Abu Vulkanis Anak Krakatau Belum Masuk Semarang, Warga Diminta Waspada

Inti berita

Abu vulkanis dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dipastikan belum memasuki wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada…

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam. (dok Istimewa)

Abu vulkanis dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dipastikan belum memasuki wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena paparan abu vulkanis berpotensi mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam mengatakan masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu abu vulkanis mencapai wilayah Semarang.

“Alhamdulillah surat edaran dari BMKG ya, kalau memang abu vulkanisnya di Kota Semarang ini masih negatif. Namun, kami tetap menyampaikan kepada masyarakat untuk tetap waspada,” kata Hakam di kantornya, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Selasa (8/9/2026).

Menurut Hakam, abu vulkanis tidak hanya berupa debu biasa. Material tersebut dapat mengandung sejumlah partikel yang berisiko apabila terhirup maupun mengenai bagian tubuh.

Abu Vulkanis Bisa Ganggu Saluran Pernapasan

Hakam menjelaskan abu vulkanis dapat mengandung material seperti kaca, silikon dioksida (SiO2), besi, dan aluminium. Partikel tersebut berpotensi menimbulkan iritasi, khususnya ketika masuk ke saluran pernapasan melalui hidung atau mulut.

“Ini berisiko karena tidak hanya debu, tetapi ada kandungan kaca, ada SiO2 (silikon), ada besi, ada aluminium,” ujarnya.

“Ketika itu masuk dihirup melalui hidung ataupun mulut, itu pasti akan membuat iritasi di saluran napas,” lanjut Hakam.

Paparan tersebut perlu diwaspadai karena iritasi dan paparan berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga infeksi paru atau pneumonia.

Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah ketika terdapat paparan abu vulkanis dianjurkan menggunakan masker.

“Supaya tidak terkena hal itu, maka disarankan ketika benar-benar keluar rumah dengan terpaksa ya, harus pakai masker,” tuturnya.

PM2,5 Semarang Belum Berubah

Dinas Kesehatan Kota Semarang juga menyatakan siap melakukan penanganan apabila terdapat masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanis.

Namun, Hakam menyebut abu vulkanis Gunung Anak Krakatau sejauh ini belum mencapai Semarang. Ia juga menyampaikan harapan agar abu vulkanis tidak masuk ke wilayah kota karena arah angin membawa material tersebut ke Samudra Hindia atau barat daya.

“Kalau memang abu vulkanis Gunung Anak Krakatau belum sampai di sini dan mudah-mudahan tidak, karena memang secara angin itu larinya ke Samudra Hindia, artinya ke arah barat daya,” tuturnya.

Selain abu vulkanis, kondisi udara selama musim kemarau juga menjadi perhatian karena konsentrasi partikel debu halus atau PM2,5 cenderung dominan.

Meski begitu, Hakam mengatakan belum terdapat perubahan kondisi PM2,5 di Kota Semarang sebelum maupun setelah erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (4/9/2026).

“Sebelum ada abu vulkanis (erupsi Gunung Anak Krakatau, red), ternyata PM2,5-nya itu tidak ada yang berbeda, artinya sama,” ujarnya.

Masyarakat tetap diminta waspada dan menggunakan perlindungan pernapasan apabila kondisi udara berubah atau abu vulkanis terdeteksi mencapai wilayah Semarang. ***

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu