Arsip Tag: Pedagang

Pemkot Pekalongan Siapkan Relokasi Pedagang Eks Pasar Darurat Sorogenen

Lingkar.co – Pemerintah Kota Pekalongan terus mengedepankan pendekatan humanis dalam menata kawasan eks Pasar Darurat Sorogenen. Melalui sinergi lintas perangkat daerah, penertiban yang dilaksanakan pada Jumat (17/4/2026) hingga Sabtu (18/4/2026) tidak dimaknai sebagai penggusuran, melainkan sebagai langkah penataan sekaligus solusi relokasi yang lebih layak dan terarah bagi para pedagang.

Kegiatan penertiban ini melibatkan Satpol P3KP bersama Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop-UKM), serta unsur Trantib dari Kecamatan Pekalongan Utara dan Pekalongan Timur. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pekalongan, Drs. Sugiyo, didampingi sejumlah pejabat terkait.

Usai kegiatan, Sugiyo menegaskan bahwa, langkah yang diambil pemerintah bukanlah untuk menggusur pedagang, melainkan menata agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan di lokasi yang lebih sesuai peruntukannya.

“Ini bukan penggusuran. Kita tidak mengusir pedagang, tetapi menata dan memberikan solusi. Para pedagang kita relokasi ke pasar-pasar yang masih memiliki lapak kosong dan lebih representatif,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kawasan eks Pasar Darurat Sorogenen memang direncanakan sebagai ruang terbuka publik berupa taman kota. Oleh karena itu, sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah, kawasan tersebut perlu dikembalikan fungsinya agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Meski demikian, Pemkot memastikan bahwa kepentingan pedagang tetap menjadi perhatian utama. Berdasarkan pendataan yang telah dilakukan oleh Dindagkop-UKM, seluruh pedagang telah diinventarisasi mulai dari nama, alamat, hingga jenis dagangan. Hal ini bertujuan agar proses relokasi berjalan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masing-masing pedagang.

“Penempatannya tidak kita kumpulkan dalam satu titik. Misalnya pedagang ayam, nanti akan disebar ke beberapa pasar sesuai kapasitas. Ini supaya lebih merata dan tidak menumpuk,” jelasnya.

Adapun tiga lokasi utama yang disiapkan sebagai tempat relokasi sementara meliputi Pasar Anyar, Pasar Podosugih, dan Pasar Kraton. Ketiga pasar tersebut dinilai masih memiliki potensi lapak kosong yang dapat dimanfaatkan. Sementara itu, Pasar Banjarsari dan Pasar Grogolan tidak menjadi opsi karena kondisi yang sudah cukup padat.

Sugiyo juga mengungkapkan bahwa saat ini jumlah pedagang di kawasan tersebut mencapai sekitar 79 orang, termasuk pedagang lama dan pendatang baru. Sebagian di antaranya telah lebih dulu direlokasi ke Pasar Banjarsari, namun masih tersisa pedagang yang perlu ditata lebih lanjut.

“Untuk memastikan proses berjalan lancar, penertiban dilakukan dalam dua hari dengan sistem dua shift, menyesuaikan dengan pola aktivitas pedagang yang terbagi antara pagi hingga siang, serta siang hingga malam hari. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan waktu yang cukup bagi pedagang untuk beradaptasi,”terangnya.

Tidak hanya itu, Pemkot juga berkomitmen dengan menyediakan fasilitas pendukung, termasuk armada angkutan untuk membantu pedagang memindahkan barang dagangannya ke lokasi baru.

“Kami bahkan menyiapkan armada untuk membantu mengangkut barang para pedagang ke tempat relokasi. Jadi benar-benar kita dampingi, bukan dilepas begitu saja,” tambahnya.

Penertiban ini juga menyasar penggunaan badan dan bahu jalan yang selama ini dimanfaatkan sebagai tempat berjualan. Padahal, area tersebut sejatinya diperuntukkan bagi kepentingan umum seperti lalu lintas dan parkir. Oleh karena itu, ke depan kawasan tersebut akan ditertibkan agar kembali steril.

Sementara itu, untuk pedagang yang berada di shelter resmi, Pemkot tetap memberikan toleransi selama penggunaannya sesuai dengan izin. Namun, jika ditemukan penyalahgunaan seperti disewakan atau diperluas hingga mengganggu ruang publik, maka akan dilakukan penertiban.

“Shelter yang sesuai izin tetap diperbolehkan. Tapi yang disalahgunakan, seperti diperluas hingga menutup trotoar atau jogging track, itu yang kita tertibkan,” tegas Sugiyo.

Lebih lanjut, kata Sugiyo, Pemkot Pekalongan juga telah merancang penataan kawasan Sorogenen menjadi taman kota yang akan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2026 ini, penataan difokuskan pada sisi timur dengan anggaran awal, sementara pengembangan secara menyeluruh akan dilakukan pada tahun-tahun berikutnya.

“Penataan ini diharapkan dapat menghadirkan ruang terbuka hijau yang nyaman, sekaligus menjadi alternatif ruang interaksi sosial bagi masyarakat,”tuturnya.

Sugiyo menambahkan bahwa proses penertiban ini sebenarnya telah melalui tahapan panjang, termasuk sosialisasi dan pemberitahuan kepada pedagang sejak jauh hari. Namun, pelaksanaannya sempat tertunda akibat kondisi banjir dan momentum menjelang Hari Raya Idulfitri. Kini, setelah situasi dinilai kondusif, penataan kembali dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih persuasif dan kolaboratif.

“Kami ingin memastikan bahwa semua pihak memahami tujuan penataan ini. Tidak ada yang dirugikan, justru kita ingin semua mendapatkan tempat yang lebih baik, tertib, dan nyaman,” tegasnya.

Melalui langkah ini, ia berharap tercipta keseimbangan antara penataan kota yang rapi dan keberlangsungan ekonomi masyarakat.

“Pendekatan yang humanis menjadi kunci agar kebijakan yang diambil tidak hanya tegas, tetapi juga berpihak pada kepentingan bersama,” tuturnya. (*)

Pemkot Surabaya Robohkan Bangunan Liar di Kawasan Pasar Simorejo

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menertibkan kawasan Pasar Simorejo Timur. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari penertiban sebelumnya, sekaligus bagian dari upaya penataan aset daerah yang selama ini digunakan tanpa dasar hukum serta belum memenuhi kewajiban keuangan kepada pemerintah kota.

Penertiban dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan sejumlah perangkat daerah, di antaranya Satpol PP, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP), serta dukungan dari PLN, PDAM, jajaran Kecamatan Sukomanunggal, hingga unsur TNI-Polri.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Achmad Zaini, mengatakan penertiban ini bertujuan mengembalikan fungsi kawasan pasar agar lebih tertata dan sesuai peruntukannya.

“Kegiatan ini kami lakukan agar aset milik pemerintah kota dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, sekaligus meminimalisir pelanggaran dalam penggunaannya,” kata Zaini, Sabtu (11/4/2026).

Ia menjelaskan, seluruh bangunan yang berdiri di atas lahan aset Pemkot Surabaya ditertibkan tanpa terkecuali, mulai dari bangunan semi permanen hingga permanen.

“Kami tertibkan semuanya. Untuk bangunan permanen, kami dibantu DSDABM dengan alat berat agar prosesnya lebih efektif,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, petugas juga membantu pedagang memindahkan barang-barang yang masih berada di dalam kios. “Ada kios yang sudah kosong, tetapi ada juga yang masih berisi. Personel kami bersama tim gabungan turut membantu evakuasi barang milik pedagang,” tambahnya.

Sebelum pembongkaran dilakukan, petugas memastikan seluruh aliran listrik telah diputus guna menghindari risiko bahaya.

“Kami pastikan tidak ada aliran listrik sebelum pembongkaran. Proses ini dibantu oleh PLN,” tegasnya.

Zaini memastikan, penertiban berlangsung kondusif dengan sikap kooperatif dari para pedagang. Ia menyebut, hal itu tidak lepas dari sosialisasi dan pendekatan yang telah dilakukan sebelumnya oleh pihak kecamatan.

“Alhamdulillah, para pedagang kooperatif. Sebelumnya sudah ada sosialisasi bertahap dari kecamatan,” ujarnya.

Ke depan, Pemkot Surabaya menegaskan penertiban serupa akan dilakukan secara berkelanjutan di berbagai kawasan pasar. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan kota yang lebih tertib, bersih, dan nyaman.

“Penertiban ini akan kami lakukan berkala di seluruh pasar. Harapannya, masyarakat dan pedagang semakin sadar untuk mematuhi aturan serta memanfaatkan fasilitas sesuai ketentuan,” pungkasnya. (*)

Terowongan Tol Ringinarum Kendal Disulap Jadi Pasar Dadakan Warga

Lingkar.co – Ada pemandangan tak biasa di bawah infrastruktur jalan bebas hambatan (Jalan tol) di Kabupaten Kendal. Terowongan tol yang melintang di wilayah Desa Rowobranten, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah kini beralih fungsi menjadi ruang ekonomi alternatif bagi masyarakat sekitar.

Lorong yang sedap dipandang dan teduh tersebut sukses disulap menjadi pasar dadakan yang ramai dikunjungi pembeli, Jumat (27/3/2026)

Di dalam terowongan ini, deretan lapak pedagang tampak rapi menjajakan aneka kebutuhan harian. Mulai dari sayur-mayur segar, bumbu dapur, hingga berbagai sajian kuliner siap santap tersedia lengkap. Berada di bawah lindungan struktur beton yang kokoh, aktivitas jual beli di area ini tetap bergeliat normal tanpa terganggu terik matahari maupun guyuran hujan.

Bisri (73), salah seorang pedagang sayur di lokasi tersebut, mengaku sudah setahun terakhir memindahkan lapaknya ke terowongan ini setelah 20 tahun lamanya berjualan di Pasar Banjarsari, Pekalongan. Dibantu sang anak, ia membuka lapak sejak pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.

“Sekarang lebih dekat dengan rumah dan lebih efisien. Awalnya saya ingin menampung hasil petani sayur di sini, tapi ternyata di Rowobranten sendiri sudah habis terjual,” tutur Bisri saat ditemui.

Geliat ekonomi di lorong tol ini tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam sehari, Bisri mengaku mampu meraup omzet sekitar Rp1 juta, dan bisa melonjak hingga Rp1,5 juta saat kondisi sedang ramai.

Omzet Jutaan dan Fasilitas Lengkap

Tak sekadar sayuran, kawasan ini juga diramaikan oleh penjaja kuliner seperti mi ayam, bakso, es teh jumbo, hingga pedagang nanas madu dari Belik, Kabupaten Pemalang. Adanya fasilitas tambahan berupa arena bermain anak menjadikan tempat ini kian digandrungi sebagai titik kumpul keluarga.

Kepraktisan berbelanja di pasar dadakan ini diakui oleh para pengunjung. Khamidah (45), warga Desa Ngerjo, menjadikan terowongan Rowobranten sebagai tempat singgah wajibnya.

“Kalau pulang dari saudara di Rowobranten, saya pasti mampir. Di sini lengkap, tidak perlu ke pasar lagi. Praktis dan cepat,” ujarnya.

Pengawasan Ketat Jasa Raharja

Meski aktivitas ekonomi rakyat tumbuh subur, pemanfaatan fasilitas tol ini tetap berada di bawah pengawasan yang ketat. Perwakilan Jasa Raharja memberikan rambu-rambu tegas bahwa para pedagang dilarang keras mendirikan bangunan permanen di lokasi tersebut.

“Kami ingatkan, jangan sampai ada lapak permanen. Kebersihan harus dijaga agar fungsi jalan tetap aman,” tegas perwakilan Jasa Raharja memberikan peringatan kepada warga.

Keberadaan lapak di terowongan tol ini menjadi potret kecerdasan warga dalam beradaptasi memanfaatkan ruang publik secara produktif. Infrastruktur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung jalan tol, tetapi juga memberdayakan ekonomi warga sekitar tanpa mengorbankan fungsi utamanya. (*)

Penulis: Yoedhi W

Permintaan Dapur MBG Meningkat, Harga Daging Ayam Naik

Lingkar.co – Selama lebih dari dua bulan terakhir, harga daging ayam potong maupun ayam sayur di pasar tradisional Kabupaten Kendal Jawa Tengah terus mengalami kenaikan.

Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya pasokan dari supplier, seiring sebagian besar stok ayam dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pedagang daging ayam di Pasar Kendal, Kuati, mengatakan meningkatnya permintaan dari dapur MBG membuat pasokan ayam ke pasar tradisional menjadi terbatas. Dampaknya, harga jual di tingkat pedagang terpaksa mengalami kenaikan.

“Permintaan dari dapur MBG sangat besar, sehingga pasokan ke pasar dibatasi. Akhirnya harga di pasar ikut naik,” ujar Kuati, pedagang daging ayam di Pasar Kendal. Jumat (9/1/2026)

Tidak hanya daging ayam, sejumlah komoditas pangan lain seperti telur dan sayur-mayur juga mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan. Kondisi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Selain harga yang terus meningkat, para pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan. Tingginya harga membuat jumlah pembeli berkurang, sehingga omzet pedagang ikut terdampak.

Saat ini, harga daging ayam kampung di Pasar Kendal mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp70.000 per kilogram. Sementara ayam sayur naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Sedangkan harga ayam merah naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.

Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga pangan di pasaran. Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tetap dapat berjalan tanpa memberatkan pedagang maupun masyarakat.

Penulis: Yoedhi W

Jaga Harga Bahan Pokok Penting Tetap Stabil, Ahmad Luthfi Inginkan Kios JTAB Ada di Seluruh Pasar

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginginkan Kios JTAB ada di seluruh pasar di 35 kabupaten/kota. Keberadaan kios yang diinisiasi oleh PT Jateng Argo Berdikari (JTAB) tersebut diharapkan dapat menjaga rantau pasok dan menstabilkan harga bahan pokok penting (bapokting).

“Saya sudah perintahkan kepada PT JTAB yang merupakan BUMD kita, agar seluruh pasar di 35 kabupaten/kota harus punya Kios JTAB. Gunanya kios ini adalah memangkas birokrasi terkait bahan pokok penting,” kata Ahmad Luthfi usai meninjau Kios JTAB dan berdialog dengan pedagang di Pasar Legi, Kota Surakarta, Rabu, (8/10/2025).

Selain memangkas birokrasi distribusi bahan pokok penting, Kios JTAB juga berfungsi untuk menstabilkan harga seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan bahan pokok lainnya. Di samping itu, Kios JTAB juga memberikan jaminan penyerapan hasil panen petani, menjaga harga pasar, dan mengendalikan inflasi.

“JTAB melakukan penetrasi harga agar tidak dimainkan oleh tengkulak, spekulan, dan lain sebagainya,” kata Ahmad Luthfi.

Dicontohkan, cabai merah kemarin mendekati angka Rp 40 ribuan sekarang sudah menyentuh sekitar Rp 26 ribuan.

“Di petani harganya Rp 20-25 ribuan, jadi masih wajar. Ini perlahan akan turun dengan intervensi ini,” jelas Ahmad Luthfi.

Dijelaskan, Kios JTAB ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan pedagang. Pemerintah kabupaten/kota bertugas untuk menyiapkan kios dan pasokan bahan pokoknya dari JTAB.

Direktur Utama PT JTAB, Totok Agus Siswanto, mengatakan, tujuan utama dari Kios JTAB ini adalah memotong rantai distribusi dari petani ke konsumen. Diharapkan ada pemerataan harga bahan pokok penting di Jawa Tengah.

“Sudah ada di Kendal, Ungaran, Salatiga, Boyolali, dan Surakarta. Nanti seluruhnya ada, satu pasar satu kios. Produknya cabai, bawang merah, bawang putih. Bahan pokok lain bisa gula, minyak goreng, dan lainnya melihat harga di pasar,” jelasnya.

Di Pasar Legi setidaknya ada dua Kios JTAB, yaitu Kios Bu Kati dan Kios Bu Tri. Pemilik Kios Bu Kati mengaku sangat terbantu dengan adanya pasokan hasil pertanian seperti cabai dan bawang dari JTAB.

Di Kios Bu Tri menjual bahan pokok seperti beras, telur, minyak, dan lainnya. Ia sudah bekerja sama dengan JTAB kurang lebih 6 bulan.

“Mudah untuk mendapatkan bahan. Dari segi harga lebih miring kalau dari JTAB, harga jual juga bisa lebih murah sekitar 10% dari harga pasar,” ungkap Tyas, penjaga Kios Bu Tri Pasar Legi. (*)

Jelang Idul Adha, Penjual Hewan Kurban di Kendal Merebak di Pinggir Jalan

Lingkar.co – Sepekan menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah, para penjual hewan kurban mulai menjamur di berbagai sudut jalan dan lahan kosong di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Salah satunya terlihat di pertigaan Jalan Tembus Purin, Trompo, dan Sekopek Kaliwungu.

Meski lapak penjual hewan kurban mulai bermunculan, geliat penjualan kambing kurban masih terbilang sepi. Seorang pedagang kambing kurban, Purwo, mengaku baru dua hari berjualan di kawasan tersebut. Ia mengatakan bahwa pembeli biasanya baru ramai pada dua hari menjelang hari H.

“Biasanya H-2 baru ramai. Banyak pembeli yang memilih beli mendekati hari H supaya tidak repot merawat hewan terlalu lama,” ujar Purwo, Jumat (30/5/2025).

Terkait harga, Purwo menyebutkan bahwa tahun ini masih tergolong stabil dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ia menjual kambing lokal dengan harga bervariasi, mulai dari Rp3 juta hingga Rp6 juta per ekor, tergantung ukuran dan berat kambing.

“Kambing harga enam juta biasanya beratnya antara 70 sampai 75 kilogram dalam kondisi hidup,” tambahnya.

Baca juga: Penipuan Online Modus Penculikan Anak, Poda: Masyarakat Diminta Waspadalah

Ia memastikan bahwa seluruh kambing yang dijual telah melalui pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan. Semua hewan kurban yang ia sediakan dalam kondisi sehat dan sudah memenuhi syarat usia, yakni lebih dari dua tahun.

Dengan mendekatnya momen Idul Adha, para pedagang berharap permintaan kambing kurban segera meningkat dalam beberapa hari ke depan. (*)

Penulis: Wahyudi

Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Paslon Tika-Benny Kunjungi Pasar Weleri, Pedagang Masih Trauma

Lingkar.co – Empat tahun setelah musibah kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan Pasar Weleri hingga kini masih membekas dan menyisakan trauma bagi para pedagang. Bahkan setelah Pasar Weleri tahap 1 selesai dibangun, belum semua pedagang mendapatkan jatah lapak untuk kembali berjualan.

Dalam rangka mengenang empat tahun kebakaran Pasar Weleri, Forum Gerakan Anak Pedagang Pasar Weleri (FAPPW) mengundang pasangan calon bupati dan wakil bupati Kendal nomor urut satu, Dyah Kartika Permanasari dan Benny Karnadi dalam acara Sapa pedagang Pasar Weleri dan Serap Aspirasi Pedagang serta Paguyuban Pasar Weleri, Selasa (12/11/2024).

Selain itu turut diundang, Ketua DPRD Kendal, Mahfud Sodiq, Wakil Ketua DPRD Akhmat Suyuti, Sesepuh Himpunan Pasar Weleri Khafid Sirotudin, perwakilan Paguyuban Pasar Weleri, perwakilan Paguyuban Pedagang Grosir Sayur Gemah Ripah Makmur.

Momen ini tentunya menjadi momen penting bagi Tika-Benny untuk berkeliling dan menyapa para pedagang, sekaligus mendengarkan keluhan dan aspirasi pedagang yang sebagian besar mengaku pengunjung Pasar Weleri masih sepi.

“Kita tadi sudah keliling. Ternyata walaupun pasar ini sudah terbangun, tetapi masih ada permasalahan-permasalahan yang dikeluhkan pedagang. Apalagi kebutuhan kios atau los yang harusnya bisa menampung 1.800 pedagang sekarang masib bisa menampung sekitar 800-an pedagang,” ujar calon bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari atau yang akrab disapa Mbak Tika.

Ia juga menyebut, para pedagang juga mengeluhkan terkait layout Pasar Weleri yang belum sesuai harapan mereka.

“Para pedagang itu saat pembangunan ataupun penataan menghendaki dilibatkan. Ternyata katanya tidak dilibatkan dan hasilnya tidak sesuai harapan mereka,” ungkapnya.

Calon wakil bupati Kendal, Benny Karnadi mengatakan, Pasar Weleri pernah menjadi pusat perekonomian di Kabupaten Kendal. Sehingga kondisi ini harus dikrmbalikan lagi agar roda perekonomian di Pasar Weleri kembali berjaya.

“Sehingga nanti kalau kita terpilih jadi bupati dan wakil bupati, InsyaAllah kita akan mengembalikan lagi kota Weleri sebagai pusat perekonomian di Kabupaten Kendal. Untuk mengrmbalikan itu salah satunya membangun kembali dan mengembangkan Pasar Weleri,” ujar Benny Karnadi.

Ia menegaskan dalam pembangunan dan pengembangan Pasar Weleri harus melibatkan pedagang, sehingga nantinya pedagang yang akan menempati pasar tersebut merasa nyaman dan pengunjungnya juga nyaman saat berbelanja.

Empat Tahun Pasca Kebakaran Kondisi Pasar Weleri Masih Semrawut

Lingkar.co – Wakil Ketua DPRD Kendal, Akhmat Suyuti mengaku kecewa sebab penataan Pasar Weleri masih semrawut pasca kebakaran empat tahun lalu.

“Penataannya semrawut. Tidak relevan sama sekali. Eman-eman uangmya,” ujar Akhmat Suyuti seusai mengunjungi Pasar Weleri sekaligus menghadiri undangan Forum Gerakan Anak Pedagang Pasar Weleri (FAPPW) dalam acara Sapa pedagang Pasar Weleri dan Serap Aspirasi Pedagang serta Paguyuban Pasar Weleri, Selasa (12/11/2024).

Ia menyebut, penataan Pasar Weleri tahap 1 ini tidak seperti yang diharapkan. Padahal anggaran yang telah digelontorkan mencapai sekitar Rp 55 miliar. “Mestinya tidak semacam ini. Kalau semacam ini kesannya tidak profesional,” tukasnya.

Menurut dia, melihat kondisi pedagang Pasar Weleri saat ini, pembangunan Pasar Weleri tahap 2 harus segera direalisasikan. Sehingga 1.000 lebih pedagang yang belum tertampung bisa segera bersatu berjualan di pasar yang sama.

“Alasan yang klasik bahwa jumlah kios yang ada itu belum mampu menampung seluruh pedagang yang dimiliki Pasar Weleri. Maka mau tidak mau ya secepatnya dilakukan pembangunan selanjutnya. Kalau tidak ya repot nanti pasar ada dimana-mana,” bebernya.

Wakil Ketua DPRD Kendal Fraksi PDI Perjuangan ini menambahkan, pihaknya juga berencana menegur dinas terkait untuk apa yang menjadi permasalahan dari para pedagang serta penataannya yang masih semrawut.

“Kita akan tegus dinas perdagangan, biar dia menyampaikan apa yang menjadi keluhan, hambatan dan lain sebagainya. Kan harusnya tidak semacam ini. Ini ya kita kecewa,” imbuhnya.

Dinilai Linier dengan Program Prabowo-Gibran, Paguyuban Pedagang se-Kota Semarang Dukung Yoyok-Joss

Lingkar.co – Paguyuban Pedagang Pasar se-Kota Semarang menyatakan sikap mendukung pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Yoyok Sukawi – Joko Santoso alias Joss. Mereka komitmen untuk memilih Yoyok-Joss dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Wali Kota Semarang 2024.

Surahman (71), Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar se-Kota Semarang mengatakan pertimbangan menaruh dukungan terhadap paslon nomor urut 2 itu karena keduanya dinilai layak memimpin Ibu Kota Jawa Tengah.

Di sisi lain, Surahman menyampaikan Yoyok-Joss adalah gambaran pemimpin yang linier dengan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Pertimbangan kami karena ini diusung oleh Koalisi Semarang Maju Bermartabat, sama dengan Koalisi Indonesia Maju. Program pusat Pak Prabowo dengan Mas Yoyok dan Mas Joko ini linier, syukur nanti juga Pak Luthfi di provinsi,” kata Surahman di sebuah rumah makan Jalan Pemuda, Kota Semarang, Sabtu (9/11/2024).

Surahman menyatakan keputusan untuk mendukung Yoyok-Joss adalah hasil konsolidasi dengan para pedagang di Kota Semarang. Dari hasil tersebut, para pedagang lebih condong berpihak kepada Yoyok-Joss.

“Ini sebelum ketemu Mas Yoyok, saya sudah bertemu dengan para pedagang, ternyata pandangannya itu milih nomor 2. Kepingin yang jadi linier dengan pusat, ini adalah tujuan kami, jadi aspirasi kami bisa langsung sampai ke pusat,” katanya.

Para pedagang berharap dalam kepemimpinan Yoyok-Joss dapat lebih memperhatikan dan mempedulikan pedagang pasar. Pasalnya, mereka selalu dibayang-bayangi persoalan tingginya nilai retribusi, dan lokapasar yang menjadi momok pedagang tradisional.

“Bagaimana caranya pasar itu ramai dan rapi. Pasar tradisional berkembang, dilindungi, terutama masalah lokapasar yang dirasakan seluruh pedagang di Indonesia, bagaimana kementerian solusinya, nah ini linier dengan pemerintahan Mas Yoyok di kota dan Pak Prabowo di pusat,” katanya.

Para pedagang juga menyambut baik program Yoyok-Joss tentang Kredit Mesra (Masyarakat Ekonomi Sejahtera). Kredit tersebut akan diberikan kepada pelaku bisnis kecil tanpa agunan.

“Kami juga menyambut baik program itu. Kami mengambil tindakan secara konkret, kami sepakat sampai sekarang dengan yang komandoi ketua umumnya Pak Atmaji mendukung Yoyok-Joss,” kata Sukardi (77), Penasihat Persatuan Pedagang Jasa (PPJ) Semarang.

Sukardi mengatakan, hal yang sama dilakukan PPJ Semarang dalam menentukan pilihan dalam Pilwalkot Kota Semarang 2024. Terlebih dulu, pihaknya melakukan konsolidasi dan menemukan hasil jatuh kepada Yoyok-Joss.

Paguyuban Pedagang Pasar se-Kota Semarang menyatakan sikap mendukung pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Yoyok Sukawi - Joko Santoso alias Joss.
Paguyuban Pedagang Pasar se-Kota Semarang menyatakan sikap mendukung pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Yoyok Sukawi dan Joko Santoso alias Joss. Foto: istimewa

“Anggota kami sekarang banyak yang muda dan melihat sosok Yoyok Sukawi dan Joko Santoso ada greget di situ. Di sisi lain memilih karena Yoyok-Joss adalah bocahe dewe kalau orang Jawa dianggap sudah mendarah daging, mau diapakan tetap bocahe dewe,” ujarnya.

Pihaknya juga berharap kepada Yoyok-Joss agar lebih memperhatikan nasib pedagang kaki lima (PKL) yang selalu dihantui rasa cemas ketika berjualan. Dia menyebut pemimpin seperti Yoyok-Joss diharapkan memiliki solusi agar para PKL tidak khawatir akan Satpol PP.

“Saya berharap Mas Yoyok tanggap masalah PKL. Saya berharap nanti akan diperbaiki Perda Pasar-nya supaya tidak terbayang-bayang Satpol PP,” katanya.

Sementara itu, Yoyok Sukawi mengatakan, keluhan-keluhan yang disampaikan para pedagang se-Kota Semarang itu menjadi bahan dirinya dalam mengambil kebijakan saat dipercaya memimpin Ibu Kota Semarang lima tahun ke depan.

Yoyok menjelaskan, bahwa kepemimpinannya bersama Joko Joss akan memprioritaskan para pedagang-pedagang pasar. Pasalnya, ekonomi masyarakat tergambar dari ramainya sebuah pasar.

Banyak Lapak Kosong dan Sepi Pembeli, Yoyok Sukawi Ingin Kembalikan Eksistensi dan Kejayaan Pasar Johar Semarang

Lingkar.co – Calon Wali Kota Semarang nomor urut 2, Yoyok Sukawi melakukan blusukan di Pasar Johar, Kelurahan Kauman, Senin (21/10/2024) siang. Kedatangannya ke pasar tradisional itu tidak lain untuk mendengarkan aspirasi pedagang dan berbelanja masalah.

Setibanya di lantai 1 bagian selatan, dia mengajak puluhan pedagang makan bersama. Terjadi dialog yang intens antara Yoyok Sukawi dengan pedagang. Mereka mengeluhkan berbagai persoalan, salah satunya ialah aktivitas jual beli yang sepi.

Pada kesempatan itu, Yoyok Sukawi juga berkeliling ke lorong-lorong dan menengok lantai 2. Dia mendapati banyak lapak yang kosong yang tidak digunakan pedagang. Di sisi lain, pasar tersebut juga sepi pembeli.

Yoyok Sukawi mengaku merasa prihatin dengan kondisi Pasar Johar saat ini. Padahal pasar tersebut merupakan jantung perekonomian Kota Semarang. Apalagi bangunan Pasar Johar statusnya sebagai Cagar Budaya.

“Luar biasa ini masalahnya sangat kompleks di Pasar Johar selatan, banyak lapak yang gak ditempati. Memang ini harus kita carikan solusi,” ucap dia usai berdialog dengan para pedagang.

Menurutnya, sejak terjadi insiden peristiwa kebakaran pada 2015 lalu, aktivitas di Pasar Johar mulai sepi. Banyak pedagang yang pindah atau relokasi ke tempat lain. Salah satunya di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

“Kalau melihat kondisi sekarang ini gak seramai dulu, dulu hidup banget hampir perekonomian di Kota Semarang berpusat disini. Kita ingin kembalikan dulu pada masa kejayaannya,” ungkap Yoyok.

Calon Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi melakukan blusukan dan berdiskusi dengan pedagang di Pasar Johar, Kelurahan Kauman, Senin (21/10/2024) siang. Foto: dokumentasi
Calon Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi melakukan blusukan dan berdiskusi dengan pedagang, Kelurahan Kauman, Senin (21/10/2024) siang. Foto: dokumentasi

Setelah revitalisasi rampung pada tahun 2022, sebenarnya pedagang diminta untuk kembali lagi ke Pasar Johar. Namun masih banyak pedagang di kawasan MAJT yang belum kembali. Hal inilah yang membuat pedagang merasa ada dualisme pasar.

“Kalau masalah dualisme pasar kita nanti akan kaji dulu permasalahannya di mana dan bagaimana. Yang jelas kita akan hadir memberi solusi,” kata CEO PSIS Semarang ini.

Lebih lanjut ketika terpilih sebagai wali kota Semarang nanti, dia bersama Joko Santoso berkomitmen mengembalikan eksistensi dan kejayaan Pasar Johar Semarang. Dia ingin membuat aktivitas pasar bisa kembali ramai dan menjadi pusat perekonomian daerah.