Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora mulai menerapkan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada pendidikan kesetaraan.
Program ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan peserta didik dengan perkembangan teknologi sekaligus melatih kemampuan berpikir logis dan bernalar.
Kepala SKB Blora, Jumini, mengatakan penerapan diawali pembekalan materi coding dan AI kepada 13 pamong selama dua hari, 29-30 September 2026.
Selanjutnya, pada 1-2 Oktober, sebanyak 20 peserta didik kelas IX hingga XII, mulai Paket B dan Paket C, akan mengikuti pembelajaran bersama 13 pamong.
"Ini tahun pertama kami menerapkan pembelajaran coding dan AI di pendidikan nonformal atau kesetaraan. Sebelumnya, pada 2025, implementasi ini menjadi pondasi di sekolah formal. Sekarang pendidikan kesetaraan juga mulai menerapkannya," kata Jumini, Rabu (30/09/2026).
Menurutnya, coding pada tahap awal belum masuk pemrograman maupun analisis data. Peserta didik kelas X Paket C terlebih dahulu dikenalkan dengan berpikir komputasional, seperti menyelesaikan tugas secara bertahap dan mengikuti instruksi secara berurutan.
"Capaian pembelajarannya bertahap. Jadi di awal ini anak-anak bisa berpikir komputasional. Nanti di kelas 12 sampai ke analisis data, tetapi hanya analisis data yang sederhana," jelasnya.
Sementara AI akan dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, termasuk membantu pendidik membuat media pembelajaran. Teknologi tersebut juga digunakan untuk memfasilitasi peserta didik yang tidak dapat hadir langsung di sekolah.
Bekali Keterampilan Digital
Selain itu, SKB Blora mulai mengenalkan affiliate kepada 20 peserta didik. Mereka akan dibekali pengetahuan mengenai pasar digital dan dibentuk dalam kelompok pembelajaran agar memahami dunia affiliate maupun peluang pekerjaan digital.
SKB juga mendatangkan narasumber dari Jakarta yang telah terjun langsung di dunia affiliate untuk memberikan pembelajaran kepada pamong dan peserta didik.
Sekretaris Dinas Pendidikan Blora, Nuril Huda, mengatakan program coding dan AI merupakan bagian dari upaya pendidikan mengikuti perkembangan zaman.
"Bagaimana kita membawa anak-anak agar mampu berpikir secara logis dan memiliki kemampuan bernalar menjadi salah satu perhatian dalam pendidikan saat ini," kata Nuril.
Dia mengatakan sarana dan prasarana pendidikan di SKB hampir seluruhnya telah terpenuhi. Namun, program dan fasilitas pendidikan diharapkan terus dikembangkan agar semakin mendukung proses belajar sekaligus membantu pendidik menyampaikan materi.
Penerapan coding dan AI, lanjut Nuril, juga menjadi bagian dari peningkatan kompetensi pamong belajar. Ke depan, program tersebut diharapkan dapat diterapkan lebih luas kepada tutor pendidikan kesetaraan dan nonformal.
"Jadi bukan hanya pendidikan formal yang mendapatkan perhatian, tetapi pendidikan nonformal juga diarahkan untuk mengikuti perkembangan teknologi, termasuk coding dan AI," ujarnya.
Nuril menambahkan, peserta pendidikan kesetaraan tidak hanya membutuhkan pendidikan akademik. Mengingat sebagian tidak dapat mengikuti pendidikan formal karena berbagai kondisi, mereka juga perlu dibekali keterampilan praktis.
Di SKB Blora, peserta didik mendapat program kewirausahaan yang diarahkan seperti keterampilan di SMK. Mereka tidak hanya dilatih menghasilkan produk, tetapi juga memasarkannya.
"Apalagi saat ini pemasaran dapat dilakukan secara online, sehingga keterampilan digital juga menjadi penting untuk mendukung kegiatan kewirausahaan mereka," pungkasnya.