Arsip Kategori: Tokoh

Berita Tokoh

Inilah 4 Kartini Masa Kini yang Menginspirasi Perempuan Indonesia

Lingkar.co – Di balik semangat Hari Kartini yang terus hidup, hadir sosok-sosok perempuan Indonesia masa kini yang membuktikan bahwa perjuangan Raden Ajeng Kartini belum selesai. Mereka bergerak di berbagai bidang—dari diplomasi hingga pendidikan di pelosok—dengan satu tujuan yang sama: memberi makna lebih bagi peran perempuan.

  1. Retno Marsudi — Diplomat Perempuan Pertama Indonesia

Perempuan kelahiran Semarang ini mencatat sejarah sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama Republik Indonesia pada periode 2014–2019, dan kembali dipercaya untuk masa jabatan 2019–2024.

Salah satu kiprah pentingnya terlihat saat konflik Israel–Palestina memanas pada 2023. Ia bergerak cepat memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang berada di wilayah konflik. Tak hanya itu, Retno juga dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan kesetaraan gender di tingkat global, hingga meraih berbagai penghargaan internasional bergengsi.

  1. Najwa Shihab — Jurnalis yang Berani Bicara

Nama Najwa Shihab dikenal luas sebagai jurnalis yang kritis, lugas, dan berani menyuarakan kebenaran. Melalui program Mata Najwa, ia menghadirkan diskusi tajam yang dekat dengan isu publik.

Pada 2023, ia masuk dalam daftar Asia’s Most Influential versi Tatler. Lebih dari itu, Najwa konsisten menyuarakan bahwa perempuan tidak harus memilih antara karier dan keluarga—sebuah pesan yang relevan bagi banyak perempuan Indonesia saat ini.

  1. Maudy Ayunda — Perpaduan Prestasi Akademik dan Seni

Maudy Ayunda menjadi bukti bahwa perempuan bisa unggul di berbagai bidang sekaligus. Ia menyelesaikan pendidikan di University of Oxford dengan predikat cum laude, lalu melanjutkan studi ke Stanford University setelah diterima juga di Harvard.

Di dunia hiburan, ia tetap aktif berkarya melalui musik dan film. Sosok Maudy mencerminkan perempuan modern yang cerdas, berdaya, dan mampu menyeimbangkan berbagai peran.

  1. Zentri Hartanti — Pahlawan Pendidikan dari Pelosok

Tak semua perjuangan terlihat di panggung besar. Zentri Hartanti, seorang guru honorer di pelosok Kabupaten Bogor, adalah contoh nyata dedikasi tanpa pamrih. Ia meraih penghargaan dalam ajang RA Kartini Awards 2025 berkat pengabdiannya di dunia pendidikan.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan kuatnya budaya pernikahan dini, Zentri tetap mengajar dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci perubahan. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga memperjuangkan masa depan anak-anak perempuan agar memiliki pilihan hidup yang lebih luas.


Keempat perempuan ini datang dari latar yang berbeda, namun memiliki benang merah yang sama: keberanian melampaui batas. Dari forum internasional hingga ruang kelas sederhana, semangat Kartini terus hidup dalam bentuk yang baru.

Mereka bukan hanya inspirasi, tetapi juga bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari siapa saja—asal ada tekad yang tak pernah padam.

Penulis: Putri Septina

Dr Drs Budiyanto SH, M.Hum Dinobatkan Sebagai Tokoh Prestasi Indonesia 2026 Bidang Pendidikan

Lingkar.co – Dr Drs Budiyanto SH, M.Hum dinobatkan sebagai salah satu tokoh berprestasi di tanah air pada tahun 2026 oleh Berlian Organizer Semarang. Selain Budiyanto, ada juga 10 tokoh lain yang mendapat penghargaan pada kesempatan itu.

Asisten Bidang Administrasi Setdaprov Jateng, Dr Dhoni Widianto S.Sos, M.Si mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.menyerahkan penghargaan tersebut di Wisma Perdamaian, kawasan Tugu Muda Kota Semarang, Jawa Tengah, Jum’at (23/1/2026).

CEO Berlian Organizer Haryanto mengatakan Penobatan Tokoh Prestasi Indonesia 2026 merupakan wujud penghormatan kepada para figur inspiratif yang yang telah menunjukkan dedikasi, integritas, dan kontribusi nyata di berbagai bidang.

“Mereka yang kami nobatkan pada malam hari ini adalah pribadi-pribadi yang dalam perjalanan hidupnya tidak hanya mencetak prestasi ,tetapi juga telah menghadirkan dampak positif bagi masyarakat, lingkungan dan kemajuan bangsa,” kata Haryanto.

Menurutnya, Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang, Dr. Drs. Budiyanto SH, M.Hum dinilai layak menerima penghargaan ini karena berhasil memposisikan dewan pendidikan dengan tepat, terutama dalam pelibatan masyarakat untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di ibukota Jateng.

Bahkan, lanjutnya, Budiyanto dinilai paling berhasil dalam menjalankan tugas, peran dan fungsi (Turansi) Dewan Pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas dan regulasi turunannya.

Ketua umum DPP Ika Unnes itu pun dinilai berhasil membawa Dewan Pendidikan Kota Semarang sebagai jadi percontohan dan rujukan oleh Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota se-Indonesia.

“DPKS menjadi tempat bertanya dan belajar atau studi tiru dewan pendidikan kabupaten/kota dari berbagai daerah dalam hal pelaksanaan tugas peran dan fungsi. Karena itu kami memandang layak ketua DPKS dinobatkan sebagai tokoh prestasi 2026 di bidang pendidikan, ” ujarnya

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melalui sambutaan tertulis yang dibacakan oleh Dhoni Widianto menyatakan, penghargaan kepada para tokoh ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dedikasinya kepada masyarakat.

Sementara, Ketua DPKS Dr Drs Budiyanto, SH, M.Hum menyambut baik penghargaan yang ia terima. Ia menyatakan hanya menjalankan amanah yang ia terima sebagai bagian dari putra bangsa yang peduli dengan masa depan anak Indonesia.

Ia juga menilai, pihak yang memberi penghargaan juga memiliki dedikasi di bidang pendidikan karena memperhatikan perkembangan dunia pendidikan hingga mampu memerhatikan orang dengan sebuah perhargaan.

Selain itu, ia menyatakan keberhasilan Dewan Pendidikan tidak lepas dari semua pengurus dan berbagai pihak yang mendukung kerja-kerja organisasi DPKS. “Ini merupakan pengakuan dari masyarakat bahwa upaya-upaya yang dilakukan para pengurus DPKS bersama masyarkat benar-benar dapat dirasakan manfaatnya,” tuturnya.

“Tanpa ada kerjasama yang baik dengan masyarakat dan semua pihak Dewan Pendidikan tidak bisa mengembangkan inovasi dan kreasi dalam menjalankan tugas peran dan fungsinya,” pungkasnya. (*)

Bedah Buku “Polisi Istimewa” Ungkap Sosok Bambang Suprapto, Tokoh yang Terlupakan di Pertempuran Lima Hari di Semarang

Lingkar.co – Sosok Bambang Suprapto, pimpinan Polisi Istimewa yang menjadi penggerak perlawanan dalam pertempuran lima hari di Semarang, kembali diangkat ke permukaan lewat buku terbaru karya Hendi Jo berjudul “Polisi Istimewa (Special Police Force) In The Midst of The Revolution”.

Buku tersebut dibedah dalam acara di Wisma Perdamaian, Senin (20/10/2025), dan membuka kembali lembar sejarah yang selama ini jarang disebut dalam narasi besar revolusi Indonesia.

Penulis buku, Hendi Jo, mengaku penulisan kisah Bambang Suprapto terjadi tanpa rencana khusus. Biasanya ia menulis sejarah militer, namun kali ini ia justru diminta oleh keluarga besar almarhum untuk menulis perjalanan hidup tokoh Polisi Istimewa yang berjuang di Semarang pada masa revolusi.

“Sebetulnya ini terjadi dengan ketidaksengajaan. Biasanya saya menulis tentang sejarah militer, tapi kali ini saya didapuk oleh keluarga besar Bambang Suprapto untuk menulis sejarah beliau,” tutur Hendi Jo saat ditemui Lingkar.co.

Hendi mengaku tidak mengenal langsung sosok Bambang Suprapto. Namun, keterbatasan data justru menjadi tantangan tersendiri yang akhirnya membawanya menemukan banyak fakta baru. Ia menilai, inisiatif keluarga dalam mendukung penulisan buku ini menjadi kunci utama keberhasilan riset.

“Selama ini orang yang ingin memperdalam sosok Pak Bambang selalu terhambat oleh minimnya data. Anak-anak beliau memberikan dukungan besar agar kisah ini bisa ditulis,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran buku ini menambah kelengkapan catatan sejarah militer Indonesia — bukan hanya dari sisi TNI, tetapi juga kepolisian yang turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan.

“Selama ini kita mengenal sejarah militer dari sisi darat, laut, dan udara. Sekarang, lewat kisah Bambang Suprapto, kita mengenal kiprah kepolisian dalam revolusi,” tambah Hendi.

Bambang Suprapto, kata Hendi, dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan enggan menonjolkan diri. Ia yakin, jika masih hidup, tokoh tersebut akan menolak keras dijadikan pahlawan nasional.

“Secara kepribadian beliau itu tipikal intelijen, sangat low profile. Tapi kalau kisahnya tidak ditulis, kebenaran itu akan hilang,” ujar Hendi.

Bedah buku Polisi Istimewa di Wisma Perdamaian. (dok Alan Henry)

Ia berharap buku ini dapat membuka mata publik bahwa banyak sosok kepolisian berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan, namun terlupakan dalam narasi sejarah arus utama.

Hendi Jo menegaskan bahwa penulisan buku ini dilakukan secara independen, tanpa afiliasi dengan lembaga pemerintah.
Namun ia berharap, hasil riset tersebut dapat memberikan kontribusi bagi dunia akademik dan menjadi bagian dari kajian sejarah lokal di Jawa Tengah.

“Kami tidak menulis atas nama lembaga mana pun. Tapi kalau karya ini bisa diapresiasi dan dijadikan referensi dalam sejarah nasional, tentu akan sangat berarti,” pungkasnya.

Sementara itu, pengamat sejarah Tri Subekso, yang turut hadir dalam acara bedah buku, menilai karya Hendi Jo ini penting karena memberikan jawaban atas pertanyaan besar dalam sejarah pertempuran lima hari di Semarang, siapa tokoh sentral di balik perlawanan rakyat, polisi istimewa, dan gerilyawan melawan Jepang?

“Selama ini kita hanya mengenal dr. Kariadi sebagai sosok kunci dalam awal peristiwa. Tapi siapa yang menggerakkan pasukan dan rakyat setelahnya, itu nyaris tidak pernah diulas. Lewat buku ini, kita tahu tokoh itu adalah Bambang Suprapto,” ungkap Tri.

Tri menjelaskan, Bambang Suprapto berperan memobilisasi pasukan Polisi Istimewa dan rakyat sipil untuk melawan tentara Jepang, meski harus dibayar dengan banyak korban jiwa.
Ia mengutip catatan Den Andriesen yang menyebutkan sekitar 2.004 warga Semarang gugur dalam peristiwa tersebut.

“Beliau menjadi penggerak yang mampu memimpin dalam situasi kacau. Nilai idealisme dan keberaniannya luar biasa. Ia rela mengorbankan diri untuk melindungi anak buahnya,” jelasnya.

Tri menambahkan, lewat buku ini masyarakat dapat menelaah sisi kemanusiaan dan kepemimpinan Bambang Suprapto yang selama ini luput dari sorotan publik.

“Kalau melihat perannya, saya pikir Bambang Suprapto sangat layak untuk diajukan sebagai pahlawan nasional. Secara ketokohan, beliau sejajar dengan pejuang di Palagan Ambarawa atau Surabaya,” tegas Tri.

Melalui Polisi Istimewa (Special Police Force) In The Midst of The Revolution, publik akhirnya diajak mengenal sosok Bambang Suprapto, polisi istimewa yang berjuang dalam senyap, namun meninggalkan jejak besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. ***

Terima Penghargaan ISNU Award 2025, Jusuf Kalla Tegaskan Tidak Ada Negara Maju Tanpa Kedamaian

Lingkar.co – Wakil Presiden RI Ke 10 dan 12, H Muhammad Jusuf Kalla alias JK menegaskan bahwa sebuah negara tidak akan maju tanpa kedamaian. “Tidak ada negara maju tanpa dengan damai,” tegas JK singkat

Jusuf Kalla menyatakan hal itu usai menerima penghargaan penghargaan sebagai Bapak Rekonsiliasi Nasional dalam Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Award 2025 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (31/7/2025).

Pada kesempatan sama, JK mengutip sebuah hadits tentang keutamaan menjaga perdamaian dalam Islam, yang bisa dijadikan sebagai pedoman. Dalam hadits tersebut, kata JK, disebutkan bahwa mendamaikan orang yang berselisih (ishlah) dianggap lebih utama dan tinggi derajatnya daripada shalat, puasa sunnah bahkan sedekah.

“Olehnya itu saya selalu berusaha di Indonesia atau dimanapun untuk tetap menjaga kedamaian kita semua,” ujar Ketua Umum PMI ini.

Sementara itu.Terkait dengan ISNU Award, sosok Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) tersebut dianggap memiliki kapasitas sebagai Bapak Rekonsiliasi Nasional karena jasa-jasanya dalam upaya perdamaian berbagai konflik di dalam negeri seperti Aceh, Ambon, Poso maupun konflik luar negeri.(*)

Gus Rommy Dikader Surya Dharma Ali Hingga Jadi Ketum, Berakhir Jadi Lawan Pasca Pilpres

Lingkar.co – Ketua Majelis Pertimbangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuziy memiliki kenangan manis dan pahit bersama dengan Surya Dharma Ali. Usai menikmati manisnya ditempa sebagai kader hingga terpilih menjadi Ketua Umum DPP PPP pada tahun 2016, Rommy harus berhadapan dengan SDA sebagai lawan politiknya pasca Pilpres 2014.

“2007 adalah saat yang semakin mendongkrak SDA. Saya mengajukan pamit dari jabatan staf khusus karena aplikasi beasiswa Chevening saya ke Inggris diterima. Tapi almarhum melarang saya, karena memintanya dibantu maju sebagai Ketua Umum PPP,” jawab Rommy saat diminta keterangan tentang kenangan dirinya bersama SDA, Jum’at (1/8/2025).

Menurut dia, alasan Surya Dharma Ali melarang dirinya melanjutkan pendidikan di Inggris karena para santri ibunya banyak yang duduk sebagai ketua DPC PPP. “Anak buah ibumu kan masih banyak yang jadi Ketua DPC yang kamu kenal”, demikian ujarnya mengenang.

“Walhasil, jadilah saya bersama sejumlah senior PPP seperti Suharso Monoarfa, Emron Pangkapi, Ermalena, Akhmad Muqowam, dan Lukman Saifuddin, berkelindan menjadi tim suksesnya,” sambungnya.

Kegigihan Rommy dalam memperjuangkan suara untuk kemenangan Surya Dharma Ali dalam muktamar PPP waktu itu berbuah manis dengan kemenangan tipis. “Kami berkeliling nusantara mendulang dukungan DPC PPP. Hasilnya, SDA menang tipis atas sejumlah rivalnya di Muktamar PPP di Ancol, Jakut. Saya pun diajak masuk ke kabinet Pengurus Harian DPP PPP selaku Wakil Sekjen,” jelasnya.

Didapuk sebagai wakil sekjen DPP PPP, ia sejatinya mengakui posisi tersebut seharusnya menjadi milik para politisi PPP yang lebih senio. Namun ia menyadari Surya Dharma Ali sebagai ketua umum butuh barisan muda yang memiliki determinasi tinggi untuk mengimbangi padatnya agenda politik PPP.

“Saat itu saya merasa almarhum betul-betul mengkader saya. Sepatutnya saya bukan urutan pertama, karena banyak wakil sekjen lainnya yang secara usia lebih senior. Tapi itulah SDA dengan determinismenya. Sejak itu, agenda (SDA) keliling Indonesia bertambah: sebagai menteri dan sebagai Ketua Umum,” urainya.

Muhammad Romahurmuziy dan (alm) Surya Dharma Ali dalam sebuah kesempatan. Foto: dokumentasi/istimewa
Muhammad Romahurmuziy dan (alm) Surya Dharma Ali dalam sebuah kesempatan. Foto: dokumentasi/istimewa

Tak hanya sekali, Rommy yang pernah menjabat sebagai anggota DPR RI untuk daerah pemilihan Jawa Tengah VII periode 2009–2014 dan 2014–2019 bahkan dua kali berperan aktif dalam keberhasilan Surya Dharma Ali memenangkan muktamar hingga dirinya mendapatkan posisi sebagai Sekjen DPP PPP. Kinerja DPP PPP berbuah dengan kembalinya 20 kursi parlemen pada pemilu 2014.

“Dua kali saya mendampingi almarhum maju sebagai Ketua Umum di muktamar. 2007 dan 2011. Di muktamar 2011 itu SDA mendesakkan ke formatur, “Sekjen saya Rommy”. Setelah sempat kehilangan 20 kursi di 2009, alhamdulillah kerja keras SDA berhasil me-rebound PPP pada Pemilu 2014,” terangnya.

Kenangan Gus Rommy; Suryadharma Ali Bukan Sekedar Ketua Umum PPP

Lingkar.co – Menteri Agama periode 2009–2014, Surya Dharma Ali (SDA) wafat pada pukul 04.18 WIB di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta, Kamis (3/7/2025). Kepergiannya meninggalkan duka bagi bangsa Indonesia, terlebih bagi Partai Persatuan Pembangunan, partai politik Islam yang menjadi wadah bagi dirinya dalam berjuang di jalur politik.

“Bagi saya, Mas Surya bukan hanya Ketua Umum. Beliau adalah kakak, mentor, sekaligus guru politik saya,” kata Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP, Muhammad Romahurmuziy atau Gus Rommy usai melayat di rumah duka Surya Dharma Ali di Jalan Cipinang Cempedak I, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (1/8/2025).

Rommy mengaku dirinya berjuang bersama SDA sejak tahun 2002 sebagai Tenaga Ahli Komisi V DPR RI, yang mana waktu itu SDA juga menjabat Ketum DPP PPP. “Cermat adalah sifat yang paling tepat untuk menggambarkan almarhum. Kalimat demi kalimat, titik, bahkan koma, dalam balutan spidol hijau, selalu menghiasi koreksi almarhum atas konsep-konsep yang saya buat. Tak jarang kami berdebat, tentang nilai rasa bahasa dari sebuah konsep,” ungkapnya.

Keakraban dan kepercayaan SDA dengan Rommy pun berlanjut saat setelah SDA mengikuti fit and proper era terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI pada tahun 2004. “Almarhum menelpon saya. “Rom, bantu saya di Kemen-PAN ya,”, kenangnya menirukan.

“Jangan. Saya nggak ngerti apa-apa soal Birokrasi, mas”, jawab saya. “Udahlah kita sama-sama belajar,” katanya menirukan.

Namun kecemasan tentang hal itu sirna ketika Surya Dharma Ali tidak jadi pada posisi tersebut. “Untunglah tak lama kemudian beliau didapuk menjadi Menkop dan UKM. Setelah perubahan jelang pelantikan itu, almarhum menelpon saya lagi, “kali ini kamu nggak boleh nolak”. Jadilah disiplin ilmu perkoperasian dan industri kecil yang saya geluti saat di DPR, menjadi bekal sebagai staf khususnya,” urainya.

Rommy ingat selama 5 tahun dirinya merasa benar-benar dikader. Posisi sebagai staf saat mendampingi SDA di Kemenkop dan UKM ibarat sebuah kawah candradimuka untuk menempa Rommy untuk jadi pemimpin.

“Saya merasa almarhum betul-betul mengkader, mendidik, dan membimbing saya, tanpa sekalipun saya lihat marah. Program-program baru Kemenkop UKM, lahir dari goresan tangan almarhum. Seperti “SMEsCo mart” yang masih bertahan di banyak tempat sebagai kemitraan peritel modern dengan koperasi. Atau gedung SMEsCo yang megah dan migunani di bilangan Gatsu, Jaksel,” paparnya.

Paguyuban Kusuma Handrawina Nusantara Dikukuhkan, Begini Komitmen Tommy

Lingkar.co – Tokoh muda pegiat kebudayaan di Kendal, Muhammad Tommy Fadlurohman SH MH dikukuhkan sebagai pengurus Paguyuban Kusuma Handrawina Nusantara Kabupaten Kendal di Ruang Paripurna DPRD Kendal, Kamis (31/7/2025).

Pengukuhan Paguyuban Kusuma Handrawina Nusantara Kendal dilakukan langsung oleh Gusti Pangeran Aryo Widodo Notonegoro, Wakil Pangageng Keraton Surakarta Hadiningrat, atas perintah dari Gusti Ratu Pakubuwono Hadiningrat.

Usai pengukuhan, dirinya menegaskan komitmen dalam melestarikan budaya Jawa sekaligus meluruskan sejarah tokoh-tokoh masa lampau, khususnya di wilayah eks-Kadipaten Kaliwungu.

“Tujuan saya bergabung dalam paguyuban ini adalah untuk meluruskan sejarah para tokoh leluhur di Kaliwungu dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang sudah mulai terlupakan,” ungkap Tommy.

Ia menekankan, pelestarian budaya bukan hanya tugas para pemerhati seni, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, terutama generasi muda. “Budaya Jawa adalah identitas. Kita harus menjaga warisan leluhur ini dari kepunahan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Tommy juga menyoroti pentingnya mempertahankan pencak silat sebagai budaya asli Nusantara. Menurutnya, pencak silat bukan sekadar olahraga, tapi bagian dari jati diri bangsa.

“Pencak silat lahir dari tanah Jawa dan harus kita jaga sebagai warisan budaya. Ini bagian dari karakter dan kepribadian bangsa Indonesia,” tegasnya.

Ketekunan Tommy pada kebudayaan berbuah pada dua tahun lalu, ia mendapat anugerah gelar kebangsawanan Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT) Muhammad Tommy Fadlurohman Seco Adinegoro SH MH dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Gelar ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas kiprahnya dalam menjaga nilai-nilai budaya dan sejarah Jawa.

Selain aktif sebagai anggota DPRD Kendal dua periode dari Fraksi Golkar, Gus Tommy juga merupakan Guru Besar Padepokan Harimau Putih, Ketua Umum Pengkab IPSI Kendal, dan penulis buku sejarah lokal berjudul “Kaliwungu Buminya Para Kiai” yang terbit pada 2015.

Pada tahun 2015, ia menerbitkan sebuah buku berjudul Kaliwungu Buminya Para Kiai. Melalui buku tersebut, ia berupaya merekonstruksi sejarah Kaliwungu sebagai pusat peradaban Islam dan budaya di masa lampau.

Amanat Keraton

Sebelumnya, Gusti Widodo menyampaikan bahwa keberadaan paguyuban ini merupakan perpanjangan tangan keraton dalam menjaga nilai-nilai adiluhung budaya Jawa.

“Paguyuban ini diberi amanah untuk nguri-uri budaya Jawa, termasuk seni, tradisi, dan adat yang bersumber dari Keraton Surakarta,” jelas Gusti Widodo.

Ketua Paguyuban Kusuma Handrawina Nusantara Kendal, KRA Yanto Wijoyo Hadinegoro, menambahkan bahwa pihaknya akan segera menyusun visi, misi, dan program kerja.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku, pemerhati, dan komunitas budaya. “Kami akan ngumpulke balung pisah, menyatukan potensi yang sempat terpencar agar budaya Jawa tetap lestari,” ujarnya.

Untuk itu ia berharap, sinergi antara Keraton, pemerintah daerah, dan masyarakat bisa menjadi fondasi kuat dalam membangun pelestarian budaya yang berkelanjutan. (*)

Penulis: Yoedhi W
Editor: A Rifqi

Cegah Stunting di Grobogan, Penyuluh Agama Inisiasi Program Pegang Ceting

Lingkar.co – Stunting sebagai sebuah permasalahan kesehatan mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Tidak hanya menyangkut dinas kesehatan dan sosial, namun juga pada tenaga penyuluh agama turut berperan aktif dalam menjaga anak menuju Indonesia Emas seperti yang dilakukan oleh Tasripan.

Ia adalah penyuluh agama Islam Kecamatan Toroh dan Geyer yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Daerah (PD) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Grobogan. Ia menginisiasi inovasi program yang ia sebut Pegang Ceting (Penyuluh Agama Ngajak Cegah Stunting).

Program tersebut dilakukan secara kolaborasi berbasis nilai-nilai keagamaan dalam mendukung pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Kabupaten Grobogan, Program ini sudah berjalan sejak tahun 2023 sampai sekarang.

Tasripan tidak hanya dikenal sebagai penyuluh yang aktif di lapangan, tetapi juga sebagai sosok inspiratif yang baru saja meraih prestasi sebagai Juara 1 PAI Award 2025 Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Saat ini ia lolos administrasi Penyuluh Award Nasional tahun 2025 dan akan berjuang menuju 10 nominator dan melangkah ke final di jakarta. Keberhasilan ini tidak lepas dari kiprahnya yang konsisten dalam menyinergikan dakwah keagamaan dengan isu-isu sosial dan kesehatan masyarakat.

Program Pegang Ceting dikembangkan melalui tiga pendekatan utama:

  1. Brus (Bimbingan Remaja Usia Sekolah)
  2. Ihtiar Sakinah (Bimbingan Perkawinan)
  3. Pegang Ceting Plus (Pemberian Penguatan Sepirirual dan psikologi kepada catin yang kurang umur dan dalam kondisi hamil dan juga kepada keluarga yang anaknya mengalami keterlambatan tumbuh kembang dengan pemberian paket makanan )

“Kami ingin membawa dakwah agama Islam lebih kontekstual dan solutif terhadap persoalan nyata di masyarakat, salah satunya stunting. Penyuluh agama harus hadir sebagai pelayan umat yang mampu menyentuh sisi spiritual sekaligus sosial,” ujar Tasripan.

Program ini mendapat dukungan penuh dari Kemenag Grobogan, Dinas Kesehatan, tokoh agama, hingga lintas sektor di wilayah Toroh dan Geyer.

Dengan keberhasilan ini, Tasripan dan Pegang Ceting menjadi bukti nyata bahwa dakwah yang membumi dapat menjadi solusi atas persoalan bangsa—menjadi penyejuk jiwa dan penolong raga dalam satu gerakan. (rf)

Donor Darah Sebanyak 235 Kali di Usia 49, Ini Profil Mirza Hasan

Lingkar.co – Mirza Hasan melakukan hal yang masih langka saat ini. Di usianya yang baru 49 tahun, ia telah melakukan donor darah sebanyak 235 kali. Sebab, pada umumnya, orang melakukan aksi kemanusiaan dalam bentuk donor darah hanya di kisaran 100 kali. Padahal, ia melakukan donor darah pertama kali di usia 25 tahun.

Pria kelahiran Demak 12 Maret 1976 ini melakukan donor darah pertama dan kedua pada tahun 2021, saat itu dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa. Ia melakukan donor darah karena ada permintaan dari keluarga pasien yang disampaikan oleh temannya, seorang perawat di RS Elisabeth Semarang.

“Selanjutnya karena merasakan manfaat yang positif dari donor darah dan niat balas budi permintaan darah sewaktu orang tua sakit, akhirnya keterusan secara berkala 3 bulan donor di PMI Semarang,” kata dia saat dikonfirmasi, Sabtu (14/6/2025).

“Kenangan waktu pertama kali donor, tegang, takut jarum, kemudian lama banget nunggu hasil laboratnya sebelum bisa donor tapi plong begitu berhasil donor dan seneng banget lihat apresiasi dan ucapan terima kasih dari keluarga pasien. Waktu itu malah dapat 1 kotak dunkin donut dari keluarga pasien sebagai ucapan terima kasih,” kenangnya.

Ia mengingat saat pada tahun 1998, ketika ayahnya yang akan dioperasi pada kaki karena diduga diabetes, dan ibunya yang diduga mengalami kelainan darah meninggal dunia pada tahun 2024. Meski hanya 2 kantong darah, dirinya merasa berhutang atas jasa PMI menyediakan darah.

Sejak saat itu, dirinya rajin melakukan donor darah sukarela (DDS) di Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Semarang. Ia bahkan menjadi lebih rutin karena adanya donor darah yang lebih canggih, yakni donor darah apheresis.

“Hingga dapat penghargaan DDS 25 kali, 50 kali dan 75 kali. Sejak dapat penghargaan DDS 50 kali sampai sekarang lebih sering donor darah trombo apheresis dengan interval 14 hari sekali,” ungkapnya.

Pendonor darah 233 kali, Mirza Hasan saat melakukan donor darah sukarela di UDD PMI Kota Semarang. Foto: dokumentasi
Pendonor darah 233 kali, Mirza Hasan saat melakukan donor darah sukarela di UDD PMI Kota Semarang. Foto: dokumentasi

Atas rutinitas donor darah, ia pun mendapat penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial DDS 100 kali dari pemerintah yang diberikan melalui presiden di hotel Sahid Jakarta pada Agustus 2024. Tak lama berselang ia pun mendapat piagam penghargaan DDS 125 kali dari PMI Kota Semarang

Saat ini, Mirza aktif di Komunitas Pedonor Darah Apheresis Semarang (KOPAS) yang dibentuk oleh PMI. Bahkan ia juga berjasa dalam menciptakan logo KOPAS, dan Si Domi, maskot donor darah PMI Kota Semarang. Kiprahnya tidak berhenti sampai disitu. Ia pun mengusulkan pemberian penghargaan DDS 125 kali dan kelipatan 25 kali di PMI Kota Semarang. Penghargaan ini, menjadi fenomena baru dari yang semula penghargaan berhenti setelah donor darah 100 kali.

“Saya juga dijuluki prof, provokator, karena sering memprovokasi beberapa kegiatan komunitas, memberi banyak kritikan dan masukan di UDD PMI Semarang,” jelasnya.

Tidak hanya di PMI, Mirza juga aktif di grup sahabat UTD RSUP Kariadi Semarang lewat donor apheresis. Mulanya ia melakukan donor darah Whole Blood (WB), yakni donor darah konvensional yang mengambil semua komponen darah. Namun seiring perkembangan teknologi medis, ia juga sering melakukan donor darah apheresis. Ia pernah melakukan donor tromboapheresis untuk pasien Cancer yang melakukan kemoterapi di RS Mardi Rahayu Kudus.

Kepada awak media, ia mengungkapkan motivasi dirinya aktif donor darah. Pertama karena keinginan membantu sesama. Kedua, membalas hutang darah mendiang bapak dan ibu sewaktu sakit dan dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang. Ketiga, wujud rasa syukur atas nikmat sehat dan sempat melakukan kebaikan (donor darah).

Ia juga mengajak istri, anak dan teman-teman untuk donor darah secara sukarela untuk membantu sesama. Melalui aksi sosial ini, ia pun termotivasi menambah teman dari berbagai kota lewat postingan donor di media sosial.

Sebagai seorang relawan donor darah, ia tidak hanya memahami manfaat melakukan donor darah bagi kesehatan, lebih dari itu dirinya juga memahami sejumlah regulasi yang mengatur tentang donor darah. “Seiring dengan regulasi yang ada, PMI tetap memiliki peran penting dalam pengumpulan darah sukarela. Namun rumah sakit diberikan kewenangan untuk memiliki UTD yang dapat mengelola darah lebih efektif dan efisien dalam konteks kebutuhan rumah sakit itu sendiri,” pungkasnya. (rf)

Meneladani KH Ahmad Thoyfoer Berkhidmat di NU

Lingkar.co – Sosok almaghfurlah KH Ahmad Thoyfoer bin Maftuhin dikenal luas sebagai kiai yang penuh keteladanan dalam mengabdi kepada Nahdlatul Ulama (NU), khususnya di kawasan Lasem, Kabupaten Rembang.  

Kiai Thoyfoer merupakan pendiri Pesantren Al-Hamidiyyah Lasem, yang terletak tak jauh dari jalur pantura. Selain membina santri, beliau juga memberikan contoh konkret dalam menjaga marwah jamiyah Nahdlatul Ulama melalui sikap dan kebijakan yang penuh prinsip.

Hal itu disampaikan oleh salah satu putranya, Gus M Arwani Thomafi atau yang akrab disapa Gus Aang, dalam sambutannya pada Haul Akbar KH M Luthfi Thomafi di Lasem, Ahad (1/6/2025). Gus Luthfi sendiri merupakan adik dari Gus Aang.

Gus Aang mengisahkan bahwa saat dirinya dan saudara-saudaranya, termasuk Gus Luthfi, ingin mendirikan lembaga pendidikan formal, Kiai Thoyfoer sempat tidak mengizinkan.

“Waktu itu, Gus Luthfi baru pulang dari Al-Azhar Kairo dan bersemangat ingin mendirikan sekolah, yakni SMK Avicenna. Namun abah belum mengizinkan. Bahkan saya sendiri juga bertanya-tanya, mengapa tidak boleh mendirikan sekolah, padahal niatnya baik,” ujar Gus Aang.  

Baca juga: Pemerintah Batal Berikan Diskon Listrik Juni-Juli, Fokus Salurkan Subsidi Upah

Ternyata, lanjutnya, Kiai Thoyfoer memiliki alasan yang sangat mendalam meski tampak sederhana. “Saat itu saya masih menjabat sebagai Ketua LP Ma’arif NU Cabang Lasem. Maka menurut abah, tidak pantas kalau saya, yang membawahi lembaga-lembaga pendidikan NU, justru mendirikan sekolah sendiri. Itu bisa menimbulkan konflik kepentingan,” jelasnya.

Dedikasi Kiai Thoyfoer terhadap NU juga tampak sejak beliau menjadi Ketua PCNU Lasem. Bahkan, tutur Gus Aang, beliau dengan tegas mengarahkan putra-putrinya untuk bersekolah di lembaga pendidikan milik NU.  

“Abah tidak memperbolehkan anak-anaknya sekolah di luar. Kami semua harus sekolah di SMP NU Lasem. Saya merasa beruntung menjadi bagian dari sekolah itu, karena ini sekaligus bagian dari prinsip beliau sebagai Ketua PCNU Lasem,” katanya.  

Menurut Gus Aang, sikap ayahandanya tersebut merupakan wujud nyata komitmen seorang kader NU dalam menjaga etika organisasi dan memperkuat lembaga pendidikan milik Nahdlatul Ulama.  

“Dedikasi dan keteladanan abah menjadi pelajaran berharga bagi kami, terutama dalam memegang amanah dan menjaga kepercayaan jamiyah,” pungkas Gus Aang.