Profil Brigjen Hengki Haryadi
Brigjen Hengki Haryadi lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 16 Oktober 1974. Ia merupakan alumnus SMA Taruna Nusantara angkatan 1993 (TN 1). Karier kepolisiannya dimulai dari Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1996. Sejak awal, jalan hidupnya memang lekat dengan dunia reserse.
Catatan kariernya panjang, mulai dari Pamapta II Polres Dili (1997), Kasat Lantas Polres Manatuto, Kasat Reskrim Polres Tulangbawang, Kasat Reskrim Poltabes Bandar Lampung, hingga Kapolsek Metro Gambir. Nama Hengki mulai dikenal luas saat bertugas di Polda Metro Jaya.

Diawali menjabat Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat (2012), Kapolres KP3 Tanjung Priok (2014), Wadirreskrimsus Polda Metro Jaya (2016), Kapolres Metro Jakarta Barat (2017), Kapolres Metro Jakarta Pusat (2020), hingga Dirreskrimum Polda Metro Jaya (2022).
Sebelum ke Riau, ia juga sempat menjadi Penyidik Tindak Pidana Utama Tk II Bareskrim Polri. Sederet pendidikan kejuruan seperti PTIK, Sespimmen (2010), hingga Sespimti (2020) dengan predikat lulusan terbaik, turut melengkapi rekam jejaknya.
Dijuluki pemburu preman
Dua kali memenjarakan preman paling ditakuti di Jakarta, kini ia dapat mandat baru menjaga Tanah Papua. Itulah jejak Brigjen Pol Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., perwira tinggi Polri yang resmi ditunjuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolda Papua Barat Daya.
Penunjukan Hengki tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026. Dalam rotasi besar yang melibatkan ratusan perwira tinggi dan menengah Polri itu, Hengki dipercaya menggantikan Brigjen Pol Yulius Audie Sonny Latuheru yang dimutasi sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tk I Sespim Lemdiklat Polri, menurut Kompas.com, Senin (31/9/2026).
Promosi ini terbilang cepat. Sebelumnya, Hengki baru sekitar delapan bulan menjabat sebagai Wakapolda Riau. Kini, jenderal bintang satu lulusan Akpol 1996 itu naik kelas memimpin Polda Papua Barat Daya.
Nama Hengki Haryadi menjadi perhatian nasional karena keberaniannya berhadapan langsung dengan Rosario de Marshall alias Hercules, tokoh yang dikenal sebagai preman legendaris Ibu Kota. Penangkapan pertama terjadi pada 2013.
Saat itu, Hengki yang menjabat Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, memimpin penangkapan Hercules dan kelompoknya atas kasus pemerasan dan tindak kekerasan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Penangkapan kedua terjadi pada November 2018. Kala itu, Hengki sudah menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat.
Ia kembali memimpin tim menangkap Hercules di kediamannya di Kembangan, terkait kasus pendudukan lahan dan penyerangan kompleks ruko di Kalideres. Aksi itu menghentikan intimidasi yang meresahkan warga.
Dua aksi tersebut membuat publik menjulukinya sebagai jenderal pemburu preman yang tak kenal kompromi. Tak hanya soal premanisme, Hengki juga dikenal tangguh memberantas korupsi dan pungli.
Pada Maret 2017, saat menjabat Kasubdit I Dittipideksus Bareskrim Polri, ia bersama Polda Kaltim membongkar praktik pungutan liar di Pelabuhan Peti Kemas Palaran, Samarinda, dengan barang bukti Rp 6,1 miliar, menurut Antara News, Jumat (17/3/2017).
Pada 2015, ia juga memimpin Satgas Khusus Polda Metro Jaya membongkar kasus korupsi dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok yang menyeret pemeriksaan hingga ke Kementerian Perdagangan.