang masih bertahan diharga Rp 95 ribu per kilo.

Sedangkan minyak goreng merk ‘Minyak Kita’ di pasar Ampel naik drastis menyentuh harga Rp 20 ribu per liter, padahal harga di pasar lain hanya Rp17-18 ribu per liter. Kemudian untuk minyak goreng curah lebih tinggi lagi diharga Rp22 ribu per liter.

“Nanti kita koordinasikan bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan, untuk koordinasi dengan BULOG terkait dengan minyak.” ujar Purnawan. (*)

Antisipasi Dampak Inflasi, Pemkab Cilacap Gelar Pasar Murah

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Cilacap menggelar Pasar Murah untuk mengantisipasi dampak Inflasi yang biasa muncul menjelang hari raya idulfitri

Acara dibuka langsung oleh Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, di Lapangan Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (4/3/2026).

Sebagaimana diketahui bersama, menjelang hari besar keagamaan seringkali terjadi peningkatan permintaan bahan pangan yang berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas.

Pasar Murah merupakan bentuk komitmen Pemkab Cilacap untuk hadir di tengah masyarakat khususnya dalam membantu meringankan beban ekonomi, terutama dalam mencukupi kebutuhan bahan pokok di bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Cilacap, Agus Firmanudin, dalam laporannya menyampaikan bahwa Pasar Murah dilaksanakan di 25 lokasi, terdiri dari 1 lokasi tingkat kabupaten dan 24 lokasi tingkat kecamatan, yang dimulai sejak tanggal 2 Maret hingga 6 Maret 2026.

“Untuk Pasar Murah tingkat kabupaten, kami bersinergi dengan berbagai pihak mulai dari BUMN, BUMD, UMKM, Perbankan, Bank Indonesia, Perum Bulog Sub Drive IV Banyumas, PKK, Dharma Wanita Persatuan, Gabungan Organisasi Wanita, retail modern dan unsur lainnya. Sistem penjualan ada yang menggunakan kupon dan juga secara langsung”, jelasnya.

Acara disambut antusias oleh ribuan warga yang datang memadati lapangan. Tak hanya sembako, warga juga menyerbu lapak-lapak yang menjual baju layak pakai. Mas Syamsul didampingi Forkopimda dan tamu undangan lainnya juga menyerahkan bantuan berupa 10 paket sembako dari Bank Jateng Cilacap dan 50 paket sembako dari PMI Kabupaten Cilacap.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah membantu terlaksananya kegiatan ini, semoga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat Cilacap serta acara berlangsung aman dan tertib”, pungkasnya.

Salah satu pengunjung, Munje, warga asal Desa Kuripan Kidul, mengaku mengetahui informasi terkait Pasar Murah dari media sosial. Ia juga sudah beberapa kali berbelanja di Pasar Murah yang diadakan Pemkab Cilacap, dan merasa sangat terbantu. Ia berharap Pasar Murah bisa lebih sering digelar dan dengan komoditas yang lebih lengkap lagi.

“Semoga harga-harga bahan pokok juga bisa lebih stabil ya, jadi saat tidak ada Pasar Murah pun tetap kami bisa berbelanja seperti ini”, ungkapnya. (*)

Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu Per Kilogram, TPID Malang Tinjau ke Perkebunan

Lingkar.co – Berdasarkan hasil pemantauan pasar, harga cabai di tingkat konsumen masih berada pada kisaran Rp100.000,- hingga Rp120.000,- per kilogram. Sementara itu, harga di daerah pemasok tercatat sekitar Rp80.000,- per kilogram. Kondisi ini menunjukkan pasokan dari luar daerah belum sepenuhnya mampu menekan harga di tingkat konsumen.

Hal itu menjadi fokus pembahasan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang yang dirangkai dengan peninjauan lahan perkebunan cabai dan peternakan ayam di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (4/3/2026).

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa TPID Kota Malang tidak hanya memantau kenaikan harga, tetapi juga menyiapkan langkah konkret guna menjaga stabilitas tanpa merugikan petani dan peternak lokal.

“Harga cabai saat ini memang tinggi seiring meningkatnya permintaan menjelang hari besar keagamaan. Kami tidak ingin harga di tingkat konsumen tinggi, sementara petani dan peternak tidak memperoleh keuntungan yang layak. Karena itu, setiap intervensi harus diperhitungkan secara cermat agar adil bagi semua pihak,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kota Malang menyiapkan sejumlah instrumen intervensi, antara lain optimalisasi program Warung Tekan Inflasi (WTI) dengan dukungan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Melalui skema tersebut, pemerintah membeli komoditas dengan harga tertentu dan menjualnya kembali di pasar dengan harga yang sama sebagai referensi harga.

Selain itu, TPID memetakan opsi kerja sama antar daerah (KAD) serta mengoptimalkan potensi lahan pertanian cabai dan peternakan ayam di wilayah Kota Malang, khususnya di kawasan Kedungkandang dan Tlogowaru. Pemantauan langsung ke pasar akan terus dilakukan sebagai dasar evaluasi kebijakan lanjutan.

“Kami akan menindaklanjuti hasil pemantauan pasar dan rekomendasi TPID untuk menentukan bentuk intervensi yang paling tepat, baik melalui kerja sama antar daerah maupun optimalisasi potensi dalam kota. Yang terpenting, harga tetap stabil dan inflasi Kota Malang terkendali,” pungkasnya. (*)

Jelang Hari Raya, Pemkot Malang Pantau Harga Bahan Pokok

Lingkar.co – Pemerintah Kota Malang terus memantau tingkat stabilitas harga dan ketersediaan komoditas strategis, khususnya cabai, telur, dan daging pada momen menjelang momen peringatan hari besar keagamaan yakni Hari Raya Nyepi dan juga Hari Raya Idulfitri.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, menjelaskan produksi cabai di Kota Malang sangat bergantung pada siklus masa tanam dan panen di masing-masing lahan.

Saat ini, katanya, luas lahan cabai di Kota Malang mencapai sekitar 65 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah. Menurutnya, setiap lahan memiliki fase produksi yang berbeda sehingga tidak dapat dihitung secara serentak.

“Setiap lahan memiliki masa tanam dan masa panen berbeda. Ada yang sudah memasuki panen kedua, ada yang belum panen, bahkan ada yang bisa sampai 30 kali panen. Jadi tidak bisa langsung ditotal dalam satu waktu,” terangnya usai mengikuti High Level Meeting (HLM) TPID Kota Malang serta peninjauan lahan cabai dan peternakan ayam di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (4/3/2026),

Sebagai gambaran, pada lahan seluas 4.000 meter persegi dengan sekitar 4.500 pohon cabai, hasil panen pada puncaknya yakni sekitar panen ke-12 hingga ke-14, dapat mencapai tiga kuintal dalam sekali panen. Namun pada panen awal, hasilnya relatif lebih rendah, sekitar 80 kilogram.

Dalam satu siklus tanam penuh, dari panen pertama hingga panen ke-30, potensi produksi disebut dapat mencapai 3.000 hingga 4.000 ton. Meski demikian, kebutuhan masyarakat bersifat fluktuatif, terutama saat aktivitas mahasiswa kembali normal dan menjelang hari besar keagamaan.

Ia mengakui, produksi cabai dari dalam kota belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga pasokan dari luar daerah masih diperlukan. Pergerakan harga pun sangat dipengaruhi mekanisme pasar.

“Ketika harga cabai di Kota Malang naik dan dinilai menguntungkan, pasokan dari luar daerah akan masuk. Saat pasokan melimpah, harga biasanya ikut turun. Itu mekanisme pasar yang terjadi,” jelasnya.

Pada komoditas telur, harga telur ayam kampung di pasar saat ini berkisar Rp60 ribu per kilogram, sedangkan telur ayam ras sekitar Rp29 ribu per kilogram.

Produksi telur di Kota Malang berasal dari peternakan di wilayah Wonokoyo dengan sekitar sembilan kandang, masing-masing berkapasitas 2.500 hingga 9.000 ekor. Namun demikian, produksi telur dalam kota juga belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan, sehingga tetap ditopang pasokan dari luar daerah.

Sementara itu, harga daging sapi relatif stabil di kisaran Rp122 ribu per kilogram. Pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang oleh sekitar 25 jagal, dengan jumlah pemotongan 30 hingga 40 ekor per hari, tergantung ukuran sapi.

Ia menegaskan, kebutuhan masyarakat cenderung meningkat pada momen tertentu seperti Ramadan dan saat aktivitas mahasiswa kembali aktif. Karena itu, pengendalian pasokan dan distribusi terus menjadi perhatian pemerintah.

“Kami terus melakukan pemantauan agar ketersediaan tetap aman dan harga terkendali, terutama menjelang momen keagamaan dan peningkatan aktivitas masyarakat,” pungkasnya. (*)

Bulog Pastikan Ketersediaan Pangan Jawa Tengah Aman Hingga Juni 2026

Lingkar.co – Badan Urusan Logistik (Bulog) Jawa Tengah memastikan bahwa ketersediaan pangan di wilayahnya aman hingga Juni 2026.

Berdasarkan data dari Bulog, stok beras di Jawa Tengah mencapai 339.094 ton. Jumlah itu mencukupi hingga Juni 2026 mendatang. Sementara, realisasi pengadaan setara beras sepanjang 2025 tercatat sebesar 397.905 ton atau 100,3 persen dari target yang ditetapkan.

“Menghadapi Natal dan Tahun Baru serta akhir tahun, kami menyatakan stok beras pemerintah sangat memadai, sangat kuat. Masyarakat tidak perlu cemas atau panik karena ketersediaan sangat cukup dan harganya relatif stabil,” kata Pimpinan Wilayah Perum BULOG Kanwil Jawa Tengah–DIY, Sri Muniati disela audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi di Semarang pada Rabu (24/12/2025).

Pihaknya telah menyiagakan gudang-gudang induk di seluruh Jawa Tengah, serta meminta mitra pengecer memastikan kesiapan stok di wilayah masing-masing.

“Selain beras, kami juga memiliki stok minyak goreng, gula, dan komoditas lainnya. Selama libur panjang, gudang-gudang induk kami siagakan untuk melayani kebutuhan masyarakat,” katanya.

Sri Muniati mengakui penyerapan hasil panen tidak dapat dilakukan Bulog sendiri, namun membutuhkan dukungan lintas sektor.

“Kami berharap koordinasi antara Bulog, dinas-dinas di Provinsi Jawa Tengah, serta dukungan aparat seperti TNI dan Polri bisa memperkuat penyerapan, sehingga produksi dan panen di Jawa Tengah dapat diserap secara maksimal oleh Jawa Tengah sendiri,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari menambahkan, pihaknya tengah menyiapkan regulasi berupa Peraturan Gubernur untuk memperkuat kapasitas internal daerah.

“Ini bukan dengan cara melarang pengiriman keluar Jawa Tengah, tetapi dengan memperkuat kapasitas di dalam Jawa Tengah sendiri,” kata Dyah.

Ia menjelaskan, penguatan dilakukan tidak hanya melalui Bulog, tetapi juga dengan melibatkan BUMD provinsi, BUMD kabupaten, serta penggilingan-penggilingan kecil.

“Kami merencanakan program subsidi bunga pinjaman bagi penggilingan kecil agar mereka memiliki modal yang lebih kuat. Program ini kami siapkan untuk 2026,” ujarnya.

Selain meningkatkan serapan, pemerintah daerah juga menyiapkan jalur distribusi agar hasil panen yang diserap dapat dimanfaatkan kembali di dalam daerah.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menandaskan, Perum Bulog perlu memperkuat serapan hasil panen petani lokal agar stabilitas pangan di wilayahnya terjaga.

Ia menekankan kecukupan stok harus dibarengi dengan kebijakan yang berpihak pada petani, terutama dalam momentum panen.

“Kami tidak ingin saat petani panen, intervensi dari provinsi lain masuk ke wilayah kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterbatasan gudang dan sarana penyimpanan semestinya dapat diantisipasi melalui komunikasi dan koordinasi yang lebih baik.

“Kalau kurang gudang bisa dikomunikasikan, supaya tidak lari ke mana-mana,” kata dia. (*)

Jelang Libur Nataru, Pemkab Kendal Pastikan Bahan Pokok Penting dan BBM Aman

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal memastikan Ketersediaan Bahan Pokok Penting (bapokting) hingga Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap aman menjelang hingga setelah liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah (Disdagkop UKM) Kabupaten Kendal, Toni Ari Wibowo memastikan ketersedian stok bapokting, mencukupi di libur Nataru ini.

“Ketersediaan Bapokting di Kendal aman, tidak ada kenaikan harga yang signifikan. Hanya untuk komoditas cabai yang mengalami kenaikan. Kalau yang lain sudah terkondisikan,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Sabtu (20/12/2025).

Sementara terkait ketersediaan BBM dan gas elpiji 3 kg menurutnya juga masih sangat aman. Bahkan pihaknya sudah mengajukan penambahan kuota khususnya untuk gas elpiji 3 kg.

“Khusus gas elpiji yang 3 kg kita sudah bersurat ke Pertamina untuk mendapatkan tambahan. Termasuk kita juga sudah mengajukan terkait BBM solar bersubsidi,” bebernya.

Toni juga menyampaikan antrean panjang yang seringkali terlihat di sejumlah SPBU  terjadi dinilai lantaran Kendal menjadi salah satu titik pengisian BBM solar bersubsidi terbesar di sepanjang pantura.

“Ternyata titik pengisian terbesar di Pantura itu di Kendal. Kalau bicara kuota itu sudah melebihi. Terakhir kita mengajukan ada penambahan kuota satu juta sekian per akhir November 2025,” ungkap Toni.

Sementara mengantisipasi distribusi gas elpiji yang libur saat tanggal merah, menurutnya stok akan diberikan di awal pendistribusian.

“Contoh nanti ada libur tanggal merah dua hari, nah dua hari itu kita tarik awal. Harapan kami dengan penarikan di awal itu bisa memenuhi stok selama tidak ada droping,” tandasnya.

Meski demikian pihaknya akan terus melakukan pemantauan di lapangan guna memastikan ketersediaan BBM dan gas elpiji 3 kg.

“Kita terus berkoordinasi dengan Pertamina jika nanti kebutuhannya banyak kita akan minta kuota lagi. Kalau penggunaan solar terbesar itu sebenarnya truk dari luar daerah,” pungkasnya. (*)

Penulis: Yoedhi W