Iklan

Redam 90 Kebakaran dalam Sebulan, Damkar Apresiasi Relawan Melalui Lomba Redkar Agustusan

Inti berita

Musim kemarau membawa pekerjaan rumah baru bagi Kota Semarang. Bukan hanya soal panas dan kekeringan, tetapi juga ancaman api yang mudah menjalar dari tumpukan…

Redam 90 Kebakaran dalam Sebulan, Damkar Apresiasi Relawan Melalui Lomba Redkar Agustusan
Foto : Kegiatan lomba Redkar di Kantor Dinas Damkar Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026).

Musim kemarau membawa pekerjaan rumah baru bagi Kota Semarang. Bukan hanya soal panas dan kekeringan, tetapi juga ancaman api yang mudah menjalar dari tumpukan sampah, ilalang hingga lahan kosong.

Sepanjang Juli 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Semarang mencatat sekitar 90 kejadian kebakaran. Sebagian besar di antaranya dipicu oleh pembakaran ilalang dan sampah.

Angka tersebut menjadi alarm bahwa pencegahan kebakaran tidak mungkin hanya dibebankan kepada petugas pemadam. Masyarakat yang berada paling dekat dengan sumber kejadian justru memiliki peran penting dalam mencegah api berkembang menjadi lebih besar.

Di titik inilah keberadaan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) menjadi penting.

Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Semarang, Ir. Sih Rianung MT, mengatakan relawan merupakan bagian dari kekuatan masyarakat yang selama ini membantu petugas dalam menghadapi berbagai kejadian di lapangan.

“Kami tidak bisa bekerja sendirian. Kekuatan masyarakat menjadi ujung tombak ketika petugas belum berada di lokasi,” kata Sih Rianung saat kegiatan lomba Redkar di Kantor Dinas Damkar Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, posisi relawan sangat strategis karena mereka tinggal dan beraktivitas di tengah masyarakat. Ketika terjadi kebakaran, informasi dari warga yang berada di lokasi menjadi modal awal bagi petugas untuk menentukan langkah penanganan.

“Relawan ini selama ini menjadi sahabat dan teman kami. Mereka membantu tugas-tugas kami. Informasi yang akurat dari relawan sangat penting ketika terjadi kejadian,” ujarnya.

Karena itu, kemampuan relawan tidak cukup hanya mengandalkan keberanian. Mereka perlu memiliki keterampilan dasar dalam menghadapi kebakaran.

Lomba Redkar yang diikuti 16 kecamatan di Kota Semarang pun dirancang bukan sekadar untuk mencari juara. Setiap kecamatan mengirimkan 11 personel untuk mengikuti kompetisi keterampilan, termasuk penggunaan peralatan dan teknik pemadaman api.

Bagi Sih Rianung, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengukur sekaligus meningkatkan kemampuan para relawan.

“Utamanya adalah keahlian kita, kemudian bagaimana mempererat hubungan dengan masyarakat,” katanya.

Api Kecil yang Bisa Menjadi Masalah Besar

Sih Rianung mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap sepele kebiasaan membakar sampah maupun ilalang.

Pada musim kemarau, kondisi rerumputan yang kering membuat api lebih mudah menjalar. Tiupan angin juga dapat membawa bara ke lokasi lain yang sebelumnya tidak diperkirakan.

Lahan kosong, pinggir jalan, bantaran sungai hingga kawasan yang dipenuhi ilalang menjadi titik yang perlu mendapat perhatian.

“Jangan membakar sampah maupun ilalang. Dipotong saja, dikumpulkan. Kalau membutuhkan pengangkutan, bisa meminta bantuan untuk diangkut ke tempat pembuangan sampah,” katanya.

Ia menjelaskan, dampak kebakaran bukan hanya kerusakan material. Asap dan panas yang ditimbulkan juga dapat mengganggu masyarakat sekitar.

Bahkan, apabila api tidak segera dikendalikan, kobaran bisa merambat hingga mendekati permukiman.

“Kalau terjadi kebakaran akan mengganggu lingkungan sekitar, baik asap maupun panas. Apalagi kalau sampai merambah atau berkembang ke permukiman,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan pencegahan sebagai langkah pertama dalam menghadapi kebakaran.

Lebih dari 1.800 Relawan

Dinas Damkar Kota Semarang kini memiliki lebih dari 1.800 relawan yang bergabung dari berbagai wilayah.

Jumlah tersebut diharapkan terus bertambah sehingga semakin banyak warga yang memiliki pengetahuan dasar mengenai pencegahan dan penanganan kebakaran.

“Kedepan bisa lebih banyak. Sekarang sekitar 1.800 lebih. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang bergabung dengan relawan Damkar,” kata Sih Rianung.

Para relawan juga mendapatkan pelatihan secara berkala. Mereka dikenalkan dengan berbagai peralatan sederhana yang dapat digunakan untuk penanganan awal, seperti alat pemadam api ringan (APAR), ember dan karung goni.

Kemampuan tersebut bukan untuk menggantikan peran petugas pemadam, tetapi menjadi pertolongan pertama sebelum armada Damkar tiba di lokasi.

Dengan demikian, rantai penanganan kebakaran dapat dimulai sejak api masih kecil.

Tiga Armada Baru, Satu Pesan Lama

Dalam kegiatan yang digelar bertepatan dengan rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu, Pemerintah Kota Semarang juga meresmikan operasional tiga unit kendaraan baru Dinas Damkar dan Penyelamatan.

Tambahan armada tersebut diharapkan memperkuat respons petugas ketika menghadapi berbagai kondisi darurat.

Namun, Sih Rianung menegaskan bahwa kekuatan Damkar tidak hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan dan peralatan.

Ada kekuatan masyarakat yang harus terus dirawat.

“Ini satu momen yang tepat menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Kita mengingatkan kembali bahwa kesatuan dan persatuan bangsa ini harus terus dijaga,” katanya.

Bagi Damkar, semangat persatuan tersebut diterjemahkan dalam bentuk gotong royong. Petugas bekerja bersama relawan. Relawan bergerak bersama masyarakat. Sementara media membantu menyampaikan informasi dan edukasi kepada publik.

Sih Rianung pun mengapresiasi para relawan yang selama ini ikut membantu tugas Damkar.

“Terima kasih kepada rekan-rekan relawan Damkar yang sudah membantu tugas-tugas kami,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada media yang konsisten memberitakan aktivitas pelayanan Damkar kepada masyarakat.

Menurutnya, pemberitaan media bukan hanya membuat kerja petugas terlihat, tetapi juga dapat menjadi sarana mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya keselamatan.

“Terima kasih kepada media yang selalu memberitakan aktivitas Damkar. Kalau tidak ada media yang memberitakan tugas-tugas kita, kami tidak terlihat di masyarakat,” tuturnya.

Kini, ketika kemarau membuat ilalang mengering dan sampah menumpuk di sejumlah titik, pesan Damkar menjadi sederhana: jangan menunggu api membesar untuk bergerak.

Sebab sebelum petugas datang dengan mobil pemadam, ada satu hal yang bisa dilakukan siapa saja—tidak menyalakan api sembarangan.

Dan ketika seluruh warga memahami hal itu, ribuan relawan bukan hanya menjadi pasukan yang siap memadamkan api, tetapi juga menjadi kekuatan besar yang menjaga Semarang agar api tidak pernah menemukan kesempatan untuk membesar.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu