Arsip Tag: Kopi

Tips Cara Ampuh Usir Tikus Rumah dengan Kopi

Lingkar.co – Tikus merupakan salah satu hewan pengerat yang menjengkelkan. Tidak hanya merusak pakaian atau mencuri makanan.

Hewan satu ini juga berbahaya karena membawa berbagai bakteri dan virus yang menyebabkan penyakit serius seperti Leptospirosis, Hantavirus, Salmonellosis, dan Rat Bite Fever.

Nah, untuk membasmi atau mengusir hewan yang satu ini bisa dengan cara sederhana dengan bahan yang biasa tersedia di dapur Anda

Melansir dari akun YouTube Tukang AB @tukangab Selasa (7/4/2026).

Akun YouTube tersebut memberikan tips membasmi tikus yang mudah dengan serbuk kopi tanpa gula. Simak berikut cara membuat racun tikus dengan serbuk kopi!

Pertama, siapkan dulu wadah plastik untuk menaruh makanan. Selanjutnya tuang serbuk kopi tanpa gula ke dalam wadah yang sudah dipersiapkan, tak perlu menggunakan gula karena itu menarik minat semut.

Selanjutnya ambil serbuk detergen, salah satu bahan kimia yang dibenci oleh tikus. Karena ini akan sangat panas ketika terkena kulit meskipun tanpa diberi air.

“Untuk perbandingannya satu banding atau dengan kopinya teman-teman, kita taruh di sini dua sendok juga” katanya.

Kemudian siapkan serbuk merica atau lada, bisa yang bermerk atau yang ditumbuk sendiri.

Merica, katanya, memiliki efek yang luar biasa pedas. “Mata si tikus ini akan pedas ketika dekat-dekat dengan ini,” ujarnya.

Selanjutnya, siapkan kapur barus yang biasanya kita taruh di almari maupun yang biasa digunakan di toilet.

Ini tidak langsung kita campur. Jadi harus kita bikin serbuk terlebih dahulu,” jelasnya.

Untuk takarannya, cukup ambil 4 (empat) butir kapur barus ukuran kecil. Setelah ditumbuk halus campur ke dalam wadah yang sudah terisi bahan-bahan tadi

Biasanya, kata dia, tikus itu akan terganggu penciumannya ketika ada benda-benda yang beraroma tajam.

“Nah untuk penggunaannya, ramuan ini bisa kita taruh di tempat-tempat yang sering dikunjungi si tikus,” ucapnya.

Sebagai contoh bisa ditaruh di samping atau belakang rumah yang biasa digunakan untuk menumpuk barang (tak terpakai). Karena di tempat seperti itu biasanya digunakan untuk sarang tikus.

Caranya cukup ditabur ke beberapa titik di tempat tersebut. Lalu taburkan juga ke selokan atau paralon saluran air pembuangan kamar mandi.

Cara lain bisa juga dituang air satu liter kemudian disaring. Air tersebut bisa disemprot ke lokasi yang biasa menjadi tempat lalu lalang tikus.

Nah, dengan tipa ini mudah-mudahan tikus pergi dari rumah Anda. (*)

Ansor Reban Batang Berdayakan Ekonomi Kader dengan Produk Kopi

Lingkar.co – Ngobrol santai sambil menikmati kopi merupakan salah satu dari kebiasaan masyarakat untuk berinteraksi dan melakukan negosiasi bisnis. Prospek bisnis kopi ini ditangkap dan dikembangkan oleh Qawimul Adib yang menjadikan perekonomian kader Ansor di Batang mengalami peningkatan yang signifikan.

Menurut Qowim, sapaan akrabnya, geliat wirausaha kopi kader Ansor mendapatkan dukungan dari stand ke stand dalam berbagai event yang digelar oleh Nahdlatul Ulama maupun Badan Otonom (Banom), termasuk stand UMKM yang digelar PW GP Ansor Jateng di area Pondok Pesantren (Ponpes) Ash Shodiqiyah, Sawah Besar, Gayamsari Kota Semarang hari ini Ahad (2/11/2025).

“Kita pikir sederhana saja, bagaimana mendapatkan peluang usaha dari kebiasaan ngopi. Jadi harus punya standar produksi sehingga kita paham citarasa yang diinginkan oleh penikmat kopi,” katanya.

Dirinya lantas mengisahkan, pandemi Covid-19 memang membuat perekonomian hancur. Namun hikmah dari itu dirinya bisa lebih bermanfaat karena mampu mengembangkan usaha kopi berbasis komunitas.

“Usaha ini secara pribadi sudah sejak tahun 2015, saya awalnya merintis di Jakarta, dan gulung tikar saat pandemi,” ungkapnya.

Ia bersama istrinya lantas memutuskan pulang kampung di Sukomangli, Reban, Batang. Hidup di kawasan lereng pegunungan, ia bergerak bersama Lembaga Ekonomi Ansor memberdayakan kader Ansor berwirausaha.

Berbeda dengan usaha yang ia rintis di Jakarta yang hanya mengandalkan keterampilan sebagai barista, ‘Tahun 2023 itu baru mulai belajar menanam, memilih dan mengolah biji kopi yang telah diroasting hingga mempersiapkan tenaga barista,” katanya.

“Kalau bukan petani muda (Ansor), kita beli kopi yang sudah merah dan belum dijemur. Otomatis petani juga untung karena tidak beli kopi secara borongan atau sistem tebas,” sambungnya.

Saat ini, kata dia, para petani muda sudah memiliki berbagai branding kemasan dengan citarasa sendiri, dan setiap merk bisa dijual dalam stand UMKM yang diadakan NU maupun banomnya, “Jadi tiap ada even tinggal menunjuk yang siap menjadi barista dengan merk mereka sendiri,” jelasnya.

Meski demikian, kata dia keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari kemampuan menjaga komunikasi dengan pelanggan di Jakarta. Sehingga pemasaran online hanya berdasarkan pesanan via telepon di aplikasi WhatsApp.

“Kita kan tidak cari pembeli, tapi pelanggan, usaha kopi berbasis komunitas yang ada ini cukup stabil,” ujarnya.

Terkait standar olahan yang stabil, ia mengaku memilih sesuai segmen nasional karena kapasitas produksi yang belum mampu memenuhi pangsa pasar global, “Kita sekarang turunkan tidak standar internasional, karena kewalahan memenuhi kebutuhan pasar dari luar negeri,” tutupnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Lewat Kopi Jariks, Pelaku Usaha Pariwisata di Kota Semarang Terlindungi oleh Hukum

Lingkar.co – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menggagas program kolaborasi pariwisata jejaring Kota Semarang (Kopi Jariks).

Progran tersebut diawali dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Disbudpar dengan asosiasi pariwisata di Kota Semarang

Kepala Disbudpar Kota Semarang, Wing Wiyarso mengatakan, penandatanganan ini salah satu upaya meningkatkan jejaring kerjasama, sinergitas, dan kolaborasi antara pemkot dan asosiasi pariwisata.

“Ketika ada program kebijakan pemkot, mereka akan suport dengan adanya MoU ini,” ujar Wing di Hotel Grasia, Rabu (10/5).

Lanjutnya, dengan penandatanaganan ini pelaku usaha akan mimiliki kenyamanan dalam berusaha karena adanya perlindungan hukum.

“Tujuannya adalah meningkatkan wisatawan datang ke Semarang, membuat Semarang semakin nyaman, wisatawan betah sehingga dianggap rumah kedua bagi mereka,” bebernya.

Kepala Bidang Industri Pariwisaya, Yudha Bhakti Diliawan menambahkan, Kopi Jarik merupakan grand desain untuk memajukan pariwisata Kota Semarang.

Penandatangan ini adalah awal kolaborasi. Selanjutnya, akan ada program-program dalam rangka meningkatkan pariwisata.

“Mungkin dengan PHRI, kombinasi penggerak ekonomi kreatif dengan membuka booth di Hotel,” ucap Yudi.

Bersama Asita, lanjut dia, bisa membuat paket wisata dengan harga terjangkau sehingga tidak membebani biro asosiasi wisata.

Sedangkan dengan DPD Puteri Jawa Tengah, pemkot bisa berkolabori dalam hal pemberian promo wisata.

“Jadi, kita jual wisata Kota Semarang,” ucapnya.

Asisten Administrasi Umum Setda Kota Semarang, Masdiana Safitri mengatakan mengapresiasi upaya yang dilakukan Disbudpar dalam meningkatkan sektor wisata.

Di sisi lain juga meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Semarang.

“Pariwisata sangat kompleks dan luas mulai dari infrastruktur, wisata, handicraft. Pajak tertinggi di sektor pariwisata. Tidsk hanya retribusi tapi juga pajak hotel resto dan lain-lain,” paparnya. 

Penulis : Alan Henry

Editor : Kharen Puja Risma

Kopi Santen Khas Blora, Begini Nostalgia Siswanto

Lingkar.co – Kabupaten Blora memiliki kekayaan potensi wisata alam dan kuliner. Kopi Santen khas Blora di Jepangrejo misalnya.

Dari kalangan muda sampai generasi tua, dari rakyat kecil sampai pejabat publik di Blora pasti pernah mencicipinya.

Wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Blora, Siswanto adalah salah satu penikmat kopi tersebut.

Bahkan, politisi Partai Golkar itu kepincut dan bisa dikata tak bisa berpindah ke lain kopi. Cintaku kepentok di kopi santen.

Bagaimana tidak, tidak hanya sekali, baik menikmati sendiri maupun bersama relasi. Ia bahkan kerap bernostalgia bersama istri di kedai kopi yang artistik tersebut.

“Kopi santen di desa Jepangrejo, menurut saya unik,” kata Siswanto kepada Lingkar.co, Kamis (23/2/2023).

Karena kagum dengan olahan kopi yang unik tersebut, ia pun tak segan membagikan foto selfi bersama istrinya di media sosial ketika bernostalgia di kedai kopi khas Blora, Jawa Tengah.

“Karena ini salah satu ekonomi kreatif, jadi kalau di Blora memang banyak warung kopi (warkop), tapi yang dikelola secara khusus ada santannya dan ada juga jajanannya itu keren,” ucapnya.

Dirinya juga menilai pemilik kedai memiliki selera tersendiri dalam menentukan suasana sajian, sehingga nuansa wisata alam nan artistik khas Blora tetap menonjol.

“Dan tempatnya juga penuh tata art culture mebeler dari jati, yang juga jati sendiri merupakan khas dari kota kita tercinta Blora,” ucapnya.

Selain itu, dirinya juga menyoroti kreatifitas pemuda Blora dalam membuat kuliner. Antara lain seperti Segara, Teh Kota.

“Yang Segara milik anak muda Blora juga. Artinya bahwa untuk perihal ekonomi dan pekerjaan itu di Blora masih banyak hal yang bisa kita usahakan. Jadi anda harus kreatif untuk mencari peluang,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Siswanto berharap agar kalangan milenal Blora sebagai generasi peneris bangsa Indonesia untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan waktu serta peluang dengan sebaik-baiknya.

“Salah satunya potensi adalah ekonomi kreatif. diantaranya kopi santen Jepangrejo, kemudian ada batik Blora juga klaster-klasternya. Ada Segara sejenis itu dan yang lain. Saya kira perekonomian di Blora nanti bisa tambah maju,” paparnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan salah satu kuncinya untuk kompak menjadikan suasana yang lebih menaik, yakni desa wisata.

“Kemarin kami juga mengunjungi desa wisata puncak serut di Desa singonegoro, itu juga keren. Di sana juga sudah ada warung-warung ada kelompok sadar wisata,” bebernya.

“Yang di sana (wisata puncak serut) artinya bahwa ekonomi kreatif itu sambungannya adalah dengan ekonomi. Terutama dengan Pemuda kemudian juga dengan kelompok-kelompok masyarakat, sehingga di mana dia bisa mendapatkan tambahan pendapatan dan penghasilan,” tutupnya. (*)

Penulis: Lilik Yuliantoro
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Guru Besar FTP UGM: Kopi Dapat Cegah dan Deteksi Covid-19

YOGYAKARTA, Lingkar.co – Kopi tidak hanya sekadar minuman, namun jika minum secangkir kopi pada pagi hari bisa menjaga stamina tubuh.

Lalu, minum secangkir kopi pada sore hari bisa membantu agar mata tetap terjaga pada malam hari, untuk menyelesaikan tugas yang menumpuk.

Namun yang lebih menarik, kopi ternyata banyak mengandung senyawa antioksidan, sehingga memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan tubuh.

Hal tersebut terungkap dari Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM Yogyakarta, Prof, Sri Anggrahini, dalam orasi ilmiahnya, pada puncak Dies Natalis ke-58 FTP UGM di Auditorium FTP UGM, Senin (20/9/2021).

Baca Juga:
Muncul Klaster Covid-19 dalam PTM, Satgas Minta Sekolah Berhati-hati

Dalam orasinya, Prof. Sri, menyampaikan pidato ilmiah yang berjudul “Kopi untuk Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19”.

Dari berbagai penelitian di luar negeri, kata dia, kopi menduduki peringkat teratas sebagai asupan yang dinilai mampu mencegah paparan Covid-19.

Hal itu mendukung banyak penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa kopi bisa meningkatkan kekebalan tubuh, karena adanya kandungan polifenol dan fenolik yang memiliki sifat antioksidan.

Prof. Sri, mengatakan, meski mampu meningkatkan kekebalan tubuh, namun sebaiknya tidak mengonsumsi kopi dalam keadaan perut kosong.

“Minum kopi saat perut kosong bisa memungkinkan naiknya kadar gula darah, asam lambung naik dan risiko kena sakit mag,” katanya, mengutip dari laman @ugm.ac.id, Minggu (26/9/2021).

DAPAT MENDETEKSI COVID-19

Menurut Prof. Sri, penelitian soal khasiat kopi perlu ditindaklanjuti agar bisa mendorong masyarakat gemar mengonsumsi kopi.

Selain itu, agar masyarakat mengetahui anjuran batas aman mengonsumsi kopi.

Tidak hanya itu, kata dia, kopi juga bisa berguna untuk mendeteksi seseorang terkena covid atau tidak.

“Umumnya penderita covid mengalami gejala hilangnya indera penciuman atau anosmia. Kopi bisa digunakan untuk mendeteksi gejala tersebut karena memiliki rasa dan aroma yang kuat,” jelasnya.***

Penulis : ugm.ac.id | M. Rain Daling
Editor : M. Rain Daling

Cita Rasa Kopi Jrahi Khas Pati, Tawarkan Kopi Berkualitas Tinggi

PATI, Lingkar.co – Sebagai daerah penghasil kopi terbanyak di Kabupaten Pati, berbagi upaya dilakukan Desa Jrahi untuk memasarkan produk hasil petani di Bumi Mina Tani ini.

Salah satu warga Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, M. Azharuddin Maulana Lutfi berinovasi menciptakan produk biji kopi asli Jrahi dengan nama Kampoeng Kopi Jrahi yang diklaim memiliki kualitas tinggi.

Hal tersebut dilakukannya untuk mengenalkan produk kopi asal Jrahi kepada masyarakat luas.

Kampoeng Kopi Jrahi didirikan Aan, sapaan akrabnya pada pertengahan Maret 2019 lalu. Meski tergolong baru, produk tersebut telah memiliki izin dari pemerintah dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati.

“Kopinya dari kebun sendiri sama dari petani lain. Soalnya kalau punya sendiri kan gak cukup ya suplainya, jadi minta petani di Desa saya untuk bantu suplai. Kalau yang roasting, saya kerjasama dengan kelompok kluster kopi Pati,” ungkapnya.

Saat ini, terdapat lima varian kopi yang telah dipasarkan, yakni Robusta Natural, Liberica Natural, Robusta Wine, Peaberry, dan Arabica.

Harga tiap satu kemasan biji kopi sendiri dibandrol dari mulai harga Rp 15.000 hingga Rp 45.000. Omset yang dihasilkan dari penjualan biji kopi tersebut pun mencapai jutaan rupiah.

“Kalau pembelinya sendiri mulai dari usia 12 tahun keatas. Kalangan dewasa kebanyakan. Varian yang paling populer itu yang Wine Robusta,” terangnya.

Selain kopi, ia juga berinovasi dengan membuat aksesoris seperti gelang dan tasbih dari biji kopi.

Tujuannya untuk merubah pola pemikiran masyarakat kalau kopi tak hanya bisa diminum, tetapi juga bisa disulap menjadi produk lain yang bernilai jual tinggi.

“Kalau alasan membuat produk ini karena manfaatnya biji kopi asli kan harumnya sebagai aromaterapi relaksasi. Trus juga bisa menjadi nilai tambah buat penggunanya,” imbuhnya.

Selain menjadi Desa penghasil kopi, Desa Jrahi sendiri telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Pancasila pada 2 Desember 2020 lalu.

Penetapan tersebut diberikan karena tak hanya sebagai desa wisata, Jrahi juga terkenal dengan kerukunan antar umatnya. (mg2/dim/aji)

Baca Juga:
Akibat Pandemi Covid-19, Ratusan Anak di Rembang Jadi Yatim Piatu

Dinilai dapat Hilangkan Kantuk, Kopi Disebut Bisa Jadi Cara Awal Deteksi Covid-19

JAKARTA, Lingkar.co – Sebelum memulai hari banyak orang yang memilih untuk menyeduh secangkir kopi. Selain untuk meningkatkan semangat, menghilangkan kantuk saja tapi kopi juga bisa untuk deteksi awal infeksi covid-19.

Profesor biologi perkembangan, molekuler, dan kimia di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts James Schwob mengatakan. bahwa salah satu cara termudah untuk melihat apakah Anda kehilangan indra penciuman adalah dengan menghirup aroma kopi bubuk Anda.

“Salah satu hal yang dapat dilakukan dengan sangat mudah, secara obyektif oleh seseorang di rumah adalah dengan mengambil kopi bubuk dan melihat seberapa jauh Anda dapat memegangnya dan masih menciumnya,” katanya dikutip dari Delish.

Ini bisa dipakai sebagai skrining awal anosmia atau kehilangan indera penciuman. Anosmia merupakan salah satu gejala covid-19.

“Atau lakukan hal yang sama dengan alkohol gosok atau sampo Anda. Jika hidung Anda tidak tersumbat dan Anda kesulitan mengenali atau aroma lain yang Anda kenal, Anda mungkin ingin menghubungi dokter untuk melakukan tes,”imbuhnya.

Banyak ahli menyarankan Anda menghirup dan meneguk kopi sebagai cara untuk memantau sistem dalam tubuh.

Penn State menyarankan siswa mencium hal-hal seperti kopi, rempah-rempah, bunga, dan lainnya sebagai cara untuk melakukan pemeriksaan cepat. Beberapa video bahkan menjadi viral di TikTok, dengan orang-orang mencoba minuman kopi hanya untuk mengetahui indra perasa mereka hilang.

Situs Daily Coffee News menulis bahwa “tinjauan literatur ilmiah dan saran anekdot mereka sendiri dari para sarjana tentang rasa dan bau menunjukkan lusinan contoh kopi yang digunakan sebagai barometer untuk tes mengendus COVID-19, di bagian karena baunya yang khas dan juga karena ketersediaan globalnya yang luas di rumah.

Situs tersebut mengutip artikel di jurnal medis BMJ yang menyarankan pasien dapat diminta untuk mencoba mencium aroma kopi, dan kampanye Penn State yang disebut ” Stop. Smell. Be well.” yang menyarankan siswa menggunakan sesuatu seperti kopi untuk mengecek baunya setiap pagi.

“Kehilangan penciuman sangat spesifik untuk COVID-19, tetapi tidak semua orang dengan infeksi SARS-CoV-2 melaporkan kehilangan penciuman. Secara kritis, bisa mencium sesuatu tidak berarti Anda bebas COVID, “tulis sepasang profesor Penn State minggu lalu di The Conversation, menjelaskan kampanye universitas,”(ara/aji)