Jawa Tengah Jadi Pelopor Pendidikan Koperasi di Sekolah, Jangkau 6,38 Juta Siswa

Inti berita

Lingkar.co - Provinsi Jawa Tengah menjadi daerah pertama di Indonesia yang menerapkan pendidikan koperasi secara terstruktur dan berkelanjutan di lingkungan…

Jawa Tengah Jadi Pelopor Pendidikan Koperasi di Sekolah, Jangkau 6,38 Juta Siswa
Foto : Menteri Koperasi, Ferry Juliantono (kedua dari kiri)/istimewa/lingkar.co
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co - Provinsi Jawa Tengah menjadi daerah pertama di Indonesia yang menerapkan pendidikan koperasi secara terstruktur dan berkelanjutan di lingkungan sekolah melalui Program Insersi Pendidikan Perkoperasian.

Program yang diluncurkan pada Jumat (5/6/2026) tersebut menyasar sekitar 6,38 juta siswa dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga SLB di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut program ini sebagai langkah strategis untuk mengenalkan nilai-nilai koperasi kepada generasi muda sejak dini.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Menurutnya, koperasi merupakan bagian dari amanat konstitusi sekaligus pilar penting perekonomian nasional yang perlu dipahami sejak bangku sekolah.

“Koperasi merupakan amanah Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33. Program ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah terkait Koperasi Merah Putih,” kata Ahmad Luthfi.

Ia menegaskan, penerapan pendidikan koperasi tidak akan menambah beban belajar siswa karena materi tersebut diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Program ini tidak mengubah dan tidak menambah mata pelajaran di sekolah. Materi koperasi disisipkan atau diinsersikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada,” ujarnya.

Baca Juga : Sarwa Pastikan Pelayanan Darah PMI Sesuai Regulasi Kemenkes

Luthfi menambahkan, Pemprov Jawa Tengah telah menyiapkan modul pembelajaran serta memberikan pembekalan kepada kepala sekolah, pengawas, dan guru untuk mendukung implementasi program tersebut.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang menginisiasi materi dan modul koperasi untuk pembelajaran anak-anak di sekolah. Modulnya sudah ada, para kepala sekolah, pengawas, dan guru juga sudah diberi pembekalan. Tinggal pelaksanaannya,” katanya.

Dalam penerapannya, materi koperasi disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Siswa SD/MI dikenalkan pada nilai dasar koperasi dan semangat gotong royong, sementara tingkat SMP/MTs mempelajari organisasi, pengelolaan, dan manfaat koperasi.

Pada jenjang SMA/SMK/MA, siswa mulai diperkenalkan pada praktik koperasi dan kewirausahaan, sedangkan untuk SLB disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Menteri Koperasi Ferry Juliantono memberikan apresiasi atas langkah Jawa Tengah yang dinilai menjadi terobosan dalam pendidikan perkoperasian nasional.

“Saya mengucapkan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya Bapak Gubernur Jawa Tengah, yang hari ini telah melahirkan sejarah,” ujarnya.

Ia menilai pendidikan koperasi penting untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap ekonomi Pancasila dan nilai kebersamaan sebagai ciri khas bangsa.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Jawa Tengah adalah provinsi pertama yang membuat insersi kurikulum tentang perkoperasian. Kami berharap provinsi-provinsi lain bisa melakukan hal yang sama,” katanya.

Ferry menambahkan, koperasi tidak hanya dipahami sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi juga sebagai badan usaha berbasis gotong royong yang dapat menjadi wadah ekonomi generasi muda.

“Koperasi bisa menjadi alternatif penyediaan lapangan pekerjaan bagi milenial, Gen Z, generasi muda, hingga generasi Alpha yang saat ini masih berada di bangku sekolah,” ujarnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Apresiasi juga disampaikan Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin. Ia menilai program tersebut tidak hanya memberikan pemahaman ekonomi, tetapi juga membentuk karakter siswa.

“Pendidikan perkoperasian adalah proses menanamkan nilai kebersamaan, tanggung jawab, kejujuran, kepemimpinan, kemandirian, serta semangat membangun kesejahteraan bersama,” katanya.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan dukungannya terhadap program tersebut karena sejalan dengan nilai keagamaan seperti gotong royong, kepedulian sosial, dan kemandirian.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Kementerian Agama bersama seluruh lembaga pendidikannya siap mendukung gagasan cerdas yang dimunculkan oleh Gubernur Jawa Tengah,” ujarnya.

Program ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan, kemandirian, serta semangat kebersamaan.

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu