Langit Kalimantan dan Sumatra mendadak berubah warna menjadi kuning pekat. Di balik kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masuk dalam fase membahayakan, tragedi kemanusiaan kembali merenggut nyawa warga sipil.
Berdasarkan laporan BBC News Indonesia, kasus kematian seorang pengemudi ojek online (ojol) dan seorang guru di tengah kepungan asap seharusnya menjadi lonceng peringatan keras bagi kita semua.

Selama ini, respons darurat pemerintah tatkala karhutla mengamuk terasa sangat klise: imbauan memakai masker dan meliburkan kegiatan sekolah. Kebijakan ini memang krusial untuk anak-anak serta pekerja kantoran yang memiliki privilege untuk menikmati fasilitas work from home.
Namun, Mulai dari pengemudi ojol, kurir paket, pedagang keliling, hingga buruh harian lepas, mereka sama sekali tidak punya pilihan untuk tinggal di rumah. Bagi mereka, berdiam diri di rumah berarti perut keluarga harus menahan lapar.
Sehingga mau tidak mau mereka tetap menjalankan rutinitasnya bekerja di jalanan dengan kondisi kualitas udara yang masih buruk.
Pandangan pengamat
Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia belum banyak berubah yang ditandai kemunculan kasus-kasus kematian warga diduga akibat asap serta sorotan aktor sekaligus pegiat lingkungan Leonardo DiCaprio.
Dua warga di lokasi terpisah di Sumatra dan Kalimantan yang terdapat banyak titik api diduga meninggal akibat asap karhutla.
Di sisi lain, Leonardo Dicaprio dalam unggahan terbaru di Instagram, menyoroti karhutla Indonesia. Dalam takarir ia sebut "lebih dari lima juta orang telah terdampak asap karhutla".
Sejauh ini, belum ada laporan resmi jumlah warga yang meninggal akibat asap karhutla.
Namun, indeks kualitas udara sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan dilaporkan pada fase "membahayakan" yang berdampak pada kesehatan warga secara serius.
Beberapa hari terakhir, indeks kualitas udara di sejumlah titik terdampak karhutla di Sumatra dan Kalimantan masuk level tertinggi "sangat berbahaya bagi kesehatan".
Kondisi mata pedih seperti disiram pasir, hidung dan tenggorokan terus berlendir atau kering gatal, kondisi yang hampir dialami seluruh warga terdampak.
Bagi kelompok rentan seperti yang punya penyakit bawaan, situasi ini sangat berbahaya. Kasus-kasus warga kehilangan nyawa diduga akibat asap terus bermunculan.