Arsip Tag: Wisata Edukasi

Kementerian Kehutanan Cabut Izin Konservasi, Pemkot Pastikan Kebun Binatang Bandung Masih Tutup Saat Lebaran 2026

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan bahwa operasional Kebun Binatang Bandung belum dapat dibuka kembali, termasuk pada periode setelah Hari Raya Idulfitri 1447 H atau Lebaran 2026.

Hal ini menyusul pencabutan izin lembaga konservasi oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 107 Tahun 2026 tentang pencabutan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 357/KPTS-II/2003 yang sebelumnya memberikan izin kepada Yayasan Margasatwa Tamansari Zoological Garden sebagai lembaga konservasi ex-situ satwa liar dalam bentuk kebun binatang di Kota Bandung.

Keputusan tersebut ditetapkan pada 3 Februari 2026, sehingga sejak tanggal tersebut kegiatan operasional Kebun Binatang Bandung tidak dapat lagi dilakukan.

Menindaklanjuti keputusan tersebut, Pemkot Bandung langsung melakukan langkah pengamanan terhadap aset daerah.

Pada tanggal 5 Februari 2026, Pemkot Bandung melakukan pengamanan barang milik daerah serta penyegelan terhadap lahan milik pemerintah kota yang selama ini digunakan sebagai lokasi Kebun Binatang Bandung.

Pada hari yang sama juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan dengan Pemerintah Kota Bandung terkait koordinasi penyelamatan satwa serta penanganan para pekerja di bekas lembaga konservasi tersebut.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyatakan, keputusan untuk tidak membuka sementara Kebun Binatang Bandung dilakukan demi memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan.

“Kami memahami bahwa Kebun Binatang Bandung merupakan salah satu tujuan wisata bagi warga dan wisatawan. Namun saat ini izinnya sudah dicabut oleh pemerintah pusat, sehingga operasionalnya tidak bisa dibuka kembali sebelum semua proses administrasi dan hukum diselesaikan,” ujar Farhan.

Ia memastikan, Pemkot Bandung akan mematuhi seluruh ketentuan peraturan yang berlaku sebelum membuka kembali kawasan tersebut.

“Kami tidak akan membuka kebun binatang secara sementara setelah Lebaran. Semua harus sesuai aturan. Keselamatan satwa, pengelolaan yang baik, dan kepastian hukum menjadi prioritas utama,” jelasnya.

Ke depan, Pemkot Bandung akan membuka kembali operasional Kebun Binatang Bandung setelah terpilihnya mitra pengelola baru melalui mekanisme lelang atau tender yang transparan dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

“Jika nanti sudah ada pengelola baru yang terpilih melalui proses yang resmi dan sesuai aturan, maka Kebun Binatang Bandung bisa kembali dibuka untuk masyarakat dengan pengelolaan yang lebih baik,” tuturnya.

Pemkot Bandung juga memastikan, upaya penyelamatan satwa serta penanganan para pekerja tetap menjadi perhatian utama selama proses transisi pengelolaan berlangsung. (*)

Sambut Libur Lebaran 2026, Semarang Zoo Targetkan 60.000 Pengunjung

Lingkar.co – Semarang Zoo menargetkan sekitar 60.000 pengunjung selama libur Lebaran 1447 Hijrah/ 2026 dengan perkiraan puncak kunjungan terjadi pada 20 hingga 29 Maret 2026.

Direktur PT Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut lonjakan wisatawan selama musim liburan tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan program baru berupa Animal Show dengan konsep yang diperbarui.

Menurutnya, pertunjukan satwa tersebut akan memiliki durasi lebih lama dengan penambahan jenis satwa yang terlibat dalam atraksi. Program ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pengunjung yang datang ke kebun binatang tersebut.

“Animal Show ini nanti kita harapkan menjadi daya tarik wisata baru. Programnya juga baru, durasinya kita perlama, dan satwanya kita perbanyak,” ujarnya kepada BahteraJateng, Senin (16/3/2026).

Selain itu, pengelola juga menghadirkan area petting zoo yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan sejumlah satwa jinak. Area tersebut berada berdekatan dengan taman satwa utama sehingga memudahkan pengunjung untuk menjangkau keduanya.

Semarang Zoo juga tetap mengoperasikan sejumlah wahana yang telah ada sebelumnya, seperti kolam renang dan area pemandian anak. Untuk menambah pilihan wisata, pengelola menyediakan sistem tiket terusan dengan Taman Lalu Lintas Semarang yang lokasinya berdekatan.

Harga tiket masuk ke Semarang Zoo sebesar Rp30.000, sedangkan tiket masuk Taman Lalu Lintas Rp10.000. Pengunjung dapat membeli tiket secara terpisah maupun menggunakan tiket terusan.

Selain menyiapkan wahana baru, pengelola juga menghadirkan sejumlah promo selama libur Lebaran, di antaranya minuman gratis bagi pembeli tiket masuk serta berbagai hadiah bagi pengunjung yang menggunakan beberapa fasilitas di area wisata tersebut. (*)

Patuhi Surat Edaran Dirjen KSDAE No. 6 Tahun 2025, Tidak Ada Layanan Naik Gajah di Semarang Zoo

Lingkar.co – Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo tidak lagi memberikan layanan naik gajah bagi pengunjung. Hal ini merujuk pada Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi.

“Semarang Zoo dengan bangga mengumumkan bahwa lembaga konservasi kami telah melaksanakan sosialisasi serta mematuhi sepenuhnya,” kata Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2026).

Dijelaskan, keputusan tersebut ditetapkan dan ditandatangani pada 18 Desember 2025 oleh Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Surat edaran tersebut merupakan kebijakan nasional yang mengatur penghentian segala bentuk aktivitas tunggang gajah di lingkungan lembaga konservasi satwa, baik untuk tujuan komersial maupun non-komersial.

“Kebijakan ini bertujuan memperkuat prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) dan etika pengelolaan satwa liar di fasilitas konservasi di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Larangan ini, lanjutnya, telah menjadi pedoman penting bagi semua lembaga konservasi yang mengelola gajah, khususnya dalam upaya menjunjung tinggi standar perlindungan satwa dilindungi yang kondisinya rentan dan perlu perhatian ekstra.

Bimo menegaskan, Semarang Zoo mendukung implementasi kebijakan tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa.

“Kami secara formal telah menghentikan seluruh aktivitas tunggang gajah mulai tanggal 1 Januari 2026. Langkah ini menunjukkan dukungan penuh Semarang Zoo terhadap upaya pemerintah dan instansi konservasi dalam menciptakan lingkungan konservasi yang etis, bertanggung jawab, dan berfokus pada kesejahteraan satwa,” urainya.

Ia melanjutkan, keputusan tersebut juga sejalan dengan contoh implementasi kebijakan serupa yang dilakukan lembaga konservasi lain di Indonesia, yang telah menghentikan atraksi tunggang gajah demi prioritas kesejahteraan satwa serta pengembangan pengalaman edukatif bagi pengunjung.

Dengan tidak mengurangi pengalaman interaksi satwa dengan pengunjung, Semarang Zoo menerapkan beberapa kegiatan non-tunggang yang dinilai lebih edukatif, seperti Feeding Elephant (memberi makan Gajah) foto, animal education meliputi daily activity, daily treatment serta animal encounter.

Sebagai lembaga konservasi yang bertanggung jawab, Semarang Zoo terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan dan peraturan dilaksanakan secara konsisten dan transparan.

“Kami juga berkomitmen untuk mengembangkan kegiatan konservasi yang inovatif, ramah satwa, dan informatif bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (*)

Kembali ke Semarang Zoo, Bimo Ungkap Strategi Konservasi

Lingkar.co – Direktur PT Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengungkapkan, harimau benggala (Panthera Tigris Tigris) yang tersisa merupakan salah satu strategi konservasi.

Ia menjelaskan, semua harimau Semarang Zoo merupakan hasil pembiakan yang telah lama. Dengan demikian, butuh indukan atau pejantan baru agar anakan harimau tidak cacat dan berisiko mati sebelum dewasa.

“Jadi memang sengaja kita kosongkan kandangnya, kita tukar dengan beberapa satwa baru seperti kapibara, sitatunga dan sebagainya,” kata Bimo saat ditemui di kantornya, Rabu (28/1/2026).

Ia bilang, warna bulu harimau yang agak pucat atau putih merupakan faktor inbreeding sehingga bermasalah secara genetik. Selain itu, inbreeding atau perkawinan sedarah juga berpotensi pada cacat seperti jantung susah berkembang, tidak mau makan dan sebagainya.

Selain itu, lanjutnya, dirinya ingin Semarang Zoo juga memiliki spesies Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae). “Jadi memang sengaja kita kosongkan kandangnya. Nanti kita cari Harimau Sumatra untuk menambah koleksi satwa Semarang Zoo,” jelasnya.

Ia menilai, konservasi merupakan sebuah kewajiban dari semua lembaga konservasi. Oleh karena itu, pihaknya akan terus berupaya menyediakan kandang untuk mendatangkan satwa baru.

“Karena setiap lembaga konservasi punya kewajiban untuk mengembangbiakkan, jadi kita bisa minta dengan cara hibah atau tukar menukar satwa,” urainya.

Selain harimau, ia juga menyoroti nasib tiga ekor orangutan Kalimantan yang belum bisa dikembangbiakkan karena tidak ada betina di Semarang Zoo, “Nah, masih ada juga tiga orangutan jantan di sini, ini harus kita pikirkan jodohnya, kalau bisa yang dua ditukar dengan betina,” ungkapnya.

Terkait beredarnya kabar tak sedap di media sosial. Ia mengaku tidak mau mengambil pusing hal itu karena sebuah pekerjaan memiliki disiplin ilmu yang berbeda, “Kita kan bekerja pake ilmu. Jadi tidak perlu pusing memikirkan isu,” tegasnya. (*)

Semarang Zoo Tak Targetkan Jumlah Pengunjung Libur Nataru 2025-2026

Lingkar.co – PT Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo tidak menargetkan penjualan tiket atau jumlah pengunjung, melainkan total pendapatan dari tiket, wahana permainan hingga penjualan produk kerja sama.

“Target bukan jumlah tiket tapi pendapatan rupiah, yaitu Rp600 juta,” kata Manajer Pemasaran sekaligus Plt Direktur Semarang Zoo, Swandito Widyotomo saat dikonfirmasi wartawan, Senin (29/12/2025).

Angka tersebut, kata dia, sebagaimana evaluasi bersama semasa direktur masih dijabat oleh Bimo Wahyu Widodo, “Jadi posisi saya hanya melanjutkan yang sudah berjalan sekaligus mengawal sampai sudah ada direktur yang baru,” jelasnya.

Ia menjelaskan, target jumlah pengunjung hanya berkaitan dengan penjualan tiket, sementara target nominal pendapatan berkaitan dengan total penjualan, dari tiket, water boom, kereta mini, dan beberapa produk minuman dan makanan ringan yang telah menjalin kemitraan.

Di lain sisi, manajemen Semarang Zoo juga memperhatikan cuaca ekstrem dan posisi Semarang Zoo yang ada di batas kota Semarang dengan kabupaten Kendal. Hal itu tentu berbeda dengan jika berada di tengah-tengah kota Semarang.

“Jadi target ini lebih realistis daripada tiket karena faktor cuaca dan lokasi tidak di tengah kota,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, Semarang Zoo sebagai wisata berbasis konservasi juga lebih menekankan edukasi tentang satwa, baik satwa peliharaan maupun satwa liar, “Semarang Zoo penekanan wisatanya ya wisata edukasi, dari program interaksi satwa di sini, pengunjung bisa belajar sehingga tahu dengan benar bagaimana cara merawat satwa yang mereka miliki di rumah,” urainya.

Sementara, Koordinator Marketing, drh. Nico Setiawan mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung pada momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 mengalami peningkatan sekitar 3 persen dari pengunjung saat libur natal tahun 2024.

Para pengunjung saat memasuki Semarang Zoo. Foto: Rifqi/Lingkar.co
Para pengunjung saat memasuki Semarang Zoo. Foto: Rifqi/Lingkar.co

“Ada peningkatan sekitar 2 atau 3 persen. Jadi kecuali hari Jum’at kemarin, rata-rata setiap hari bisa sampai 1.000 pengunjung, kalau natal tahun kemarin naik turun dari 800an sampai 1.000an pengunjung setiap hari,” jelasnya.

Rangkaian Kegiatan

Niko lantas menguraikan, Taman Satwa Semarang telah menyiapkan rangkaian kegiatan padat selama masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Pertama, pada Kamis (25/12) pukul 10.00–15.00 WIB, Semarang Zoo menampilkan Kaoka Band dan Balarama di Panggung Plaza. Kemudian berlanjut pada Jum’at (26/12), dengan jadwal berlapis mulai pukul 10.00 hingga 15.30 WIB, menghadirkan Kyoday, Fugato Band, dan Synfive.

Selanjutnya pada Sabtu, (27/12), pengunjung kembali dimanjakan dengan pertunjukan Gasada Band dan Sudden Band di Panggung Plaza, disusul pada hari Minggu (28/12), pengunjung disuguhi penampilan seni budaya seperti Kagama Beksan Semarang, Kids Project, dan Manahati Tari, yang menonjolkan nilai edukasi, kreativitas anak, serta pelestarian seni tradisi.

Nikmati Liburan Seru Akhir Tahun di Semarang Zoo: dari Zoonderland, Orkes Dangdut, hingga Forest Track

Lingkar.co – Libur akhir tahun selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul bersama keluarga. Di Kota Semarang, suasana itu terasa semakin semarak lewat kehadiran event spesial “Zoonderland” di Semarang Zoo yang berlangsung mulai 25 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

Selama 11 hari penuh, kebun binatang kebanggaan warga Semarang ini berubah menjadi ruang rekreasi keluarga yang hidup, penuh warna, dan sarat hiburan.

Begitu melewati pemeriksaan tiket Semarang Zoo, pengunjung disambut berbagai aktivitas interaktif seperti animal interactive, petting zoo, pertunjukan tari tradisional, hingga cosplay festival yang menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak dan remaja.

Suasana makin hangat dengan hadirnya panggung musik yang menampilkan finalis Hannung Fest, band-band lokal, serta sanggar seni yang menunjukkan betapa kayanya kreatifitas anak muda Kota Semarang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengatakan bahwa Zoonderland tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga ingin menjadikan Semarang Zoo sebagai ruang publik yang inklusif, ramah keluarga, dan edukatif.

“Kami mengajak masyarakat untuk merayakan momen pergantian tahun di Semarang Zoo karena ada banyak sekali hiburan seru yang bisa dinikmati bersama keluarga. Kebun binatang ini kami kemas lebih atraktif, tetapi tetap mengedepankan fungsi edukasi dan konservasi,” ujarnya dalam siaran pers, Minggu (28/12/2205).

Puncak kemeriahan akan terasa pada 1 Januari 2026 lewat Panggung Orkes Dangdut yang dimulai pukul 09.00 WIB. Irama musik dangdut akan mengiringi pagi tahun baru di tengah udara segar kawasan konservasi, menciptakan suasana yang jarang ditemui di tempat wisata lain.

“Ini waktu yang tepat bagi keluarga untuk melepas penat setelah rutinitas panjang. Silakan bersuka ria, tapi tetap jaga ketertiban dan kenyamanan bersama, termasuk kenyamanan satwa,” imbuh Agustina.

Tak hanya hiburan, Semarang Zoo juga memberi ruang bagi nilai sosial dan kemanusiaan. Pada 29 Desember 2025, akan digelar peringatan Hari Disabilitas Internasional bersama SLB se-Cabdin XIII. Kegiatan ini menegaskan bahwa Semarang Zoo terbuka dan ramah bagi semua kalangan.

“Semarang Zoo bukan hanya tempat rekreasi, tapi ruang publik yang menjunjung kesetaraan. Kami ingin semua warga, termasuk penyandang disabilitas, merasa aman dan nyaman beraktivitas di sini,” tegasnya.

Sebagai penutup rangkaian Zoonderland, pada 4 Januari 2026 digelar kegiatan Semarang Zoo Forest Track, hasil kolaborasi dengan komunitas Urban Hiking Semarang.

Peserta akan diajak berjalan menyusuri alam dari kawasan Hutan Mangkang hingga Bendungan Plumbon sebuah pengalaman yang memadukan wisata, olahraga ringan, dan edukasi lingkungan.

“Forest track ini kami rancang sebagai aktivitas sehat yang menyenangkan sekaligus mendekatkan masyarakat dengan alam. Cocok untuk anak-anak maupun orang dewasa,” kata salah satu panitia Urban Hiking Semarang.

Jadwal Utama Event Zoonderland Semarang Zoo

25 Des 2025 – 4 Jan 2026: Zoonderland (Animal Interactive, Petting Zoo, Cosplay Festival, Panggung Musik & Seni)

29 Des 2025: Peringatan Hari Disabilitas Internasional bersama SLB

1 Jan 2026, pukul 09.00 WIB: Panggung Orkes Dangdut Tahun Baru

4 Jan 2026: Semarang Zoo Forest Track (Hutan Mangkang – Bendungan Plumbon)

Harga tiket masuk selama event ditetapkan Rp30.000 termasuk free softdrink, sementara Forest Track hanya Rp25.000 sudah termasuk tiket masuk kebun binatang. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai, QRIS, maupun online.

Dengan perpaduan hiburan, edukasi, aktivitas alam, dan nilai inklusivitas, Semarang Zoo menghadirkan cara baru menikmati libur akhir tahun bukan sekadar bersenang-senang, tetapi juga merayakan kebersamaan, kepedulian, dan semangat positif menyambut 2026. (*)

Joko Widodo Dukung Revitalisasi Semarang Zoo ke Tipe A dengan Penyertaan Modal Rp96 Miliar

Lingkar.co – Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Joko Widodo menyatakan anggaran Rp96 Miliar untuk pengembangan Semarang Zoo merupakan hal yang wajar. Sebab, kata dia, selain menjadi lembaga konservasi di lain sisi Semarang Zoo merupakan perusahaan perseroan daerah (Perseroda).

Oleh karena itu, Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang nomor 3 tahun 2025 tentang Penyertaan Modal Daerah pada Badan Usaha Milik Daerah Tahun 2025-2029 telah disahkan.

“Kita memahami Semarang Zoo sebagai perseroda yang menyediakan tempat wisata, hiburan. Sehingga dengan revitalisasi itu harapannya bisa menjadi tempat wisata yang menjadi tujuan wisatawan, khususnya masyarakat, kota Semarang,” Joko saat ditemui seusai Rapat Paripurna DPRD Kota Semarang, Senin (29/9/2025) siang.

“Dalam konteks inilah kemudian perda terkait dengan penanaman modal pada tahun 2025 berbicara salah satunya terkait Semarang Zoo yang mana bahwa penyertaan modal ini memang sangat diperlukan untuk penyehatkan perseroda itu sendiri,” imbuhnya.

Menurut dia, kalau bisnis pariwisata dan edukasi tersebut berjalan dengan baik, maka Pemerintah Kota Semarang tentu akan menerima dividen (bagi laba) atas pengelolaan PT Taman Satwa Semarang. Terlebih saat pemerintah pusat menentukan efisiensi anggaran yang berimbas pada berkurangnya Transfer Keuangan Daerah (TKD)

Meski efisiensi anggaran tidak begitu berpengaruh bagi Pemkot Semarang, lanjutnya, namun pemerintah kota tetap butuh meningy Pendapatan Asli Daerah (PAD), “Nah karena posisinya Semarang Zoo sebagai perseroda, maka kita harus lebih maksimal untuk bisa PAD itu bersumber dari dividen yang salah satunya dari Semarang Zoo,” jelasnya.

Dirinya juga memahami segmentasi atau target pasar industri pariwisata yang ada di perbatasan Semarang-Kendal ini pada umumnya anak sekolah atau komunitas pecinta satwa. Maka dari itu dia menyarankan agar menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah yang ada di Semarang, dan sekitarnya.

Wakil rakyat dari PKS Kota Semarang ini menilai Semarang Zoo punya potensi besar untuk meningkatkan PAD Kota Semarang karena sebagai satu-satunya tempat wisata berbasis edukasi satwa di eks karisidenan Semarang.

Dia menegaskan, Komisi B DPRD Kota Semarang serius dalam mendukung revitalisasi Semarang Zoo. Hal itu, kata dia, dikuatkan dengan adanya studi banding ke Kebun Binatang Surabaya (KBS).

“Kami di Komisi B sudah mengamati kondisinya di Semarang seperti area kandang yang perlu didesain khusus seperti habitat hewan,” ujarnya.

“Kalau misalnya mau dibandingkan, Semarang kan juga belum punya jerapah, dan hewan-hewan yang menarik. Nah padahal koleksi satwa ini yang paling diminati oleh anak-anak sekolah. Mereka yang ingin berinteraksi dengan hewan kan rata-rata anak sekolah SD dan SMP,” urainya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Dukung Wisata Konservasi di Semarang Zoo, Dua Kelinci Beri Donasi Pakan Satwa

Lingka.co – PT Dua Kelinci memberikan donasi pakan satwa kepada Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo sebesar Rp25 juta. Menurut Head Of Sales and Promotion Zona 3 PT Dua Kelinci, Atfis Prihandono Rozaq, donasi tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap Semarang Zoo sebagai lembaga konservasi.

“Donasi tersebut dalam rangka support apresiasi team saya dalam proses sarana memajukan Semarang Zoo sebagai icon di Semarang,” kata Aftis saat dikonfirmasi oleh wartawan, Rabu (24/9/2025).

Selain itu, kata Atfis, pihaknya juga ikut bekerja sama dalam pengembangan ekonomi para pedangan dengan kerja sama penjualan produk dua kelinci, yang mana keuntungan secara langsung bisa diperoleh Semarang Zoo untuk proses perawatan dan operasional yang ada.

Terkait program konservasi di perusahaan, ia mengaku sejauh ini tidak ada program khusus. Namun demikian ia menegaskan bahwa pihaknya mendukung langkah-langkah konservasi karena dua kelinci merupakan perusahaan yang bergerak menjual hasil hasil bumi.

“Tentunya untuk program konservasi saat ini kita belum ada program khusus, tetapi dalam rangka tetap menjaga kelestarian alam perusahaan kami selalu mendukung setiap kegiatan tersebut,” ujarnya.

Sebab, kata dia, kekayaan alam merupakan bagian dari produk kami yang masih didominasi dari hasil alam misal kacang tanah,” ungkapnya.

Atfis berharap kegiatan konservasi air maupun satwa yang dilakukan berbagai pihak bisa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, “Harapan kami, dengan terjaganya lingkungan ,air dan satwa juga menciptakan keseimbangan yang baik secara umum,” katanya.

Meski demikian, dirinya mengakui saat ini belum ada rencana memberikan donasi berupa koleksi satwa atau pelepasliaran satwa, “Saat ini belum ada, hal ini masih kami tinjau untuk kelanjutan kedepannya dan berharap kerja sama yang pertama kalinya ini bisa menimbulkan efek yang cukup bagus,” urainya.

Dirinya juga berharap kerja sama penjualan di lingkungan Semarang Zoo pada khususnya bisa memberikan dampak positif dalam pencapaian target penjualan, sehingga pihaknya secara langsung masih dapat mendukung kegiatan konservasi di kebun binatang yang ada di perbatasan Semarang-Kendal.

“Kedepan kami bisa terus support untuk keberlanjutan kerja sama ini, tentunya untuk perkembangan Semarang Zoo dan distribusi produk kami di kota Semarang,” tutupnya.

Sementara, Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo menuturkan, pihaknya tidak membahas jumlah donasi dari pihak manapun. Sebab kata Bimo, kepedulian terhadap lingkungan hidup sangat diperlukan untuk hidup sehat.

“Dari perusahaan memberikan donasi pakan satwa terus meningkat dengan para karyawan yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Ini tentunya akan terbentuk pola hidup yang sehat, peduli kelestarian lingkungan, baik satwa, tumbuhan maupun air,” ujarnya.

Dirinya juga menyambut baik kerja sama pemasaran dari PT Dua Kelinci yang mana para pedagang tidak perlu mencari atau berbelanja untuk berdagang. Di lain sisi, lanjutnya, Semarang Zoo secara manajemen juga ikut mendapatkan keuntungan untuk pengelolaan dan pakan satwa. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Gandeng Kota Bandung, Disbudpar Kota Semarang Ajak Semarang Zoo Belajar Majukan Pariwisata

Lingkar.co – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, R. Wing Wiyarso Poespojoedho, mengajak manajemen Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang belajar dari Pemkot Bandung melalui Table Top dan Sales Mission yang dilakukan di Bandung pada 18-19 September 2025

Alasan kegiatan tersebut dilaksanakan di Bandung karena ia anggap lebih berpengalaman atau expert di dunia pariwisata.

“Bandung ini menurut kami salah satu kota yang lebih awal atau lebih senior, perkembangan pariwisatanya cukup luar biasa” kata Wing saat dikonfirmasi, Jum’at (19/9/2025).

“Mereka (Pemkot Bandung) punya akses yang lebih expert, lebih berpengalaman ke penjuru dunia,” imbuhnya.

Ia menyebut kegiatan kali ini memang tujuan utamanya mempromosikan dan menjual potensi dan kearifan lokal yang ada di kota Semarang kepada wisatawan yang datang di kota Bandung. Dengan adanya kerja sama, kata dia, Bandung dan Semarang punya peluang yang sama untuk promosi potensi wisata kepada wisatawan yang datang.

“Dengan kerja sama Bandung dan Semarang ini, insya Allah ke depan sektor pariwisata di dua kota ini semakin meningkat,” harapnya.

Dirinya juga berharap agar sektor pariwisata di kota Semarang bisa berkembang dan menjadi destinasi wisata rujukan pelancong luar daerah. Karena pariwisata merupakan pilar pertumbuhan ekonomi lokal dan regional.

Direktur Semarang Zoo, mengucapkan terima kasih atas kesempatan untuk menambah pengetahuan dan wawasan di bidang pariwisata.

“Saya ucapkan terima kasih banyak terimakasih kepada Kepala Dinas Pariwisata, Pak Wing, yang telah mengajak kami ke Kota Bandung, mengenalkan Semarang Zoo bersama teman teman pelaku pariwisata di Kota Semarang ke para pelaku wisata di Kota Bandung,” ucapnya.

Menurut dia, berbagai pertanyaan dan masukan dari para calon Buyer sangat bermanfaat untuk menambah ilmu.

“Ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk membuat rencana kerja atau tawaran paket wisata yang lebih baik, sehingga bisa mengenalkan Semarang Zoo sebagai salah satu destinasi paket wisata, khususnya bagi masyarakat kota Bandung,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa menyambut baik kegiatan Table Top/Sales Mission yang diinisiasi oleh Disbudpar Kota Semarang karena tujuan utamanya menjadi tempat tujuan kunjungan.

“Kalau disederhanakan itu tugas utamanya menarik wisatawan ke kota masing-masing. Maka kami sangat support kepada sahabat saya, Pak Wing yang mengadakan tabel top/sales mission di kota Bandung,” ujarnya.

“Ini setulus hati kita doakan misi perdagangannya bisa sukses,” doanya.

Terkait wisata edukasi konservasi Lembang Park and Zoo yang gempar karena macan tutul lepas dari kandang dan Bandung Zoo yang saat ini bermasalah dengan hukum, ia berharap kasus itu segera selesai.

“Jadi secara umum, kita selalu mengharapkan destinasi-destinasi wisata di Bandung memberikan pelayanan yang lebih baik termasuk Bandung Zoo,” jawabnya.

Pihaknya berharap agar Bandung Zoo kembali beroperasi secara profesional. Namun sebagaimana diketahui bahwa saat ini kebun binatang tersebut tengah dalam konflik dualisme kepengurusan Yayasan Margasatwa Tamansari, dan kewenangan tentang konservasi saat ini ada di tangan kementerian kehutanan.

‘Tapi ada faktor-faktor lain yang itu Pemerintah Kota Bandung tidak bisa melakukan intervensi, Pak Wali (Wali Kota Bandung) beliau menghargai proses hukum,” tutupnya. (*)

Komunikasi Bisnis di Bandung, Dinporapar Jateng Harapkan Investasi Untuk Pengembangan Semarang Zoo

Lingkar.co – Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang ikut serta dalam rombongan kunjungan Komunikasi Bisnis yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Provinsi Jawa Tengah di Bandung tgl 16-17 September.

Pada kesempatan itu, Kepala Dinporapar Jawa Tengah, Muhamad Masrofi berharap masyarakat Jawa Barat semakin mengenal dan menarik warga Jawa Barat untuk berkunjung ke Semarang atau daerah lain di Jawa Tengah.

“Harapannya tentu saja dari wisatawan Jawa Barat banyak berkunjung ke Jawa Tengah, juga ke Semarang,” kata Masrofi dalam siaran persnya, Rabu (17/9/2025).

“Destinasi yang kita bawa ke Jawa Barat adalah kebun binatang Semarang (Semarang Zoo) dan pelaku wisata laiinya. Terkair dengan Semarang Zoo,Tentu saja ini perlu ada pengembangan lebih lanjut dari kebun binatang Semarang,” ujarnya.

Menurut Masrofi, Semarang Zoo harus terus berbenah diri dengan mengembangkan semua potensi yang dimiliki.

“Supaya ada perkembangan terus menerus, tidak monoton, berkembang terus menerus sebagai lembaga konservasi edukasi dan rekreasi yang terus agar lebih baik, binatangnya semakin banyak, begitu agar diminati para wisatawan,” ungkapnya.

Maka dari itu dirinya berharap adanya investasi untuk mengembangkan kebun binatang yang ada di kota Semarang yakni Semarang Zoo, “Yang pertama adalah adanya investasi ke wilayah kebun binatang Semarang,” ucapnya.

Sementara, Direktur Semarang Zoo Bimo Wahyu Widodo mengatakan sangat berterimakasih kami diajak ke Bandung, bertemu dengan para pelaku wisata, mengenalkan Semarang Zoo, sebagai salah satu destinasi wisata berbasis konservasi dan edukasi.

Dijelaskan oleh Bimo, Semarang Zoo telah melakukan perbaikan sejumlah fasilitas dan menambah koleksi satwa, dan kompetensi penjaga satwa juga terus ditingkatkan untuk edukasi bagi masyarakat, terutama anak-anak. Selain itu, terdapat pula wahana permainan yang menarik.

Dengan adanya program Komunikasi Bisnis yang dilakukan oleh Dinporapar Jateng, Bimo berharap Semarang Zoo dan destinasi wisata Jawa Tengah pada umumnya tidak hanya populer di bagi Jawa Tengah saja, namun menjadi rujukan destinasi wisata provinsi lain.

“Semoga masyarakat Jawa Barat semakin mengenal destinasi-destinasi wisata di Jawa Tengah, khususnya Semarang Zoo, akan banyak dikunjungi wisatawan dari Jawa Barat. Kami terus berbenah sesuai apa yang disampaikan oleh bapak Masrofi,” pungkasnya. (*)