Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, MAg berpesan kepada para dekan Fakultas Sains dan Teknologi (Fakultas Sainteks/FST) untuk mempercepat terobosan agar mampu menjadi fakultas rujukan.
“FST perlu mempercepat larinya agar benar-benar menjadi fakultas rujukan, di tengah banyaknya fakultas-fakultas yang beririsan dengan FST di Perguruan tinggi umum, meskipun FST di UIN itu memiliki keungulan distingsi, yaitu integrasi sains dan Islam," katanya.
Hal itu ia sampaikan saat membuka Forum Dekan FST (FORDEK FST) Tahun 2026 yang diselenggarakan di hotel Novotel, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (16/7/2026) malam.
Aktivis NU asal Demak ini menilai Sainteks di UIN lebih unggul daripada kampus umum. Sebab, kampus Islam tetap menekankan pada karakter religius dalam pendidikan sains dan teknologi.
Meski hal itu menjadi nilai tambah, namun ia tetap mendorong berbagai terobosan, dan terus meningkatkan kolaborasi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Saat ini yang harus ada dalam pikiran pimpinan FST PTKIN se Indonesia ini adalah internasionalisasi, bukan lagi nasional, jadi kita harus melihat bagaimana rancang bangun keilmuan FST ya harus melihat bagaimana di dunia internasional," tuturnya.
Sementara, Dekan FST UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag selaku tuan rumah menyampaikan FORDEK FST 2026 dihadiri oleh 186 pimpinan fakultas, program studi, dan kepala laboratorium terpadu Saintek Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari seluruh Indonesia.
Ia menyebut FORDEK FST menjadi momen penting bagi para pimpinan FST PTKIN seluruh Indonesia untuk melihat kembali perjalanan FST dan terobosan apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi tantangan ke depan.
Untuk itu ia berharap, pendidikan tinggi sains dan teknologi di lingkungan PTKIN semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia industri, dan perkembangan ilmu pengetahuan global.
“Kita punya tantangan bersama agar pendidikan tinggi sains dan teknologi di lingkungan PTKIN yang mengusung integrasi ilmu itu semakin relevan, tidak hanya mengawang-ngawang pada tataran filosofis dan konseptual," ujarnya.
Ia bilang, FST di PTKIN harus benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia industri tanpa kehilangan identitas nilai-nilai keislaman sebagai ruhnya.
Pertemuan yang berlangsung hingga 19 Juli ini mengusung tema; Transformasi Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN melalui Good University Governance, Hilirisasi Riset, dan Integrasi Sains-Islam.
“Tema ini memberikan energi bagi keluarga besar FST PTKIN se-Indonesia untuk terus menjadi lokomotif pengembangan ilmu yang integratif antara sains-Islam, karena corong integrasi ilmu di PTKIN ini sesungguhnya adalah di FST, karena di FST ini rumahnya prodi-prodi sains dan teknologi," urainya.
Penting diketahui, saat ini, ada berbagai program studi (Prodi) di bawah FST, antara lain; Prodi Biologi, Fisika, Kimia, Matematika, Teknologi Informasi, Sistem Informasi, Agribisnis, Teknik Lingkungan, Teknik Industri, Teknik Pertambangan, Teknik Arsitektur, Selain itu, terdapat Prodi Sains Data, Sains Biomedis, dan sebagainya.
Senada, Ketua FORDEK FST, Dr. Muhammad Isnaeni, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya FORDEK FST di UIN Walisongo Semarang dengan mengangkat isu pentingnya transformasi dan hilirisasi.
Dekan FST UIN Raden Fatah Palembang ini mengingatkan, pertemuan tersebut bukan sebatas agenda tahunan, dan tugas para pimpinan fakultas untuk terus mendorong pengembangan ilmu sekaligus membuka ruang hilirisasi.
“FORDEK bukan hanya agenda tahunan, tetapi merupakan forum strategis untuk pengembangan FST. Transformasi yang kita inginkan tentu bukan hanya transformasi administrasi, melainkan juga pada tata kelola good university governance, dan hilirisasi ilmu pengetahuan," jelasnya. (*)