Lingkar.Co - Perwakilan korban dugaan penipuan umrah Hanania Travel, Uli Amelia Septriani, mengungkapkan bahwa kasus pembatalan keberangkatan umrah tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga berdampak besar terhadap kondisi psikologis para calon jamaah dan keluarganya.
Dalam rapat audiensi bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/6/2026), Uli menyampaikan banyak orang tua calon jamaah mengalami gangguan kesehatan setelah mengetahui keberangkatan umrah yang telah lama dinantikan batal terlaksana.
"Banyak orang tua yang jatuh sakit karena mendengar pembatalan tersebut. Ada banyak anak yang harus berbohong ke orang tuanya hanya karena tidak mau bapak-ibunya sakit mendengar tidak jadi berangkat ke Tanah Suci," kata Uli.
Menurutnya, kerugian materiil yang dialami korban mungkin masih dapat dipulihkan, namun dampak nonmateriil yang ditimbulkan jauh lebih berat dan sulit diperbaiki.
Uli menjelaskan dana yang disetorkan kepada Hanania Travel berasal dari hasil tabungan masyarakat dengan berbagai latar belakang kehidupan. Ada yang berasal dari anak yatim piatu, orang tua tunggal, hingga para pekerja yang bertahun-tahun menyisihkan penghasilannya demi mewujudkan impian beribadah ke Tanah Suci.
Ia menegaskan bahwa menjalankan ibadah merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Karena itu, para korban berharap memperoleh perlindungan dan pendampingan dari negara untuk memperjuangkan hak-hak mereka.
"Kalau bukan kepada negara sekarang kami meminta untuk dilindungi, untuk didampingi, untuk mendapatkan apa yang memang hak kami, ke mana lagi kami harus bergerak?" kata dia.
Dalam kesempatan tersebut, Uli juga mengungkapkan sejumlah kejadian yang dialami calon jamaah akibat pembatalan keberangkatan yang dilakukan secara mendadak. Menurutnya, beberapa calon jamaah bahkan sudah mempersiapkan seluruh kebutuhan perjalanan sebelum akhirnya menerima kabar pembatalan.
"Paling parah pada tanggal 25 (Mei 2026), pembatalan dilakukan H-6 jam. Ada jemaah yang sudah di bandara, sudah lengkap dengan seragamnya," katanya.
Kasus ini menjadi sorotan karena tidak hanya menyangkut kerugian ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara perjalanan ibadah umrah.