Arsip Tag: Pahlawan Nasional

Haul ke-126, Pemkot Semarang Dorong KH Sholeh Darat Jadi Pahlawan Nasional

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang terus mendorong pengakuan atas jasa ulama besar KH Sholeh Darat dengan mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Usulan tersebut kini telah disampaikan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk selanjutnya diteruskan ke pemerintah pusat.

Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin saat menghadiri Haul ke-126 KH Sholeh Darat yang digelar di Masjid Kyai Haji Sholeh Darat, Semarang Utara, Sabtu (28/3/2026) malam.

“Pemerintah Kota Semarang telah membentuk kepanitiaan, dan hari ini surat pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional sudah kami sampaikan ke pemerintah provinsi untuk diteruskan ke pusat,” ujarnya.

Haul ke-126 ini dihadiri oleh para ulama, tokoh masyarakat, Forkopimcam Semarang Utara, serta jamaah dari berbagai wilayah. Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Iman Bulus Purworejo, KH Hasan bin Agil Ba’abud, serta para habaib, kyai, dan sesepuh.

Dalam kesempatan tersebut, Iswar menegaskan bahwa peringatan haul bukan sekadar mengenang sosok KH Sholeh Darat, melainkan momentum untuk meneladani nilai perjuangan dan keilmuan beliau.

“Beliau dikenal sebagai guru dari para guru. Jejak keilmuannya tidak hanya di Kota Semarang, tetapi juga di tingkat nasional. Apa yang kita rasakan hari ini tidak lepas dari ilmu dan perjuangan beliau,” ungkap Iswar.

Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan KH Sholeh Darat turut membentuk karakter masyarakat Kota Semarang yang dikenal rukun dan kondusif di tengah berbagai dinamika. “Kerukunan di Kota Semarang yang kita rasakan hari ini tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh besar seperti beliau yang menanamkan nilai kebaikan dan persatuan,” tambahnya.

Pemkot Semarang berharap, usulan tersebut dapat segera mendapat persetujuan sehingga KH Sholeh Darat resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. “Ini adalah bentuk penghormatan atas jasa besar beliau. Namun yang lebih penting, nilai perjuangannya harus terus kita lanjutkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Melalui momentum haul ini, Pemkot Semarang juga mengajak masyarakat untuk memperkuat keimanan, menjaga persatuan, serta bersama-sama membangun Kota Semarang yang lebih baik. (Adv)

Pemkot Semarang Siapkan Strategi Jangka Panjang Usung KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional

Lingkar.co – Pemerintah Kota Semarang terus mematangkan langkah pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional. Tidak hanya menuntaskan aspek akademik dan administratif, Pemkot juga mulai menyiapkan strategi jangka panjang untuk menguatkan posisi KH Sholeh Darat sebagai tokoh penting dalam sejarah nasional.

Penguatan tersebut ditandai dengan pelaksanaan Seminar Nasional Pengusulan Gelar KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional yang digelar di The Suri Ballroom Semarang, Kamis (29/1). Forum ini menjadi tahap akhir pengkajian sebelum berkas resmi diajukan ke pemerintah pusat untuk pengusulan tahun 2026.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut, seminar nasional ini sebagai penutup rangkaian kajian yang telah disusun secara komprehensif. Seluruh dokumen pendukung dan narasi historis dinilai telah siap untuk diajukan.

“Ini seminar nasional terakhir. Dengan berbagai muatan kajian, mudah-mudahan bisa masuk dalam usulan Pahlawan Nasional 2026,” ujarnya.

Selain mendorong pengakuan di tingkat nasional, Pemkot Semarang juga menyiapkan langkah promosi kultural untuk memperkenalkan sosok KH Sholeh Darat kepada publik yang lebih luas. Salah satu momentum yang disiapkan adalah pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional yang direncanakan berlangsung di Semarang pada September 2026.

Pemkot juga merancang pengembangan ekosistem wisata religi sebagai bagian dari strategi berkelanjutan. Penguatan Museum KH Sholeh Darat diarahkan menjadi pusat literasi, riset keislaman, sekaligus destinasi edukatif bagi peziarah dan peneliti dari berbagai daerah.
Dukungan terhadap pengusulan ini juga datang dari kalangan akademisi.

Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Prof. Helmy Purwanto, menilai KH Sholeh Darat memiliki kontribusi besar terhadap perjuangan bangsa melalui jalur pendidikan dan dakwah.
Ia menyebut pengukuhan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional tidak hanya penting secara historis, tetapi juga strategis bagi penguatan identitas Kota Semarang.

Menurutnya, pengakuan tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya melalui sektor wisata religi dan pengembangan UMKM lokal. ***

Mbah Kholil dan Gus Dur Dapat Gelar Pahlawan, PKB Jateng Gelar Tasyakuran

Lingkar.co – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah menggelar tasyakuran atas gelar pahlawan yang dianugerahkan kepada Syaikhona K.H. Kholil Bangkalan (Mbah Kholil) dan K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kantor DPW PKB Jateng di Semarang, Kamis (13/11/2025). Selain tasyakuran, juga digelar diskusi publik ‘Jejak Langkah Pahlawan Nasional’.

Ketua DPW PKB Jateng K.H. M Yusuf Chudlori mengatakan, Kiai Kholil merupakan guru segala guru. Sementara Gus Dur adalah guru bangsa sekaligus pendiri PKB.

“Karena itu tentu kita harus memanjatkan syukur dan bangga atas gelar ini,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang ini menegaskan, bangsa yang besar adalah yang bisa menghargai jasa pahlawan.

Gus Yusuf sapaan akrab K.H. Muhammad Yusuf Chudlori menyebut, dari Kiai Kholil lahir kiai-kiai besar seperti K.H. Hasyim Asyari, K.H Wahab Chasbullah dan ulama besar lain.

“Adapun Gus Dur adalah tokoh demokrasi, pluralisme di Indonesia,” sebut Gus Yusuf.

Khusus Gus Dur, kata Gus Yusuf, mengikuti prosesnya. Dia tak menampik ada pihak lain yang menyebut Gus Dur tak perlu gelar pahlawan karena sudah dicintai rakyat. Tapi itu menurutnya juga tidak salah.

“PKB juga memperjuangkan secara politik. Yang paling krusial adalah pencabutan TAP MPR Nomor II/MPR/2001 yang memberhentikan Gus Dur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia dalam kasus Bulog Gate,” terangnya.

Pencabutan ini didasarkan pada permohonan Fraksi PKB dan dianggap penting untuk rehabilitasi nama baik Gus Dur.

“Fraksi PKB sendiri memiliki ketua umum yakni Gus Muhaimin Iskandar,” terangnya.

Menurut Gus Yusuf ini juga sebuah proses yang harus dipahami masyarakat. Dengan dicabutnya TAP MPR Nomor II/MPR/2001 maka proses pemberian gelar pahlawan bisa terus berjalan.

“Ini juga agar generasi ke depan anak-anak kita tidak membaca sejarah, bahwa Gus Dur diturunkan dari jabatannya sebagai Presiden karena kasus Bulog Gate,” tegasnya.

Kebanggaan lain, jelas Gus Yusuf, bahwa Kiai Kholil dan Gus Dur adalah tokoh yang lahir dari pesantren.

“Gelar ini juga bisa menjadi spirit pesantren yang belakangan ini disudutkan dengan sejumlah framing negatif. Mari kita lihat Gus Dur dan Mbah Kholil dengan spirit NKRI nya,” terangnya.

Acara tasyakuran dan diskusi publik ini dihadiri para pengurus PKB Jateng, Sekretaris DPW H.Sukirman, Ketua LPP Sarif Abdillah, jajaran Dewan Syuro, serta para mahasiswa.

Diskusi menghadirkan pembicara Aguk Irawan, penulis buku Peci Miring: Kisah Pengembaraan Intelektual Gus Dur, Direktur Klub Merby Grace W Susanto, serta Gus Yusuf.

Grace menyebut sering berinteraksi dengan Gus Dur maupun keluarganya.

“Gus Dur itu bapak Bangsa, ngopeni minoritas seperti saya ini,” ungkapnya.

Adapun Aguk menceritakan perjalanan Gus Dur dalam pendidikannya.

“Saat SMP termasuk saat mondok di Krapyak Yogyakarta sudah mengenal buku-buku Marxis, Lenin dan karya-karya pemikir luar negeri,” terangnya.

Gus Dur, jelas Aguk, baru terarah ke ilmu tasawuf saat mondok di Tegalrejo Magelang yang diasuh K.H Chudlori, ayah dari Gus Yusuf.

Adapun Gus Yusuf menyebut saat Gus Dur mondok di Tegalrejo, sang ayah mampu mengarahkan yang bersangkutan fokus mempelajari ilmu pesantren.

“Soal cerita Gus Dur mengambil ikan di kolam pondok, ternyata itu adalah memahamkan kita berpolitik,” terangnya.

Gus Yusuf mengakui berbagai kontroversi yang kerap muncul dari Gus Dur, merupakan sebuah proses mencerdaskan politik.

Gus Yusuf menambahkan, saat muncul Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU), maupun anaknya Yenny Wahid mendirikan partai, Gus Dur tetap memberikan pesan kepada dirinya untuk tetap di PKB. (*).

Perkuat Pengusulan KH Sholeh Darat Menjadi Pahlawan Nasional, Pemkot Semarang Gelar Seminar Internasional

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang bersama Universitas Diponegoro dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menggelar International Seminar on“The Legacy of K.H. Sholeh Darat for Indonesian Independence as the Basis for Proposal of the National Hero Title” di Ballroom Rama Shinta, Patra Semarang Hotel & Convention, Selasa (11/11/2025).

Acara ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi ulama besar asal Kota Semarang, Kiai Haji Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani atau K.H. Sholeh Darat.

Seminar internasional ini menghadirkan tamu-tamu penting, antara lain Kepala Arsip Nasional RI (ANRI) Mego Pinandito, Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. K.H. Noor Achmad, Ketua BAZNAS Jawa Tengah, unsur Forkopimda Kota Semarang, serta para akademisi dan ulama dari berbagai daerah.

Dari luar negeri, hadir narasumber ternama: Dr. Suryadi, M.A. dari Leiden University, Belanda, Prof. Dr. Mohd. Roslan Bin Mohd. Nor dari Universiti Malaya, Malaysia dan Prof. Dr. Khairudin Al Juned dari National University of Singapore, Singapura.

Ketiganya memaparkan kontribusi besar K.H. Sholeh Darat terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, perkembangan intelektualisme Islam, dan pembentukan nasionalisme di Nusantara.

Wakil wali kota Semarang, Iswar Aminuddin yang hadir mewakili Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam sambutan tertulis yang dibacakan menyampaikan bahwa perjuangan K.H. Sholeh Darat tidak dilakukan melalui peperangan fisik, melainkan melalui ilmu dan dakwah yang mencerahkan umat.

“Beliau adalah sosok ulama yang berjuang dengan pena, bukan senjata. Pemikiran dan karya-karyanya membentuk warna Islam Nusantara yang damai, toleran, dan cinta tanah air. Banyak muridnya yang kemudian menjadi pelopor gerakan besar seperti K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan,” ujar Iswar.

Pemerintah Kota Semarang bersama masyarakat dan Nahdlatul Ulama terus berjuang mengumpulkan arsip dan dokumen pendukung untuk memperkuat pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Arsip Nasional RI, Mego Pinandito, menegaskan dukungan penuh terhadap langkah Pemkot Semarang. Menurutnya, perjuangan K.H. Sholeh Darat adalah bentuk perang pemikiran dan perjuangan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi kebangkitan bangsa.

“Kalau dulu Pangeran Diponegoro berjuang dengan senjata, maka Kiai Sholeh Darat berjuang dengan ilmu, naskah, dan tulisan. Itulah jihad intelektual yang membangun kesadaran bangsa,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi mencari dan menyerahkan naskah, kitab, maupun arsip asli karya K.H. Sholeh Darat agar dapat direstorasi dan didigitalisasi oleh ANRI.

Menurut wali kota, pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi K.H. Sholeh Darat adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap sejarah bangsa.

“K.H. Sholeh Darat bukan hanya ulama, tetapi pendidik visioner yang menyalakan obor keilmuan dan kebangsaan. Melalui karya-karyanya dalam bahasa Jawa Pegon, beliau membuka akses ilmu agama bagi masyarakat luas dan menanamkan semangat kemerdekaan di tengah penjajahan,” tulis Agustina.

Dalam seminar tersebut juga menampilkan diskusi akademik lintas negara dengan fokus pada transliterasi naskah, tafsir Pegon, dan jaringan ulama Jawa–Haramain. Para peserta sepakat bahwa upaya pengusulan ini harus diikuti dengan digitalisasi karya-karya K.H. Sholeh Darat agar dapat diakses generasi muda.

Langkah kolaboratif antara Pemerintah Kota Semarang, Arsip Nasional, perguruan tinggi, pesantren, dan masyarakat diharapkan menjadi tonggak penting untuk memperkuat berkas pengusulan agar K.H. Sholeh Darat segera ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Adv)

Refleksi HUT ke-80 RI, IKA PMII Jateng Bedah Buku Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkai dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Membuka bedah buka, Adib, sapaan akrab M. Kholidul Adib memaparkan bahwa buku yang ia tulis merupakan implementasi deklarasi PW IKA PMII Jawa Tengah saat halal bi halal pada tanggal 24 April 2025 di Pendopo Bupati Blora. Saat itu, kata dia, IKA PMII Jateng melakukan deklarasi untuk bergerak menulis sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Proses pembuatan buku melibatkan penulis dari anggota IKA PMII di Jawa Tengah.

Menurutnya, buku tersebut mengupas sejarah perjuangan ulama sejak di era kesultanan Demak hingga era kemerdekaan. “Pada buku edisi pertama ini disusun dalam waktu dua bulan, yaitu Mei-Juni dan berisi 51 sejarah singkat ulama pejuang di Jawa Tengah dan insya Allah akan disusul edisi kedua,” kata Adib.

Lebih lanjut Adib menyebut budaya literasi untuk melanggengkan kontribusi dalam berjuang bukanlah satu-satunya tujuan dalam penulisan buku tersebut. Lebih dari itu menjadi pemetaan potensi pengajuan gelar pahlawan nasional.

“Tujuan penulisan buku ini ada tiga. Pertama literasi sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Kedua meneladani pejuangan para ulama untuk konteks kehidupan sekarang dan ketiga jika memenuhi syarat bisa diajukan sebagai pahlawan nasional,” ujarnya.

Kata dia, kegiatan bedah buku diadakan di Wisma Perdamaian karena berada di depan Tugu Muda yang dibangun untuk mengenang perjuangan masyarakat Semarang yang gigih berjuang melawan penjajah pada tanggal 15-19 Oktober 1945. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan istilah Pertempuran 5 Hari di Semarang.

IKA PMII Jateng Gelar Refleksi HUT ke-80 RI, Ketua MUI Jateng Sebut Ulama Sebagai Pelopor Perjuangan Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkul dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Dr. KH Ahmad Darodji yang didaulat Keynote Speach memberikan pemantik bahwa sejak dahulu para tokoh Islam atau ulama merupakan pelopor perjuangan bangsa dalam melawan kolonialisme di Nusantara (Indonesia).

“Dari dulu yang gigih mempelopori perjuangan perlawanan terhadap penjajah itu ya ulama. Namun selama ini kiprah perjuangan para ulama belum banyak yang ditulis sehingga generasi muda sekarang belum banyak yang tahu,” kata Darodji.

Menurut Darodji, sebagai umat Islam yang berbangsa Indonesia harus bersyukur dengan nikmat kemerdekaan yang diperoleh melalui perjuangan para orang tua terdahulu, terutama para ulama yang menjadi pelopor pejuangan melawan penjajah.

“Untuk itu, guna mengenang dan meneladani perjuangan para ulama sekaligus memupuk jiwa nasionalisme kita semua, terutama para generasi muda, maka refleksi kemerdekaan ke-80 dan launching buku ini menjadi sangat penting untuk kita apresiasi,” ujarnya.

Usai Darodji memberikan orasi kebangsaan, kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM dr. Ikhwan Hamzah, dan dilanjutkan dengan bedah buku.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum'at (22/8/2025). Foto: dokumentasi
Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum’at (22/8/2025). Foto: dokumentasi

Ajukan Gelar Pahlawan Nasional

Ketua LP2M UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Arief Junaidi menyatakan penulisan sejarah yang dilakukan PW IKA PMII Jawa Tengah ini sangat penting. Sebab, hal itu bisa jadi pijakan untuk merengkuh masa depan.

“Penulisan sejarah ini bagian dari upaya menapaki pijakan sejarah supaya kita dapat menempatkan sejarah dalam locus dan tempus tertentu. Untuk itu kita harus melengkapi diri kita dengan data-data sejarah yang banyak dan valid,” ujarnya.

Dukung Usulan Gelar Pahlawan Bagi Mbah Sholeh Darat, Dinas Arpus Kota Semarang Siap Gelar Seminar Internasional

Lingkar.co – Dinas Arsip dan Perpustakan (Arpus) Kota Semarang mendukung usulan gelar Pahlawan Nasional bagi KH Muhammad Sholeh bin Umar atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Sholeh Darat.

Dinas ini sejak tahun 2023 telah membuat program diskusi, seminar maupun kajian atas naskah-naskah kuno karya ulama yang ada di Kota Semarang. Perhatian khusus diberikan kepada karya tulis Kiai Sholeh Darat.

Dinas ini telah berkali-kali bertemu dan menggelar kegiatan bersama pihak-pihak terkait, khususnya Walisongo Center (unit perpustakaan UIN Walisongo) dan Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA). Pada akhirnya Dinas Arpus berkesimpulan perlu segera mengajukan karya Kiai Sholeh Darat untuk dicatat sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB).

Sebab, MKB adalah memori kolektif bangsa. MKB adalah rekaman sejarah perjalanan suatu bangsa yang menjadi identitas dan jati diri bangsa tersebut. Ini adalah arsip yang menyimpan berbagai peristiwa, nilai, tokoh berpengaruh, adat-istiadat, dan pengalaman yang membentuk karakter dan arah suatu bangsa. Memori kolektif juga merupakan aset nasional yang penting untuk dilindungi dan dilestarikan. Pengeolaan oleh lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Setelah nanti teregistrasi di MKB kemudian diajukan ke UNESCO dalam Memory of the World (MoW). Perlu diketahui, aset Indonesia yang telah masuk dalam MoW adalah Tarian Jawa Mataraman dan Surat-Surat Kartini. Dan telah diketahui secara masyhur, Kartini adalah murid ngajinya Kyai Sholeh Darat.

Demikian intisari pertemuan terbatas dalam kunjungan Dinas Arpus Kota Semarang di gedung Walisongo Center Kampus UIN Walisongo Semarang, Selasa (28/7/2025). Pertemuan dipimpin oleh Ketua Walisongo Center Dr Anasom, MHum. Ia hadir bersama kepala Perpustakaan UIN Walisongo Umar Falahul Alam dan Pustakawan Ahli; Miswan.

Adapun rombongan Dinas Arpus dipimpin Kabid Pengembangan, Pembinaan dan Pengawasan Kearsipan; Laily Widyaningtyas. Adapun dari Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA), dihadiri oleh M. Ichwan selaku sekretaris.

Ketua Walisongo Center Anasom menerangkan, Walisongo Center adalah sebuah pusat kajian dan literasi yang didirikan oleh UIN Walisongo Semarang sebagai bentuk komitmen untuk merawat sejarah dan nilai-nilai dakwah para Wali Songo. Gedung ini diresmikan pada 11 Agustus 2023 oleh Wakil Menteri Agama, Saiful Rahmat Dasuki,

“Diantara koleksi unik yang dimiliki Walisongo Center adalah gamelan dan wayang kuno yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam dakwahnya, naskah tulisan tangan KH Hasyim Asy’ari dan KH Soleh Darat, serta keris dan manuskrip milik KH Zubair al-Jailani, rektor pertama IAIN Walisongo,” tutur Anasom yang meraih gelar Magister Ilmu Sejarah di Universitas Gadjah Mada dan gelar doktor di UIN Sunan Kalijaga ini.

Terkait pendaftaraan karya Kiai Sholeh Darat ke Memori Kolektif Bangsa, ia menyebut hal itu akan menjadi salah satu bagian penting dari upaya pengusulan gelar pahlawan. “Langkah Dinas Arpus mendaftarkan MKB adalah bagian dari langkah dukungan untuk proses pengusulan gelar pahlawan Kiai Sholeh Darat,” terangnya.

Sementara, Kabid Pengembangan, Pembinaan dan Pengawasan Kearsipan Dinas Arpus Kota Semarang Laily Widyaningtyas mengaku puas telah melihat langsung koleksi kitab karya Kiai Sholeh Darat dan aneka koleksi lain yang disimpan di Walisongo Center.

Pihaknya siap untuk segera memproses pengajuan Memori Kolektif Bangsa ke lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia, untuk nantinya dicatatkan di UNESCO, lembaga milik Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Alhamdulillah. Sudah puas melihat langsung koleksi kitab KH Sholeh Darat. Sudah bisa dibilang memenuhi syarat untuk diajukan ke MKB di ANRI,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Laily menyatakan pihaknya siap menjadi penyelenggara penuh Seminar Internasional yang merupakan salah satu rangkaian dari pemenuhan syarat pengusulan gelar Pahlawan untuk Kiai Sholeh Darat. Pihaknya juga telah mendapat kepastian anggaran dan telah disetujui Wali Kota Semarang untuk mengundang narasumber yang kompeten dari Leiden Belanda, untuk berbicara mengenai karya KIai Sholeh Darat.

Kepala Perpustakaan UIN Walisongo Umar Falahul Alam menambahkan, pihaknya akan membantu segala hal yang diperlukan untuk keperluan pendaftarakan MKB tersebut. “Kami siap membantu apapun yang diperlukan untuk proses pendaftaran MKB,” katanya. (*)

Pemkot Semarang Terus Kawal Pengusulan KH. Sholeh Darat Sebagai Pahlawan Nasional

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan komitmen Pemerintah Kota Semarang untuk terus mengawal proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi KH. Sholeh Darat. Hal ini disampaikannya dalam Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH. Sholeh Darat, Sabtu (10/5/2025) yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Haul KH. Sholeh Darat di Kota Semarang.

“Atas nama Pemerintah Kota Semarang, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia haul dan seluruh pihak yang telah menggagas seminar nasional ini. Ini adalah tonggak penting untuk menyuarakan pengakuan negara terhadap jasa besar KH. Sholeh Darat,” ujar Agustina.

Pihaknya merasa sangat tersanjung mendapat amanah dari para sahabat NU untuk meneruskan proses pengusulan gelar tersebut. “Berkas yang kami terima sudah sangat lengkap.

Seminar ini menjadi penguat bagi kami untuk segera menindaklanjuti dengan surat resmi pengusulan kepada pemerintah pusat,” tegasnya.

“KH. Sholeh Darat bukan sekadar ulama. Beliau adalah penjaga peradaban, guru dari para pahlawan nasional. Sudah sangat pantas beliau mendapat gelar Pahlawan Nasional,” lanjut Agustina.

Ia berharap, proses ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan serta diperkuat oleh kajian para ahli sejarah.

“Semoga ini menjadi bagian dari visi besar kami menjadikan Semarang sebagai destinasi wisata religi, khususnya di kawasan makam beliau dan masjid peninggalan pesantren beliau,” pungkasnya.

KH. Sholeh Darat dikenal sebagai ulama besar, intelektual pejuang, dan pendidik pembebas. Ia mengabdikan hidupnya untuk membangun peradaban melalui ilmu.

Baca juga: Semarang Raih Dua Penghargaan Trisakti Tourism Award, Agustina Siap Kembangkan Hidden Gem

Dalam karya-karyanya, khususnya tafsir Faidurrahman, beliau menerjemahkan ajaran Islam dalam bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Hal itu menjadi bentuk perjuangan intelektual untuk membebaskan umat dari kebodohan dan memperkuat identitas keislaman masyarakat pribumi di tengah penjajahan.

Lebih dari itu, KH. Sholeh Darat juga dikenal sebagai pendidik tokoh-tokoh besar bangsa. Dari pesantrennya di Kampung Darat, Semarang, beliau mendidik KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan menginspirasi R.A. Kartini melalui tafsir Al-Qur’an yang ditulisnya.

Perjumpaan beliau dengan RA Kartini melahirkan karya yang monumental dan mencerahkan, serta menjadi bagian penting dalam sejarah pemikiran Islam dan nasionalisme di Indonesia.

Pemkot Semarang Bakal Ambil Alih Haul Mbah Syafi’i

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bakal ambil alih pelaksanaan Haul Mbah Syafi’i Piyoro Negoro, yang akan dilaksnakan ditingkat kota.

Hal tersebut disampaikan Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, M. Khadik saat menghadiri kirab budaya yang digelar, Minggu (20/4/2025) pagi.

Khadik menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan haul akbar ketiga di tahun ini yang bisa mengemas acara secara meriah.

Khadik menilai, Sosok Mbah Syafi’i memiliki jasa yang besar bagi penyebaran Islam di Indonesia, karena mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Luhur sejak tahun 1609. Bahkan diketahui Mbah Syafi’i saat itu juga ikut berperang melawan Belanda.

“Saat ini pondok masih ada dan masih eksis. Haul di setiap tahun dilaksanakan dengan kirim doa, kirab budaya dan sholawatan ini sangat luar biasa,” katanya.

Adapun kirab sendiri diikuti ribuan orang dari 49 kelompok ditingkat RW ataupun kelurahan dari Ngaliyan Tugu, Mijen dan Semarang Barat. Sebelumnya juga digelar lomba rebana tingkat Jawa Tengah, yang menyebutkan hadiah jutaan rupiah.

Menurut dia, Pemkot akan mensuport penuh jika agenda haul dimasukkan ke agenda budaya tahunan tingkat kota, agar lebih meriah dan bisa menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Harapannya bisa dilakukan ditingkat kota (tahun depan, red) ini apresiasi kepada beliau yang ikut berjasa menyebarkan Islam, dan melawan penjajah,” bebernya.

Sementara itu, Kadar Lusman tokoh masyarakat setempat menjelaskan, acara haul pada tahun ini semakin meriah karena peserta dari masing-masing wilayah mau nguri-uri kebudayaan setempat untuk di eksplorasi dan dipamerkan.

“Kegiatan seperti ini harapannya bisa di handel Pemkot, karena bisa menggali potensi wilayah ditingkat kelurahan ataupun ditingkat RW,” ujarnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD ini, menerangkan sosok Mbah Syafi’i merupakan pendiri Ponpes Luhur Dondong, yang merupakan tertua kedua di Indonesia. Beliau juga berjuang melawan penjajah selain melakukan syi’ar agama.

Dari sejarah yang ada Mbah Syafi’i merupakan tokoh agama yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa pada tahun 1600-an. Konon, Mbah Sholeh Darat yang dikenal sebagi guru dari KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama), serta Raden Ajeng Kartini (Pahlawan Emansipasi Wanita) pun sempat belajar agama di Pondok Luhur Dondong.

Dalam kirab tersebut juga ditampilkan kitab peninggalan Mbah Syafi’i yang sampai saat ini disimpan rapi di Ponpes Luhur Dondong, Wonosari Ngaliyan. Menurut pria yang akrab disapa Pilus ini, atas jasa beliau sebenarnya sosok Mbah Syafi’i layak dijadikan sebagai pahlawan nasional.

“Selain syi’ar agama, beliau juga ikut berjuang melawan penjajah. Bagi saya beliau sudah layak dijadikan pahlawan nasional,” pungkasnya. ***

Namanya Mendunia dan Muridnya Pahlawan Nasional, Kiai Chalwani Tegaskan Mbah Sholeh Sangat Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Lingkar.co – Ketua Umum Idaroh Aliyah (Pengurus pusat) Jam’iyyah Ahluth Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman), KH Ahmad Chalwani Nawawi menjelaskan bahwa KH Muhammad Sholeh bin Umar atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Sholeh Darat sangat layak mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional.

“Muridnya banyak yang jadi pahlawan nasional, Mbah Sholeh sangat layak dijadikan sebagai Pahlawan Nasional,” katanya dalam peringatan Haul Mbah Sholeh Darat di makam Bergota Semarang, Rabu (9/4/2025) pagi.

Tokoh sufi dari Purworejo ini menerangkan, Mbah Sholeh Darat telah melahirkan tokoh-tokoh, diantaranya; KH Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah, dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), serta RA Kartini yang dikenal dengan gagasan gerakan gender di Indonesia.

Tidak hanya memiliki murid yang menjadi pahlawan nasional, kata dia, lebih dari itu Mbah Sholeh juga dikenal hingga Pakistan dengan nama Syekh Sholeh As-Samaraniy

Ia lantas menerangkan bahwa RA. Kartini yang meminta agar Mbah Sholeh membuat kitab tafsir Al Qur’an. Kitab Faidlurrahman dicetak pertama di Singapura, kitab tafsir ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara

Dirinya juga menjelaskan bahwa kakek buyutnya, yakni KH. Zarkasi Berjan Purworejo juga merupakan salah satu murid KH Muhammad Sholeh bin Umar.

Mbah buyut kulo niku ngaji syariat kalih Mbah Sholeh Darat, ngaji thoriqohe kalih Mbah Nawawi Banten (Kakek buyut saya itu mengaji ilmu syari’at dari Mbah Sholeh Darat, ngaji ilmu tarekat dari Mbah Nawawi Banten,-red),” urainya.

Sementara, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom, MHum mengatakan, Mbah Sholeh meninggal dunia pada tanggal 28 Ramadan menurut kalender Hijriyah. Kabar tersebut tertulis dalam sebuah dokumen koran lama ber pada tahun 1903 Masehi

Poster acara Haul Kyai Sholeh Darat. (dok KOPISODA)

Sedane tanggal 28 Ramadan, ning korane tahun 1903. Kulo sumerep ten koran Srompet Melayu (Beliau meninggal dunia pada tanggal 28 Ramadan, tertulis dalam koran pada tahun 1903, saya mengetahui hal itu di koran lama bernama Srompet Melayu,-red),” katanya.

Ia mengatakan, untuk mendapatkan berkah dari Mbah Sholeh, PCNU Kota Semarang mengadakan pengajian kitab karya Mbah Sholeh setiap Jum’at Legi di makam. Namun pada tahun ini akan digielar silih berganti dengan Ponpes Mbah Sholeh Darat yang didirikan oleh PCNU Kota Semarang di Podorejo Kecamatan Ngaliyan.

Mulai wulan Syawal niki selapanan Jum’at Legi bakda isya dimulai saking mriki (Mulai bulan Syawal ini pengajian selapanan Jum’at Legi setelah salat isya dimulai dari sini,-red),” ujarnya.