Arsip Tag: Kementerian Kesehatan

RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang Pastikan Pasokan Obat-obatan dalam Kondisi Aman

Lingkar.co – RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang memastikan pasokan obat-obatan untuk IGD dan poli darurat dalam kondisi aman dan mencukupi. Sebagian besar stok lama rusak akibat terendam lumpur, namun bantuan cepat dari berbagai lembaga membuat layanan tetap berjalan.

Pelaksana pelayanan dari RS Kemenkes Adam Malik, dr. Ade Rachmat Yudiyanto, SpA(K), menyampaikan kurang dari 10 persen obat lama dapat diselamatkan karena risiko kontaminasi.

“Daripada berisiko, lebih baik dibuang. Kita pakai yang benar-benar aman,” ujarnya.

Kebutuhan obat dipenuhi melalui dukungan RS Kemenkes Adam Malik serta tim dari UI dan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI). Bantuan mencakup obat infeksi, analgesik, obat kulit, hingga perbekalan medis dasar yang dibutuhkan untuk layanan pascabanjir. Seluruh stok langsung didistribusikan ke IGD dan poli prioritas.

Menurut dr. Ade, aliran bantuan datang cepat karena banyak pihak memahami kondisi RSUD Aceh Tamiang yang kehilangan hampir seluruh fasilitas farmasi. Tim farmasi rumah sakit juga langsung menginventarisasi ulang obat yang masuk.

“Dengan pasokan yang tersedia, pelayanan IGD, perawatan inap darurat, dan poli dapat berjalan tanpa gangguan. Tidak ada kasus yang tertunda karena kekurangan obat selama hari pertama,” tuturnya.

Ia menambahkan, ketersediaan obat saat ini bahkan lebih dari cukup, meski pengelolaan tetap dilakukan ketat karena situasi darurat masih berlangsung. Ruang penyimpanan obat sementara juga telah ditata agar distribusi lebih cepat dan aman dari sisa lumpur. (*)

Pascabanjir, 13 Rumah Sakit dan 122 Puskesmas di Aceh Terdampak

Lingkar.co – Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benyamin Paulus Octavianus, bersama jajaran Kemenkes, memaparkan perkembangan penanganan kesehatan pasca bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menurut data per 4 Desember 2025 tercatat sebanyak 31 rumah sakit dan 156 puskesmas terdampak. Aceh menjadi wilayah dengan dampak terbesar, dengan 13 rumah sakit dan 122 puskesmas terdampak, disusul Sumatera Utara dengan 18 rumah sakit dan 25 puskesmas, serta Sumatera Barat dengan 9 puskesmas.

Dalam temu media di Gedung Adhyatma, Jumat (5/12/2025) kemarin, Wamenkes menyampaikan bahwa peninjauan lapangan telah dilakukan sejak Selasa (3/12/2025) atas arahan Menteri Kesehatan. Peninjauan langsung melanjutkan kerja tim Pusat Krisis Kesehatan yang sudah berada di lapangan sejak awal kejadian.

Sebagian fasilitas kini telah kembali membuka layanan. Di Aceh, tiga rumah sakit dan 55 puskesmas telah beroperasi. Di Sumatera Utara, layanan mulai pulih di 15 rumah sakit dan seluruh 25 puskesmas. Sementara itu, seluruh fasilitas kesehatan di Sumatera Barat telah berfungsi normal.

Masih terdapat fasilitas yang belum dapat beroperasi, terdiri dari 10 rumah sakit dan 65 puskesmas di Aceh, serta tiga rumah sakit di Sumatera Utara. Sejumlah fasilitas juga mengalami kerusakan berat, termasuk enam rumah sakit di Aceh dan empat di Sumatera Utara—RS Tanjung Pura, RSU Pertamina Pangkalan Brandan, RSK Mata Provinsi Sumut, dan RSU Sundari. Di Sumatera Barat, tidak terdapat rumah sakit dengan kerusakan berat.

Wamenkes menyoroti kondisi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang tergolong paling berat. Banjir yang tidak surut hingga sembilan hari merendam lantai satu rumah sakit dan merusak seluruh peralatan medis.

“Kami bersyukur ada rumah sakit swasta di dataran lebih tinggi dan tidak terdampak, sehingga pasien dapat dialihkan ke RS Putri Bidadari,” ungkap dr. Benny.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Sumarjaya menambahkan bahwa seluruh wilayah terdampak kini sudah terjangkau layanan kesehatan melalui jalur laut, udara, dan darat. Jalur laut dimanfaatkan untuk mengirim logistik dan tenaga kesehatan, jalur udara untuk menjangkau daerah terisolasi, sementara akses darat mulai terbuka seiring surutnya banjir.

Di Aceh Tamiang, wilayah yang sempat tidak terjangkau akhirnya dapat dilayani setelah ada laporan warga. Tim Kemenkes langsung bergerak pada pagi harinya, membawa tenaga medis dan dua kendaraan logistik.

“Sejak kemarin, daerah-daerah yang sebelumnya belum tersentuh kini sudah terlayani, baik melalui udara maupun jalur yang baru terbuka,” jelasnya.

Kemenkes terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah untuk memastikan distribusi obat-obatan, layanan darurat, serta pembersihan fasilitas berjalan optimal. Penguatan layanan dibantu oleh tenaga kesehatan dari berbagai instansi, termasuk RSUD, tenaga kesehatan daerah, relawan, serta tim bantuan dari Jawa Timur dan RSCM yang bertugas membuka akses layanan, memberikan pelayanan kesehatan bergerak, dan membersihkan fasilitas yang terdampak lumpur maupun banjir.

Kondisi pemulihan di tiga provinsi menunjukkan dinamika yang berbeda. Di Aceh, sebagian besar fasilitas terdampak lumpur dan kerusakan fisik, sehingga proses pembersihan dapat dilakukan lebih cepat dan layanan mulai pulih bertahap. Di Langkat dan Medan, banjir masih tinggi sehingga fasilitas belum bisa dibersihkan dan layanan belum dapat dimulai. Sementara itu, pemulihan di Sumatera Barat berjalan lebih cepat karena genangan air relatif cepat surut dan infrastruktur kesehatan tidak mengalami kerusakan berarti. (*)

Sukses Intervensi Penurunan Stunting, Gubernur Jawa Tengah Terima Penghargaan Kemenkes

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025, Rabu (12/11/2025) di Ruang Auditorium J. Leimena Gedung Adhyatma lantai 2, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Jakarta.

Jawa Tengah memperoleh penghargaan berkat prestasinya sebagai Provinsi dengan Capaian Intervensi Spesifik Stunting Terbaik Kategori Regional I.

Penghargaan diserahkan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin).

Usai acara, Sumarno menyampaikan apresiasi yang tinggi dengan penghargaan yang dicapai tersebut. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari kerja bersama dan kolaborasi semua pihak dalam upaya percepatan penurunan stunting di Jawa Tengah. Penghargaan diharapkan akan menjadi penyemangat bagi semua pihak yang sudah bersinergi sehingga mendapatkan prestasi yang membanggakan.

“Terima kasih kami ucapkan kepada semua stakeholder yang sudah bekerja sama dan berkolaborasi dalam upaya percepatan penurunan stunting. Kepada bupati, walikota, camat, lurah dan yang terutama kader posyandu, yang menjadi ujung tombak suksesnya pencapaian penurunan stunting di Jawa Tengah,” kata Sumarno.

Sumarno juga menyampaikan selamat kepada dua penghargaan lain yang diterima oleh Jawa Tengah, termasuk kader Posyandu terbaik. Menurutnya, PR dalam penurunan stunting masih harus dikejar sampai memenuhi target nasional.

“Melalui sinergi semua pihak kita optimis akan tercapai,” katanya.

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan Budi Guna Sadikin mengatakan, prevalensi stunting telah berada pada 19,8% di tahun 2024. Pemerintah Indonesia berkomitmen menurunkan prevalensi stunting menjadi 14,2 % pada tahun 2029 dan mencapai 5% pada tahun 2045.

“Rakornas menjadi ajang strategis menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan mulai pemerintah pusat, daerah, dari provinsi sampai desa dalam pencegahan dan penurunan stunting,” kata Budi.

Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuminng Raka dalam arahannya mengatakan, program percepatan penurunan stunting adalah program prioritas Presiden RI Prabowo Subiyanto yang harus dikawal bersama. Gibran mengajak semua pihak agak keroyokan untuk mencapai target penurunan yang sudah ditetapkan.

“Tantangan masih besar untuk mencapai prevalensi 14% di tahun 2029. Mari kita bersama-sama keroyokan untuk program penurunan stunting ini,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, dua penghargaan juga diberikan kepada Jawa Tengah yaitu, Kabupaten Banyumas dengan katagori terbaik Regional 1 untuk Progam Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), dan kader Bidang Kesehatan Berprestasi Terbaik Regional 1 yang diberikan kepada Sofia Turrifqi, kader Posyandu Mawar 3 Desa Bekutuk, Blora.(*)

Terima Bantuan Alat Portable Pemeriksaan TBC, Program Speling Dapat Perhatian Pemerintah Pusat

Lingkar.co – Program dokter spesialis keliling (Speling) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah cukup berhasil dalam menjaga kesehatan masyarakat dan mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat.
Hal itu terbukti dengan mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa alat portable pemeriksaan Tuberkolosis (TBC). Alat tersebut untuk menunjang operasional program Speling.

“Pemerintah pusat mengapresiasi Jawa Tengah dengan memberikan bantuan alat portable pemeriksaan TBC,” kata Wagub Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, saat memberikan sambutan pada Peletakan Batu Pertama Gedung Darussalam Rumah Sakit Islam Banjarnegara, Sabtu (25/10/2025).

Dikatakan dia, alat tersebut dioperasikan dengan baterai, sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. Dengan adanya alat tersebut, diharapkan mempercepat penannganan TBC kepada masyarakat.

Menurut Taj Yasin, perosoalan TBC di Jateng butuh perhatian serius. Pemprov Jateng terus melakukan tracing (pelacakan) dan pengobatan penyakit ini agarsegara tuntas.

Dalam kesempatan itu, Taj Yasin mengapresiasi pendirian Gedung Darussalam yang akan meningkatkan fasilitas Rumah Sakit Islam Banjarnegara. Dengan letaknya yang strategis, warga di sekitar Banjarnegara tidak perlu jauh-jauh sampai ke Purwokerto.

Gedung yang berada di atas lahan seluas 6.400 meter persegi tersebut akan didirikan menjadi bangunan menjadi lima lantai. Terdiri atas layanan ICU, PICU, NICU, perinatologi, IRNA standar KRIS, dan kamar operasi.

“Semoga pembangunan gedung yang lebih modern, nyaman dan representatif dapat menunjang pelayanan yang optimal untuk masyarakat. Bangunan ini nantinya bukan hanya sebagai tempat pengobatan, tetapi juga akan menjadi pusat pendidikan dan penelitian medis,” pungkas Gus Yasin.

Hadir dalam acara tersebut, Bupati Banjarnegara dr Amalia Desiana, Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yunita Dyah Suminar, Pimpinan RSI Banjarnegara dan Yayasan RSI Banjarnegara serta Forkopimda setempat. (*)

Turunkan Kasus Tuberkulosis, Gubernur Jateng Luncurkan Program Speling Melesat dan TB Express

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meluncurkan program Speling Melesat dan TB Express. Program tersebut untuk mengakselerasi penurunan kasus tuberkulosis (TB/TBC) sekaligus mendukung program nasional quick win atau hasil terbaik cepat.

“Launching Speling Melesat dan TB Express tidak hanya dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi, tetapi juga oleh kabupaten/kota, berikut rumah sakit provinsi, kabupaten/kota, dan swasta,” kata Ahmad Luthfi saat peluncuran sekaligus peringatan Hari Kesehatan Nasional di Grand Mercure Hotel, Solobaru, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (3/10/2025).

Speling Melesat merupakan singkatan dari Spesialis Keliling Mendekatkan Layanan Kesehatan kepada Masyarakat. Program prioritas Provinsi Jawa Tengah tersebut untuk memberikan pelayanan kesehatan paripurna kepada masyarakat dengan basis desa. Dalam praktiknya juga diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari pemerintah pusat.

Layanan program Speling meliputi pemeriksaan ibu hamil (antenatal care) dan pemeriksaan kanker serviks oleh dokter spesialis obsgyn; tuberkulosis oleh dokter spesialis penyakit dalam/paru; kesehatan jiwa oleh dokter spesialis kesehatan jiwa; stunting oleh dokter spesialis anak.

“Dokter spesialis kita turunkan ke desa-desa dan melakukan pengecekan kesehatan secara gratis dan paripurna. Salah satu indikator kemiskinan adalah layanan dasar kesehatan, kalau masyarakat kita sehat akan mengangkat produktivitas dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri,” kata Ahmad Luthfi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 30 September 2025, sebanyak 8.791.904 jiwa telah terlayani CKG. Khusus Speling Melesat sudah terlaksana di 560 desa se-Jawa Tengah dengan total 62.169 jiwa terlayani. “CKG kita tertinggi nasional. Ini akan terus kami lakukan,” ungkap Ahmad Luthfi.

Sementara itu, dalam Program Speling Melesat juga terdapat TB Express. Kegiatan tersebut merupakan terobosan untuk penemuan kasus tuberkulosis menggunakan alat X-Ray Portable Rapid Early Screening System. Program ini bertujuan untuk mengakselerasi penurunan tuberkulosis sampai 50%.

“TBC di wilayah kita juga menjadi prioritas. Begitu kita dapatkan melalui alat kita yang mobiling atau X-Ray portable itu, jadi tugasnya melakukan tracing mereka yang terpapar seperti model covid itu. Kemudian diobati, diawasi secara berkala, dan dievaluasi sampai tuntas,” jelasnya.

Data tuberkulosis berdasarkan Buku Saku Dinkes Jawa Tengah Triwulan II 2025 tercatat estimasi ada 107.488 kasus. Jumlah penemuan kasus tuberkulosis per 30 September 2025 sebanyak 63.398 kasus atau 58,98%.

Berdasarkan hasil program Speling Melesat, tercatat ada 9.140 orang skrining gejala. Selanjutnya 1.847 orang telah melakukan rontgen thorax (dada) dengan 626 orang hasilnya sugestif. Sementara yang ditindaklanjuti dengan Tes Cepat Molekuler (TCM) sebanyak 525 orang.

“Jumlahnya sudah banyak,” kata Ahmad Luthfi.

Sementara itu, Sekjen Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, mengatakan, angka kasus tuberkulosis di Indonesia nomor dua terbesar di dunia. Maka harus konsentrasi untuk menurunkan angka tersebut dengan target tahun 2030 menjadi nol kasus tuberkulosis.

“CKG dan Speling Melesat salah satunya mengecek apakah masyarakat ada TB atau tidak. Kalau hasilnya positif kan sudah diketahui by name by address, kemudian kita lihat tindak lanjutnya. Termasuk cek orang di sekitar karena kita harus cegah penyebarannya,” katanya.

Dijelaskan, penderita tuberkulosis dalam penanganannya harus mengkonsumsi obat selama 6 bulan berturut-turut. Apabila dalam jangka waktu tersebut ada beberapa terlewatkan obatnya, maka harus mengulang dari awal lagi. Penderita yang sering mengulang pengobatan ada risiko resisten terhadap obat sehingga akan menjadi lebih parah. (*)

Tak Bisa Hindari Era Persaingan, Awal: UDD PMI Kota Semarang Utamakan Kualitas dan Terakreditasi Unggul

Lingkar.co – Ketua Pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang, Dr. dr. Awal Prasetyo, M.Kes, Sp.THT(KL), MM(ARS) mengaku tidak bisa menghindari era persaingan. Untuk itu ia tegaskan bahwa Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Semarang mengutamakan kualitas produk olahan darah.

“Persaingan adalah suatu keniscayaan, oleh karena itu secara intern PMI meningkatkan kualitas semuanya, mulai dari proses seleksi pendonor kemudian pemrosesan darah, penyimpanan dan distribusi,” kata Awal menjawab pertanyaan wartawan sesuai Gathering Media di aula lantai 4 Gedung UDD PMI Kota Semarang, Rabu (17/9/2025) pagi.

Gathering Media digelar sesuai upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 PMI yang lahir pada 17 September 1945, tepat 1 bulan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurutnya, semangat berbagi darah di kota Semarang semakin meningkat sehingga stok darah di UDD PMI selalu ada karena tempat distribusi darah berkurang dengan adanya undang-undang yang memperbolehkan rumah sakit memberikan pelayanan donor darah sehingga muncul Bank Darah Rumah Sakit (BDRS).

Meski demikian, pihaknya tidak terlalu fokus pada persoalan itu karena UDD PMI Kota Semarang sudah terakreditasi unggul. Katanya, sudah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik atau Bermutu (CPOB) dan sudah diverifikasi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Sehingga produk darah yang dihasilkan mendapatkan pengakuan hingga Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Yang menjadi unggulan UDD PMI Kota Semarang adalah input pendonornya. Pendonornya ditekankan pada keikhlasan, kesukarelaan dan kualitas kesehatan yang memenuhi standar kesehatan secara holistik, yaitu sehat fisik, sehat psikis dan sehat sosial,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Awal menyatakan bahwa orang yang melakukan donor darah di UDD PMI Kota Semarang semakin muda, “Rentang usia (pendonor) semakin muda, seperti tadi penyerahan penghargaan donor 10 kali itu orang muda yang belum berusia 20 tahun. Ini luar biasa,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari promosi kesehatan yang dilakukan oleh PMI dan media massa yang menjadi relasi penting penyebaran informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Tentunya media yang menyampaikan bahwa darah yang berkualitas itu terkait usia (pendonor). Semakin muda semakin bagus itu, lebih berkualitas (darahnya) daripada yang sudah tua,” jelasnya.

Meski demikian, dirinya mengaku belum mendapatkan data terkait prosentase relawan donor darah sukarela yang berusia muda, “Prosentasenya belum kami hitung, nanti akan kami sajikan datanya,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, PMI Kota Semarang juga memberikan penghargaan kepada Alfamart yang konsisten sebagai koordinator kegiatan donor darah di berbagai tempat di seluruh Indonesia. (*)

Data Kemenkes, 79 Persen Lebih Jemaah Haji Indonesia Berkategori Berisiko Tinggi

Lingkar.co – Kementerian Kesehatan melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) telah mencatat pada hari ke-28 pelaksanaan haji di tanggal 29 Mei 2025 terdapat lebih dari 79% jemaah Indonesia berkategori berisiko tinggi dengan kondisi utama kategori Lansia.

Berdasarkan data Kementerian Agama melalui dashboard Siskohat per tanggal 29 Mei 2025 diketahui bahwa sudah 189.000 lebih jemaah haji reguler tiba di Arab Saudi dan 15.000 lebih jemaah haji khusus yang telah diberangkatkan dari Tanah Air.

Disebutkan pula dalam siaran persnya Selasa (3/6/2025), dari 617 jemaah yang dirawat inap di RS Arab Saudi, 25 orang di antaranya karena permasalahan kesehatan sistem muskuloskeletal (tulang, otot, dan persendian) seperti dislokasi, fraktur/patah, bahkan fraktur dislokasi pada tangan dan kaki.

Banyak pula jemaah yang mengalami nyeri pada sendi serta pembengkakan kaki dan mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan haji kloter (TKHK).Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko cedera dan fraktur di kalangan jemaah, terutama bagi Lansia yang rentan disertai adanya kondisi pengeroposan tulang atau osteoporosis yang dapat diperberat dengan kondisi morbiditas penyerta seperti gangguan penglihatan, keseimbangan serta faktor kelelahan.

“Kebanyakan jemaah yang mengalami cedera sistem muskuloskeletal berupa fraktur/patah, dislokasi, bahkan fraktur dislokasi adalah jemaah yang Lansia dengan kondisi yang rentan jatuh dan beberapa terdorong dari belakang saat turun dari bis maupun saat melakukan tawaf, sai, ataupun terpeleset di kamar mandi yang licin,” ungkap dr. Yudha Mathan Sakti selaku Penanggung Jawab Tim visitasi ke RS King Faisal, RS King Abdul Azis, RS King Abdullah, RS Al Noor dan RS Saudi National-Abeer, Makkah.

Lebih lanjut, dr. Yudha menjelaskan bahwa nyeri sendi dan pembengkakan kaki banyak terjadi di kalangan jemaah risti dikarenakan aktivitas yang padat dengan berjalan kaki jauh bahkan beberapa diantaranya melakukan umrah berulang kali.

Menurut dia, beberapa penyebab umum yang dialami oleh jemaah sehingga mengalami permasalahan kesehatan tulang, di antaranya:

1. Kepadatan massa di area yang sangat ramai, terutama saat tawaf, sai, atau turun dari bis, sehingga meningkatkan risiko terdorong, terinjak, atau terjatuh.

2. Kondisi fisik jemaah yang memiliki komorbiditas, permasalahan persendian, osteoporosis, atau riwayat cedera sebelumnya sehingga lebih rentan.

3. Kelelahan yang didorong durasi ibadah yang panjang dan perubahan cuaca sehingga menyebabkan kelelahan ekstrem, mengurangi konsentrasi, dan meningkatkan risiko tersandung atau terjatuh.

4. Permukaan tidak rata seperti turun tangga bis, air tergenang sehingga lantai menjadi licin atau penghalang jalan yang tidak terlihat jelas.

5. Berjalan jauh dan menggunakan alas kaki yang kurang tepat. Terlebih lagi bila berjalan jauh di tengah teriknya matahari dan menggunakan alas kaki yang tidak nyaman, tidak pas, atau licin dapat memicu kaki bengkak dan cidera.

“Bagi jemaah yang mengalami cedera ringan, nyeri persendian dan bengkak kaki dapat melakukan upaya sederhana dengan mengistirahatkan, mengompres dengan air dingin/es. Segera melaporkan ke petugas kesehatan yang terdekat untuk mendapatkan penanganan maupun rujukan ke RS Arab Saudi,” ujar dr. Yudha.

Di tempat yang berbeda, pada hari yang sama saat kunjungan pemantauan jemaah haji Indonesia yang sedang dirawat inap di RS Saudi National Hospital, dr. Ghulam Iskandarsyah, Sp.An, menekankan bahwa untuk mencegah terjadinya cedera maupun fraktur/patah tulang pada jemaah diharapkan jemaah yang lebih muda dan bugar agar lebih bersabar dalam menjaga dan melindungi jemaah yang rentan dan lansia.

“Tolong ya jemaah haji yang lebih muda untuk lebih bersabar dalam menghadapi jemaah yang tua. Ketika turun dari bis, dahulukan dan bantu jemaah lansia dan rentan. Jaga kekompakan untuk diberi kelapangan hati dalam melindungi mereka yang sudah sepuh itu,” tutup dr. Ghulam.

Dengan kesadaran dan persiapan yang matang, risiko cidera dan fraktur/patah tulang dapat diminimalisir, memungkinkan jemaah untuk menjalankan ibadah dengan lebih tenang, nyaman, dan khusyuk. Kesehatan adalah aset tak ternilai dalam menunaikan rukun Islam yang terakhir ini. (*)

Jadi Perhatian Serius Kemenkes, 99 Jemaah Haji Indonesia Terserang Wabah Pneumonia

Lingkar.co – Sebanyak 99 jemaah haji Indonesia dilaporkan terserang pneumonia selama menunaikan ibadah di Tanah Suci. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan perhatian serius karena pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang dapat berakibat fatal, terutama bagi jemaah dengan kondisi kesehatan yang rentan atau memiliki komorbiditas.

Melansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan, Kamis (22/5/2025), data yang dihimpun oleh Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), baik Daerah Kerja (Daker) Makkah maupun Madinah per tanggal 20 Mei 2025, cut-off pukul.16.00 WAS, menunjukkan bahwa jemaah yang terserang pneumonia tersebar di berbagai sektor dan kloter. Mereka saat ini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit rujukan di Makkah dan Madinah, Arab Saudi.

“Kami mencatat adanya peningkatan kasus pneumonia di kalangan jemaah haji kita. Dari 99 kasus pneumonia, ada satu jemaah yang meninggal dunia karena penyakit tersebut. Ini adalah kondisi yang harus diwaspadai, karena dapat berkembang menjadi lebih serius, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat,” ujar Liliek Marhaendro Susilo, Kepala Pusat Kesehatan Haji, di KKHI Madinah.

Dijelaskan, pneumonia adalah peradangan pada kantung-kantung udara di paru-paru (alveoli) yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Petugas haji pun memperhatikan risiko penularan infeksi pernapasan menjadi lebih tinggi di lingkungan ibadah haji yang padat dan dengan suhu panas ekstrem.

Dijelaskan lebih lanjut, KKHI mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang bertendensi sebagai pencetus kasus pneumonia di kalangan jemaah haji, antara lain:

  1. Suhu panas ekstrem, berdasarkan data real time KKHI, suhu hari ini di Makkah dan Madinah berkisar antara 41-47 derajat celcius. Suhu udara yang tinggi ini, jika kekurangan asupan cairan dapat menyebabkan dehidrasi yang bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
  2. Kelelahan fisik, rangkaian ibadah haji yang padat, dari mulai lamanya perjalanan, umroh wajib hingga puncak di Armuzna, membutuhkan stamina fisik yang kuat, sehingga kelelahan dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
  3. Keramaian massa, penularan penyakit dengan kepadatan jemaah haji hingga jutaan orang dapat meningkatkan risiko penularan virus atau bakteri penyebab pneumonia.
  4. Riwayat penyakit penyerta (komorbiditas), jemaah dengan riwayat diabetes, hipertensi, penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi.

“Kami ingatkan tak bosan-bosan kepada jemaah untuk selalu waspada. Gunakan masker ketika batuk-pilek dan di area keramaian. Cuci tangan dengan sabun/hand sanitizer sebelum dan sesudah beraktivitas. Minum air putih/zam-zam sedikit demi sedikit hingga 2 liter sehari. Yang mempunyai komorbid dan sudah minum obat rutin, jangan lupa obatnya diminum secara teratur,” tuturnya.

Untuk itu ia mengingatkan bahwa puncak ibadah haji saat Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) memerlukan stamina yang tinggi. Lilek berpesan agar jemaah untuk mengurangi ibadah sunnah seperti umroh yang berulang kali. Simpan energi dan jangan terlalu capek. Jangan merokok di sembarang tempat, hormati orang lain yang tidak merokok.

“Segera melapor dan memeriksakan diri saat kurang enak badan ke petugas kesehatan haji dan pos kesehatan. Kesehatan jemaah adalah prioritas utama kami. Mari kita jaga bersama-sama agar ibadah haji berjalan lancar dan seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dengan sehat,” tutupnya.

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Tingkatkan Ketahanan Kesehatan, Kemenkes Beri Pelatihan BHD Kepada Forum Relawan Grogol .

Lingkar.co – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) melalui Pusat Krisis Kesehatan memberikan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada Forum Relawan (Forel) Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan tersebut merupakan upaya peningkatan ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat medis sesuai dengan Undang undang Kesehatan No. 17 tahun 2023.

“Ini tugas dan “tanggungjawab” kami sebagai kepanjangan tangan dari kementrian kesehatan agar “masyarakat jawa tengah” dan para relawan memiliki keterampilan sebagaimana aturan pertolongan pertama,” kata Koordinator Pelaksana Pusat Krisis Kesehatan Regional Jawa Tengah, Harris Kurniawan dalam keterangan persnya, Sabtu (7/9/2024).

Ia lantas menjelaskan, Pusat Krisis Kesehatan merupakan unsur pendukung yang berada di bawah tanggung jawab menteri kesehatan. Ia tegaskan bahwa pihaknya mempunyai tugas melaksanakan penanggulangan krisis kesehatan guna mendekatkan dan mempercepat pemberian dukungan bantuan kesehatan secara terkoordinasi pada kejadian krisis kesehatan.

“Karena itu organisasi kami dari tingkat usat membentuk regionalisasi. Saat ini Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI memiliki 11 regional salah satunya regional Jawa Tengah,” paparnya.

Ia bilang, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI regional Jawa Tengah berkedudukan di kota Semarang dengan wilayah kerja di provinsi Jawa Tengah dan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lebih lanjut ia menjelaskan, kegiatan yang berlangsung di pendopo Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo berbentuk pelatihan yang sederhana. “Ini pelatihan yang sederhana. Jadi aplikatif sifatnya, tidak seperti pelatihan yang membutuhkan kurikulum dan waktu yang panjang,” jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, pelatihan tersebut ikut dalam rangkaian kegiatan water rescue (penyelamatan di air). “Ada 125 peserta pelatihan yang berasal dari berbagai organisasi dan komunitas relawan se-kecematan Grogol, tentunya ini sangat penting bagi para relawan,” katanya.

Ia pun menyampaikan kepada peserta tentang pentingnya partisipasi masyarakat, pembinaan dan pengawasan dalam program ketahanan kesehatan. “Harapan kami, semua peserta latih juga bisa menyampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya memahami pertolongan pertama dan keterampilan BHD. Jadi tidak asal semangat membantu untuk menolong, tapi juga punya ilmu tentang pertolongan pertama yang sifatnya medis dasar,” urainya.

Angka Stunting di Rembang Masih 19,5 Persen

Lingkar.co – Kabupaten Rembang mencatat pencapaian luar biasa dalam penurunan angka stunting pada tahun 2023. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia yang digelar oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, angka stunting di Kabupaten Rembang mengalami penurunan signifikan sebesar 4,8% dari 24,3% menjadi 19,5%.

Pencapaian ini disampaikan oleh Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’, dalam pertemuan evaluasi intervensi spesifik stunting di aula Bappeda Rembang, Selasa (7/5/2024). Hanies mengungkapkan bahwa penurunan tersebut merupakan hasil kerja keras Pemerintah Kabupaten Rembang, serta merupakan bukti keseriusan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) bersama pihak-pihak terkait.

“Masih banyak strategi yang musti kita lakukan dan terapkan, ini membutuhkan komunikasi, kolaborasi dari kawan-kawan OPD yang ada di bidang intervensi ini. Kemudian kita sudah memberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) kepada balita ini sudah kita lakukan. Melalui kawan-kawan yang ada di bawah, ini merupakan kolaborasi yang bagus,” ungkapnya.

Meski demikian, Hanies juga mengungkapkan bahwa masih ada 579 balita di Kabupaten Rembang yang masih mengalami stunting. Angka ini menjadi perhatian serius, terutama di wilayah kerja Puskesmas Sarang 2 dengan angka stunting 23,1%, diikuti Puskesmas Pamotan 18,9%, dan Puskesmas Sulang 18,3%.

“Tapi secara keseluruhan kita sudah melewati batas minimal prevalensi stunting yaitu 14% yang telah ditetapkan. Ini capaian juga bagi kita menurut SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) tahun 2024,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, dr. Ali Syofii, menyatakan bahwa rapor angka stunting di Kabupaten Rembang termasuk cukup baik. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, sebanyak 17 kabupaten/kota mengalami peningkatan angka stunting, sehingga pencapaian Rembang patut diapresiasi.

“Kita termasuk daerah yang angka stuntingnya turun, kalau di tingkat Jawa Tengah angka stuntingnya sekarang 20,6%. Sedangkan kita sekarang dibawah Jawa Tengah dengan 19,5%. Jawa Tengah turunnya 0,1%, kita alhamdulillah bisa turun 4,8%,” ungkapnya.

Jika momentum penurunan angka stunting di Kabupaten Rembang terus berlanjut, ia meyakini target dari pemerintah pusat dimana stunting harus 14% di 2024 tidak mustahil bisa tercapai.

“Di daerah kita masih sekitar 5,5 % untuk menuju 14%. Insyaallah saya yakin dengan kerja keras kita, semua bisa dicapai,” pungkasnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam