Lingkar.co - SD Islam Primadana Semarang diduga melakukan tindakan diskriminasi dan tidak konsisten terhadap VPA (6) dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 ini. Padahal bocah perempuan itu sedari semula ingin menikmati pendidikan di sekolah tersebut.
Orang tua calon murid, Bowo Wiranto menuturkan, putrinya dinyatakan diterima oleh salah satu guru berinisial M ketika mendaftar di SD Primadana pada Selasa 22 Juni 2026.
Kabar gembira itu disambut antusias oleh keluarga VPA saat observasi. Bowo selaku ayah menceritakan kisah dari calon murid kepada guru yang melakukan observasi. Dengan harapan guru memahami dan mengetahui latar belakang dari calon murid tersebut.
“Setelah anak saya dilakukan observasi, secara lisan anak saya dinyatakan diterima oleh guru M. Saya menceritakan anak saya yang dulunya ketika di PAUD memiliki fokus pendek, sebagai orangtua saya terapikan untuk dapat bisa memiliki fokus panjang,” ungkap Bowo, Minggu (27/6/2026).
Berdasarkan dari cerita tersebut, guru M juga menimpali bahwa pihak sekolah pernah ada murid yang mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Dengan adanya pengakuan tersebut, orang tua calon murid merasa yakin SD Primadana bisa mendidik anaknya dengan baik.
Bowo mengaku pernah melakukan konsultasi kesehatan mental anaknya. Hasilnya tidak ada tanda ADHD, hanya dinyatakan cukup aktif dan memiliki kreativitas yang berbeda. Ia bersyukur karena menganggap M merupakan guru yang memiliki pengalaman luar biasa, mampu mendidik anak ADHD.
"Karena saya yakin guru M punya pengalaman yang bagus, saat itu saya langsung memasrahkan saya percayakan agar nantinya dibawah pengawasannya langsung," ungkapnya.
Kemudian, ketika dirinya hendak menyelesaikan adminitrasi pembayaran, pihak sekolah memintanya untuk menghubungi ketua penerimaan siswa baru SD Primadana. Ketika dihubungi via WA, panitia menanyakan surat telah diterima di SD Primadana dan diminta menunggu.
Namun hasil berbeda diterima oleh keluarga VPA, panitia menyampaikan kabar tidak diterima dalam bentuk pesan tertulis (bukan file pdf sebagaimana umumnya surat resmi) melalui aplikasi WhatsApp.
“Pada Rabu 23 Juni 2026, saya mendapatkan pesan WA dari pihak sekolah yang mengiformasikan di SD Islam Primadana memiliki 2 kurikulum yang mata pelajarannya sangat banyak, kurikulum Merdeka dan Kurikulum Mandiri. Dari hasil Observasi kesiapan belajar, alangkah lebih baik ananda VAP bisa di sekolahkan di sekolah yang mata pelajarannya lebih sedikit supaya lebih fokus,” terangnya.
Dari pesan tersebut, Bowo merasa bingung lantaran SD Primadana tidak konsisten dan mendadak diskriminatif pada penerimaan murid baru. Kemudian orang tua calon murid mencoba menghubungi pihak sekolah dan guru yang melakukan observasi.
“Guru M menceritakan kepada ketua penerimaan siswa baru terkait anak saya. Intinya guru M meminta maaf kepada saya bahwa anak saya tidak diterima di SD Primadana,” ungkapnya.
Dengan pernyataan tersebut, orang tua calon murid merasa tambah bingung. Kemudian pada Kamis 25 Juni 2026, pihak sekolah memberi klarifikasi dengan memanggil orang tua calon murid ke sekolah.
“Murid di SD Primadana dari berbagai latar belakang, dan takutnya VPA mengganggu siswa lainnya. Pihak sekolah juga menyatakan VPA belum diterima karena belum ada surat resmi dari SD Primadana,” kata Ketua penerimaan siswa baru, Tri Agung saat pertemuan dengan orang tua VPA, Kamis 25 Juni 2026.
Dengan pernyatan tersebut, orang tua calon siswa merasa sangat kecewa dengan inkonsistensi pihak sekolah dalam proses penerimaan siswa baru. Kemudian pada Sabtu 27 Juni 2026, orangtua calon murid dihubungi melalui telp WA yang menyatakan VPA tidak diterima di SD Islam Primadana.
“Saya dihubungi pihak sekolah bahwa anak saya tidak diterima dan akan dikembalikan biaya pendaftarannya. Kemudian saya minta surat resmi tidak diterima di sekolah SD Primadana, namun hingga saat ini pihak sekolah belum memberikan surat tersebut,” urainya.
Ia berharap peristiwa yang mengecewakan itu tidak kembali terulang di lembaga pendidikan manapun.
“Semoga pengalaman saya mencari sekolah yang terbaik tidak menimpa orang tua lainnya saat mencari sekolah bagi anaknya. Semoga SD Primadana masih mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk pendidikan anak-anaknya,” tuturnya. (*)