Iklan

Buka Muktamar Nasyiatul Aisyiyah, Haedar Nashir Ingatkan Berorganisasi Untuk Perjuangkan Nilai, Bukan Sebatas Berkumpul

Inti berita

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan, tujuan berorganisasi bukan hanya untuk berkumpul apa adanya. Tetapi untuk memperjuangkan value atau nilai yang dimiliki, sehingga melekat kuat dalam setiap proses perjuangannya.

Buka Muktamar Nasyiatul Aisyiyah, Haedar Nashir Ingatkan Berorganisasi Untuk Perjuangkan Nilai, Bukan Sebatas Berkumpul
Pembukaan Muktamar Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah ke-15 di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Jum’at (7/8/2026). Foto: dokumentasi

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan, tujuan berorganisasi bukan hanya untuk berkumpul apa adanya. Tetapi untuk memperjuangkan value atau nilai yang dimiliki, sehingga melekat kuat dalam setiap proses perjuangannya.

“Maka dalam musyawarah ini, proyeksikan langkah Nasyiatul Aisyiyah dalam lima, sepuluh bahkan hingga lima puluh tahun ke depan. Tentukan apa peran Nasyiatul Aisyiyah dalam kehidupan umat dan bangsa,” ungkapnya.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam pembukaan Muktamar Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah ke-15 di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Jum’at (7/8/2026).

Sejalan dengan hal itu Haedar mengungkapkan, muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah beserta seluruh komponennya, perlu menjadi tempat bermusyawarah dengan penuh kebijaksanaan.

“Sesuatu yang musykil atau susah, jika dibahas dengan baik dan semangat syuro atau bermusyawarah akan dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

“Silahkan bermusyawarah dengan kecerdasan dan ilmu yang mencukupi. Walaupun di tengah dinamika negeri, justru muktamar harus hadir sebagai tempat bermusyawarah yang penuh kebijaksanaan. Bil Ilmi Wal Hikmah,” ucap Haedar menyampaikan pesan pertamanya.

Berkaitan dengan pesan musyawarah itu, ia kemudian merujuk nilai penting dalam Sila Keempat Pancasila yang menurutnya memuat dua dimensi penting yakni musyawarah dan kebijaksanaan. Haedar menilai, segala persoalan yang rumit akan lebih mudah menemukan jalan keluarnya apabila dibahas melalui musyawarah yang dilandasi ilmu dan kebijaksanaan.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi penuh pelaksanaan rangkaian Tanwir dan Muktamar NA ke 15 ini. Menurutnya, Muktamar merupakan wadah bermusyawarah untuk mendapatkan solusi atas masalah.

“Sebagaimana fokus utamanya, yaitu bermusyawarah dengan sebaik-baiknya terkait masalah, tantangan, program dan proyeksi Nasyiatul Aisyiyah ke depannya,” ujarnya.

Sementara, Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Pimpinan Pusat dari Muhammadiyah dan Aisyiyah dan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam agenda besar NA .

“Ini membuktikan Nasyiatul Aisyiyah dicintai oleh ayahanda dan ibundanya. Ini memberikan semangat pada kita semua para srikandi untuk mengikuti jejak mereka untuk berkiprah,” tuturnya.

Ariati menyampaikan bahwa NA memiliki kaitan erat dengan Surakarta. Ia mengungkapkan bahwa muktamar NA dilaksanakan pertama kali secara otonom di Surakarta pada tahun 2004.

“Kami kembali ke Surakarta membawa semangat perempuan-perempuan muda di seluruh Nusantara untuk bermusyawarah dan bermuhasabah merumuskan arah perjuangan Nasyiatul Aisyiyah,” ungkapnya.

Menurutnya, perubahan pola kehidupan keluarga di era transformasi digital, menuntut organisasi perempuan muda seperti Nasyiatul Aisyiyah untuk mampu membaca zaman.

“Kita tidak hanya perlu mampu bertahan, tapi juga berinovasi untuk dakwah berkemajuan,” ujarnya.

Ariati menekankan, kepemimpinan di NA bukan tentang menghadirkan kesempurnaan, tetapi tentang menjaga arah organisasi tetap berjalan di atas nilai-nilai yang benar. Ia menyebutkan, prinsip NA adalah menjadi insan terbaik yang bermanfaat bagi manusia.

“Maka dari itu, banyak kami temukan yunda-yunda yang mengajar mengaji setelah lelah bekerja. Begitu banyak kader yang mengorbankan waktu istirahatnya untuk memastikan Nasyiatul Aisyiyah tetap hidup,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan NA ini bukan hanya milik beberapa orang saja, melainkan perjalanan ribuan perempuan muda yang tetap mengabdi di tengah kesibukannya.

“Perempuan adalah pelaku utama perubahan. Inilah fondasi ideologis yang terus membimbing gerak dakwah kami. Selamanya, Nasyiatul Aisyiyah akan menjadi putri islam berkemajuan yang bermanfaat untuk keluarga, bangsa dan agama,” pungkasnya. (*)

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu