Arsip Tag: Revitalisasi

Belajar Dari Kota Semarang, Wagub DKI Jakarta Rano Karno Kunjungi Kota Lama

Lingkar.co – Kawasan Kota Lama Semarang kembali membuktikan statusnya sebagai magnet bagi tata kelola cagar budaya nasional. Pada Sabtu (31/1/2026), Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menerima kunjungan strategis Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, guna meninjau langsung keberhasilan revitalisasi kawasan bersejarah yang kini menjadi destinasi unggulan Ibu Kota Jawa Tengah.

“Kunjungan ini adalah kesempatan untuk saling belajar. Kota Lama Semarang telah melalui rangkaian panjang proses revitalisasi yang tidak hanya mempertahankan struktur bangunan bersejarah, tetapi juga menjadikannya sebagai kawasan wisata urban yang hidup dan lestari,” ujar Agustina.

Dirinya menekankan bahwa kunci keberhasilan membangun ruang bersejarah yang berkelanjutan terletak pada sinergi pengelolaan yang konsisten dan dukungan semua pihak. “Kami sangat mengapresiasi langkah Pak Wagub yang hadir di sini untuk belajar bersama. Revitalisasi ini membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah hingga pelaku ekonomi kreatif,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Rano Karno mengatakan pemilihan Kota Semarang didasari atas kesamaan struktur antara Kota Tua Jakarta dan Kota Lama Semarang. Dirinya mengakui bahwa Kota Semarang telah berhasil menghidupkan bangunan bersejarahnya menjadi ikon wisata.

“Kami ingin menjalin kerja sama sekaligus belajar dari Semarang. Jakarta ingin membenahi Kota Tua, dan kami melihat adanya kemiripan struktur dengan kawasan ini,” ujar Rano.

Langkah ini memperkuat posisi Semarang sebagai kota percontohan pengelolaan kawasan bersejarah dan pariwisata berbasis budaya di tingkat nasional. Agustina menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem revitalisasi heritage dengan membangun jejaring kerja sama antar wilayah, memperkuat partisipasi masyarakat, sekaligus memposisikan Semarang sebagai pusat konservasi budaya yang adaptif terhadap ekonomi modern.

“Harapan saya, kolaborasi antara Semarang dan Jakarta ini menjadi pemantik bagi wilayah lain di Indonesia untuk lebih peduli pada akar sejarahnya. Kota Semarang siap menjadi mitra strategis bagi siapa pun yang ingin mewujudkan kawasan bersejarah yang hidup, lestari, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tutup Agustina. (Adv)

Revitalisasi Selesai, Alun-alun Merdeka Kota Malang Kembali Dibuka untuk Umum

Lingkar.co – Alun-Alun Merdeka Kota Malang Jawa Timur kembali dibuka untuk umum setelah proses revitalisasi selesai. Prosesi pembukaan ini dilakukan oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, Rabu (28/1/2026) malam. Kehadiran wajah baru ikon Kota Pendidikan ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat hiburan, tetapi juga ruang edukasi dan ruang bersatunya seluruh lapisan masyarakat.

Wali Kota Malang menyampaikan bahwa revitalisasi yang didukung penuh dari Corporate Social Responbility (CSR) Bank Jatim ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki bagi masyarakat.

“Kami ingin masyarakat ikut menjaga dan memelihara. Membangun itu mudah, yang sulit adalah merawatnya. Dengan rasa memiliki, keasrian alun-alun ini akan terus terjaga,” tuturnya.

Wajah baru Alun-Alun Merdeka kini hadir dengan berbagai fasilitas yang lebih segar dan inklusif. Selain daya tarik utama berupa atraksi air mancur yang menawan, perbaikan signifikan juga dilakukan pada area toilet, penyediaan ruang bagi ibu menyusui, serta penambahan arena bermain anak. Rencana ke depannya adalah penyediaan area membaca yang didukung oleh kehadiran mobil perpustakaan keliling secara rutin.

Sebagai paru-paru kota, Alun-Alun Merdeka tetap difungsikan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan sistem resapan air yang optimal. Selain itu, desain baru ini juga dirancang untuk mendukung kegiatan keagamaan di Masjid Agung Jami’ Malang.

“Jika ada kegiatan besar di Masjid Agung, seperti Salat Id atau acara keagamaan lainnya, Alun-Alun Merdeka ini bisa terintegrasi dan dimanfaatkan oleh jemaah untuk beribadah dengan nyaman,” jelasnya.

Terkait Pedagang Kaki Lima (PKL) dan parkir, orang nomor satu di jajaran Pemkot Malang itu menegaskan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan kajian mendalam terkait relokasi PKL ke tempat yang representatif namun tetap dalam radius yang dekat dengan alun-alun.

“Kami terus kaji pilihannya agar tidak menimbulkan pro kontra. Targetnya, PKL akan direlokasikan di satu tempat yang nantinya juga diproyeksikan sebagai daerah tujuan wisata kuliner. Kami tetap memperhatikan nasib para pedagang,” pungkasnya. (*)

Berhenti Operasi Setahun Lebih, Revitalisasi Pabrik Wong Hang Pemalang Serap 1.500 Tenaga Kerja

Lingkar.co – Setelah hampir satu setengah tahun berhenti beroperasi, pabrik garmen PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment resmi dibuka kembali. Deru mesin kembali terdengar dari kawasan industri di Jalan Lingkar Luar Pemalang, Jumat (19/12/2025).

Sebanyak 1.500 tenaga kerja kembali bekerja, sebagian di antaranya adalah pekerja lama yang sempat kehilangan mata pencaharian.

Peresmian revitalisasi pabrik itu dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi Dedi Prasetyo.

Bagi pemerintah daerah, beroperasinya kembali pabrik ini menjadi penanda bangkitnya sektor industri padat karya sekaligus pemulihan ekonomi masyarakat sekitar.

Namun bagi Dewi, seorang pekerja lama, momen itu jauh lebih personal. Ia masih mengingat hari ketika gerbang pabrik ditutup tanpa pemberitahuan pada 29 Februari 2024.

“Kami dikumpulkan dan diarahkan oleh HRD. Setelah itu, kami hanya bisa menunggu,” katanya.

Hampir 18 bulan Dewi bertahan dengan pekerjaan serabutan. Ketika pabrik kembali beroperasi, ia merasa seperti mendapatkan kesempatan kedua.

“Sekarang senang bisa bekerja lagi. Harapannya pabrik ini bisa terus berjalan agar kami punya kepastian penghasilan,” ujarnya.

Cerita serupa dialami Nurul, pekerja lain yang menjadi tulang punggung keluarganya. Selama pabrik tutup, ia mengerjakan apa saja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sekarang bisa menerima gaji lagi, rasanya lega,” katanya.

Direktur PT Akarsa Garment, Alfindra Almandra, menjelaskan, pabrik sempat mengalami kepailitan pada 2024. Setelah melalui proses revitalisasi, operasional kembali berjalan dengan dukungan sekitar 900 unit mesin produksi.

“Saat ini jumlah pekerja mencapai 1.500 orang. Kami memproduksi penutup kepala atau balaklava,” ujarnya.

Perwakilan manajemen, Steven Wongso, menambahkan, komposisi tenaga kerja terdiri atas pekerja lama dan baru. Ia memastikan hak-hak normatif pekerja telah dipenuhi, termasuk jaminan sosial ketenagakerjaan.

“BPJS dan kewajiban lainnya sudah kami laksanakan,” katanya.

Dalam sambutannya, Wakapolri Dedi Prasetyo menegaskan, pekerja merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Ia menyatakan komitmen Polri dalam mendukung iklim ketenagakerjaan yang sehat dan produktif.

“Keselamatan kerja dan hubungan industrial yang harmonis harus dijaga agar produksi berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam menciptakan iklim usaha yang aman dan kondusif.

“Tidak ada premanisme. Kami menjamin kepastian hukum dan kemudahan perizinan melalui sistem satu pintu,” katanya.

Menurut Ahmad Luthfi, pembukaan kembali pabrik ini sejalan dengan strategi penguatan sektor padat karya yang didukung sekolah vokasi dan balai latihan kerja.

“Serapan tenaga kerja Jawa Tengah saat ini tertinggi di Pulau Jawa,” ujarnya.

Hingga triwulan III 2025, realisasi investasi Jawa Tengah tercatat mencapai Rp 66,13 triliun atau 84,42 persen dari target tahunan, dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 326 ribu orang.

Angka itu menegaskan kembali peran sektor industri sebagai penggerak utama ekonomi daerah. Dan bagi pekerja seperti Dewi dan Nurul, revitalisasi itu sebagai sumber harapan untuk menatap masa depan lebih pasti. (*)

Joko Widodo Dukung Revitalisasi Semarang Zoo ke Tipe A dengan Penyertaan Modal Rp96 Miliar

Lingkar.co – Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Joko Widodo menyatakan anggaran Rp96 Miliar untuk pengembangan Semarang Zoo merupakan hal yang wajar. Sebab, kata dia, selain menjadi lembaga konservasi di lain sisi Semarang Zoo merupakan perusahaan perseroan daerah (Perseroda).

Oleh karena itu, Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang nomor 3 tahun 2025 tentang Penyertaan Modal Daerah pada Badan Usaha Milik Daerah Tahun 2025-2029 telah disahkan.

“Kita memahami Semarang Zoo sebagai perseroda yang menyediakan tempat wisata, hiburan. Sehingga dengan revitalisasi itu harapannya bisa menjadi tempat wisata yang menjadi tujuan wisatawan, khususnya masyarakat, kota Semarang,” Joko saat ditemui seusai Rapat Paripurna DPRD Kota Semarang, Senin (29/9/2025) siang.

“Dalam konteks inilah kemudian perda terkait dengan penanaman modal pada tahun 2025 berbicara salah satunya terkait Semarang Zoo yang mana bahwa penyertaan modal ini memang sangat diperlukan untuk penyehatkan perseroda itu sendiri,” imbuhnya.

Menurut dia, kalau bisnis pariwisata dan edukasi tersebut berjalan dengan baik, maka Pemerintah Kota Semarang tentu akan menerima dividen (bagi laba) atas pengelolaan PT Taman Satwa Semarang. Terlebih saat pemerintah pusat menentukan efisiensi anggaran yang berimbas pada berkurangnya Transfer Keuangan Daerah (TKD)

Meski efisiensi anggaran tidak begitu berpengaruh bagi Pemkot Semarang, lanjutnya, namun pemerintah kota tetap butuh meningy Pendapatan Asli Daerah (PAD), “Nah karena posisinya Semarang Zoo sebagai perseroda, maka kita harus lebih maksimal untuk bisa PAD itu bersumber dari dividen yang salah satunya dari Semarang Zoo,” jelasnya.

Dirinya juga memahami segmentasi atau target pasar industri pariwisata yang ada di perbatasan Semarang-Kendal ini pada umumnya anak sekolah atau komunitas pecinta satwa. Maka dari itu dia menyarankan agar menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah yang ada di Semarang, dan sekitarnya.

Wakil rakyat dari PKS Kota Semarang ini menilai Semarang Zoo punya potensi besar untuk meningkatkan PAD Kota Semarang karena sebagai satu-satunya tempat wisata berbasis edukasi satwa di eks karisidenan Semarang.

Dia menegaskan, Komisi B DPRD Kota Semarang serius dalam mendukung revitalisasi Semarang Zoo. Hal itu, kata dia, dikuatkan dengan adanya studi banding ke Kebun Binatang Surabaya (KBS).

“Kami di Komisi B sudah mengamati kondisinya di Semarang seperti area kandang yang perlu didesain khusus seperti habitat hewan,” ujarnya.

“Kalau misalnya mau dibandingkan, Semarang kan juga belum punya jerapah, dan hewan-hewan yang menarik. Nah padahal koleksi satwa ini yang paling diminati oleh anak-anak sekolah. Mereka yang ingin berinteraksi dengan hewan kan rata-rata anak sekolah SD dan SMP,” urainya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Pemkot Semarang Siap Hidupkan Kembali Pasar Semawis

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang menunjukkan keseriusannya dalam menghidupkan kembali denyut ekonomi, sosial, dan budaya di kawasan Pecinan Kota Semarang.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin mewakili Agustina, Wali kota Semarang, bersama beberapa kepala OPD meninjau langsung kawasan Gang Warung, Kauman, Jalan Gang Pasar Baru No.144, Kranggan, pada Jumat (11/7/2025) sore.

Tinjauan ini dilakukan sebagai bagian dari langkah awal untuk mempersiapkan pembukaan kembali Pasar Semawis, ikon wisata dan ruang interaksi lintas budaya yang sempat terhenti sejak pandemi.

Kehadiran Iswar Aminuddin merupakan tindak lanjut dari audiensi antara Agustina, wali kota Semarang dan komunitas pengelola Semawis yang tergabung dalam Kopi Semawis.

Dalam wawancaranya, Iswar menegaskan bahwa Wali Kota Semarang secara pribadi menaruh perhatian terhadap pentingnya merevitalisasi kawasan ini, tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai simbol keberagaman dan kebanggaan warga Kota Semarang.

“Hari ini saya hadir mewakili Ibu Wali untuk melihat kondisi lapangan dan mencari input dari komunitas Semawis. Kita menemukan adanya keinginan kuat untuk mereaktivasi Kampung Semawis. Ini sejalan dengan visi kota Semarang sebagai kota inklusif dan terbuka,” ujar Iswar.

Ia menambahkan, revitalisasi kawasan Pecinan tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah dan nilai-nilai kultural yang melekat erat di Kampung Semawis. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan Pemkot Semarang akan menjaga keseimbangan antara pelestarian bangunan heritage dan penciptaan ruang yang bersih, layak, serta mendukung aktivitas warga.

“Kalau kita berbicara tentang Kampung Pecinan, maka kita berbicara tentang heritage. Kita ingin mempertahankan keaslian, termasuk lampu, tempat sampah, pedestrian, hingga material jalan. Ini semua untuk menguatkan citra kawasan Pecinan tanpa mengubah identitasnya,” jelasnya.

Kampung Semawis sendiri pernah menjadi pusat keramaian yang tak hanya menawarkan kuliner malam, tetapi juga atmosfer kebudayaan Tionghoa-Semarang yang khas.

Namun sejak pandemi COVID-19, kegiatan pasar malam ini terhenti dan belum sepenuhnya aktif kembali. Kini, semangat dari komunitas dan dukungan dari Pemkot Semarang membuka harapan baru bagi kawasan ini untuk bangkit kembali.

Dalam peninjauan ini, juga hadir sejumlah pemangku kepentingan, termasuk para pegiat heritage seperti Widia, yang memberikan masukan penting terkait pelestarian fisik dan nilai sejarah kampung. Pemerintah Kota Semarang menyatakan siap menindaklanjuti berbagai masukan tersebut, baik melalui intervensi teknis oleh OPD terkait maupun dukungan program lintas sektor.

“Kita ingin Kampung Semawis kembali hidup. Bukan sekadar ramai di malam akhir pekan, tapi juga sebagai kawasan perdagangan, pusat aktivitas ekonomi masyarakat, dan ruang bertemu bagi semua golongan. Dari sinilah semangat kota inklusif Semarang bisa bertumbuh,” tutup Iswar.

Reaktivasi Kampung Semawis menjadi simbol komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam merawat ruang hidup kota yang berakar pada sejarah dan menyapa masa depan dengan keberagaman. Warga pun diharapkan ikut terlibat aktif dalam menyambut kembali denyut kehidupan Kampung Semawis. (Adv)

Ahmad Luthfi Targetkan Revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Selesai dalam Satu Tahun

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta agar proyek pengerjaan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang selesai dalam tempo satu tahun.

“Dalam waktu dekat atau satu tahun, (revitalisasi) harus selesai, karena prediksi ke depan nilai ekspor-impor kita akan meningkat, seiring dengan jalannya investasi di proyek strategis nasional (PSN) maupun investasi lainnya,” kata Luthfi saat membersamai rombongan anggota Komisi V DPR RI meninjau Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jumat (23/5/2025).

Tinjauan tersebut bagian dari langkah percepatan revitalisasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi di Jawa Tengah.

Percepatan tersebut perlu dilakukan agar Jawa Tengah dapat meningkatkan daya saing dengan provinsi lain yang memiliki pelabuhan-pelabuhan besar. Apalagi beberapa investor telah menyampaikan rencana ke depan, khususnya terkait distribusi barang hasil produksi.

Semakin meningkatmya produksi, lanjut dia, maka dibutuhkan akses ke pelabuhan yang cepat.

“Pemprov mengucapkan terima kasih dengan adanya kunjungan dari Komisi V DPR RI. Tentu kita mohon kepada beliau untuk mengawal, sehingga kerja-kerja teamwork akan bersama-sama dilakukan,” kata Luthfi.

Luthfi menilai, secara umum pengembangan sarana-prasarana di Pelabuhan tersebut sudah mencukupi. Namun, seiring dengan adanya proyek strategis nasional, banyaknya kawasan industri, dan bergeliatnya investasi di Jawa Tengah, maka diperlukan pelabuhan yang representatif. Sehingga upaya yang dilakukan adalah revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas.

“Dalam satu tahun ke depan, produksi di Jawa Tengah akan melimpah, maka sarana pelabuhan harus representatif, dengan begitu berjalannya barang dan orang akan lebih lancar,” katanya .

Pemprov dan instansi terkait sudah menyiapkan konsep revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas, baik yang sifatnya curah maupun kontainer.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda mengatakan percepatan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas itu memang harus segera dilakukan. Ia ingin jejaring logistik di Jawa Tengah bisa aman, satu akses, cepat, dan tidak boleh ada penundaan .

“Transformasi perlu dipercepat semuanya. Pengembangan dermaga dan perpanjangannya, kemudian akses infrastruktur jalan, kita ingin diperbaiki secepatnya, supaya lalu lintas logistik kita bisa berjalan normal dan maksimal,” katanya.

Disinggung terkait target percepatan revitalisasi tersebut, Komisi V DPR RI akan melakukan pendalaman teelebih dahulu dengan stakeholder terkait, termasuk dengan konsep yang sudah dibuat oleh Pemprov Jateng. Percepatan revitalisasi juga perlu menggandeng banyak pihak termasuk peluang investor.

“Teman-teman di Kementerian Perhubungan dan Pekerjaan Umum (PU) sedang membahas untuk memenuhi target tentang perbaikan yang ada di pelabuhan Tanjung Emas ini, termasuk ada kemungkinan investor masuk di sini,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Investasi PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Persero, Boy Robyanto menjelaskan, pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas saat ini masih 50%. Ada beberapa kendala terkait pengembangan, di antaranya penurunan muka tanah yang masif, mencapai 13-17 cm per tahun.

Ia menjelaskan, Pelabuhan Tanjung Emas merupakan satu-satunya yang memiliki dermaga bertingkat, yaitu level 1, 2, dan 3. Dermaga tersebut akan terus ditinggikan.

“Dengan kondisi teknis yang ada, pengembangan tetap kita lakukan. Sekarang sedang mengerjakan peninggian dermaga,” katanya. ***

Proyek Revitalisasi GOR Pesantenan Dimulai Bulan Depan

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Pati bergerak cepat untuk melakukan revitalisasi besar-besaran di kawasan Gedung Olahraga (GOR) Pesantenan. Rencananya, proyek revitalisasi GOR Pesantenan akan dimulai pada bulan depan.

“Poyek revitalisasi GOR Pesantenan dijadwalkan akan dimulai pada bulan Juni 2025,” kata Sudewo.

Pemerintah Kabupaten Pati, katanya, telah mengalokasikan anggaran awal sebesar Rp 7,5 miliar untuk merealisasikan tahap pertama penataan ini.

“Rencananya, proyek ini akan berlanjut ke tahap berikutnya pada tahun 2026,” ujarnya.

Bupati Sudewo juga menegaskan bahwa penataan tidak hanya fokus pada aspek lingkungan di sekitar GOR, tetapi juga memperhatikan keberadaan para pedagang yang selama ini beraktivitas di sana.

“Mereka tetap eksis, tapi akan kita tata agar tertib dan mendukung keindahan kawasan,” ujarnya.

Pemerintah berkomitmen untuk mengakomodasi para pedagang dengan penataan yang lebih teratur dan terorganisir.

Lebih lanjut, Sudewo menjelaskan bahwa fokus penataan juga menyasar bagian dalam gedung GOR. Perbaikan lantai dan peningkatan fasilitas menjadi prioritas agar GOR dapat berfungsi secara optimal bagi masyarakat.

“Tampilannya nanti akan lebih bagus dan lebih optimal digunakan masyarakat. Kami ingin GOR ini benar-benar menjadi pusat aktivitas olahraga dan rekreasi yang membanggakan,” imbuh Bupati.

Dengan adanya rehabilitasi GOR Pesantenan, Bupati Pati menginginkan penataan bagian dalam GOR Pesantenan dapat lebih bagus dan lebih optimal jika digunakan oleh masyarakat.

“Tampilannya nanti akan lebih bagus dan lebih optimal digunakan masyarakat. Kami ingin GOR ini benar-benar menjadi pusat aktivitas olahraga dan rekreasi yang membanggakan,” paparnya.

Renovasi GOR Pesantenan sendiri menjadi angin segar tersendiri bagi pembinaan olahraga prestasi di Kabupaten Pati.

GOR Pesantenan yang berada di Desa Puri Kecamatan Pati ini merupakan arena olahraga multifungsi yang digunakan oleh beberapa cabang olahraga. Baik untuk kegiatan latihan maupun event kejuaraan.

Di antaranya adalah voli indoor, basket, futsal, bola tangan, pencak silat, karate dan sejumlah cabang olahraga lainnya.

Lebih lanjut, Sudewo menyampaikan harapannya terkait dukungan dari seluruh masyarakat Kabupaten Pati.

“Kami mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat. Semoga upaya ini bisa memberikan manfaat nyata bagi warga Pati,” pungkasnya. (*)

Penulis: Miftah

Lokasi Pasar Kota Rembang Tidak Akan Dipindah, Bupati: Fokus Revitalisasi

Lingkar.co – Bupati Rembang Harno, menegaskan pihaknya tidak akan memindah lokasi Pasar Kota Rembang. Hal ini berdasarkan dengan kesepakatan para pedagang yang menginginkan lokasinya tetap berada di tempat semula.

“Pedagang sudah sepakat tidak dipindah, maka dari itu sesuai dengan pertemuan yang sudah pernah kita lakukan. Pedagang sudah ayem, saya setujui lokasi pasarnya tetap,” ujar Bupati Harno.

Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut, Pemerintah Kabupaten Rembang akan melakukan revitalisasi Pasar Kota agar lebih representatif, tertata, dan memberikan kenyamanan baik bagi pedagang maupun pembeli.

Bupati menekankan pentingnya penataan ulang, khususnya terkait fasilitas parkir yang selama ini menjadi penyebab kemacetan lalu lintas di sekitar pasar.

“Kalau sudah tetap, kita tinggal mendesain agar pasarnya tidak semrawut. Kita harus menyadari, utamanya setiap pagi, jalannya macet di sekeliling pasar. Maka kita harus bisa menciptakan pasar yang tidak semrawut. Ini adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Guna merealisasikan rencana tersebut, Bupati Harno menyampaikan bahwa revitalisasi pasar membutuhkan anggaran yang cukup besar. Untuk itu, Pemkab Rembang tengah mengupayakan bantuan anggaran dari pemerintah pusat.

“Kalau tidak dibangun tingkat, tidak akan muat. Dibikin tingkat desainnya, nanti parkiran motor bisa di baseman dan di atas bangunan pasar,” ungkap Bupati.

Terkait desain bangunan pasar, Bupati meminta agar paguyuban pedagang bekerja sama dengan perangkat daerah terkait untuk melakukan studi banding ke daerah lain. Hal ini dimaksudkan agar desain yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi para pedagang.

“Saya ingin bangunannya nanti hasil aspirasi para pedagang. Sehingga tidak menyalahkan Pemkab, dan DED-nya harus dibuat sebagus mungkin agar tidak kecewa di kemudian hari,” tutup Bupati Harno. (*)

DKP Pati Usulkan Revitalisasi Ribuan Hektare Tambak Ikan Nila Salin ke Pusat

Lingkar.co – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati telah mengusulkan revitalisasi ribuan hektare tambak ikan nila salin ke pemerintah pusat.

Analis Aquacultur Ahli Muda DKP Pati Sriwati mengatakan revitalisasi ini dilakukan untuk mengubah pengelolaan tambak, yang semula secara tradisional menjadi lebih modern. Dengan begitu, katanya, produktivitas ikan yang dihasilkan dapat lebih banyak.

Menurutnya, revitalisasi ini sesuai dengan prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berbasis Ekonomi Biru dengan komoditas unggulan udang, rumput laut, kepiting, lobster dan nila. Di mana, berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 61 tahun 2021, Kabupaten Pati menjadi salah satu kampung perikanan di Indonesia yakni ikan nila salin.

“Komoditas ikan nila salin yang dikembangkan Indonesia adalah negara eksportir ke lima di dunia. Komoditas ikan nila salin menjadi penyumbang terbesar kedua ekspor produk perikanan budidaya setelah udang dengan pangsa pasar Uni Eropa dan China,” jelasnya, Senin (20/5/2024).

Ia menjelaskan, seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada saat peresmian Modeling Budidaya Ikan Nila Salin (BINS) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada awal bulan ini, direncanakan setidaknya terdapat 78.000 hektare tambak di pantura yang tidak berpotensi atau iddle dapat merealisasikan tambak ikan dengan sistem pengelolaan berkelanjutan.

Di Kabupaten Pati sendiri, katanya, telah diusulkan revitalisasi tambak di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Tayu, Kecamatan Margoyoso, Dukuhseti, Juwana dan Gabus.

“Program KKP terkait dengan revitalisasi tambak disambut hangat oleh Kabupaten Pati dengan mengidentifikasi dan mengusulkan sebanyak 1.094,13 hektare tambak-tambak yang diperlukan revitalisasi yang terbagi dalam 4 Kecamatan,” kata Sriwati.

Saat ini, lanjut Sriwati, revitalisasi tambak ikan nila salin masih dalam tahap usulan. Rencananya, akan dilaksanakan verifikasi oleh tim KKP tahun 2024 dan dilaksanakan pada 2025.

Untuk mendukung usulan revitalisasi ini, diperlukan sinergitas baik dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten kecamatan hingga desa dan kelompok pembudidaya ikan.

“Program ini sangat diharapkan oleh pembudidaya ikan agar tambak-tambak dapat diperbaiki dan ditata. Sehingga dapat meningkatkan produktivitas budidaya ikan nila salin, pendampingan hulu sampai dengan hilir sehingga kesejahteraan pembudidaya ikan meningkat,” harapnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Langkah Awal Revitalisasi Kawasan Pecinan, Pemkot Semarang Akan Benahi Kawasan Kelenteng Tay Kak Sie dan Gapura Masuk

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang segera melakukan revitalisasi kawasan Pecinan Kota Semarang. Kali ini revitalisasi akan difokuskan pada pembangunan di kawasan Kelenteng Tay Kak Sie dan tetenger atau gerbang masuk gapura di Jalan Pekojan. Hal itu diketahui dari keterangan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu di sela kegiatan bersepeda bersama jajaran Kepala OPD di kawasan Kota Lama Semarang, dan sempat singgah di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang, Selasa (14/5/2024).

“Gowes kali ini untuk melihat langsung kondisi sekitar Pecinan Semarang, utamanya kawasan Tay Kak Sie yang rencananya akan direvitalisasi,” ujar Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Mbak Ita mengatakan, setelah revitalisasi kawasan Kota Lama (Little Netherland) dan Kampung Melayu, tahun ini Pemkot Semarang akan melakukan melakukan revitalisasi kawasan Pecinan. “Karena anggaran terbatas, saya menyampaikan harus ada satu titik atau embrio untuk memulai pembenahan di wilayah Pecinan. Dipilihlah Tay Kak Sie yang merupakan salah satu ikon Kota Semarang. Apalagi di sini sering ada perayaan-perayaan,” paparnya.

Terlebih, Tay Kak Sie merupakan salah satu kelenteng terbesar dan bersejarah yang sering digunakan umat Tionghoa di Kota Semarang sebagai ibadah dan perayaan keagamaan.

Dari hasil kunjungan tersebut, Mbak Ita meminta Disperkim dan DPU bersama konsultan untuk mematangan konsep serta merevisi desain revitalisasi, tentunya dengan melibatkan tokoh-tokoh di Kawasan Pecinan.

“Revitalisasi gak bisa hanya sekadar pavingisasi saja. Saya minta dinas untuk hati-hati mematangkan desain. Karena anggaran awal hanya Rp 10 miliar, ini jauh sekali dibandingkan anggaran revitalisasi kawasan Kota Lama (Little Netherland-red) yang menyentuh angka Rp 210 miliar,” paparnya.

Dirinya menyebut akan memaksimalkan anggaran untuk menyelesaikan revitalisasi Pecinan. Bahkan, Mbak Ita berencana akan mencoba mengajukan bantuan keuangan ke Pemprov Jateng.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Yudi Wibowo mengatakan, revitalisasi kawasan Pecinan Kota Semarang akan dilakukan dengan tiga tahap.

“Untuk revitalisasi kawasan Pecinan direncanakan dengan anggaran total Rp 76 Miliar dan akan dikerjakan tiga tahap. Di antaranya, tahap pertama itu Rp 10 miliar, kedua Rp 30 miliar, dan sisanya di tahap ketiga,” ujar Yudi.

Menurut dia, pembenahan infrastruktur kawasan Pecinan akan menjadi kewenangan dua dinas, yakni Disperkim dan DPU. “Hanya saja Ibu Wali inginnya, revitalisasi kawasan Pecinan difokuskan di ikonnya kawasan Pecinan terlebih ahulu agar kelihatan. Akhirnya dipilihlah Kelenteng Tay Kak Sie dan gapura masuk,” kata dia.

Untuk tahap pertama, lanjut Yudi, akan dialokasikan Rp 10 miliar untuk revitalisasi pembangunan infrastruktur, akses masuk, hingga penambahan ornamen.

“Termasuk Gowes Bu Wali bersama OPD kali ini juga untuk melihat langsung dan mengintervensi persoalan satu persatu,” paparnya.

Yudi menyebut, pembangunan akan mulai dari pintu masuk di Jalan Pekojan. Akan dibuat tetenger atau gapura, termasuk penambahan patung Tay Kak Sie dengan menggandeng tokoh-tokoh yang ada di Pecinan.

Melibatkan tokoh-tokoh tersebut, lanjut Yudi, karena mereka yang lebih tahu ruh dari Pecinan, terutama Tay Kak Sie. “Kami ingin keterlibatan itu (tokoh-tokoh-red) nyata, sehingga bangunan dan inovasi tidak hanya sekadar fisik tapi semangatnya juga ada,” imbuhnya.

Dia menargetkan revitalisasi kawasan Pecinan tersebut akan selesai pada awal Desember 2024. “Realisasi nantinya setelah ada diskusi dengan tokoh-tokoh. Lalu kami naikkan ke lelang, baru satu setengah bulan kemudian bisa eksekusi. Perkiraan, akhir bulan Juli mulai pembangunan hingga awal Desember 2024,” paparnya.()